Tampilkan postingan dengan label Siwon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siwon. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

[Drama] The King of Dramas

Diposting oleh sachakarina di Jumat, November 09, 2012 0 komentar
Ada drama baru, drama ini disiarkan di SBS slot waktu Senin-Selasa, drama ini menggantikan drama Faith. Kenapa aku tertarik dengan drama ini? Karena salah satu pemerannya adalah Siwon, meski bukan pemeran utama sih. Selain itu ada Lee Go Eun, si pemeran utama yang menarik perhatian saya dari film Never Ending Story yang diperankannya bersama Uhm Tae Woong.

Aku sudah menonton episode 1 dan 2, menurutku ceritanya lumayan bagus, semoga ke depannya drama ini benar-benar tidak mengecewakan dan bisa menarik perhatian semua orang. Dan selama drama ini tayang, aku akan berusaha memposting link drama raw dan sub dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam bentuk srt. Kalalu sempat aku juga akan menuliskan recap tiap episode. Nggak janji, itu kalau aku bener-bener mampu dan sempat :D

Baca detailnya dulu....



Judul : The King of Dramas/ The Lord of the Drama (2012)
Hangul: 드라마의 제왕 / Deuramaui Jaewang
Genre: Komedi/ romance
Episode : 16
Broadcast network: SBS
Jadwal tayang: Senin, Selasa. 21:55 kst
Bahasa: Korea
Sutradara: Hong Sung Chang
Writer: Jang Hang Joon, Lee Ji Hyo
 
 

Sinopsis:
Drama ini berlatar belakang bisni seni hiburan Korea. The King of Drama bercerita mengenai kehidupan Anthony Kim (Kim Myung-min), seorang CEO brilian sebuah perusahaan produksi drama yang akan melakukan apa saja demi uang, ketenaran dan keberhasilan. Ia dikenal memiliki sentuhan Midas karena ia telah menciptakan drama blockbuster dan bintang Hallyu. Suatu hari, dia bisa bekerja dengan skenario idealis, Lee Go Eun (Jung Ryeo-won), yang bercita-cita menjadi seorang penulis papan atas suatu hari nanti, dan bintang hallyu tampan tapi arogan dan egois, Kang Min (Choi Siwon).

Cast:
Download
  
Raw Video

Episode 01 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 02 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 03 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 04 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 05 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p (Doramax264)

Episode 06 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p (Doramax264)

Episode 07 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 08 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 09 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 10 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 11 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 12 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 13 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 14 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 15 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Episode 16 : Reguler | Medium Quality | Mini 360p

Cr; idfl.us; doramax264

Subtitle

Episode 01 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 02 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 03 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 04 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 05 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 06 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 07 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 08 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 09 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 10 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 11 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 12 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 13 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 14 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 15 : Eng Sub | Indo Sub 

Episode 16 : Eng Sub | Indo Sub

cr: idfl.us, islandsubs, subscene

Jumat, 10 Agustus 2012

Letter to Siwon, From Classmate

Diposting oleh sachakarina di Jumat, Agustus 10, 2012 0 komentar




Credit: Kiho, Choi (AntaresChoi) 
Translated by: NKsubs (NKSubs)From (www.sup3rjunior.wordpress.com)

Puisi Buatan Siwon Ketika Berumur 6 Tahun

Diposting oleh sachakarina di Jumat, Agustus 10, 2012 0 komentar
Cute Oppa :D



Credit: Kiho, Choi (AntaresChoi) 
Translated by: NKsubs (NKSubs)
Reupload and Posted by: uksujusid (www.sup3rjunior.wordpress.com)

Kamis, 15 Maret 2012

Aku, Siwon dan LG

Diposting oleh sachakarina di Kamis, Maret 15, 2012 1 komentar

Tadi sore, Alia nemenin aku ke MTC. Mau beliin Ian hape. Setelah hape kebeli, kami keliling-keliling dulu, Alia mau beli gantungan hape yang berbulu. Pas keliling-keliling, ketemu gerainya LG. Aku jalan dengan cueknya, tib-tiba Alia ngomong. "Siwon bukan, itu."

Aku cukup sensitif kalau nama Siwon yang disebut. Aku langsung nengok dan balik ke tempat tadi buat memastikan. Dan yak, poster gede di dinding menampilkan Siwon dengan ponsel LG. Kalau bukan karena banyak orang dan hapeku lowbat pasti udah aku foto.

Aku tau sih, kalau Super Junior jadi brand ambassador LG tapi cukup surprise liat fotonya Siwon disitu. Hal seperti itu termasuk langka.

Dan aku udah kayak ketemu langsung sama Siwon, rasanya happyyyy banget. Norak! Iya, saya tau. Tapi itulah yang terjadi.

Nggak sengaja lewat di toko yang tadinya aku tempatin beli hape, dan ternyata disitu ada poster yang cukup kecil, tapi SIWON, pake baju pink. Aaa, rasanya pengen aku bawa pulang.

Jadilah aku ngajakin Alia keliling buat nyari brosur LG yang ada sibuknya. Aku nggak dapat. (╥_╥). Cuma Samsung di mana-mana. Atau aku yang nggak teliti? Abis capek sih keliling-keliling, mana haus pula.

Pada akhirnya aku menyerah. Punya poster gede Siwon kok di kamar. Hohoho


Published with Blogger-droid v2.0.4

Senin, 20 Februari 2012

Model Rambut Siwon

Diposting oleh sachakarina di Senin, Februari 20, 2012 1 komentar
Setelah melihat berbagai macam model rambut Siwon selama ini, yang paling ganteng menurutku adalah model rambut yang ada sedikit poni yang jatuh menutupi dahinya. Kalau model rambutnya begitu, gantengnya jadi maksimal :p Aku kumpulin nih foto-fotonya nih :D

12Plus

18vs29








Oh My Lady

 




Skip Beat

Dugeun..dugeun.. 

***

Setuju dengan aku kan?


sumber: 
@siwon407
sup3rjunior.com
google.com

Jumat, 30 Desember 2011

[Fancam] 111229 Gayo Daejun - CNBLUE+Suju+FTIsland

Diposting oleh sachakarina di Jumat, Desember 30, 2011 0 komentar





Aku jarang-jarang lho ngepost video, tapi di video ini semua biasku ngumpul. Ada Suju, CN Blue, Siwon, Yonghwa :D Meski fancam tapi lumayan bagus gambarnya.


Di awal-awal Siwon nyalamin semua member CN Blue yang baru datang, pertama Jungsin, Jonghyun lalu Minhyuk, mereka kelihatan akrab. Pas Yonghwa datang, dia mampir bentar ngobrol sama Siwon sebelum ke tempat duduknya di belakang Siwon. Minhyuk juga ngobrol sama orang yang ada di dekatnya Eunhyuk, nggak jelas siapa karena nggak di tangkap kamera, sepertinya sih Donghae. :D

Jonghyun juga kelihatan happy banget saat Eunhyuk berusaha bikin Kyuhyun dancing ngikutin yang lagi perform. Siwon yang paling kelihatan excited, dia sampai goyang-goyangin light stick dengan sangat bersemangat. Cute Oppa :D. Aku juga seneng banget karena biasku kelihatan akrab ^^ 

Kapan ya, Siwon sama Yonghwa bisa main film/drama bareng. hihihihi 

Sabtu, 08 Oktober 2011

Oh My Lady

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Oktober 08, 2011 0 komentar




Yang doyan K-Drama pasti udah tahu drama ini. Apalagi udah pernah ditayangkan di salah satu TV swasta Indonesia.

