Tampilkan postingan dengan label fanfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfic. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2011

The Third Time

Diposting oleh sachakarina di Kamis, September 29, 2011 0 komentar


Entah dimana saya pertama kali membaca pengumuman lomba itu, yang jelas saya tergugah untuk mengikutinya. Sebuah kontes penulisan fanfic. Yang menarik perhatianku sampai ingin mengikutinya adalah hadiah yang ditawarkan: sebuah album kelima Super Junior versi B. Saya sudah membeli versi A dan versi C, hanya versi B saja yang belum ada. Makanya saya terobsesi untuk memenangkan lomba itu.

Mulailah saya mencari-cari ide yang unik dan menarik. Berdasarkan pengalaman, cerita fantasy selalu menarik perhatian, makanya saya terfokus pada genre itu. Ide awalku adalah seorang gadis yang kecelakaan dan meninggal saat dalam perjalanan menuju konser Super Junior. Hantu gadis itu bergentayangan karena keinginan terkahirnya belum kecapain. Suatu hari dia bertemu Siwon yang sedang syuting, Siwonlah yang membantunya untuk menyelesaikan urusannya lalu pergi menuju cahaya.

Alia bilang ceritanya biasa banget, nggak menarik sama sekali. Cuma hantu-hantu doang, ceritanya kosong. Jadi saya muter otak lagi mikirin idenya. Ide utama sih sama, tentang hantu-hantuan. Akhirnya kuputuskan bikin cerita tentang roh yang gentayangan karena raganya dipakai oleh roh lain yang udah seharusnya meninggal dan raganya sudah dikuburkan. Hantu itu mengikuti Siwon kemana pun dia pergi, meminta Siwon untuk membantunya mengambil kembali raganya.

Just like that.

Aku nulis dengan susah payah, apalagi dengan mood menulis yang hilang-timbul setiap saat. Kalau nggak mirikin hadiah yang menggiurkan itu aku pasti udah menyerah. Tulisannya aku selesaikan sehari sebelum batas akhir pengiriman naskah, itu juga belum di edit dan revisi.

Esok paginya, aku nyuruh Alia baca dan menurutnya cerita itu banyak bolongnya. Saya sadar. Di tulis buru-buru disaat ide mampet dan lembaran yang terbatas (cuma 8). Alia ngasih saran-saran seperti biasa, tapi saya rasanya udah nggak sanggup buat hapus-ganti scene. Jadi saya ngedit typo dan memperbaiki grammar. Habis itu ngirim.

Saya nggak harap banyak bisa menang, yang penting adalah saya bisa melawan malas dan writers block yang mengganggu itu. Saya bisa mengikuti tenggat waktu yang disediakan.

Hari pengumuman pun tiba.

Sepanjang hari saya deg-degan, kalau ingat bahwa sebentar lagi akan pengumuman, jantung saya langsung mencelos, kayak disiram air dingin. Alia bilang saya mungkin nggak dapet album itu. Saya udah pasrah aja, tapi jantung saya nggak pernah bisa kompromi jadi saya mengalihkan perhatian dengan sibuk membuat scrapbook Super Junior.

Tiba-tiba hape bunyi, ada mention dari temen di twitter, yang ngucapin selamat karena FFku jadi juara tiga. langsung aja saya meluncur ke website Hallyucafe, dan benar saya menjadi pemenang ketiga.

Saya emang nggak dapet hadiah album Super Junior versi B, tapi buku Khokkiri karya Mbak Lia (penulis buku Seoulmate yang amat saya suka itu). itu buku udah aku cari berkali-kali di Gramedia tapi belum ada, Thank God, saya dapet gratisan. Hehehehe.

Saya bisa bangga, tulisan saya akhirnya kembali menyabet juara untuk ketiga kalinya. Semuanya berkisah tentang Super Junior, dua tentang Siwon dan satu tentang Ryeowook. Memompa semangat saya untuk terus menulis, berharap tulisan-tulisan bisa menjadi lebih baik dan baik sampai saya benar-benar bisa mewujudkan salah satu mimpi : menerbitkan buku secara nasional.

Fanfic berjudul 2 In 1 itu bisa kalian baca blog hallyucafe Jangan lupa meninggalkan komentar di sana ya ^^

Terakhir, masih adakah alasan lain mengapa saya harus berhenti menyukai dan mengidolakan Super Junior??

Jawabannya jelas, tidak ada!!

Senin, 01 Agustus 2011

OMG!!! It's me???

Diposting oleh sachakarina di Senin, Agustus 01, 2011 0 komentar


1 Agustus 2011, hari ini pertama ramadhan, juga hari teaser Mr Simple Super Junior dirilis.

Baru bangun saya langsung mantengin timeline tapi itu teaser nggak nongol2 juga. Mungkin karena terlalu fokus sama teaser saya jadi lupa sama satu hal yang juga tidak kalah penting.

Pengumuman lomba nulis fanfic Gagas Media.

Saya baru nyadar pas liat tweet @gagasmedia. Tanpa basa-basi saya langsung ngunjungin link yang ada disitu. Yang pertama saya liat adalah judul fanfic yang menang.

Berapa orang sih yang makai bahasa Latin sebagai judul?? Makanya saya bisa langsung ngenalin fanficku.

Buenas Noches, Querida!

Aku langsung teriak kegirangan. Happy berat rasanya.

Fanfic itu pernah aku posting di blog ini juga. Cerita tentang Ryeowook. cerita itu dulunya pernah aku ikutkan lomba di Leutika tapi nggak juara (dengan judul dan tokoh yangjelas beda ) lalu aku rombakjadi fanfic, awalnya dalam bentuk cerita bersambung karena merupakan sekuel dari fanfic Super Junior yang aku buat. Aku persingkat jadi oneshot untuk lomba itu.

Nggak nyangka aja bisa menang. Super Junior benar-benar adalah sumber inspirasi. Gimana aku nggak makin cinta coba??


