Belakangan ini saya sering nulis Fanfiction. Tau kan Fanfiction? Fanfiction kurang lebih adalah cerita yang dibuat seseorang berdasarkan fandom yang disukai. Mungkin bisa dibilang khayalan seorang penggemar. Satu-satunya fanfiction yang aku buat adalah mengenai Super Junior.
Bulan lalu ada lomba penulisan Korean Fanfic yang di dibuat oleh KoreanFFIndo dan karena cerita mesti original alias belum pernah dimuat dimanapun sebelumnya. Saya mulai kelimpungan nyari ide. Yang jelas tokohnya adalah Siwon.
Saat itu saya sedang pusing-pusingnya juga untuk berusaha nyelesein novel fantasiku yang berjudul Fantasi Iris (cerpennya pernah di posting disini juga) dan tiba-tiba kepikiran kenapa nggak buat cerita fantasi aja. Saya langsung merecoki Alia dengan cerita-cerita yang pengen aku tulis. Dia tahu, saya belum bisa menyelesaikan novel Fantasi Irisku karena kehabisan imajinasi. Dia lalu menyarankan saya menonton film Barbie yang kebanyakan adalah cerita Fantasi.
Yang ada dipikiran saya saat itu hanyalah untuk turut berpartisipasi. Saya senang menulis cerita Fantasi. Saya suka membuat cerita tentang Siwon dan Super Junior. Dan saya suka suara Taeyeon. Jadilah Fanfict Ice Melody itu. Yang tokoh utamanya adalah Siwon dan Taeyeon (SNSD) beserta member Super Junior lain.
Saya tak pernah berpikir nama saya ada di daftar pemenang. Bahkan jika tidak diingatkan Dina Onnie di twitter kemarin malam, saya mungkin lupa bahwa hari ini adalah pengumuman lomba itu.
Saya langsung lompat kegirangan saat melihat namaku ada di situ. Rasanya seperti mimpi. Ini adalah lomba penulisan pertama yang berhasil saya menangkan. Dan fanfict ini akan dibukukan secara self publishing. Mimpi apa saya semalam? tak ada feeling sama sekali.
Tapi sebenarnya, saya kegirangan bukan cuma karena menangnya. Juga karena tokoh utama di dalam ceritanya : Choi Siwon. Ini kemenangan pertamaku. Karenanya dan dengannya.
Thank God, untuk kesempatan yang diberikan.
Thanks Siwon, telah menjadi sumber inspirasiku.
Thanks Alia, untuk pembicaraan mengenai alur cerita Ice Melody yang berakhir dengan pemburuan DVD Barbie.
Thanks Anna Onnie, Nana Onnie, Jihan Onnie, Dina Onnie, Arvie, udah memberikan saran, komentar, dan menjadi editor untuk naskahku.
Wew, saya kayak udah mau bikin buku aja sampai ada ucapan terima kasihnya. Tapi, beneran deh, tanpa mereka mungkin naskah saya pastinya cuma ada di kumpulan draft, terabaikan. hehehe
Gramedia ulang tahun dan ngasih diskon 20% sampai tanggal 31 Maret 2011. Kesempatan belanja buku banyak-banyak. Kemarin saya sama Papa juga ke Gramedia, Papa pengen beli buku Ranah 3 Warna (biar koleksiku nambah), saya juga beli novel SeoulMate, sama buku membuat Clay.
Tahu Clay? Clay itu sejenis adonan, seperti lilin mainan. Biasanya dibuat dari berbagai macam-macam tepung yang dicampur lem.
Sudah lama sebenarnya saya tertarik dengan Clay ini tapi nggak pernag beli bukunya :p. Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah blog, si pemilik membuat patung boneka Super Junior dengan menggunakan Clay. Saya makin tertarik jadilah pas ke Gramedia saya beli buku Clay. Mumpung dibayarin Papa :p
Setelah itu langsung ke Agung, beli cat poster, lem putih, terus mampir lagi ke sentral buat beli tepung tapioka (kanji), tepung beras, maizena dan benzoat buat dibikin adonan.
Pas nyampe rumah langsung mulai bikin adonan. Bikinnya gampang, tepung beras, kanji, maizena dicampur dengan perbandingan 1:1:1 kemudian ditambahkan sedikit benzoat dan lem. Uleni sampai kalis. setelah itu beri warna.