Yup, kisah percintaan yang dibalut unsur komedi ini diperankan oleh Chae Rim sebagai Yoon Ghae Hwa yang bekerja di perusahaan management artis untuk menebus hak asuh anaknya dari mantan istrinya. Kisah romantisnya terjadi saat Choi Si Won yang berperan sebagai Sung Min Woo ini menyewa Yoon Ghae Hwa untuk mengasuh anaknya yang bernama Ye Eun yang diperankan oleh Kim Yoo Bin.

Cerita hanya berputar di sekitar itu. Sung Min Woo yang merupakan seorang artis terkenal harus menyembunyikan anaknya agar tidak ketahuan publik.
Menurutku drama ini sangat-biasa-sekali. Satu-satunya yang menarik ada si pemeran utama alias Siwon. Kalau itu bukan Siwon saya tidak mungkin akan menontonnya. Tak ada sesuatu yang begitu romantis yang biasanya ditampilkan oleh drama-drama Korea. Setelah menontonnya tak ada kesan sama sekali. Kosong. 

Tapi akting Siwon di drama itu memang benar-benar menakjubkan, wajar saja ia menerima award atas kerja kerasnya di drama itu. 

Ngomong-ngomong Kim Yoo Bin itu lucuu sekali, jadi gemes liatnya. 


Sabtu, 24 September 2011

Dear, Choi Siwon

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, September 24, 2011 0 komentar


Dear, Choi Siwon.



Sebenarnya aku sendiri tidak yakin denganapa yang ingin aku katakan, tapi baca saja!!

Kau tahu aku menyukaimu, mengidolakanmu. Aku yakin! Makanya aku sangat senang saat tahu bahwa kau mengambil bagian dalam drama Poseidon, itu artinya aku akan melihatmu lebih sering muncul di TV. Apalagi di drama Poseidon itu kau menjadi pemeran utama, bukan lagi pemeran pembantu utama seperti di drama Athena. Kau bahagia kan karir aktingmu semakin baik? Aku juga.

Kesenangan dan kebahagiaan memang tak pernah datang sendiri, kali ini diiringi oleh kekhawatiran di benakku. Aku sedikit khawatir padamu. Aku khawatir pada Super Junior. Kau tak akan pernah meninggalkan Super Junior kan?? Aku sangat mengkhawatirkan hal itu.

Aku pertama kali jatuh cinta padamu lewat aktingmu (juga wajah) di drama 18 vs 29 beberapa tahun lalu, itu bahkan sebelum kau debut sebagai salah satu member Super Junior.

Tapi sejujurnya, aku lebih menyukaimu berada di tengah-tengah member Super Junior yang lain. Aku sangat menyukai saat kau memperkenalkan diri sebagai "Super Junior Siwon".

Mengetahui kabar bahwa Super Junior akan segera vakum sudah cukup membuatku sedih. Tak perlu lagi aku harus menerima kenyataan bahwa Choi Siwon, sudah tak pernah hadir lagi di setiap promo album ke-lima Super Junior ini. kau terlalu sibuk dengan dramamu. Awalnya Super Junior ber-13, dulunya, menurutku itu sangat ramai, lalu satu-persatu mengundurkan diri dan vakum hingga hanya berjumlah sepuluh orang. Panggung terlihat sangat sepi di mataku.

Apa kau tahu? Saat pertama kali mendengar lagu baru di album rep A-Cha yang pertama kucari adalah suaramu. Aku bersyukur bisa mendengarnya di dua lagu, meski hanya beberapa detik saja, itu cukup membuatku sedikit tenang. Kukira aku tak akan pernah mendengarkan suaramu di lagu A-Cha itu.

Pertama Kibum Oppa, Hankyung Oppa, Kangin Oppa, dan terakhir Heechul Oppa. Aku tak ingin namamu menambah daftar itu, meski beberapa memang tak official keluar. Aku ingin kau selalu ada sampai Super Junior benar-benar berakhir.

Please, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan grup yang membesarkan namamu itu.

Kau janji akan selalu menjadi SUPER JUNIOR Siwon kan, Oppa?? *sodorin kelingking*

Aku akan selalu mendukungmu. :*



Love
sachakarina

Minggu, 03 Juli 2011

Akhir Penantian

Diposting oleh sachakarina di Minggu, Juli 03, 2011 1 komentar

I’m waiting for you, you always covered my night.

If you are happy, I’m happy too

If I can see u, it’s okay that even thought I’m alone

Always standing behind you, just looking you..

(Good Person by Super Junior)

***

Aku merasakan matahari pagi mulai membelai tubuhku, hangat. Beberapa burung berkicau merdu, belalang seperti berlomba berlompatan di rumput yang menghampar hijau di sekeliling halaman rumah bercat putih ini, aku seolah bisa mendengar ikan hias bercakap-cakap riang di kolam di bawah sana, membuat suasana menjadi semakin indah. Aku suka berada di teras ini. Selalu.

Kudengar suara pintu terbuka lalu menutup kembali. Aku tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang gerangan datang. Dia Siwon. Pria yang selalu bersamaku akhir-akhir ini. Dia membawakan air untukku. Aku segera meneguk air itu dengan segera. Aku merasa lebih segar setelahnya.

“Ummm,” gumamnya sambil mengamatiku dalam. Akh, dia tahu saja bagaimana membuatku penasaran. Aku ingin tahu apa yang dia ucapkan berikutnya. “Kau cantik.” bisiknya yang membuatku tersipu seketika. Tolong, jangan menertawaiku. Aku memang sudah jatuh terlalu dalam. Aku telah tersesat dalam labirin cinta yang aku buat sendiri dan aku tak ingin repot-repot mencari jalan keluar. Labirin itu terlalu indah untuk aku tinggalkan dan terabaikan kosong.

Sejak pertama kali aku dan Siwon bertemu di sebuah toko, aku tahu bahwa aku adalah si beruntung. Sejak itu kami selalu bersama. Dia selalu menjagaku, merawatku saat aku sakit, selalu ada kapan pun aku mau.

“Hari ini aku akan mengunjunginya di rumahnya, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.” kata Siwon yang membuatku lemas seketika.

Disemua kesempurnaan itu, selalu ada yang celah. Aku sangat menyukainya dan dia menyukai gadis lain. Menyedihkan.

Meski Siwon selalu memperlakukanku dengan baik, aku tetap sakit karenanya. Aku tak pernah bisa memilikinya. Aku tahu. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya membenahi perasaanku sendiri, mematikan rasa itu terlalu tidak mungkin untukku. Aku tidak bisa dan—tidak mau.   

Kami memang tidak punya hubungan lebih yang bisa mengikat kami hingga tak terpisah. Aku tak pernah bisa berkata apa-apa jika dia mulai membicarakan Chae Rin. Aku hanya bisa mendengarkannya berceloteh tentang gadis yang sangat disayanginya itu. Dari awal aku tahu dia menyukai gadis lain, tapi aku juga punya hak untuk menyukainya. Tak ada yang bisa melarangku untuk mencintainya, iya kan?

Dan karena semua itu, aku siap menanggung semua akibatnya.

Termasuk menangis diam-diam saat malam menjelang.

***

“Halo” sapa Siwon riang. Wajahnya berseri-seri saat dia datang. Apakah dia sudah mendapatkan hati gadis pujaannya? “Aku sangat senang hari ini”

Tak perlu mengatakan itu, aku bisa melihatnya sendiri.

“Dia mau menjadi kekasihku!”

Sebuah senyum manis berusaha aku lengkungkan. Ini berat, tapi aku bahagia melihatnya. Siwon tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Di balik senyumku, aku mengutuk takdir. Mengapa Siwon bukan diciptakan untukku?

***

“Dia gadis yang sangat baik, orang tuanya juga sangat ramah. Dia selalu ceria. Jika dengannya aku hanya tahu satu kata: bahagia. Dia juga cantik, sama cantiknya denganmu!”

Yeah, aku tahu.