Aku jadi makin semangat untuk terus nulis. Terus belajar. Semoga suatu hari naskahku bisa diterbitkan oleh penerbit nasional. Gagas media mungkin, hehehe.

By the way, sekarang saya lagi nulis novel, sedikit banyak bercerita tentang Siwon dan ELF. Doain ya semoga bisa segera selesai dan diterima penerbit. Aminn

Location : Jalan Sinjai - Watampone, Sinjai Utara,
Posted via Blogaway

Sabtu, 16 Juli 2011

Buenas Noches, Querida

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Juli 16, 2011 2 komentar
Aku mengenggam tangan gadis yang sedang terlelap di atas tempat tidur di dalam ruangan bernuansa hijau muda, jarinya terasa dingin. Aku menoleh ke kanan dan bergidik ngeri melihat berbagai jenis alat kedokteran yang melekat di tubuhnya. Semua alat itu seolah berdetak menghitung jumlah hari yang masih mampu dilaluinya. Penyakit Leukimia terus menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit.

Namanya Zella Thania Jacinda. Dia meminta untuk dipanggil Jaci.

Pertemuan pertama kami di supermarket tidaklah spesial, satu-satunya yang spesial hanyalah dirinya sendiri. Dia tampak menonjol di antara ribuan orang yang ada di tempat itu, enam bulan yang lalu. Dia cantik. Jelas.

Sebelum kami saling mengenal lebih dekat, aku kesulitan mendeteksi darimana sebenarnya dia berasal. Matanya terlalu lebar untuk ukuran gadis Korea, dan paras wajahnya tampak berbeda. Rambut cokelat sepunggungnya dibiarkan tergerai, dihiasi jepitan kuning yang terlihat lucu. Bibirnya menyunggingkan senyum menawan.

“Ayahku campuran Amerika Latin dan Indonesia, sedangkan Ibuku orang Korea. Itu sebabnya aku tampak aneh.” katanya padaku beberapa hari kemudian saat kami bertemu kembali di sebuah café.

Tak ada yang aneh dalam dirinya. Dia sangatlah menakjubkan. Wajah khas Latinnya tampak indah, hidungnya mancung. Matanya agak lebar dan berwarna cokelat susu, pasti dia mendapatkan mata indah itu dari gen Indonesia-nya. Dan kulitnya putih mulus, tak ada bintik hitam sedikitpun seperti orang-orang Latin lain. Dia jelas sangat indah. Dan semua itu bukanlah sebuah rekayasa kedokteran. 

Dia sama sepertiku, sangat senang memasak. Tapi dia jauh lebih hebat. Dia terobsesi untuk belajar membuat segala jenis masakan dari berbagai belahan dunia. Dia juga sangat menyukai Super Junior meski awalnya dia tidak mengenaliku sebagai salah satu penyanyi utama di Super Junior.

“Aku lahir di Meksiko dan menghabiskan sebagian masa kecilku di Korea hingga aku berumur enam tahun, lalu aku kembali ke Meksiko untuk menyelesaikan sekolahku. Aku hanya mengunjungi Indonesia sekali-sekali. Aku punya seorang teman di sana yang memiliki nama sama denganku, kami berkenalan di salah satu website yang sering aku kunjungi. Hahaha,Jaci tertawa setelah menceritakan tentang dirinya. “Aku seharusnya tidak menceritakan semua cerita tidak penting ini padamu. Aku memang agak konyol.”

“Tidak.” jawabku cepat. “Aku suka mendengarmu bercerita.”

Suara soprannya terdengar merdu. Logat Koreanya terdengar aneh karena tercampur dengan logat lain. Aku menyukainya. Aku menyukai segala tentangnya. Aku tak menyangka bahwa untuk menyukai seseorang hanya memerlukan waktu yang singkat. Aku benar-benar jatuh padanya. Cinta itu telah meretas.

Pembicaraan kami melompat-lompat dari topik yang satu ke topik yang lain. Bersama dengannya, kau tidak perlu berpikir akan membicarakan apa lagi setelah pembicaraan terakhir berakhir, dia akan memberi topik baru yang tidak kalah asyik untuk dibahas. Dia selalu menceritakan keindahan kota tempatnya tinggal, sebuah Negara yang terletak di Amerika Utara.

Di Seoul aku tinggal bersama sepupuku, dan kau adalah teman pertama yang aku temui. Apakah kau ingin menjadi temanku seterusnya?” Aku mengangguk antusias. Raut wajahnya langsung berubah  kecewa. Apa yang salah? “Sayang sekali. Padahal aku ingin kau menjadi sahabatku, bukan hanya sekedar teman.” Dia melanjutkan.

Alisku berkerut. Baiklah, aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya. Dan kata-kata yang 
dikeluarkannya membuatku bingung. “Aku ingin menjadi sahabatmu, jika kau menginginkan itu. Lebih dari sekedar teman.” Dia berbinar ceria mendengar ucapanku. “Aku bahkan bersedia menjadi pacarmu jika kau mau.” candaku.

“Hahaha, aku hanya membutuhkan sahabat. Bukan pacar yang akan kutinggal pada akhirnya.”

Heh? 

Saat itu aku baru mengenalnya beberapa hari. Kali ini aku tahu semua. Seiring waktu yang kami habiskan bersama hingga aku bisa mengenalnya lebih dalam. Dia telah menyembunyikan sesuatu dariku. Dia menyembunyikannya dengan sangat baik.

“Ryeowook.”

Aku tersadar dari lamunanku saat tangan yang kugenggam bergerak. Aku menoleh ke arah Jaci yang terbaring lemah.

“Kau bangun?” tanyaku dan dia mengangguk.

“Aku lelah tertidur. Aku ingin keluar. Aku ingin ke pantai.” Suaranya terdengar lemah.

Penyakit Leukimia itu bahkan nyaris menghabiskan suaranya. Itulah yang selama ini disembunyikannya dariku. Penyakitnya.

