Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remaja. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

Sinopsis No Other

Diposting oleh sachakarina di Senin, April 23, 2012 2 komentar


Judul Buku: No Other
Pengarang: Karina Sacharissa
Genre: Romance
Kategori: Fiksi Remaja
ISBN: 978-602-9397-36-1
Tebal: viii + 188 hal
Harga: Rp. 34.000
Penerbit : Bentang Belia
Terbit : April 2012


Sinopsis


Aku tahu

Kalian berbeda


Dan, aku seharusnya mencintai dengan cara yang berbeda.



Di tengah kekecewaannya gagal nonton "Super Junior Super Show", Acha bertemu seorang cowok yang mirip dengan Siwon, idolanya. Atas ide gila Alia, sahabatnya, tanpa pikir panjang Acha meminta Adry--si Siwon palsu--menjadi pacarnya.

Hidup Acha sangat berwarna setelahnya. Adry ganteng dan super baik. Sayangnya, Alia selalu mempermasalahkan perasaan Acha yang sebenarnya pada Adry. Pertengkaran pun tak bisa ditolak. Kebohongan demi kebohonhan muncul.

Benarkah Acha bisa sungguh-sungguh mencintai Adry sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai Siwon idolanya?

***

"Ceritanya segar dan pas banget untuk penggemar Siwon, Super Junior (SUJU). Penggemar SUJU harus baca buku ini ^^" 
--Yunike (Eunice), founder www.siwonlover.com (fanbase internasional Choi Siwon)



Dapatkan segera di toko buku seluruh Indonesia atau bisa pesan langsung pada saya dengan email ke cha.licca@gmail.com (harga belum termasuk ongkos kirim dari Makassar).


Minggu, 14 November 2010

Pelangi, Merah dan Dia

Diposting oleh sachakarina di Minggu, November 14, 2010 0 komentar

Saya pecinta warna-warna cerah. Merah, kuning, hijau dan semua warna pelangi. Saya sangat-sangat suka Pelangi. Beberapa bulan lalu saya berlibur dengan rekan-rekan kerja ke Malino yang ada di kaki gunung Bawakaraeng selama tiga hari. Liburan yang sangat menyenangkan. Kami berenang di kolam renang lembah biru, serasa berenang di dalam air es, hanya setengah jam bermain gigi kami mulai bergemeletukan, bibir mulai memutih. Kami segera berkemas untuk kembali ke Villa saat gemiris perlahan berganti menjadi butiran hujan.

udah kedinginan tapi masih menyugukan senyum termanis


Sore harinya setelah hujan reda, kami mengunjungi hutan pinus, bersantai sebentar di sana lalu melanjutkan perjalanan ke kebun teh. Sinar matahari menembusi sisa-sisa hujan hingga terbentuk pelangi. Dari puncak kebun teh, pemandangan indah itu memanjakan mata saya.

yang lain sibuk berpose dan saya sibuk membidik pelangi


Sore semakin pekat saat kami meninggalkan kebun teh dan bermaksud mengunjungi kebun strawberry, saya berharap kebun itu seperti kebun-kebun yang sering ada di TV. Sepanjang perjalanan saya tak pernah mengalihkan perhatian dari Pelangi yang terlukis di langit di depan kami. Saya sampai bergumam pelan pada teman disamping saya.

“Disana ada bidadari” Teman saya itu tidak menggubris, tidak mendengar mungkin karena suara saya yang sangat kecil.

Pelangi itu terlihat dekat sekali, dan mobil bisa mencapainya, dalam hati saya menyemangati sang sopir, “Ayo.. ayo.. lebih cepat, sebentar lagi kita bisa mencapai Pelangi.”

Saya tahu itu tidak mungkin.

Dan saya sangat kecewa saat berdiri di depan kebun strawberry itu apalagi kami sudah nyasar berkali-kali, kebun itu benar-benar hanya kebun, hanya sepetak sawah yang dijadikan kebun dan hanya ada daun, tak ada buah sama sekali. Saya membayangkan buah-buah strawberry yang gemuk-gemuk dan memerah, tapi tak ada. Tak sampai lima menit di sana kami sudah meninggalkan kebun itu.