“Aku ingin melamarnya. Aku ingin menikah dengannya. Aku ingin dia yang menjadi ibu dari anak-anakku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.”

Kusunggingkan senyum lagi. Kubayangkan dirinya di masa depan hidup dengan bahagia. Jika saat itu tiba, aku pasti bisa tersenyum dengan tulus. Siapa yang tidak akan bahagia melihat orang yang disayanginya hidup dengan bahagia?

Sekarang, aku bisa mempercayai Chae Rin. Kami juga pernah bertemu dan dia sangat baik, juga menyenangkan. Mungkin dia memanglah gadis yang dikirimkan Tuhan untuk Siwon. Selama tiga bulan mereka bersama, Siwon tidak pernah terlihat sedih. Sekali pun.

“Dia akan datang sebentar lagi. Aku akan melamarnya di sini. Aku sudah  menyiapkan cincin  untuknya.”

Cincin itu.. aku pernah melihatnya sekali. Cincin milik Ibu Siwon yang sekarang diberikan padanya untuk istri Siwon nantinya. Dulunya, aku berharap itu aku.

Bel pintu berdenting. Aku tahu ini adalah akhir. Tapi bukan akhir dari cintaku. Aku akan terus mencintainya sampai kapanpun.

“Maaf.” Siwon berbisik pelan.

Gwaencanha.

Semoga Chae Rin mau menikah denganmu, Siwon. Dia pasti tahu bahwa kaulah yang terbaik untuknya.

Ini saatnya.

Siwon memotong tangkaiku dengan menggunakan gunting tanaman. Dia mencium kelopakku, membaui wanginya yang membuai sebelum membuka pintu.

***

Siwon menyodorkan setangkai mawar merah yang sangat indah pada kekasih yang ada di hadapannya. Chae Rin tersenyum malu-malu saat menerimanya.

Gomawo.” ucap gadis itu.

“Bunga itu baru saja aku petik. Aku sengaja menanamnya sendiri untukmu dan memberikannya padamu di sebuah hari special.” kata Siwon.

"Apakah ini hari special?”

Ne,” Siwon segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Siwon berlutut lalu menyodorkan kotak berisi cincin itu ke hadapan kekasihnya. “Maukah kau menikah denganku?”

Chae Rin menekap mulutnya dengan tangan. Dia tidak menyangka Siwon memintanya untuk menikah secepat ini. Ya, memang tak ada gunanya menunggu berlama-lama. Ini adalah sebuah akhir penantiannya. Mungkin Siwon memanglah orang yang dikirimkan Tuhan untuknya.Dan Chae Rin akhirnya mengangguk.

Siwon tersenyum senang, meraih tangan Chae Rin dan menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Setelah itu Siwon bangkit berdiri untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir gadisnya. Kebahagiaan itu membuncah, mengalir di setiap pompaan darah dari jantung ke seluruh tubuh mereka.

Sebuah tanaman mawar di dalam pot yang tidak jauh dari sana bergoyang pelan, seakan berkata bahwa dia juga ikut bahagia

-The End-

Location : Jalan Tanongapa Raya, Panakkukang,

Sabtu, 02 Juli 2011

Saengil Chukahamnida

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Juli 02, 2011 2 komentar

Siwon menengok ke taman belakang perpustakaan dan menemukan Chae Rin, orang yang sudah dicarinya sedari tadi duduk selonjoran di atas rumput taman, di bawah pohon Sakura yang berbunga indah. Bunga-bunganya berguguran saat ditiup angin. Musim semi di Seoul, Korea Selatan memang selalu indah dan ramai dengan bunga-bunga beranekaragam. Chae Rin sangat menyukainya.
“Apa yang sedang kau baca?” tanya Siwon lalu ikut duduk di samping Chae Rin. Chae Rin yang tidak pernah mengantisipasi kedatangan Siwon yang tiba-tiba langsung terlonjak kaget dan melepaskan pegangan dari buku yang sedang dibacanya. Alhasil bukunya itu jatuh menghantam tanah.
Oppa[1], kau mengagetkanku!” seru Chae Rin dan memukul lengan Siwon pelan. Pria itu terkekeh.
“Buku apa itu?” tanya Siwon lagi.
“Ini novel. Dikirimkan oleh sepupuku dari Indonesia.” Chae Rin adalah warga Negara Indonesia yang menuntut ilmu di Korea. Awalnya dia hanya suka menikmati drama dan musik korea, sampai akhirnya dia benar-benar kepincut dengan budaya Negara itu. Sudah dua tahun dia hijrah dari Indonesia ke Negara Gingseng itu, disokong oleh beasiswa. Kini bahasa Koreanya pun sudah berkembang dengan pesat.
Chae Rin bekerja paruh waktu sebagai pegawai perpustakaan. Meski tidak bergaji besar, dia tetap menyenangi pekerjaannya. Dia senang berada di antara buku-buku, meski buku itu kadang membuatnya merasa pusing karena kebanyakan beraksara hangul[2]. Karena membaca dan mengerti hangul adalah dua hal yang berbeda.
Dan Chae Rin juga sangat bersyukur, jika dia tidak bekerja di perpustakaan dia mungkin tidak akan pernah bertemu dengan pria yang ada di sampingnya saat ini. Saat itu dia kesulitan membawa tumpukan buku yang harus disusunnya di rak yang sesuai, dan Siwon membantunya dengan senang hati.
Sejak itu mereka menjadi dekat. Chae Rin merasa bahagia sekaligus risih. Senang karena dia seperti menemukan seorang kakak dan keluarga yang tidak dimilikinya di Korea saat ini. Siwon yang baik dan dewasa membuatnya merasa nyaman. Tapi dia juga risih karena bisa dibilang Siwon adalah bintang kampus, dengan prestasi dan tampang yang sama-sama bersinar membuatnya dielu-elukan para wanita. Chae Rin tak senang, bukan karena banyak yang menyukai Siwon tapi karena gadis-gadis itu selalu meliriknya sinis. Gadis-gadis itu meliriknya seperti dia adalah debu yang menempel pada sebuah guci antik dan harus segera dilenyapnya.
“Tadi aku mencarimu di kampus, tapi aku tak menemukanmu. Ternyata kau di sini!” kata Siwon lagi. Chae Rin tidak berkata apa-apa. Dia berpura-pura sibuk dengan novelnya. Dia sebenarnya sengaja menghindari Siwon jika di kampus. “Bisa aku meminta sesuatu?” Chae Rin mengalihkan perhatiannya dari buku dan menatap Siwon dengan tatapan bertanya. “Tolong, abaikan saja orang-orang itu. Aku tidak suka kau menghindariku lagi seperti tadi.”
Oppa, aku tidak—” Chae Rin ingin berkata bahwa dia tidak sedang menghindari Siwon, tapi dia tercekat. Dia tak bisa berbohong pada pria yang sudah sangat baik padanya selama dua bulan terakhir ini.
“Aku ingin bersamamu. Mereka tidak berhak melarang aku bersama adikku.”
Chae Rin tertegun. Adik. Siwon menganggapnya adik. Seketika rasa sendu itu menyeruak memenuhui ruang hatinya? Kenapa dia merasa sedih karena Siwon hanya menganggapnya seorang adik padahal dia yakin sudah mengatakan bahwa dia juga menganggap Siwon sebagai kakaknya? Apakah dia—
Tidak! Chae Rin segera membuang semua pikiran ngaco itu dari kepalanya. Dia hanya ingin menganggap Siwon sebagai kakaknya. Chae Rin tiba-tiba teringat sesuatu.
Oppa, aku ingin menitipkan sesuatu.” Chae Rin merogoh tas yang ada di sampingnya dan mengeluarkan sebuah kotak kado. “Hari ini Min Ho Oppa berulang tahun kan? Tolong berikan ini padanya.” Min Ho adalah sahabat Siwon yang juga sangat baik padanya. Hari ini, Min Ho berulang tahun dan hadiah itu adalah ucapan terima kasih. Siwon menerima kotak itu dengan mata terpicing.
“Tidak ada apa-apa di antara kalian kan?” tanya Siwon curiga, Chae Rin tertawa renyah.
“Itu hanya ucapan selamat ulang tahun dariku, tidak ada maksud apa-apa.”
“Apa yang akan kau berikan jika aku berulang tahun?” Siwon bertanya lagi. Tiba-tiba dia merasa penasaran. Senyum Chae Rin langsung pudar.
“Kapan ulang tahunmu, Oppa?” tanyanya sungguh-sungguh.
“Sudahlah. Lupakan!”
***
Gomawo[3], Alya-ya[4]. Aku ingin sekali merayakan ulang tahunku bersamamu lagi seperti dulu.” Chae Rin tertawa setelah mengatakan kalimat panjang itu dalam bahasa Korea dan membuat orang yang sedang ditemaninya mengoborol misuh-misuh karena tidak mengerti. Chae Rin kembali mengulangi dalam bahasa Indonesia. “Aku sangat rindu padamu. Aku kadang merasa kesepian di sini.”
"Ternyata dia berulang tahun hari ini."
 Siwon bersandar di balik dinding dan menggumam pelan, dia tak bermaksud menguping. Dia merutuki dirinya dalan hati, dia mengganggap Chae Rin adalah adiknya tapi bahkan ulang tahun gadis itu tidak tahu. Tapi Chae Rin juga tidak tahu ulang tahunnya. Ahhh, mereka satu sama sekarang.
Tadinya dia ingin menemui Chae Rin, tapi gadis itu sedang mengobrol di telepon dan dia tak ingin mengganggu, apalagi gadis itu sedang mengobrol dengan sahabatnya. Siwon memang tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi dari suara Chae Rin yang berubah sendu, dia tahu, gadis itu merasa sedih karena tidak bisa melewati hari ulang tahun bersama keluarganya.
Ponsel Siwon bergetar, setelah membaca pesan singkat yang masuk dia segera melangkah pergi sambil merutuk makin kesal.
***