Dia tidak pernah bercerita tentang penyakitnya padaku. Yang lebih menyakitkan adalah aku harus mengetahuinya sendiri setelah dia jatuh pingsan saat kami menghabiskan waktu bersama dengan memasak di dapur kecil di apartemennya, aku sangat panik saat itu apalagi setelah itu aku dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang kucintai harus berjuang melawan sebuah penyakit mematikan. Aku tak akan tahu siapa yang akan menang nantinya.  

“Hmm.” Aku hanya bergumam pelan lalu mengelus tangannya yang ditusuk jarum infus. Rambutnya sudah habis, tubuhnya makin kurus, pipinya kian tirus, tapi garis-garis kecantikan di wajahnya tetap tampak.

Aku tak bisa berkata banyak untuk menyenangkannya, aku tak bisa menjanjikan sesuatu padanya yang aku sendiri tidak tahu bisa aku tepati atau tidak.

Rasanya air mataku sudah ingin tumpah tapi berusaha aku tahan sekuat tenaga. Aku tak boleh menitikkan air mata di depannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa membantu memompa semangatnya untuk bisa tetap bertahan. Bukan seseorang yang akan meruntuhkan semua pertahanannya.

“Jangan sedih, aku akan segera sembuh dan menghabiskan seluruh waktuku denganmu. Kita akan berkencan di pantai. Kau mau kan?” bisiknya lirik, tangan kurusnya bergerak menyentuh pipiku dan mengelusnya.

Jaci adalah orang paling optimis yang pernah aku kenal, dengan semangat hidup yang tinggi dan kepribadian-kepribadian yang tidak kalah cantik lainnya. Mungkin itu sebabnya aku sangat mencintainya.

Aku tahu tak banyak harapan untuk Jaci bisa bertahan, tapi tak ada yang tahu rahasia Tuhan tentang ajal dan umur manusia. Aku hanya berharap bisa bersama dengannya lebih lama.
Jaci mengangkat kepalanya. “Bantu aku!” katanya. Aku langsung bangkit dari posisiku untuk membantunya. Dia duduk di tepi tempat tidur sembari menungguku yang sedang mengambil kursi roda untuknya.

Jaci suka menikmati pemandangan Seoul sore hari dari balik jendela kamar rumah sakit yang mengungkungnya selama berminggu-minggu. Pemandangan dari sana sebenarnya tidaklah indah, hanya gedung-gedung pencakar langit dan mobil yang berlalu-lalang di bawah, tapi itu semua tetap  membuatnya tersenyum.

“Ryeowook,” panggilnya, aku hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang jauh menembus kaca. “Kau percaya reinkarnasi?”

Aku mematung mendengar kalimatnya, mendadak langit kelam karena mendung menjadi sangat menarik perhatian.

Aku tak pernah suka jika Jaci mulai membahas masalah itu lagi jadi aku hanya terdiam. Aku tak ingin menjawab. “Ayolah, Ryeowook. Aku kan cuma bertanya.” rengeknya.

“Kamu tahu aku nggak percaya.” jawabku acuh tak acuh pada akhirnya.

“Aku juga tidak, tapi aku ingin berandai-andai.” ujarnya, meski dia tahu bahwa aku tidak suka membahas topik seperti ini dia tetap melanjutkan kalimatnya karena dia juga tahu bahwa aku tak mungkin tidak mendengar apa yang akan dia katakan. “Kalau aku meninggal—”

Jaci, tolong. Jangan sebut kata itu.Aku tidak tahan lagi, Aku tidak pernah bisa membayangkan jika Jaci meninggal.

“Semua orang kan pasti meninggal. Tinggal menunggu waktu saja.” Aku sangat sebal saat dia keras kepala seperti saat ini, dia terus melanjutkan. “Kalau aku meninggal dan bereinkarnasi aku pengen jadi burung, yang bisa terbang bebas ke mana pun dia ingin pergi. Tak ada melarang dan membatasi. Bisa bermain ke awan. Bebas, tak ada halangan.Mata Jaci tampak menerawang, sebuah senyum tersungging di bibir pucatnya.

Air mata, jangan jatuh sekarang. Tolong!

***

Sebulan berlalu begitu cepat tapi aku bersyukur karena Jaci sudah jauh lebih baik. Aku tak ingin membayangkan jika penyakitnya kembali kambuh. Dia tak pernah ingin tinggal di rumah, setiap aku tidak ada kegiatan dengan Super Junior dia selalu mengajakku ke manapun dia mau pergi. Kami berjalan-jalan keliling kota dan banyak kegiatan lain tapi kami belum pernah ke pantai, seperti janjiku dulu. Aku takut dia kelelahan nantinya.

Hari ini aku menjemputnya karena dia ingin ikut pesta yang diadakan oleh orang tua Siwon Hyung. Sejujurnya, aku lebih suka jika dia tinggal saja di rumah tapi dia memaksa ikut dengan alasan tidak ingin kehilangan sebuah moment berharga.

“Berkumpul bersama semua member  Super Junior adalah moment berharga. Aku tak ingin kehilangan moment itu.”

Jaci memang kenal dengan seluruh member Super Junior. Dia pernah hadir di konser kami, dan member yang lain juga kadang datang berkunjung saat Jaci berada di rumah sakit.

Dia mengenakan gaun berwarna merah selutut, kepalanya yang sudah kehabisan rambut ditutupi dengan wig berwarna cokelat sebahu. Agar tampak lebih cantik adalah alasan yang diutarakannya saat aku bertanya mengapa dia harus mengenakan sebuah wig. Aku pikir tak perlu, dia selalu tampak cantik kapanpun itu.

Kaki jenjangnya juga dihiasi dengan stiletto berwarna sama. Bibirnya dipulas dengan lipstik berwarna pink, meski begitu, aku masih bisa tahu bahwa dibalik warna itu, bibirnya sangat pucat.

Nada-nada pelan piano mendenting pelan, membuat suasana terasa nyaman. Aku melirik panggung kecil yang ada di bagian depan. Leeteuk Hyung sedang menunjukkan kemampuannya memainkan piano.