Saya yang pertama kali bikin, dengan pedenya pengen bikin patung cabe Heechul dan hasilnya. GAGAL TOTAL. bentuknya nggak mirip terus nggak mau tegak. Lalu saya coba bikin patung yang ada di buku, sedikit lebih baik sih tapi nggak mau tegak juga, sampai akhirnya itu patung patah pas dipegang kakak.
Clay bener mengasah kesabaran, ketelatenan dan ketelitian. Mesti benar-benar teliti apalagi bikin patung yang kecil. Dan sayangnya pinset saya rusak jadi agak kesulitan nempelin Clay yang kecil banget macam mata. Salut sama yang bikin Clay dan cantik sekali.
tapi saya akan terus belajar, nanti kalau sering berlatih saya pasti bisa juga. Bisa bikin patungnya Super Junior juga, nggak cuma bisa mengagumi karya orang.
Aku suka crochet (merenda). selain bisa buat baju, juga bisa bikin amigurumi untuk gantungan hape atau gantungan kunci. Lucu deh. Ini beberapa hasil karyaku.
Cangkir
Terong
Labu
Kacang Polong
Keroppi
Boneka Bom Lucu
heart
strawberry
Topi hasil rajutan sendiri :)
Jamur
Buah-buahan
Amigurumi cocok juga buat jadi hadiah. Aku suka hadiahin ini buat temen-temen. Belakangan, kalau ada yang mesen buku Warna Dari Pelangi aku kasih juga amigurumi ini.
Tanteku juga suka dan pesen, katanya sih pengen dibeli. Sepupuku yang umur 3 tahun, suka make topi dan kau yang selalu ngerajutin buat dia. Dia suka banget sama topi warna orange-putihnya dan kalau aku mau nyentuh itu topi nggak dibolehin, padahal aku yang buat. Dasar pelit! hehehe
Sekarang topinya hilang, jadi aku buatin lagi warna ungu dan dia nggak begitu suka. Dia suka warna-warna cerah ^^. Aku juga pernah buat cardigan tanpa lengan tapi nggak pernah dipake, tersimpan rapi di lemari. Aku cuma suka buatnya aja :D
Seneng bisa bikin sesuatu yang banyak orang suka. Kamu suka nggak?? hehehehe
Saya cinta banget sama bunga satu ini, jadi kali ini mau share sedikit banyak tentang bunga satu ini.
Bunga matahari (Helianthus annuus L.) adalah tumbuhan semusim dari suku kenikir-kenikiran (Asteraceae) yang populer, baik sebagai tanaman hias maupun tanaman penghasil minyak. Bunga tumbuhan ini sangat khas: besar, biasanya berwarna kuning terang, dengan kepala bunga yang besar (diameter bisa mencapai 30cm). Bunga ini sebetulnya adalah bunga majemuk, tersusun dari ratusan hingga ribuan bunga kecil pada satu bongkol. Bunga matahari juga memiliki perilaku khas, yaitu bunganya selalu menghadap ke arah matahari atau heliotropisme.
Umumya pendek, kurang dari setahun, tegak, berbulu, tinggi 1 - 3 m. Termasuk tanaman berbatang basah (herbaceus), daun tunggal berbentuk jantung sepanjang 15 sentimeter panjang dan 12 sentimeter lebar dengan gagang daunnya yang panjang kemas tersusun pada batang pokoknya yang keras dan berbulu. Pokoknya setinggi 90 – 350 cm, berbatang kecil, berbulu kasar dan hampir tidak bercabang.
Bunga matahari (Helianthus annuus), ditanam pada halaman dan taman-taman yang cukup mendapat sinar matahari, sebagai tanaman hias. Tanaman ini cocok di segala alam tetapi tanaman ini paling subur di daerah pegunungan, daerah yang memiliki kelembaban cukup dan banyak mendapatkan sinar matahari langsung. Bunga matahari dapat tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Bunga matahari tidak dapat hidup di daerah yang tergenang air. Karena akar-akarnya akan membusuk.