Seminggu setelah pulang dari Malino saya liburan ke Jakarta. Saya sangat tidak suka tebang apalagi dalam kondisi cuaca yang agak buruk (siapa sih yang suka?). Saya sebenarnya takut ketinggian dan kedalaman, tapi saya suka melihat pemandangan dari ketinggian (apasih? :p), makanya kalau naik pesawat saya selalu ingin duduk di dekat jendela. Berkali-kali terdengar pemberitahuan bahwa kapal sedang melewati daerah dengan kondisi cuaca buruk, dan setiap terdengar pemberitahuan itu jantung saya langsung memompa cepat dan otak seketika berpikir macam-macam. Saya mengalihkan perhatian dengan melihat gugusan-gugusan pulau yang ada di bawah. Lalu saya melihat pelangi.

Saya tidak tahu apakah penglihatan saya yang salah atau memang pelanginya yang seperti itu, tapi saya tetap takjub, lebih takjub dari biasanya.

Saya pernah menanyakan kenapa pelangi itu selalu melengkung, jawaban yang saya dapat adalah pelangi hanya dapat dilihat dari sudut sekian derajat (lupa).

Tapi saat itu, dihadapan saya sedang terbentuk pelangi yang tidak melengkung seperti biasa, tapi tegak lurus. Saya tak bisa mengalihkan pandangan dari pelangi itu tapi pesawat keburu berganti arah, saya kehilangan pelangi itu.

Sepulangnya dari Jakarta dikepala saya hanya ada tentang pelangi, saya ingin sekali menuliskannya dalam cerita,

Dan dari semua warna saya paling suka warna merah, tapi saya juga suka kuning, juga hijau daun, juga biru laut tapi porsi merah lebih besar.

Itu dimulai sejak setahun yang lalu, akhir Januari 2009. Saat itu saya sedang dekat-dekatnya dengan seseorang, kami sering jalan bareng (well, saat itu kami sudah pacaran sih!). Kegiatan favoritnya adalah mengomentariku, apa saja dia komentari, mulai dari umur saya yang katanya masih sangat muda untuk jadi pacarnya (saat itu saya masih 17 tahun mendekati 18) dan saya seumuran dengan adiknya, dia selalu berkata bahwa dia seperti sedang memacari adiknya sendiri -_-. Dia juga suka mengomentari tinggi saya yang tidak seberapa dibandingkan dia yang tingginya lebih dari 170 cm, saya memang doyan pakai hak tinggi kemana-mana jadi komentar itu bisa diantisipasi. Dia juga mengomentari bahwa saya sangat kurus, juga tentang warna pakaian yang saya pakai.

Saya merasa warna kulit saya cocok jika dipadankan dengan warna merah, karena ingin tampil lebih baik makanya saya lebih sering memakai baju berwarna merah jika bersamanya (baju saya memang kebanyakan berwarna merah).

“Kenapa sih selalu pakai baju warna merah? Silau.” Katanya, saya cuma tersenyum. Tak pernah sekalipun saya menanggapi komentar-komentarnya, saya menganggapnya hanya selingan saja. Itu berarti dia memperhatikan saya, sedikit perubahan pasti di komentari olehnya, jadi saya menikmati jika dikomentari olehnya, malah saya merasa aneh jika dia tidak berkomentar lagi.

Setelah komentarnya tentang warna merah itu saya selalu membuatnya jengkel dengan sengaja memakai pakaian yang berwarna merah jika kami bersama, hanya agar dia mau mengomentari saya. Saya juga mulai mengumpulkan pernak-pernik berwarna merah, dan saya memang mulai jatuh cinta pada warna merah. Mengalahkan cinta saya pada warna-warna cerah lain.

Saya dengan berani akan mengenakan warna merah saat matahari sedang bersinar sangat terik. Teman saya sering bertanya apa saya tidak merasa terbakar? Tidak. Memakai pakaian berwarna hitam di siang bolong menurut saya jauh lebih panas di bandingkan merah, lagian saya menyukainya. Tak ada yang salah.

Jadi, saya menyukai warna merah itu sebenarnya karena dia, karena di sering mengomentari saya, dan saya ingin terus dikomentari (diperhatikan), dan berakhir dengan saya yang benar-benar menyukainya.