“Kau tidak apa-apa? Kalau kau sakit, kau bisa beristirahat di rumah. Aku bisa mengantarmu pulang sekarang.” kataku. Jaci menggeleng pelan, dia menggandeng tanganku lalu menyeretku turun ke lantai dansa. Dia melingkarkan tangannya di leherku, aku melingkarkan tangan di pinggangnya dan kami mulai bergerak pelan mengikuti alunan irama lagu yang pelan.

“Aku mencintaimu.” bisikku.

Dia mengangguk pelan sembari menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku terdiam di tengah lantai dansa saat tangannya yang sedari tadi terus melingkari leherku perlahan melonggar sampai akhirnya lepas sama sekali.

Mimpi buruk itu lagi!

Jaci jatuh terkulai dipelukanku.

***

Kamar bernuansa hijau muda itu lagi, dengan wangi desinfektan yang menusuk hidung. Gadis yang sama yang terkulai lemah tidak berdaya di atas tempat tidur. Melihatnya, dadaku seperti tertusuk ribuan jarum. Berdenyut perih.

Tuhan, kenapa ini yang harus terjadi padaku saat aku menemukan seorang belahan jiwa. Orang yang aku cintai dengan sungguh-sungguh.  

Sudah dua hari aku menunggui Jaci di sini sejak dia terjatuh dengan tiba-tiba di tengah dansa kami yang belum usai. Aku merasa lelah, tubuhku meronta meminta untuk diistirahatkan barang sebentar saja, tapi aku tak bisa beranjak sedikit pun. Bagaimana jika Jaci terbangun dan tidak ada orang sama sekali di dekatnya? Aku ingin menjadi yang pertama yang dilihatnya saat dia terbangun nanti.

Jadwalku berantakan, banyak show yang aku tidak hadiri, sekalipun aku hadir, aku tidak bisa bernyanyi dengan begitu baik. Untung saja Leeteuk Hyung dan member lain mengerti bagaimana posisiku saat ini dan mereka selalu mendukungku, selalu ada kapanpun aku butuh.
Kudengar pintu kamar membuka, aku tidak menoleh. Aku hanya memandangi wajah Jaci yang terlelap dengan wajah damai.

“Ryeowook, kau juga harus istirahat. Pulanglah!” suara itu milik sepupu Jaci, suaranya terdengar lemah. Dia pasti sama sedihnya denganku.

“Nanti saja, Nuna. Aku masih ingin lebih lama di sini.”

“Aku tahu kau tak ingin berpisah dengannya, tapi Jaci pasti juga tak ingin jika kau ikut sakit nantinya.”

Apa yang dikatakan Chi Sae Nuna mungkin ada benarnya. Pundakku disentuh pelan olehnya. “Pulanglah, Ryeowook. Kau pasti orang pertama yang akan kuhubungi jika dia terbangun nanti.”

Aku akhirnya memutuskan untuk pulang, dan terkejut mendapati Siwon Hyung di lobi rumah sakit. Dia langsung bangkit begitu melihatku. 

Hyung, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, dia tidak menjawab, hanya terus berjalan menuju pintu keluar. Sejak kapan Siwon Hyung ada di rumah sakit? Apakah dia sengaja menungguku?

“Masuklah!” Aku lepas dari lamunan yang sempat menyergap saat Siwon Hyung menyapa setelah memberhentikan mobil tepat di depanku.

Ne,” Aku segera membuka pintu mobil dan duduk di jok depan. Sepanjang jalan aku hanya terdiam. Aku tiba-tiba teringat sebuah mitos yang mengenai seribu burung kertas yang bisa mengabulkan permintaan.

Aku punya permintaan. Hanya satu. Apakah itu bisa terkabul?

Hyung, apakah kamu percaya tentang mitos burung kertas itu?” tanyaku memecah keheningan.

Siwon Hyung menoleh, dia terdiam sebentar sebelum akhirnya bersuara, “Mungkin. Tapi sesungguhnya keyakinanlah yang membuat semua itu menjadi nyata. Kekuatan hati. Burung kertas hanya sekedar objek. Orang-orang membuat sebuah permohonan dengan sungguh-sungguh sembari melipat kertas origami dengan keyakinan bahwa sesuatu itu akan menjadi nyata. Pada akhirnya, orang-orang menganggap bahwa burung kertaslah yang mengabulkan permohonan itu.”

“Umm, aku juga berpikiran begitu.” gumamku lalu kembali terdiam.

“Ryeowook, kau ingat kan kalau besok kita harus ke Thailand untuk Super Show?” Aku ingat tapi rasanya aku tak ingin mengingatnya, aku tak ingin meninggalkan Seoul saat ini. Bagaimana dengan Jaci? “Kami mengerti bagaimana posisimu saat ini, tapi Super Junior juga sangat membutuhkanmu. Hanya sehari. Semua pasti baik-baik saja. Jaci pasti baik-baik saja.” tambah Siwon Hyung, seolah bisa membaca apa yang ada di pikiranku.

Aku terus saja terdiam. Mungkin kali ini memang untuk Super Junior.

Jaci akan baik-baik saja. Pasti.

***

Aku mulai melipat kertas untuk membuat origami, setiap waktu luang, sesedikit apapun itu, aku gunakan untuk membuat burung kertas dengan satu permintaan agar Jaci bisa bertahan lebih lama, agar aku bisa bersama dengannya lebih lama. Hanya itu.
Saat ini kami baru saja sampai di dorm setelah kembali dari Thailand. Member yang lain sedang tertidur tapi aku masih sibuk dengan kertas-kertas origami dan permohonanku sendiri.

Burung kertas buatanku mulai menggunung.

Satu.

Sepuluh

Seratus

Dua ratus

Bel pintu dorm diketuk, karena tidak ada satupun orang yang terbangun saat ini, mau tidak mau aku harus bangkit untuk membuka pintu meski rasanya malas sekali. Kulihat siapa tamu yang datang itu di monitor yang ada di samping pintu. Mataku membelalak.