Malam semakin larut saat Siwon memasuki kota seoul. Dia baru saja dari kembali dari luar kota untuk menyelesaikan urusan bisnis yang sedang dirintisnya bersama Eunhyuk dan Donghae, mereka bertiga sebaya. Kota yang dikunjunginya adalah Busan, berjarak sekitar 500 km dari Seoul. Siwon menginjak gas semakin dalam, membelah sepanjang jalan di Seoul yang—untung saja—malam ini tidak begitu padat. Sesekali dia melirik kotak kue yang ada di jok di sampingnya, memastikan posisi kotak itu tidak bergeser. Dia tidak mau kue di dalamnya jadi lecet sedikit saja. Siwon sudah mengatakan pada Chae Rin bahwa dia akan datang. Awalnya gadis itu melarang karena malam sudah cukup larut, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Tapi Siwon bersikeras ingin datang sehingga Chae Rin tak bisa berkata apa-apa lagi.
 “Saengil Chukahamnida,[5]” Kata Siwon sambil menyodorkan sebuah kue tart cokelat.
Chae Rin tersenyum sumringah. “Gomawo, Oppa!”
“Ayo, tiup lilin dulu.” Siwon mengambil lilin yang juga dia bawa dan menancapkannya di atas kue dengan buru-buru, dia merogoh sakunya dan kemudian tersadar, dia menepuk jidatnya pelan. “Astaga,aku lupa membawa korek. Kau punya kan? Cepat ambilkan.ujar Siwon tidak sabar, sebentar lagi jam 12 dan itu berarti ulang tahun Chae Rin akan berlalu begitu saja. Chae Rin tersenyum penuh arti lalu masuk ke dalam rumah.
“Hya, kenapa kau lama sekali!” teriak Siwon begitu Chae Rin keluar dari dalam rumah dia menyerahkan korek yang dipegangnya dan langsung disambar oleh Siwon. Siwon terhenyak pelan saat Chae Rin mengalungkan sebuah syal berwarna hitam putih di lehernya.
“Agak dingin di sini,
“Sudah, cepat tiup lilinnya!” sergah Siwon cepat. Tak ada waktu untuk terkejut.
“Bantu aku, Oppa!” pinta Chae Rin setelah mengisi udara ke paru-parunya yang nyaris kosong. Meniup banyak lilin ternyata benar-benar menguji fungsi paru-paru. Siwon tersenyum lalu ikut meniup sisi lilin yang masih menyala.
Chae Rin mencabut semua lilin yang sudah tidak menyala lagi, sebelum Siwon sempat menyadari motif tersembunyi dari tindakan Chae Rin yang terburu-buru,
Plak.
Cream coklat lembut dan manis di kue itu sudah berpindah ke muka Siwon.
“Kau menjadi cokelat, Oppa. Aku ingin mencicipi rasamu, pasti sangat manis.Chae Rin tertawa terbahak-bahak lalu lari menjauh, takut Siwon akan balas dendam.
Hya. Mengapa kau melakukan ini padaku. Harusnya kau yang belepotan begini. Kau yang sedang berulang tahun!”
Mwo[6]? Ini bukan hari ulang tahunku. Kau yang berulang tahun! Sekarang tanggal 7, Oppa. Ulang tahunku sudah berlalu”
Impuls Siwon mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam. Benar juga, sekarang sudah lewat jam 12 malam. Berarti hari sudah berlalu dan sekarang tanggal 7 April, hari ulang tahunnya. Bagaimana dia bisa lupa? Dan ternyata Chae Rin tahu hari ulang tahunnya. Siwon berganti melirik syal yang melingkari lehernya, hadiah dari Chae Rin. Hasil rajutan Chae Rin sendiri. Warna kesukaannya pula.
Saengil chukahamnida, Oppa!” ujar Chae Rin lalu berjalan mendekat ke arah Siwon yang masih mematung memandangi syalnya, Chae Rin mencolek cream dari muka Siwon menggunakan ujung jari telunjuk lalu menjilatnya. Siwon tersadar.
"Hmm, coklat memang enak." ujar Chae Rin sambil mengerlingkan sebelah matanya jahil.
Siwon menjadi makin gemas karenanya.
***


[1] Oppa = Kakak laki-laki, diucapkan oleh perempuan.
[2] Hangul = Aksara korea
[3] Gomawo = Terima kasih (informal)
[4] ‘a’ atau ‘ya’ dibelakang nama = partikel yang menunjukkan panggilan.
[5] Saengil chukahamnida = selamat ulang tahun
[6] Mwo = apa

[FANFIC] Chocolate Love

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Juli 02, 2011 1 komentar


Length            : Oneshot
Genre             : Romance
Cast                : -Leeteuk (Super Junior)                          -Han Micha (Tokoh Fiksi)
                          - Choi Siwon (Super Junior)                     -Park Song Hye (Tokoh Fiksi)
                         