Di awal penanaman, taburkan 3 kg pupuk kandang (kotoran ayam, kotoran kambing, kotoran lembu) per bibit. Ulangi saat tanaman berumur sebulan. Berikan 25 gram ZA per batang. Di usia 1,5 bulan, tambahkan 15 gram TSP per batang. Jangan lupa, perhatikan saluran pembuangan air, hama dan penyakit yang bisa mendera. Umur 2 bulan, bunga dari batang utama mulai kuncup, diikuti cabang - cabang di ruas - ruas daun di bawahnya. Satu batang tanaman bisa menghasilkan 10 - 12 tangkai bunga. Untuk pemeliharaan lakukan penyiraman setidaknya sekali sehari. Bunga ini juga menarik serangga untuk membantu penyerbukan *siap-siap nanti di halaman banyak serangga*
Bunga matahari diperbanyak dengan biji. cukup semaikan biji di dalam pot, untuk skala besar bisa semaikan dibedengan. Biji akan tumbuh dalam beberapa hari, setelah cukup besar sudah bisa dipindahkan.
Selain cantik menghias halaman, bunga ini ternyata banyak manfaatnya juga loh.
Bunga: antipiretik, hipotensif, menurunkan tekanan darah, mengurangi rasa nyeri (analgetik), nyeri haid (dysmenorrhoe), nyeri lambung (gastric pain), sakit kepala, sakit gigi, sakit perut, tekanan darah tinggi, radang payudara (obat luar), radang persendian (obat luar), kosmetik (mencegah penuaan dini), dan sulit melahirkan.
Akar: Anti inflamasi, analgesik, antitusif, diuretic, batuk, batu ginjal, bronkhitis, keputihan (leucorrhoe), anti radang, peluruh air seni, pereda batuk, dan menghilangkan nyeri.
Daun: Anti inflamasi, analgesik, antipiretik, anti radang, mengurangi rasa nyeri, dan anti malaria.
Sumsum dari batang atau dasar bunga: Merangsang energi vital, menenangkan liver, merangsang pengeluaran air kemih, menghilangkan rasa nyeri pada waktu buang air kemih, nyeri lambung, air kemih bedarah (hematuria), ari kemih berlemak (chyluria), kanker lambung, kanker esophagus dan malignant mole.
Biji: Anti dysentery, membangkitkan nafsu makan, lesu, sakit kepala, , disenteri berdarah, merangsang pengeluaran cairan tubuh (hormon, enzym, dll.), merangsang pengeluaran campak (measles). Bijinya juga bisa jadi cemilan: kuaci.
Untuk jenis-jenis bunga matahari bisa dilihat di postingan ini.
Riris tidak pernah membayangkan dirinya bisa ada di sini. Di negeri dimana pelangi di lukis. Tapi Riris akui negeri ini sangatlah indah. Negeri yang 180 derajat berbeda dengan Bumi. Sayangnya semua warna yang ada di negeri ini mulai memudar.
Awalnya Riris kesulitan untuk beradaptasi, dia benar-benar buta dengan kondisi negeri itu. Untungnya Riris ditolong oleh Arabel, seorang pelukis pelangi yang ternyata adalah penanggung jawab atas terdamparnya Riris di negeri antah berantah itu.
Dan Riris ‘diundang’ ke sana untuk membantu negeri yang sedang di ujung kehancuran itu: menjadi pelukis pelangi. Satu-satunya pelukis pelangi yang tersisa hanyalah Arabel seorang, yang lainnya sudah meninggal di tangan prajurit-prajurit Rasta, penyihir yang sangat berambisi untuk menghancurkan Negeri Iris dan menggantikan keindahan itu dengan kegelapan.
“Untuk apa Rasta mengisap warna-warna itu?” Tanya Riris penasaran.
“Jika warna itu habis maka keindahan juga ikut habis. Negeri ini disokong oleh keindahan dari warna-warna pelangi, atau yang kalian kenal dengan MEJIKUHIBINIU!”
“Kamu pernah bilang Negeri ini dan Bumi saling berhubungan kan?”
Arabel mengagguk pelan. “Ya. Keindahan di Bumi bersumber dari sini. Jika negeri ini hancur maka jauh lebih mudah untuk Rasta menguasai keduanya!”
Bumi dikuasai oleh penyihir seperti Rasta? Riris tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Riris harus melakukan sesuatu! Bukankah itu tujuannya dia bisa ada di sini? Meski dia agak shock juga pada awalnya.