Jaci.

Kapan dia keluar dari rumah sakit? Mengapa aku tidak tahu?  Mengapa dia tidak memberitahuku? Lalu bagaimana jika dia melihat burung-burung kertasku?

Aku batal membuka pintu, dengan segera aku kembali masuk ke ruang tengah untuk membereskan semua burung-burung kertas itu, aku memasukkan semuanya ke dalam kardus lalu mendorongnya masuk ke bawah meja.

Tadaaa..” teriak Jaci begitu aku membuka pintu. Dia membawa keranjang piknik besar berwarna merah tua. Mata lebarnya seketika menyipit begitu melihat keadaanku yang begitu berantakan, dia mendelik ke arahku. “Ih, kenapa kau belum mandi?”

“Kapan kau keluar dari rumah sakit? Kenapa tidak menghubungiku?”
Bukannya menjawab, Jaci malah mendorongku masuk ke dalam dorm. Rápido (cepat)! Hari ini kau harus berkencan denganku. Kita akan ke pantai.”

“Tapi—” bagaimana dengan burung kertasku?
Entah bagaimana, sebagaimanapun caranya aku ingin menolak aku tetap tidak bisa. Seperti sihir, aku menuruti keinginannya. Akupun masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap.

***

Jaci memaksa ingin kencan di pantai. Aku berusaha menikmati kencan kami  karena Jaci terlihat sangat bahagia padahal pikirannku ada di tempat lain. Kami bermain pasir dan berkejar-kejaran dengan ombak sepanjang hari.

“Aku senang sekali hari ini.” kata Jaci ceria, memecahkan lamunanku mengenai burung kertasku yang baru berjumlah dua ratus ekor. Jaci tidur di atas pasir putih dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya. “Ryeowook, tidak usah selesaikan burung kertas itu lagi. Kau tidak perlu capek-capek membuatnya.

Dia tahu? Aku tidak menyangka Jaci mengetahui kegiatanku yang keharusnya rahasia ini, terutama dari Jaci. Belum lepas keterkejutanku, Jaci bangkit dan meraih keranjang piknik berukuran jumbo yang dibawanya.

Ternyata isi keranjang itu bukanlah makanan seperti yang aku duga, melainkan burung kertas dalam jumlah yang sangat banyak. Jaci menumpahkan semua isinya ke pasir. “Burung kertas ini ada seribu ekor. Kubuat untukmu dengan satu permintaan, kalau aku sudah tidak ada nanti, kau bisa tetap bahagia. Kau janji kan kalau aku tidak ada, kau bisa bahagia?”

Aku tak tahu harus berkata apa. Jadi aku menarik Jaci agar kembali tidur di pangkuanku. “Kau janji kan?” Jaci bersikeras, dengan berat aku mengangguk meski tak yakin dengan janjiku sendiri. Jaci tersenyum cemerlang lalu mengecup bibirku lembut sebelum kembali membaringkan kepalanya di pangkuanku.

“Ryeowook, aku capek. Aku istirahat dulu, boleh kan?” ujar Jaci lirih. Pandanganku langsung mengabur.

Akan selalu ada perpisahan.

Jaci mengerjap-ngerjap lelah.

Te amo (I love you), Ryeowook.” bisiknya terakhir kali sebelum benar-benar terlelap.
Selamanya.

Air mataku berhamburan. Kudekap Jaci erat.

Buenas noches, Querida..(selamat tidur, Sayang). Saranghae..

Angin berhembus kencang menerbangkan burung-burung kertas yang berserakan di atas pasir. Selembar kertas ikut melayang.

Aku hanya punya satu permintaan. Aku hanya ingin dia bahagia. Aku hanya berharap burung-burung itu membawa kebahagiaan untuknya.


-The End-

Senin, 04 Juli 2011

Ice Melody + Pre Orderz

Diposting oleh sachakarina di Senin, Juli 04, 2011 0 komentar



Tiba-tiba aja keinget Ice Melody,  fanficku yang diikutkan lomba dan terpilih di antara 343 naskah.

Fanfic itu bergenre Fantasy (sebelas dua belas sama Fantasi Iris) dan cast utamanya Siwon Super Junior dan Taeyeon SNSD, dua idol favoritku.

Tapi kok makin dibaca, kesannya yang pemeran utama lebih ke Taeyeon ya? Siwon kan munculnya di akhir-akhir aja.

Aku juga pasangin Donghae sama Jessica, semoga aja aku gak dibantai ELF ya. Hehehehe

Cerita singkatnya sih begini: Taeyeon ditarik  di dunia yang sedang beku, hening, nggak ada suara di sana. Di tempat itu dia ketemu Siwon yang bisa membantunya supaya dia bisa kembali ke bumi.

Penasaran? Beli bukunya yuk!! Ini adalah buku kumpulan fanfic pertama di Indonesia. Di dalamnya ada 12 fanfic. 10 adalah hasil lomba dan 2 ditulis oleh Lia Indra Andrianna (penulis novel Seoulmate) dan Orizuka (penulis novel Fate).

Untuk info lebih lanjut dan pemesanan, kunjungi blog  KFI 

Jangan lupa pesen ya. Gomawo :)

Location : Jalan Tamalate 2, Tamalate,

Location : Jalan Tamalate 2, Tamalate,

Minggu, 03 Juli 2011

Akhir Penantian

Diposting oleh sachakarina di Minggu, Juli 03, 2011 1 komentar

I’m waiting for you, you always covered my night.

If you are happy, I’m happy too

If I can see u, it’s okay that even thought I’m alone

Always standing behind you, just looking you..

(Good Person by Super Junior)

***

Aku merasakan matahari pagi mulai membelai tubuhku, hangat. Beberapa burung berkicau merdu, belalang seperti berlomba berlompatan di rumput yang menghampar hijau di sekeliling halaman rumah bercat putih ini, aku seolah bisa mendengar ikan hias bercakap-cakap riang di kolam di bawah sana, membuat suasana menjadi semakin indah. Aku suka berada di teras ini. Selalu.