Ketika dia meninggalkanmu demi orang lain, relakan. Suatu hari, seseorang akan berterima kasih kepadanya karena telah melepaskanmu.
***
Setiap orang punya pendapat sendiri untuk merepresentasikan hidupnya seperti apa. Seperti Han Micha yang selalu menganggap hidupnya seperti gula-gula. Manis tiada batas. Hidup yang sudah dianggapnya sempurna kini berada di genggaman. Apa lagi yang dia butuhkan?
Micha bekerja di sebuah coffe shop yang cukup terkenal selama dua tahun. Dia tak begitu suka minum kopi tapi sangat menyukai pekerjaannya, Micha adalah pecinta susu dan segala yang berbau karamel. Terkecuali campuran karamel dan kopi, dia tak suka. Dia kadang sedikit bingung dengan orang-orang yang menjadikan kopi sebagai sarapan, terakhir kali dia mencobanya dia nyaris pingsan dan hampir dilindas mobil karena oleng saat menyeberang jalan bertepatan dengan lampu lalu lintas berubah warna dan dia belum sampai di seberang. Alasan utama dia tak menyukai kopi bukan cuma karena rasanya yang agak pahit, tapi juga lebih karena trauma.
Micha menyelesaikan tahap akhir pembuatan kopinya dengan memainkan busa susu sehingga menghasilkan pola yang indah dipandang.
“Selamat menikmati,” ujar Micha ramah saat dia mengidangkan Caffe Latte pada pelanggan yang harus dilayaninya sore itu sebelum waktu shift-nya berakhir.
Bel tanda pengunjung baru saja datang berdenting lagi membuat Micha merutuk kesal, dia kan sudah harus pulang sekarang dan temannya yang lain belum datang juga. Pria yang baru masuk itu berdiri di depan kasir dan menanti untuk memesan. Micha dengan senyum yang sudah kabur dari wajahnya melirik jam sekali lagi, pacarnya sudah pasti menunggunya di luar. Micha menghela nafas panjang.
“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” sapanya, berusaha mengukir senyum di wajahnya sendiri untuk tamu baru ini.
Hot chocolate.” kata pria itu singkat menyebutkan pesanannya. Micha menyebutkan sejumlah harga dan pria itu menyerahkan selembar uang. Setelah memberikan struk pembayaran dan kembalian uang, Micha dengan segera membuat minuman itu. Untung saja temannya segera datang sehingga dia bisa segera pergi. Dia tidak ingin menemukan pacarnya sudah menjelma menjadi patung es saat dia datang nanti.
Micha mengetatkan coat yang dikenakannya saat dia meninggalkan cafe, agar terpaan angin musim dingin tidak membekukannya. Mata Micha meneliti sekitaran dan tersenyum senang saat melihat orang yang dicarinya berdiri bersandar pada tiang lampu jalan.
Oppa..[1]” panggil Micha lalu berlari kecil mendekati sang pacar. Pria itu tersenyum menyambut  Micha. Sebuah dekapan dan kecupan hangat didaratkan di kening Micha sebagai ucapan selamat datang.
“Apa para pelanggan menyebalkan hari ini?” tanya pria itu sambil membetulkan letak syal Micha yang agak timpang agar udara dingin yang mengganggu itu tidak mengusik kehangatan di bagian lehernya. Dengan perhatian seperti itu, Micha yakin bahkan dia tidak memerlukan syal, dia sudah merasa hangat dengan kehadiran Sang Pacar di sampingnya, Siwon
 “Seperti biasa, pelanggan memang kadang banyak maunya. Mau kemana kita hari ini, Oppa?” Micha menggandeng tangan Siwon dan menariknya pergi.
“Kau mau bermain ice scating?” usul Siwon dan mata Micha langsung berbinar bahagia. Tapi sedetik kemudian, senyum manisnya memudar.
Oppa, apakah aku bisa mengajak Song Hye?” Micha bertanya ragu-ragu. Song Hye adalah sahabat terbaik yang Micha punya, mereka bersahabat sejak masih bersekolah di SMA. “Sejak beberapa hari yang lalu dia mengajakku bermain ice scating tapi aku selalu menolaknya karena pergi denganmu.”
“Tentu, kamu bisa mengajaknya juga.” kata Siwon penuh simpati.
Jinjayo[2]? Aku akan segera menghubunginya dan mengajaknya bergabung!” teriak Micha bersemangat dan mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabatnya itu.
Perjalanan  baru pun dimulai.
***
Micha membeku. Bukan karena udara dingin, tapi karena melihat pemandangan di hadapannya yang terlalu tidak masuk akal untuk diproses otaknya. Micha menatap nanar ke arah arena ice scating yang lumayan ramai.
Disana, pemandangan menjijikkan itu memanjakan matanya.
Pacarnya dan sahabatnya sedang bermain ice scating dengan mesranya. Tadinya, Micha janjian dengan teman sekerjanya untuk bermain ice scating bersama, tapi yang didapatnya malah ini. Pantas saja Micha ingin datang secepat mungkin ke tempat itu, padahal dia dan temannya janjian sejam lagi, rupanya intuisi menuntunnya untuk menguak semua pengkhianatan ini.
Micha tak ingin percaya, tapi yang dilihatnya sekarang terlalu nyata untuk disangkal. Song Hye dan Siwon saling berpegangan tangan dan meluncur lincah di atas arena es. Song Hye sangat jago bermain ice scating, Siwon juga. Jadi tidak ada alasan lain yang bisa mematahkan anggapan Micha bahwa kedua orang itu tidak memiliki hubungan khusus. Padahal dia sangat berharap ada. Dia tak ingin kehilangan kepercayaan kepada sahabat dan pacar yang sangat dicintainya.
Lalu kedua orang itu saling berbagi kecup di depan puluhan pasang mata, seakan dunia hanya milik mereka. Waktu seperti berhenti seketika. Mata Micha melotot sesaat lalu perlahan mengabur diikuti butiran air yang jatuh satu-satu. Dan tanpa ada perintah, rasa manis yang selalu dimiliki hatinya itu menguap seketika. Hambar. Mati.
Micha merogoh ponsel dalam tas dengan tangan bergetar, dia segera mengirimkan SMS yang mengatakan bahwa dia membatalkan acara mereka pada temannya. Tanpa menunggu jawaban, Micha mencabut baterai ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas dengan asal-asalan. Dia tak ingin bertemu lagi dengan Siwon ataupun Song Hye!
***
Leeteuk membuka jendela apartemennya yang langsung menyugukan pemandangan taman pagi hari. Salju-salju yang menutupi pohon mulai mencair seiring semakin mendekatnya musim semi. Pemandangannya biasa-biasa saja, tapi Leeteuk tetap berdiri di ambang jendela, mengamati gadis yang sedang duduk di ayunan sana dengan tatapan sendu, kepala gadis itu disandarkan pada rantai yang menyangga ayunan.
Bahkan dari jarak dua ratus meter, Leeteuk bisa tahu gadis itu sedang menangis. Bahunya berguncang pelan dan terpaan sinar matahari membuat air matanya tampak berkilau.
Leeteuk menghela nafas pelan lalu melangkahkan kakinya mendekati gadis itu, gadis itu mendongak dengan wajah berlumuran air mata, dia menatap Leeteuk heran. Dan tanpa basa-basi Leeteuk langsung mengusapkan jari telujuknya di wajah gadis itu untuk menghapus jejak air mata yang ada di sana.