Mendadak semangat Riris meletup-letup. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Ini!” Arabel menyodorkan sebuah kuas bulu, Riris menerimanya dengan gugup. Semangatnya menguap dengan cepat.
Riris memandangi kuas yang serasa sangat ringan di tangannya. Riris memang sering melukis pelangi di atas kanvas. Pelangi adalah objek lukisan favorit Riris, tapi belum pernah sebelumnya dia melukis pelangi langsung di langit. Bahkan memimpikannya pun dia tidak pernah.
“Apakah aku bisa?” Tanya Riris ragu. Arabel yang sedang sibuk mengurusi cat-cat langsung menoleh.
“Tentu. Ini sama saja dengan melukis di atas kanvas seperti yang biasa kamu lakukan. Ayo kita mulai!”
Riris mengikuti Arabel yang sudah berjalan lebih dahulu menuju ke sebuah taman di tengah negeri yang sepi. Puing-puing bangunan berserakan di beberapa tempat. Riris mengamati sekeliling, mencari pintu penghubung antara bumi yang dulu menjadi jalannya hingga bisa sampai ke sini, tapi tak ada tanda-tanda sedikit pun bahwa pintu itu ada atau bahkan pernah ada. Yang ada hanyalah kabut-kabut tipis berwarna-warni yang sudah memudar di beberapa bagian, bahkan ada yang nyaris kehabisan warna. Memucat, seperti manusia yang kehabisan darah.
“Kemana Nathan pergi?” Tanya Riris lagi, terus mengekor di belakang Arabel, bagaimanapun dia tidak terlalu mengenal negeri ini.
Nathan adalah Rex (Raja) di negeri itu. Tahta itu terpaksa diembannya di umur yang sangat belia karena ayahnya meninggal saat perang besar terjadi setahun lalu.
Nathan dan Arabel sudah bersahabat sejak kecil, apalagi keduanya berasal dari keluarga bangsawan. Selama di negeri Iris mereka selalu bertiga, tak pernah terpisahkan sama sekali. Tapi pagi ini Nathan tidak ada dan itu menimbulkan pertanyaan di benak Riris.
“Nathan sedang ke danau Warna. Sepertinya danau Warna yang menjadi incaran Rasta sekarang. Air danau itu makin menipis saja! Kita bisa kehabisan cat pewarna untuk melukis pelangi jika danau itu sampai kering!”
Riris tidak bertanya apa-apa lagi. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, menuju ke Bumi. Tempat tinggalnya. Tempat Bunda, Jaci dan orang-orang yang disayanginya berada. Bagaimana jika dia tidak bisa kembali? bagaimana dengan Bunda?
“Prajurit-prajurit Rasta biasa dipimpin oleh Ken!” Suara bening Arabel berhasil memecahkan lamunan Riris!
“Siapa Ken?”
“Ken adalah putra Rasta. Dulu, sebelum peperangan pecah, aku, Nathan dan Ken adalah sahabat. Ibunya juga adalah seorang pelukis pelangi.” Riris terkesiap mendengar pernyataan Arabel.
“Tapi—”
“Hujan sebentar lagi akan reda. Ayo, kita harus segera memulai melukis pelangi.” Arabel memotong. Mereka harus segera memulai melukis karena hujan akan segera reda.
Riris tiba-tiba membayangkan betapa indahnya negeri ini saat masih damai dulu. Gumpalan awan, kabut tipis, serta danau yang berwarna-warni terformulasi dalam takaran warna yang pas satu sama lain. Kontras.
”Sering muncul prajurit Rasta jika hujan sedang turun di bumi. Jadi berhati-hatilah. Bersembunyilah di balik kabut yang warnanya belum terlalu pudar. Mereka tidak akan melihatmu. Mereka resisten terhadap warna cerah!” Riris mengangguk-angguk mendengar penjelasan Arabel meski sebenarnya dia masih ragu.
Bisakah dia melukis dengan baik? Dan bisakan dia menghindar dari prajurit Rasta yang terkenal amat sangat kejam itu? Bagaimana jika dia tidak bisa kembali ke Bumi? Bagaimana dengan Bunda?