Sekarang, kisah satu tahun lalu dengannya itu memang hanya tinggal kenangan saja, tapi saya tetap menyukai warna merah. Saya tetap menyukai pelangi, saya tetap tidak tinggi, saya masih seperti dulu. Sama. Saya hanya semakin tua.

Kamis, 11 November 2010

Cuap-Cuap nggak penting

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 11, 2010 0 komentar
Tik..Tok..Tik..Tok..

Sudah jam 12 malam dan saya masih melek padahal besok mau kuliah pagi lagi. Saya udah pengen tidur tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk ngeposting sesuatu dari pikiran saya yang tadi melanglang buana dan mendarat di satu objek. Masih sama. Objek yang sama.

Saya tiba-tiba kangen dengan seseorang, yang beberapa hari ini tak pernah saya jumpai. biasanya dia selalu mengirimkan SMS atau sekedar menelepon saya untuk berbasa-basi. Tapi seminggu ini dia lenyap, entah kemana.

Bukan. Dia bukan pacar saya.

Tapi ada kalanya saya dan dia kadang seperti orang yang lagi pacaran (menurut saya). kami terlalu akrab satu sama lain, terlalu peduli, sampai-sampai sahabat saya berpikir kalau saya dan dia udah lama pacaran.

Kami memang pacarannya udah lama, sekarang udah nggak pacaran lagi.

saya nggak pernah ngebahas masalah ini, tapi entah kenapa saya lagi pengen nulis di blog. mungkin masih pengaruh tulisan sebelumnya, saya sedang sangat bawel hari ini!!

hehehe,, abaikan saja tulisan tidak penting saya...

Membaca, Menulis, Mimpi dan Cerita Bersambung

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 11, 2010 0 komentar

Dulu.. saat masih SMP saya suka koleksi majalah-majalah (belum kenal teenlit soalnya, hehehe). Mungkin dibilang koleksi nggak juga karena saya beli majalahnya angin-anginan (saya bingung dengan kata saya sendiri), tergantung mood, saya nggak ngoleksi satu jenis majalah khusus dan merasa harus beli setiap edisinya. Jadi mungkin lebih tepat cuma ngumpulin majalah aja. Itupun habis baca langsung digunting-gunting. hahaha

Saya ingat, majalah yang saya sering beli itu Aneka Yes! tabloid Gaul, dan Fantasi. Nemu majalah itu juga untung-untungan. Maklum, saya tinggal di kota kecil, jadi nemuin majalah aja susah. Mesti pesan dulu sama agen seminggu sebelumnya. Repot kan! Makanya, saya beli yang ada aja. Saya tipe orang yang suka mesen barang kayak gitu, saya kan nggak sabaran, kalau pengen sesuatu harus ada saat itu, kalau nggak saya nggak bisa tenang, nungguin majalah selama seminggu aja udah kayak setahun (jiahh, lebay).

Nah, dari majalah-majalah itu saya mulai suka membaca cerpen. Saya memang senang membaca cerita sejak masih kecil. Mama saya seorang guru Bahasa Indonesia dan beliau punya banyak koleksi buku Bahasa Indonesia. Papa saya juga suka ngoleksi buku meskipun saya jarang ngeliat beliau membaca. Mungkin rajinnya pas beliau masih muda kali yah!hehehe. Kalau saya sedang bosan, saya suka tongkrongin rak buku, membuka semua buku Bahasa Indonesia milik Mama dan mencari cerita pendek atau dongeng yang bisa saya baca. Asalkan tulisan itu ringan saya senang membacanya. Saya menjadikan membaca sebagai kegiatan refreshing, itu sebabnya saya malas membaca tulisan yang 'berat-berat'.

Sejak masih kecil juga saya senang sekali jika diajak oleh Papa ke toko buku, saya punya banyak buku cerita bergambar. Dari awal Papa mungkin memang ingin saya suka membaca. Sekarang pun salah satu tempat favorit saya adalah toko buku, dan merasa berat keluar kalau belum beli, hehehe.