Tapi sayang, itu semua hanya khayalan terliar yang bisa Leeteuk imajinasikan dalam kepalanya karena bahkan sebelum dia melangkahkan kaki menjauhi ambang jendela itu, gadis yang sedari tadi menjadi fokus pandangannya sudah menghapus air matanya dengan cepat. Untuk sesaat gadis itu duduk memandang tanah yang agak basah karena salju yang mencair, dia menghela nafas panjang dan berat lalu menghembuskannya pelan.
Gadis itu mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam lalu beranjak pergi.
Leeteuk tahu siapa gadis itu, dan di mana dia bisa menemukannya.
***
Cuaca sedikit lebih hangat karena musim semi sudah datang, tapi Micha merasa sangat dingin, mungkin lebih dingin dari musim dingin terdingin di manapun itu. Hatinya terasa beku.
Sejauh ini Micha tak pernah bisa mengomandoi air matanya sendiri agar tidak jatuh saat mengingat peristiwa berminggu-minggu lalu di arena ice scating itu. Sakit itu terlalu berbekas.
Mengapa mereka Siwon dan Song Hye setega itu? Salah apa dirinya? Selama ini Micha berusaha memberikan yang terbaik untuk siapapun, tapi yang dia dapatkan malah seperti ini. Sebuah pengkhianatan. Yang terasa sangat mengiris. Micha tak tahu lagi bagaimana keadaan hatinya saat ini. Porak-poranda. Lebam di sana-sini.
Hidupnya bukan lagi sebuah gula-gula, tapi seperti kopi. Espresso. Hitam kelam dan pahit. Padanan yang selama ini sangat tidak disukai Micha dan berusaha dihindarinya. Tapi toh akhirnya rasa itu datang sendiri juga.
Micha tersentak dari lamunannya karena senggolan pelan dari temannya, mengisyaratkan agar dia segera menyelesaikan apa yang seharusnya dia kerjakan saat ini. Micha menyiapkan sebuah cangkir dan dengan lesu mulai membuat espresso.
“Aku tidak memesan ini, Nona.” suara itu membuat lamuan Micha pecah, kesadarannya kembali ke dunia dimana seharusnya dia berada. Mata Micha memicing sambil membaca struk pria itu. “Aku memesan hot chocolate, bukan espresso.” lanjut pria itu lagi dengan suara tenang. Pria itu lebih sering mengunjungi cafenya akhir-akhir ini dan selalu memesan minuman yang sama. Menyadari kesalahan fatal yang dilakukannya, Micha langsung membungkukkan badan untuk meminta maaf.
Jweisonghamnida[3]. Saya akan segera menggantinya.” Micha segera mengambil cangkir itu dan melesak pergi untuk menyiapkan pesanan yang benar.
***
Micha menimang sebuah lollipop karamel yang ditemukannya di dalam tas. Dulunya dia memang sangat menyukai permen manis itu sehingga mempunyai banyak persediaan di dalam tasnya, apalagi Siwon rajin menghadiahinya dengan permen seperti itu.
Dadanya mendadak nyeri yang teramat sangat. Micha menghirup udara yang seketika terasa panas dan membakar rongga dadanya. Rasa panas itu membuat dadanya seribu kali lipat lebih nyeri dibandingkan yang tadi. Micha mendongak, berharap dengan begitu air matanya tidak jatuh. Dia lelah menangis tapi kelenjar air matanya terlalu mudah terstimulasi bahkan dengan kenangan-kenangan yang tidak seharusnya penting.
Micha merogoh tasnya kembali dan mencari di setiap sudut dan kantong di dalam tas yang mungkin menjadi tempat permen-permen itu bersembunyi. Dia menemukan dua permen lainnya. Tanpa basa-basi, Micha langsung melempar permen-permen itu ke tong sampah yang tidak begitu jauh dari ayunan tempatnya duduk sekarang. Terdengar bunyi permen dan tong sampah beradu, tapi Micha tak ingin repot-repot mengetahui apakah lemparannya masuk sasaran atau tidak.
Matahari perlahan menghilang, menyisakan semburat jingga di langit yang mengingatkan Micha dengan bungkusan permen tadi. Akh, lagi-lagi bayangan Siwon melintas. Apa yang harus dia lakukan agar bayangan itu menghilang dari pikirannya?
“Kau tak mau lagi permen ini?” Permen yang dilemparkannya tadi di tempat sampah kini dijulurkan kembali padanya dari arah belakang. Micha menoleh, hanya untuk memastikan karena dia sangat mengenali suara itu.
Hot chocolate.” bisik Micha pelan, dalam hati mengakui kemampuan memorinya yang lumayan bagus—atau mungkin juga tidak bagus. Karena terlalu gampang mengingat sesuatu makanya sekarang dia kesulitan melupakan mantannya. Well, belum ada kata putus antara dia dan Siwon tapi dia sudah menganggap hubungan mereka telah berakhir.
Suara itu milik salah satu pelanggannya yang paling sering memesan hot chocolate, minuman yang sangat jarang dicobanya. Micha memang terlalu fanatik, jika menyukai sesuatu, dia akan sangat menyukai sesuatu itu dan tak memberi kesempatan bahkan pada dirinya sendiri untuk mencoba yang lain.
Ne?[4] tanya Leeteuk karena tidak mendengar apa yang Micha katakan.
Aniyo,[5]” Micha menggeleng cepat untuk meyakinkan pria yang kini berdiri di hadapannya bahwa memang tidak ada apa-apa.
“Kau tak menginginkan permen ini lagi?” Micha menggeleng lagi sebagai jawaban. “Sayang sekali kalau begitu. Apa aku boleh duduk disini?” Leeteuk bertanya sambil menunjuk ayunan yang kosong di sebelah Micha.
“Silahkan, aku bukan pemilik ayunan itu!” Leeteuk tertawa pelan mendengar jawaban itu.
Keheningan meliputi mereka sesaat.
“Aku mengenalmu, Ahjussi[6]. Kau adalah salah satu pelanggan di café tempatku bekerja.” Micha-lah yang bersuara lebih dulu. Mata Leeteuk melebar mendengar sapaan itu.
Mwo[7]? Kau memanggilku apa? Ahjussi? Apakah aku terlihat setua itu?”
Micha mengangkat bahu sekenanya.
“Oke, panggil aku Leeteuk. Kau? Namamu siapa?” Leeteuk memperkenalkan diri.
“Apakah penting menyebutkan namaku?” balas Micha acuh tak acuh. Leeteuk mengernyit sedikit, dia tidak menyangka kalau gadis ini ternyata galak. Dari luar dia terlihat sangat rapuh. Mata sendunya tak pernah bisa berbohong.
“Menurutku itu penting, apalagi aku sudah menyebutkan namaku.”
“Aku tidak memintamu menyebutkan namamu.” Micha berkata sinis lalu bangkit berdiri dan beranjak pergi. Micha sengaja bersikap seperti itu untuk mencipta jarak sejauh-jauhnya dengan orang lain. Di matanya kini, semua pria sama saja.
Micha memperlambat langkahnya dan menoleh ke arah taman. Leeteuk sudah tidak di sana lagi. Rasa hampa itu kembali menggerogoti hatinya. Jiwanya. Saat ini, memang seharusnya dia mencari teman untuk menumpahkan semua ganjalan yang ada di hatinya. Tapi lagi-lagi, bayangan akan dikhianati oleh sahabat sendiri kembali menggantung di depan matanya.
“Micha. Tunggu!”
Jantung Micha mencelos mendengar panggilan itu. Itu bukan Leeteuk yang tadi berusaha mengajaknya mengobrol, tapi seseorang yang sangat ingin dilupakannya.
Siwon.
Micha tak menoleh dan berusaha mempercepat langkah. Meski begitu Siwon dengan mudah bisa mengejarnya. “Micha” panggil Siwon lagi. Micha seketika berubah jadi tuli. Karena agak sebal diabaikan, Siwon langsung menahan lengan Micha, dengan sekali sentakan tubuh Micha kini sudah menghadap ke arahnya, gadis itu meringis pelan dengan air mata sudah berkumpul di pelupuk. Siap untuk jatuh kapan saja.