“Tidak.. Tidak..” Riris menggeleng pelan, berusaha menghalau pikiran negatif yang mulai menghantui.
“Semua akan baik-baik saja!” Tegasnya dalam hati. Riris mulai meniti gumpalan-gumpalan awan berbentuk tangga menuju langit.
Dia mencelupkan kuasnya di cat berwarna merah. Dia memulai dengan warna favoritnya. Dengan ragu Riris menggoresnya kuasnya ke langit. Tapi tidak terjadi apa-apa. Riris mencoba lagi. Masih sama. Riris terus mencoba tapi tidak ada perubahan.
“Arabel, aku tidak bisa melakukannya!” Kata Riris putus asa. Suaranya terdengar sedih. Arabel datang menghampiri. Dia tersenyum tipis.
“Apa kau percaya bisa melakukannya?” Arabel menyentuh pelan bahu Riris, berusaha menyalurkan energi positif untuk sahabat barunya ini. Riris terdiam, mengulangi pertanyaan itu dalam hari. Percayakah dia?
“Dalam melukis pelangi, bukan hanya sekedar kuas dan cat saja yang dibutuhkan. Tapi juga kepercayaan. Apapun yang kamu lakukan, sesulit apapun itu, jika kamu percaya, maka sesuatu itu akan menjadi mudah. Aku percaya kamu bisa melakukannya, jadi kamu juga harus percaya pada dirimu sendiri!” Lanjut Arabel.
Riris menghela nafas panjang, “Ya. Aku pasti bisa. Ini juga untuk Bumi!” Tegas Riris, senyum tipis tersungging di bibirnya. Arabel ikut tersenyum. Tidak salah dia memilih Riris sebagai penolong.
***
Riris sudah menyelesaikan setengah dari pelangi itu saat dia merasakan temperatur udara tiba-tiba turun secara drastis, sama seperti saat pertama kali dia menginjakkan kaki di negeri ini dan prajurit Rasta menyerangnya, beruntung saat itu dia ditolong oleh Arabel.
Arabel. Dimana Arabel? Riris mulai mencari-cari. Saking bersemangatnya melukis Riris sampai tidak menyadari bahwa dia tidak bersama Arabel lagi. Riris meniti gumpalan awan dengan cepat, dia ingin segera menemukan Arabel dan pergi dari tempat itu.
Tapi terlambat, begitu Riris menginjakkan kakinya di tanah, dari kejauhan dia bisa melihat prajurit-prajurit Rasta semakin mendekat, semacam bayangan hitam yang terus menyerap warna dari sekitarnya. Dan anehnya tindakan itu malah membuat mereka semakin gelap dan warna disekitar semakin memudar.
Riris segera menghindar, dirapatkannya tubuhnya dibalik puing-puing bangunan. Riris menyentuh dadanya, merasakan detakan jantungnya yang semakin memburu. Bayangan-bayangan hitam itu semakin mendekat. Riris menyentuhkan ujung kuasnya ke arah kabut tipis yang ada di sebelah kirinya hingga semua cat yang menempel di kuas bulu itu habis. Perlahan kabut yang awalnya berwarna pucat kini menjadi merah darah, kabut itu pun menjadi perisainya.
Dalam jarak yang sangat dekat, Prajurit-prajurit Rasta tidak mampu menghisap warna itu karena pancaran sinar yang dihasilkan. Riris menghela nafas lega. Dia mengintip sebentar untuk memastikan bahwa bayangan hitam yang ternyata terlihat sangat menakutkan dalam jarak yang sangat dekat sudah menjauh.
Riris segera ingin melarikan diri dan menjauh dari situ. Dia mengambil rute yang berlawanan dengan sekumpulan prajurit tadi.
Tiba-tiba tubuhnya menubruk seseorang. Riris segera mendongak, untuk sepersekian detik dia terpana sampai akhirnya dia tersadar siapa sebenarnya orang yang mengenakan pakaian serba hitam ini.
“Akkrrggghhh..” tanpa sadar Riris malah berteriak dengan keras. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Cat di kuasnya sudah habis dan dia tidak punya persediaan.
Temperatur udara kembali menurun menandakan prajurit itu semakin mendekat. Tanpa Riris duga, orang yang tadi ditubruknya langsung mendekap mulut Riris dengan tangan dan merapatkan tubuhnya di dinding, menghimpit –melindungi—Riris dari pandangan prajurit-prajurit itu.