Kudengar suara pintu terbuka lalu menutup kembali. Aku tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang gerangan datang. Dia Siwon. Pria yang selalu bersamaku akhir-akhir ini. Dia membawakan air untukku. Aku segera meneguk air itu dengan segera. Aku merasa lebih segar setelahnya.

“Ummm,” gumamnya sambil mengamatiku dalam. Akh, dia tahu saja bagaimana membuatku penasaran. Aku ingin tahu apa yang dia ucapkan berikutnya. “Kau cantik.” bisiknya yang membuatku tersipu seketika. Tolong, jangan menertawaiku. Aku memang sudah jatuh terlalu dalam. Aku telah tersesat dalam labirin cinta yang aku buat sendiri dan aku tak ingin repot-repot mencari jalan keluar. Labirin itu terlalu indah untuk aku tinggalkan dan terabaikan kosong.

Sejak pertama kali aku dan Siwon bertemu di sebuah toko, aku tahu bahwa aku adalah si beruntung. Sejak itu kami selalu bersama. Dia selalu menjagaku, merawatku saat aku sakit, selalu ada kapan pun aku mau.

“Hari ini aku akan mengunjunginya di rumahnya, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.” kata Siwon yang membuatku lemas seketika.

Disemua kesempurnaan itu, selalu ada yang celah. Aku sangat menyukainya dan dia menyukai gadis lain. Menyedihkan.

Meski Siwon selalu memperlakukanku dengan baik, aku tetap sakit karenanya. Aku tak pernah bisa memilikinya. Aku tahu. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya membenahi perasaanku sendiri, mematikan rasa itu terlalu tidak mungkin untukku. Aku tidak bisa dan—tidak mau.   

Kami memang tidak punya hubungan lebih yang bisa mengikat kami hingga tak terpisah. Aku tak pernah bisa berkata apa-apa jika dia mulai membicarakan Chae Rin. Aku hanya bisa mendengarkannya berceloteh tentang gadis yang sangat disayanginya itu. Dari awal aku tahu dia menyukai gadis lain, tapi aku juga punya hak untuk menyukainya. Tak ada yang bisa melarangku untuk mencintainya, iya kan?

Dan karena semua itu, aku siap menanggung semua akibatnya.

Termasuk menangis diam-diam saat malam menjelang.

***

“Halo” sapa Siwon riang. Wajahnya berseri-seri saat dia datang. Apakah dia sudah mendapatkan hati gadis pujaannya? “Aku sangat senang hari ini”

Tak perlu mengatakan itu, aku bisa melihatnya sendiri.

“Dia mau menjadi kekasihku!”

Sebuah senyum manis berusaha aku lengkungkan. Ini berat, tapi aku bahagia melihatnya. Siwon tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Di balik senyumku, aku mengutuk takdir. Mengapa Siwon bukan diciptakan untukku?

***

“Dia gadis yang sangat baik, orang tuanya juga sangat ramah. Dia selalu ceria. Jika dengannya aku hanya tahu satu kata: bahagia. Dia juga cantik, sama cantiknya denganmu!”

Yeah, aku tahu.

“Aku ingin melamarnya. Aku ingin menikah dengannya. Aku ingin dia yang menjadi ibu dari anak-anakku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.”

Kusunggingkan senyum lagi. Kubayangkan dirinya di masa depan hidup dengan bahagia. Jika saat itu tiba, aku pasti bisa tersenyum dengan tulus. Siapa yang tidak akan bahagia melihat orang yang disayanginya hidup dengan bahagia?

Sekarang, aku bisa mempercayai Chae Rin. Kami juga pernah bertemu dan dia sangat baik, juga menyenangkan. Mungkin dia memanglah gadis yang dikirimkan Tuhan untuk Siwon. Selama tiga bulan mereka bersama, Siwon tidak pernah terlihat sedih. Sekali pun.

“Dia akan datang sebentar lagi. Aku akan melamarnya di sini. Aku sudah  menyiapkan cincin  untuknya.”

Cincin itu.. aku pernah melihatnya sekali. Cincin milik Ibu Siwon yang sekarang diberikan padanya untuk istri Siwon nantinya. Dulunya, aku berharap itu aku.

Bel pintu berdenting. Aku tahu ini adalah akhir. Tapi bukan akhir dari cintaku. Aku akan terus mencintainya sampai kapanpun.

“Maaf.” Siwon berbisik pelan.

Gwaencanha.

Semoga Chae Rin mau menikah denganmu, Siwon. Dia pasti tahu bahwa kaulah yang terbaik untuknya.

Ini saatnya.

Siwon memotong tangkaiku dengan menggunakan gunting tanaman. Dia mencium kelopakku, membaui wanginya yang membuai sebelum membuka pintu.

***

Siwon menyodorkan setangkai mawar merah yang sangat indah pada kekasih yang ada di hadapannya. Chae Rin tersenyum malu-malu saat menerimanya.

Gomawo.” ucap gadis itu.

“Bunga itu baru saja aku petik. Aku sengaja menanamnya sendiri untukmu dan memberikannya padamu di sebuah hari special.” kata Siwon.

"Apakah ini hari special?”

Ne,” Siwon segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Siwon berlutut lalu menyodorkan kotak berisi cincin itu ke hadapan kekasihnya. “Maukah kau menikah denganku?”

Chae Rin menekap mulutnya dengan tangan. Dia tidak menyangka Siwon memintanya untuk menikah secepat ini. Ya, memang tak ada gunanya menunggu berlama-lama. Ini adalah sebuah akhir penantiannya. Mungkin Siwon memanglah orang yang dikirimkan Tuhan untuknya.Dan Chae Rin akhirnya mengangguk.