“Kenapa kau menghindariku?” tanya Siwon, Micha menunduk. Dia tak ingin menatap mata Siwon. Bagaimana jika dia hanyut di dalam sana? Tak ada yang bisa menolongnya, bahkan dirinya sendiri pun tidak.
“Aku terus mencarimu. Nomormu tidak aktif dan kau juga pindah apartemen tanpa memberitahuku.” Micha memang sengaja melakukan semua itu, agak Siwon tak memiliki akses lagi untuk menemuinya, tapi mereka bertemu juga di taman ini dengan tidak sengaja.
“Kita..” Micha berkata dengan suara bergetar, dia menghela nafas panjang lalu mendongakkan kepala dengan percaya diri. Dia sudah mengatakan lelah menangis. “Kita.. Hubungan  kita sudah selesai, Oppa.” Micha menyelesaikannya dalam satu tarikan nafas. Selesai sudah.
“Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? Aku merindukanmu.” Micha mendengus pelan.
“Kenapa?? Karena aku membencimu. Seharusnya kau tak perlu membuang tenaga untuk mencariku, temui saja Song Hye. Dia menunggumu!” Siwon tersentak mendengar nada sarkatis itu.
“Aku mencintaimu.”
“Juga sahabatku?” Micha merespon cepat. “Pergilah padanya, Oppa! Dan jangan menemuiku lagi dan aku juga tak ingin bertemu denganmu.”
“Aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu kau cuma berpura-pura tegar.”
“Aku bisa bahagia tanpamu. Dan aku berharap kau lebih bahagia dengan Song Hye!” Micha melepaskan cekalan Siwon lalu pergi. Siwon menatap punggung Micha yang semakin menjauh. Micha meminta, dia menuruti!
“Ya, kau yang memutuskan itu.” Micha masih bisa mendengar suara pelan Siwon di belakang. Jadi benar, Siwon jauh lebih memilih Song Hye dari dirinya. Dia tak pernah menyangka bahwa rivalnya adalah sahabat karibnya sendiri.
Dan Micha memilih mengalah.
Air matanya mulai menggumpal lagi dan dadanya sesak pada saat bersamaan. Ada yang menyumbat saluran pernafasannya. Micha megap-megap kehabisan nafas, dia jatuh terduduk di jalanan yang sepi.
Lalu seseorang menyentuh bahunya.
“Memang seharusnya kau menangis untuk menyembuhkan sedikit lukamu.” Di bawah temaram lampu jalan yang agak redup, Micha bisa melihat Leeteuk dengan wajah teduh. Tak sanggup lagi menahan semua, Micha mulai tersedu-sedu.
***
Micha memandangi cokelat hangat yang ada di genggamannya, matanya sembab karena tangis yang baru saja reda. Leeteuk duduk di sebelah Micha tanpa berkata sepatah kata pun, hanya diam menunggu gadis—yang belum dia tahu namanya—ini berbicara, jika dia memang mau. Leeteuk tak ingin memaksa.
“Cokelat bagus untuk memperbaiki mood, minumlah!” pinta Leeteuk karena sejak tadi Micha hanya memandangi mug yang dipegangnya. Micha menoleh, dia memandang Leeteuk lumayan lama lalu kembali menatap minuman itu.
Saat ini Micha berada di apartemen Leeteuk yang didominasi warna putih dan terasa menentramkan. Suara di otak Micha memerintahnya untuk segera pergi dari tempat itu, bagaimana pun dia hanya mengenali Leeteuk sebagai salah satu pelanggannya, tidak ada yang tahu apa yang diinginkan pria itu padanya. Tapi Micha tak juga beranjak, ruangan itu terasa nyaman. Seperti spons yang dapat menyerap air, suasana nyaman dari ruangan itu menyerap kegundahan di dalam hatinya.
Micha akhirnya menyeruput minumannya, rasa hangat menjalari seluruh tubuhnya. Leeteuk menoleh lalu berkata, “Kau sudah merasa baikan?” Micha mengangguk.
Gamsahamnida.[8]” ujarnya pelan.
“Maaf, aku membawamu ke sini. Aku agak panik mendapatimu menangis hingga tidak tahu harus berbuat apa.”
“Jangan! Jangan meminta maaf. Harusnya aku yang meminta maaf karena merepotkanmu.”
Leeteuk tiba-tiba teringat pria yang berbicara dengan Micha sebelum dia menemukannya tadi. Apakah pria itu berbuat sesuatu pada gadis ini? “Pria tadi—”
“Mantan pacarku. Dia berselingkuh dengan sahabatku.”
“Maaf, aku tidak bermaksud.”
Tanpa Leeteuk minta, Micha sudah menceritakan semua yang terjadi, seperti Leeteuk adalah sahabat yang sekian lama tidak dia temui, dan menceritakan semua yang terjadi selama ini adalah sebuah keharusan. Micha menyeruput cokelatnya lagi setelah menyelesaikan cerita yang menyesakkan itu. Kini dadanya terasa lowong, dan ternyata cokelat tidak seburuk yang dia bayangkan. Ada sedikit rasa pahit memang, tapi itu tertutupi oleh rasa manis yang tidak begitu berlebihan. Dia berjanji akan mencicipinya lagi entah dalam bentuk minuman atau kepingan.
“Aku pikir hidupku semanis permen karamel, tapi ternyata semua salah.” kini Leeteuk tahu mengapa Micha membuang permennya tadi.
“Tidak semua yang manis memang bagus. Misalnya saja obat yang kita minum saat sakit memang pahit dan kadang kita enggan meminumnya, tapi akhirnya obat itulah yang menyembuhkan kita. Yang pahit pun bisa memberikan sesuatu yang berarti.” kata Leeteuk dan dibenarkan oleh Micha.
Ini semua adalah sebuah pembelajaran untuknya. Tuhan sudah mengatur semuanya. Dia hanya perlu berjuang keluar dari kepedihan itu.
Micha akhirnya pamit pulang setelah menghabiskan cokelat hangatnya dan cerita sedih yang bertumpuk-tumpuk. Leeteuk memaksa ingin mengantar meski Micha sudah menolak karena tempat tinggalnya juga tak begitu jauh dari situ. Jarak tempat tinggal Micha yang baru dengan apartemen Leeteuk hanya lima belas menit berjalan kaki dengan kecepatan sedang dan tiga puluh menit berjalan kaki dengan kecepatan kura-kura seperti yang kedua orang itu terapkan saat ini.
Terima kasih, sudah mengantarku pulang.” kata Micha setelah berdiri di depan apartemennya. Leeteuk tersenyum menampilkan lesung kecil yang ada di dekat bibirnya. Micha baru tahu kalau Leeteuk memiliki lesung pipi yang membuat senyumnya semakin cemerlang. Siwon juga pu—Tidak! Micha tak ingin lagi memikirkan itu.
Ne.” gumam Leeteuk lalu berbalik dan pergi.
“Leeteuk-ssi[9]!” Leeteuk menoleh saat mendengar Micha memanggilnya. “Namaku Micha. Han Micha.” Leeteuk melambaikan tangan tanda mengerti. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu kembali berjalan pulang.
Seulas senyum tersungging di bibir Micha. Senyum tertulus yang pernah disunggingkannya dalam beberapa minggu terakhir.
Leeteuk seperti seorang malaikat yang datang saat dia butuh.
***
Sejak hari itu, Micha dan Leeteuk menjadi semakin akrab. Perlahan Micha sudah kembali ceria seperti sediakala. Kehadiran Leeteuk seperti angin yang berhembus pelan dan menggeser gumpalan awan kesedihan yang menyelimuti Micha. Micha juga kini lebih sering mencicipi coklat. Leeteuk sering menghadiahinya dark chocolate, untuk memperbaiki mood katanya.
Hot chocolate,” Micha tak bisa menyembunyikan senyumnya saat mendapati Leeteuk sudah berdiri di hadapannya untuk memesan minuman itu lagi.