Riris merasa jantungnya serasa ingin melompat keluar. Tapi kali ini sepertinya bukan karena takut tapi karena posisi mereka, orang itu seperti merangkul Riris.
Prajurit Rasta mencari-cari asal suara itu, tapi tidak berhasil mereka temukan pada akhirnya. Salah satu prajurit lalu berbicara dengan bahasa yang Riris tidak mengerti sama sekali dan kemudian mereka menjauh.
Dekapan tangan di mulut Riris melonggar. Riris langsung melompat menjauh, mencipta jarak.
“Apa yang kau inginkan?” Sembur Riris. Orang itu tersenyum sinis.
“Begitukah caramu berterima kasih?” Riris tidak menjawab. Dia menggenggam kuas dengan sangat erat, berusaha menyalurkan ketegangannya.
Orang itu menatap Riris dengan tajam, dan juga –kalau Riris tidak salah lihat—khawatir?
“Riris?!” Riris langsung menoleh begitu mendangar namanya di panggil. Suara bening yang sangat familiar. Arabel. Orang yang berdiri di depan Riris langsung terkesiap.
“Well, kita pasti bertemu lagi!” Bisiknya di telinga kanan Riris sebelummenghilang. Riris terpaku.
“Kamu tidak apa-apa? Maaf aku meninggalkanmu!” Kata Arabel cemas. Riris menggeleng pelan.
“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir!”
“Ayo kita segera pergi dari sini. Saat ini keadaan sedang tidak aman.” Arabel menuntun Riris pergi menjauh dari taman itu.
Riris tidak peduli dengan lingkungan sekitar lagi, bahkan suara Arabel terdengar hanya seperti desauan angin. Pikiran Riris sedang terfokus pada orang yang menolongnya tadi.
Ken.
Jika itu memang Ken, mengapa dia malah menyelamatkan Riris? Bukankah tujuan mereka untuk mengambil alih negeri ini dan menjadikannya negeri kegelapan? Riris tidak mengerti!
Banyak hal yang Riris tidak—belum—tahu memang. Termasuk perasaan aneh yang mulai menyelusup masuk saat Ken merangkulnya tadi.
“Mungkin Ken memang tidak sejahat itu!” Gumam Riris pelan!
Nggak tahu kenapa aku tiba-tiba kepikiran pengen nanam bunga matahari di halaman depan rumah yang amat sempit. Aku memang paling suka bunga matahari. Dulu di Sinjai ada tanamannya tapi udah punah bertahun-tahun lalu, aku juga nggak pernah kepikiran lagi sampai beberapa minggu lalu.
Awalnya sih cuma liat tanaman kangkung Alia didepan rumahnya, jadi pengen nanam-nanam juga, tapi saya pengen nanam bunga aja, jadi saya ambil deh biji bunga Pacar Air yang banyak tumbuh juga di halaman rumahnya Alia. Saya sebar di halaman depan yang rumputnya lumayan tinggi. Tapi sekarang udah dibersihkan.
Pas lagi masuk kelas, kebiasaan kalau kebosanan saya suka gambar-gambar apa aja di kertas, entah saling kirim memo sama Eni atau Alia atau ngegambar-gambar bunga. Tiba-tiba kepikiran bunga matahari dan pengen nanam. Pasti cantik kalau banyak bunga tumbuh di halaman, lagipula lumayan kan dapet kuaci. hehehe
Kemarin saya udah nyari bibitnya ke 5 toko Tani di jalan Veteran tapi nggak satupun yang ngejual, yang ada cuma sayur-sayuran sama buah doang. Alia yang kebetulan nemenin saya nyari juga ngeusahain nyariin di kampungnya, di Mandar. Semoga ada! Saya juga udah teleponin Mama nyuruh Nenek di Sinjai Barat buat nyariin, bibit tanaman yang ditanam di Sinjai dulu kan dari sana.
Nah, tadi pagi, Saya sama Anto bangun pagi-pagi buat ngerapiin halaman, rencananya juga pengen nyari bibit bunga matahari lagi, kali ini di toko bunga.