Saya ingat buku cerita saya yang berjudul 'Blirik dan Itik' (entah saya benar mengingat judulnya), yang pasti ceritanya tentang Blirik, si anak ayam yang iri melihat itik berenang. Dia sudah diberi peringatan oleh ibunya bahwa dia tidak bisa berenang karena tidak memiliki kaki berselaput seperti itik tapi Blirik tidak peduli, dia terjun ke kolam, dan nyaris tenggelam. Untung di tolong oleh Budi.(Hahahha, otak saya masih mampu mengingatnya)

Ada juga buku cerita saya tentang Katak yang pengen menjadi Lembu dan perutnya meletus karena terus-terusan makan. Saya jadi ngeri. Apakah saya rada malas makan karena itu? karena takut perut saya meletus? Hahaha, saya terlalu tebuai dongeng. Saya juga punya buku cerita dan maaf, saya sudah lupa ceritanya apa. Yang saya ingat dibagian depan buku itu ada gambar jam besar yang jarumnya bisa berputar, tokoh dalam buku itu bernama Andi. Ketika adik saya lahir dan ternyata laki-laki, saya ngotot ingin memberinya nama 'Andi'. Papa mengiyakan saja tapi akhirnya tetap memberi nama lain. Airel Mempawardi.

Saya juga senang menghasilkan hasta karya. Entah mengapa tangan saya bisa dengan mudah membuatnya. Teman saya masih pusing bagaimana cara membuat origami love dari kertas tapi saya mampu membuatnya hanya dengan sekali lihat dan mencoba (Nggak sombong, tapi mungkin itu memang kelebihan saya). Saya senang sekali origami. Dulu, saya punya sebuah buku origami yang sangat saya suka dan berhasil disobek-sobek sepupu saya yang masih kecil. Sejak itu, jika saya ke toko buku saya pasti akan mencari buku tentang origami. Bahkan sampai sekarang, tapi nggak pernah jadi beli. Saya juga pandai merajut, menyulam, dan lainnya. Saya juga senang menggunting-gunting.

Tapi saya tak pandai bercerita. Pernah suatu hari, saat saya masih SMP, Papa menyodorkan sebuah buku tebal yang berjudul 'Ibu', kumpulan cerpen tentang ibu. Papa menyuruh saya membaca salah satu cerpen di buku itu lalu menceritakan kembali isinya. Judulnya "Diantara Dua Muara". Saya sangat menikmati membacanya, kisah yang menarik. Tapi saat diminta untuk menceritakannya kembali dalam bahasa lisan, saya tidak bisa, cerita yang baru saja saya baca itu seperti lenyap dari otak seketika. Saya tidak mampu menyusun kata, suara saya hilang entah kemana.

Sebenarnya cerita itu simple sekali, hanya bercerita tentang seorang Guru SMA sakit- sakitan yang ingin sekali punya anak laki-laki. Saat itu istrinya memang sedang hamil tua. Dan ternyata anaknya terlahir dengan dua alat kelamin. Ibu yang ingin menyenangkan suaminya mengatakan bahwa anaknya laki-laki, tanpa pernah memberitahu bahwa anaknya 'cacat'. Waktu berlalu, anak itu tumbuh dewasa, dan ternyata sifat kewanitaannya lebih menonjol, dia senang bermain boneka, dia suka membantu ibunya memasak, dia bergaul dengan anak perempuan. Oleh teman-temannya dia dikatakan banci. Ayahnya pun memarahinya, hanya Ibunya yang mengerti. Setelah ayahnya meninggal, Ibunya mengizinkan agar dia dioperasi dan disidang untuk mengukuhkan statusnya sebagai wanita.

well, saya memang tidak bisa menceritakan dengan lisan tapi saya mampu menuliskan kisah itu kembali meski sudah bertahun-tahun sejak saya membacanya. Saya memang lebih senang menulis. Saya juga lebih senang ujian tulisan dari pada lisan. Dan saya tidak suka presentasi!

Suatu hari saya masuk ke perpustakaan dan menemukan buku (yang saya masih heran kenapa buku itu ada di perpustakaan sekolah) mengenai menulis sebuah diary (Mungkin hal itu hanya mengherankan untuk saya, dan orang lain tidak). Tapi saya langsung meminjamnya, membaca sekilas lalu segera membeli diary yang berkunci (takut di baca orang lain). Saya mulai rutin menulis diary secara diam-diam. Saya hanya ingin menulis jika sendiri. Saya agak tertutup, saya tak ingin ada orang yang tahu apa yang sedang saya lakukan.