Seperti sore-sore sebelumnya, Leeteuk datang ke café tempat Micha bekerja dan memesan minuman yang sama, hari ini sambil menunggui Micha menyelesaikan pekerjaannya. Mereka sudah berbagi janji akan menghabiskan sisa hari bersama.
Leeteuk tersenyum kecut saat melihat Micha nyaris jatuh karena menyenggol meja. Beruntung nampan yang dibawa Micha tidak jatuh.
“Kenapa kau jadi panik? Gugup karena membawakan minuman untukku?” goda Leeteuk yang mendapat lirikan agak sinis plus senyum malu dari Micha. Tanpa menjawab Micha segera menjauh. Kenapa jantungnya jadi berdegup tidak karuan sih? Kenapa seperti ada peternakan kupu-kupu di perutnya?
Jawabannya? Karena ada sesuatu yang telah jatuh’!
Mereka berdua menghabiskan sore dengan mengobrol panjang lebar di taman dekat aparteman Leeteuk, obrolan itu tak pernah habis, bahkan memperdebatkan hal-hal tidak penting pun selalu terasa menyenangkan.
“Kenapa kau sangat menyukai cokelat Leeteuk-ssi?”
“Karena cokelat tidak hanya enak tapi juga memiliki banyak manfaat untuk tubuh kita. Misalnya,” Leeteuk menegakkan tubuhnya sebelum menjelaskan lebih lanjut, seperti pembawa berita yang akan membacakan berita penting. “Coklat mengandung banyak unsur yang bersifat menjadi stimulan antara lain theobromine, phenethylamine, dan caffeine yang dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan berkonsentrasi. Theobromine dalam cokelat disinyalir berfungsi menyembuhkan batuk secara lebih baik dibandingkan obat batuk.  Senyawa flavanol (antioksidan) dalam cokelat diindikasikan dapat membantu mencegah tekanan darah tinggi. Kandungan phenylethylamine yang adalah suatu substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Riset lainnya menyebutkan bahwa coklat hitam yang rasanya manis dan agak pahit memiliki manfaat lebih besar untuk kesehatan jantung.” Micha cuma bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebagai respon atas kalimat ilmiah nan panjang yang dilontarkan Leeteuk.
“Aku jadi pusing, kalimatmu terlalu ilmiah untuk dicerna otakku yang lamban. Dan intinya adalah?”
“Cokelat bagus untuk tubuh. Jadi kau bisa mengganti permen karamelmu dengan cokelat saja!”
“Aku sudah tidak mengkonsumsi permen karamel sekarang. Aku sudah membuang semuanya!”
“Termasuk kenanganmu dengan Siwon?” pertanyaan Leeteuk membuat Micha tertegun. Mengapa Leeteuk tiba-tiba menanyakan itu? “Lupakan apa yang aku katakan tadi.” tambah Leeteuk cepat, meski dia penasaran dengan jawaban pertanyaan itu.
Leeteuk hanya tidak ingin kenangan itu terus-terusan menghantui Micha. Micha tak seharusnya menghabiskan waktu untuk menangisi semua. Seharusnya Micha mencoba membuka hatinya kepada orang lain, seperti Micha yang sudah beralih dari permen karamel ke cokelat.
Mungkin mencoba membuka hati untuknya yang sudah berusaha mengetuk dan mencari kunci untuk membuka pintu hati itu selama ini.
“Mungkin aku tidak bisa melupakan semua kenangan itu, tapi aku tak lagi tersakiti karenanya. Pasti ada hikmah di balik semuanya, satu diantaranya adalah aku bisa mengenalmu. Aku beruntung bisa mengenalmu.” ujar Micha, kini gantian Leeteuk yang melongo mendengarnya.
“Aku menyukaimu. Sejak pertama kali kau menyajikan secangkir cokelat hangat untukku.” kata Leeteuk segera sebelum keberaniannya surut. Micha tertawa. Leeteuk tak bisa mendefenisikan maksud dari tawa itu. Marah jelas bukan. Tawa hambar juga bukan. Tawa gugup? Juga bahagia? Dia tak pandai bermain tebak-tebakan.
“Kau tahu? Kau seperti cokelat untukku, Oppa!”
Mwo? Oppa?” Leeteuk menatap Micha dengan mata yang melebar. Selama ini Micha tak pernah sekalipun memanggilnya dengan panggilan itu, Micha selalu berbicara cenderung formal dengannya.
“Apa? Ada yang salah? Aku tak boleh memanggil pacarku dengan panggilan ‘Oppa’?”
Pacar? Dia tidak salah dengar kan?
“Pacar?” Leeteuk bertanya lagi.
Aish. Berapa lama kamu mulai mengkonsumsi cokelat, Oppa? Kupikir cokelat juga dapat meningkatkan daya kerja otak.”Micha merengut. “Kau bilang, kau menyukaiku dan aku juga menyukaimu. Bukankah lebih baik kita pacaran saja?”
Leeteuk termangu menatap Micha yang cemberut di hadapannya. Leeteuk tertawa pelan lalu mendekati Micha dan memeluknya erat. Musim semi di hatinya kini telah datang.
“Aku mencintaimu.” bisik Leeteuk.
“Aku juga mencintaimu, My Chocolate Love!”
Lampu taman mulai eksis di kegelapan yang perlahan melingkupi, Leeteuk dan Micha duduk di ayunan taman sambil bergandengan tangan. Jika sinar bulan bisa menampakkan aura yang melingkupi mereka, warnanya pasti merah muda.
“Aku ingin bertemu dengan Siwon segera,” kata Leeteuk, Micha menatapnya dengan tatapan bertanya tapi Leeteuk hanya tersenyum. “Nanti kau akan tahu untuk apa aku menemuinya.”
***
Oppa!” panggil Micha sambil berlari kecil ke arah Leeteuk yang baru datang. Micha sangat penasaran karena Leeteuk baru saja menemui Siwon. Sebulan berlalu sejak Leeteuk mengatakan ingin bertemu Siwon tapi baru sempat terealisasikan sekarang. “Kalian membicarakan apa? Kalian tidak bertengkar karenaku kan?”
Leeteuk mengacak rambut Micha gemas mendengar seruan pede itu. “Siwon dan Song Hye masih berpacaran saat ini.” Leeteuk memilih memberitahukan kabar lain lebih dahulu, Micha tampak santai saja menanggapinya.
“Oh, ya? Baguslah kalau begitu. Aku juga sudah memilikimu sekarang. Jadi apa yang kau katakan pada Siwon Oppa?”
“Aku berterima kasih padanya karena telah melepasmu. Aku tak akan pernah bisa bersama denganmu jika kalian masih bersama. Dan jika itu terjadi aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini.”
Micha mengangguk-angguk, menggandeng tangan Leeteuk manja lalu menyandarkan kepalanya di bahu Leeteuk. “Apakah aku harus berterima kasih pada Song Hye karena dulu merebut pacarku hingga aku bisa bertemu denganmu?”
“Mungkin lain kali kita bisa mengajak mereka berkencan ganda sebagai ucapan terima kasih.” usul Leeteuk sambil mengerling. Micha menjentikkan jari.
“Ide yang bagus. Pasti sangat menyenangkan.”
Setiap orang punya pendapat sendiri untuk merepresentasikan hidupnya. Seperti Han Micha yang kini menganggap hidupnya seperti dark chocolate. Manis dengan sentuhan pahit di dalamnya. Tak hanya membagi kebahagiaan tapi juga memberi pelajaran, bahwa hidup itu tak hanya terdiri dalam satu rasa yang sama, tapi ada rasa yang lain yang saling melengkapi. Agar hidup jadi terasa lebih sempurna dan berarti.
Lalu, seperti apa hidupmu?
-The End-


[1] Oppa = Kakak laki-laki (diucapkan oleh perempuan)
[2] Jinjayo = Benarkah
[3] Jweisonghamnida = Maaf (formal)
[4] Ne = Ya
[5] Anio = Tidak
[6] Ahjussi = Paman
[7] Mwo = Apa
[8] Gamsahamnida : Terima kasih (formal)
[9] Ssi = partikel di belakang nama
 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review