Kami beres-beres halaman sampai pukul 8.30, setelah itu kami pergi nyari bunga. Tanpa mandi pagi dulu. Saya sebenarnya pengen mandi dulu tapi dilarang sama Anto, katanya setelah pulang aja baru mandi.
Pertama kita nyari di pasar terong tapi nggak ada, jangankan bunga matahari bunga lain aja nggak ada. Terus kita lanjut ke tanjung bunga. Eh, nyampai tanjung, Anto pengen berenang di Akkarena, jadilah kami mampir dulu di GTC buat ngambil uang di ATM. Belum ada satu pun toko yang buka, yang ada cuma cleaning service yang lagi bersih-bersih. Di Akkarena cuma makan aja, saya nggak berenang. Nggak suka berenang di air laut soalnya, lengket!
dan ngeliat suasana ini keinget sama pantai Melayu di Batam. Nyaris mirip, bedanya kalau di Akkarena udah di semen, kalau di pantai Melayu masih pasir. Jadi, pengunjung bawa tikar masing-masing dan duduk di pinggir pantai, kesan tamasyanya jauh lebih berasa. Tiba-tiba jadi kangen Batam. huhuhu :(
Saya sempat nulis nama di pasir, setelah itu di foto dan dijadiin foto Profil facebook, nggak lama bakal ganti foto avatar twitter juga. hahaha
aku nulis ini nih, tau bacanya nggak? tapi kayaknya bakal ketahuan dari semua postingan-postingan yang memenuhi blog saya akhir-akhir ini. hahaha
Pas mau pulang langitnya mendung banget, langsung ke ingat kalau kemarin Jepang kena Tsunami dan ngancam Sulawesi juga. meski rumornya Sulawesi Utara saya tetep mikir macem-macem, gimana kalau tiba-tiba ada tsunami juga di Makassar? apalagi dosenku pernah cerita kalau di sekitar Makassar juga punya peluang untuk gempa.. Hyiiii ngeri.
Kami ke tanjung bunga buat nyari bunga dan nggak ada bunga matahari. Penjualnya bilang bunga matahari udah punah. Mungkin maksudnya di Makassar udah nggak ada lagi gitu. Kalau punah kan berarti udah nggak ada sama sekali dong!
Kami cuma beli melati, rencana mau beli mawar juga tapi nggak jadi, sama penjual bunga di situ di suruh ke TVRI nyari bunga mawar disana, katanya sih lebih murah. dan kami keguyur hujan di tengah jalan. Hujan-hujanan deh. Tau aja kalau saya belum mandi. hahaha
Nyampe rumah pukul 12 dengan basah kuyup, langsung mandi dan tidur sampai jam 4 sore. Rasanya lelah sekali!!
Aku dah putus asa nyari bunga matahari, dan bodohnya saya nggak kepikiran toko online sama sekali selama ini. Langsung dah searching dan nemu. Gampang, nggak capek. Cuma ngeklik-klik aja, nulis pesanan, transfer duit, nungguin dianterin di rumah. nggak perlu repot-repot keliling kota, menghabiskan tenaga. Huuhh
Saya beli dua paket, masing-masing 20ribu, lumayan murah. Jenis sun-gold dan kidstuff. Kalau sun-gold warnanya agak orange, kalau kidstuff warnanya kuning cerah, sejenis kali yah sama sunflower yang biasa saya tanam. .
kidstuff
sun-gold
Masih banyak yang lain dan semuanya cantik-cantik. Ternyata ada juga yang warna putih dan kalau aku liat bunganya kayak bunga daisy, cuma sunflower diameternya lebih besar.
Cappuccino hybrid
chianti1
Strawberry1
The American Giant
Vanilla ice
Daisy flower, mirip kan sama sunflower Vanilla ice??
Udah nggak sabar nungguin kiriman benihnya datang dan saya bisa memenuhi halaman rumah dengan bunga matahari. hihihi
Lagi iseng-iseng bikin ringtone lagu Super Junior, dan hampir semuanya adalah part Siwon. Saya cinta sih. hahaha. Ringtonenya aku share di sini, kalau mau ngejadiin suara baritonenya Siwon sebagai ringtone ponselmu, silahkan, saya suka berbagi kok! hehehe. Juga mau di upload ke 4shared, biar yang punya ringtone ini makin banyak ^^