Siwon tersenyum senang, meraih tangan Chae Rin dan menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Setelah itu Siwon bangkit berdiri untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir gadisnya. Kebahagiaan itu membuncah, mengalir di setiap pompaan darah dari jantung ke seluruh tubuh mereka.

Sebuah tanaman mawar di dalam pot yang tidak jauh dari sana bergoyang pelan, seakan berkata bahwa dia juga ikut bahagia

-The End-

Location : Jalan Tanongapa Raya, Panakkukang,

Sabtu, 02 Juli 2011

Saengil Chukahamnida

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Juli 02, 2011 2 komentar

Siwon menengok ke taman belakang perpustakaan dan menemukan Chae Rin, orang yang sudah dicarinya sedari tadi duduk selonjoran di atas rumput taman, di bawah pohon Sakura yang berbunga indah. Bunga-bunganya berguguran saat ditiup angin. Musim semi di Seoul, Korea Selatan memang selalu indah dan ramai dengan bunga-bunga beranekaragam. Chae Rin sangat menyukainya.
“Apa yang sedang kau baca?” tanya Siwon lalu ikut duduk di samping Chae Rin. Chae Rin yang tidak pernah mengantisipasi kedatangan Siwon yang tiba-tiba langsung terlonjak kaget dan melepaskan pegangan dari buku yang sedang dibacanya. Alhasil bukunya itu jatuh menghantam tanah.
Oppa[1], kau mengagetkanku!” seru Chae Rin dan memukul lengan Siwon pelan. Pria itu terkekeh.
“Buku apa itu?” tanya Siwon lagi.
“Ini novel. Dikirimkan oleh sepupuku dari Indonesia.” Chae Rin adalah warga Negara Indonesia yang menuntut ilmu di Korea. Awalnya dia hanya suka menikmati drama dan musik korea, sampai akhirnya dia benar-benar kepincut dengan budaya Negara itu. Sudah dua tahun dia hijrah dari Indonesia ke Negara Gingseng itu, disokong oleh beasiswa. Kini bahasa Koreanya pun sudah berkembang dengan pesat.
Chae Rin bekerja paruh waktu sebagai pegawai perpustakaan. Meski tidak bergaji besar, dia tetap menyenangi pekerjaannya. Dia senang berada di antara buku-buku, meski buku itu kadang membuatnya merasa pusing karena kebanyakan beraksara hangul[2]. Karena membaca dan mengerti hangul adalah dua hal yang berbeda.
Dan Chae Rin juga sangat bersyukur, jika dia tidak bekerja di perpustakaan dia mungkin tidak akan pernah bertemu dengan pria yang ada di sampingnya saat ini. Saat itu dia kesulitan membawa tumpukan buku yang harus disusunnya di rak yang sesuai, dan Siwon membantunya dengan senang hati.
Sejak itu mereka menjadi dekat. Chae Rin merasa bahagia sekaligus risih. Senang karena dia seperti menemukan seorang kakak dan keluarga yang tidak dimilikinya di Korea saat ini. Siwon yang baik dan dewasa membuatnya merasa nyaman. Tapi dia juga risih karena bisa dibilang Siwon adalah bintang kampus, dengan prestasi dan tampang yang sama-sama bersinar membuatnya dielu-elukan para wanita. Chae Rin tak senang, bukan karena banyak yang menyukai Siwon tapi karena gadis-gadis itu selalu meliriknya sinis. Gadis-gadis itu meliriknya seperti dia adalah debu yang menempel pada sebuah guci antik dan harus segera dilenyapnya.
“Tadi aku mencarimu di kampus, tapi aku tak menemukanmu. Ternyata kau di sini!” kata Siwon lagi. Chae Rin tidak berkata apa-apa. Dia berpura-pura sibuk dengan novelnya. Dia sebenarnya sengaja menghindari Siwon jika di kampus. “Bisa aku meminta sesuatu?” Chae Rin mengalihkan perhatiannya dari buku dan menatap Siwon dengan tatapan bertanya. “Tolong, abaikan saja orang-orang itu. Aku tidak suka kau menghindariku lagi seperti tadi.”
Oppa, aku tidak—” Chae Rin ingin berkata bahwa dia tidak sedang menghindari Siwon, tapi dia tercekat. Dia tak bisa berbohong pada pria yang sudah sangat baik padanya selama dua bulan terakhir ini.
“Aku ingin bersamamu. Mereka tidak berhak melarang aku bersama adikku.”
Chae Rin tertegun. Adik. Siwon menganggapnya adik. Seketika rasa sendu itu menyeruak memenuhui ruang hatinya? Kenapa dia merasa sedih karena Siwon hanya menganggapnya seorang adik padahal dia yakin sudah mengatakan bahwa dia juga menganggap Siwon sebagai kakaknya? Apakah dia—
Tidak! Chae Rin segera membuang semua pikiran ngaco itu dari kepalanya. Dia hanya ingin menganggap Siwon sebagai kakaknya. Chae Rin tiba-tiba teringat sesuatu.
Oppa, aku ingin menitipkan sesuatu.” Chae Rin merogoh tas yang ada di sampingnya dan mengeluarkan sebuah kotak kado. “Hari ini Min Ho Oppa berulang tahun kan? Tolong berikan ini padanya.” Min Ho adalah sahabat Siwon yang juga sangat baik padanya. Hari ini, Min Ho berulang tahun dan hadiah itu adalah ucapan terima kasih. Siwon menerima kotak itu dengan mata terpicing.
“Tidak ada apa-apa di antara kalian kan?” tanya Siwon curiga, Chae Rin tertawa renyah.
“Itu hanya ucapan selamat ulang tahun dariku, tidak ada maksud apa-apa.”
“Apa yang akan kau berikan jika aku berulang tahun?” Siwon bertanya lagi. Tiba-tiba dia merasa penasaran. Senyum Chae Rin langsung pudar.
“Kapan ulang tahunmu, Oppa?” tanyanya sungguh-sungguh.
“Sudahlah. Lupakan!”
***
Gomawo[3], Alya-ya[4]. Aku ingin sekali merayakan ulang tahunku bersamamu lagi seperti dulu.” Chae Rin tertawa setelah mengatakan kalimat panjang itu dalam bahasa Korea dan membuat orang yang sedang ditemaninya mengoborol misuh-misuh karena tidak mengerti. Chae Rin kembali mengulangi dalam bahasa Indonesia. “Aku sangat rindu padamu. Aku kadang merasa kesepian di sini.”
"Ternyata dia berulang tahun hari ini."
 Siwon bersandar di balik dinding dan menggumam pelan, dia tak bermaksud menguping. Dia merutuki dirinya dalan hati, dia mengganggap Chae Rin adalah adiknya tapi bahkan ulang tahun gadis itu tidak tahu. Tapi Chae Rin juga tidak tahu ulang tahunnya. Ahhh, mereka satu sama sekarang.
Tadinya dia ingin menemui Chae Rin, tapi gadis itu sedang mengobrol di telepon dan dia tak ingin mengganggu, apalagi gadis itu sedang mengobrol dengan sahabatnya. Siwon memang tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi dari suara Chae Rin yang berubah sendu, dia tahu, gadis itu merasa sedih karena tidak bisa melewati hari ulang tahun bersama keluarganya.
Ponsel Siwon bergetar, setelah membaca pesan singkat yang masuk dia segera melangkah pergi sambil merutuk makin kesal.
***

Malam semakin larut saat Siwon memasuki kota seoul. Dia baru saja dari kembali dari luar kota untuk menyelesaikan urusan bisnis yang sedang dirintisnya bersama Eunhyuk dan Donghae, mereka bertiga sebaya. Kota yang dikunjunginya adalah Busan, berjarak sekitar 500 km dari Seoul. Siwon menginjak gas semakin dalam, membelah sepanjang jalan di Seoul yang—untung saja—malam ini tidak begitu padat. Sesekali dia melirik kotak kue yang ada di jok di sampingnya, memastikan posisi kotak itu tidak bergeser. Dia tidak mau kue di dalamnya jadi lecet sedikit saja. Siwon sudah mengatakan pada Chae Rin bahwa dia akan datang. Awalnya gadis itu melarang karena malam sudah cukup larut, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Tapi Siwon bersikeras ingin datang sehingga Chae Rin tak bisa berkata apa-apa lagi.
 “Saengil Chukahamnida,[5]” Kata Siwon sambil menyodorkan sebuah kue tart cokelat.
Chae Rin tersenyum sumringah. “Gomawo, Oppa!”
“Ayo, tiup lilin dulu.” Siwon mengambil lilin yang juga dia bawa dan menancapkannya di atas kue dengan buru-buru, dia merogoh sakunya dan kemudian tersadar, dia menepuk jidatnya pelan. “Astaga,aku lupa membawa korek. Kau punya kan? Cepat ambilkan.ujar Siwon tidak sabar, sebentar lagi jam 12 dan itu berarti ulang tahun Chae Rin akan berlalu begitu saja. Chae Rin tersenyum penuh arti lalu masuk ke dalam rumah.
“Hya, kenapa kau lama sekali!” teriak Siwon begitu Chae Rin keluar dari dalam rumah dia menyerahkan korek yang dipegangnya dan langsung disambar oleh Siwon. Siwon terhenyak pelan saat Chae Rin mengalungkan sebuah syal berwarna hitam putih di lehernya.
“Agak dingin di sini,
“Sudah, cepat tiup lilinnya!” sergah Siwon cepat. Tak ada waktu untuk terkejut.
“Bantu aku, Oppa!” pinta Chae Rin setelah mengisi udara ke paru-parunya yang nyaris kosong. Meniup banyak lilin ternyata benar-benar menguji fungsi paru-paru. Siwon tersenyum lalu ikut meniup sisi lilin yang masih menyala.
Chae Rin mencabut semua lilin yang sudah tidak menyala lagi, sebelum Siwon sempat menyadari motif tersembunyi dari tindakan Chae Rin yang terburu-buru,
Plak.
Cream coklat lembut dan manis di kue itu sudah berpindah ke muka Siwon.
“Kau menjadi cokelat, Oppa. Aku ingin mencicipi rasamu, pasti sangat manis.Chae Rin tertawa terbahak-bahak lalu lari menjauh, takut Siwon akan balas dendam.
Hya. Mengapa kau melakukan ini padaku. Harusnya kau yang belepotan begini. Kau yang sedang berulang tahun!”
Mwo[6]? Ini bukan hari ulang tahunku. Kau yang berulang tahun! Sekarang tanggal 7, Oppa. Ulang tahunku sudah berlalu”
Impuls Siwon mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam. Benar juga, sekarang sudah lewat jam 12 malam. Berarti hari sudah berlalu dan sekarang tanggal 7 April, hari ulang tahunnya. Bagaimana dia bisa lupa? Dan ternyata Chae Rin tahu hari ulang tahunnya. Siwon berganti melirik syal yang melingkari lehernya, hadiah dari Chae Rin. Hasil rajutan Chae Rin sendiri. Warna kesukaannya pula.
Saengil chukahamnida, Oppa!” ujar Chae Rin lalu berjalan mendekat ke arah Siwon yang masih mematung memandangi syalnya, Chae Rin mencolek cream dari muka Siwon menggunakan ujung jari telunjuk lalu menjilatnya. Siwon tersadar.
"Hmm, coklat memang enak." ujar Chae Rin sambil mengerlingkan sebelah matanya jahil.
Siwon menjadi makin gemas karenanya.
***


[1] Oppa = Kakak laki-laki, diucapkan oleh perempuan.
[2] Hangul = Aksara korea
[3] Gomawo = Terima kasih (informal)
[4] ‘a’ atau ‘ya’ dibelakang nama = partikel yang menunjukkan panggilan.
[5] Saengil chukahamnida = selamat ulang tahun
[6] Mwo = apa
 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review