Awalnya saya menulis hampir tiap hari, kemudian berkurang seminggu sekali, lalu saya menulis hanya jika ada hal penting dan pantas untuk dituliskan dalam diary. Buku diary saya pernah dibaca oleh teman (4 orang) yang sumpah iseng banget, sok pengen tahu masalah orang lain, dan dia menemukan bagian saya sedang menumpahkan uneg-uneg tentang mereka yang tidak menghargai sama sekali hasil kerja keras saya saat kami menyelesaikan tugas kelompok bersama. Saya langsung salting (salah tingkah), mereka juga tidak kalah salting-nya. Saya juga sih yang salah, membawa buku diary ke sekolah dan membiarkan kuncinya tergeletak begitu saja di tempat pensil. Kakak saya juga pernah membaca diary saya, saya tidak tahu bagian mana yang dia baca, yang saya tahu saya kesal sekali dan jadi malas menulis diary lagi. Padahal saat itu diary satu-satunya teman cerita saya. Saat masih SMP saya tak punya sahabat karib yang saya rasa pantas untuk menjadi 'tempat sampah' saya.

Saya termasuk pemilih dalam urusan pertemanan saat itu. Di sekolah saya tak butuh sahabat, di sekolah saya hanya ingin belajar dan segera pulang ke rumah setelah jam sekolah usai. Silahkan berpendapat saya kuper, saya memang tidak suka dengan teman sekelas saya, yang menurut saya mereka semua sombong! mereka akan berpura-pura tidak mengenal saya saat berpapasan di luar sekolah, lama-kelamaan saya juga sangat pandai melakukan itu. Sampai sekarang. Seperti balas dendam.

Setelah SMA, saya menemukan teman-teman baru yang menganggap saya ada. Saya tumbuh bersama mereka, bersama persahabatan kami yang sangat agung. Saya terlalu angkuh untuk sekedar mengingat teman-teman SMP saya lagi.

Saat SMA pula saya mulai membaca teenlit dan mulai menulis cerita --cerpen. Saya punya beberapa cerpen yang kadang jadi rebutan oleh sahabat saya jika kami mendapat tugas menulis cerpen saat pelajaran Bahasa Indonesia (dilebih-lebihkan sedikit nggak apa-apa lah. hehehe). Anehnya, saya suka menulis tapi tak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Saya hanya suka mengarang saja, saya senang berkhayal dan menuliskan khayalan saya dalam cerita. Membuat kalimat berstruktur S-P-O-K saat pelajaran Bahasa Indonesia bukan pelajaran favorit saya. Padahal saya menerapkannya saat menulis cerita. Aneh kan?

Saya sering menulis cerpen atau novel tapi hanya setengah jadi, jika saya sudah bosan saya akan meninggalkannya dan akan lupa sama sekali, naskah itu benar-benar jadi sampah. Diary-diary saya saat masih SMP sudah saya bakar habis, saya puas saat melihat kenangan saya hangus jadi abu. Toh, saya masih memilikinya di memori otak. mengkristal.

Saya mulai lebih sering menulis saat kuliah, saya merasa jauh lebih bebas berekspresi. Meski tulisan saya tak pernah dibaca oleh siapapun. Saya tetap saya yang dulu, tak ingin menulis jika ada seseorang di dekat saya (kecuali sahabat yang tahu keinginan saya: menerbitkan sebuah buku), tapi tetap saja mereka tidak pernah membaca karya saya karena saya memang tidak membiarkan. Wait and see tetap jadi pegangan saya. Saya tak ingin berkoar-koar (tidak mampu, hehehe) tapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa.

Dan lihat, saya benar-benar sudah menerbitkan sebuah buku.

saya ingin menyombongkan diri di depan keluarga besar saya yang selalu 'mengintimidasi' saya dengan membanding-bandingkan saya dengan sepupu-sepupu saya yang lain. Bahwa mereka jauh lebih pintar (di sekolah), penerima beasiswa sepanjang mereka sekolah dan saya tidak ada apa-apanya. Saya tidak pernah menerima beasiswa meski saya selalu masuk lima besar di sekolah, dan itu tidak diperhitungkan. Saya ingin memperlihatkan pada mereka, bahwa saya mungkin setingkat lebih tinggi dari sepupu saya yang lain: saya sudah mewujudkan salah satu mimpi saya.

Saya senang melihat keheranan sekaligus rasa senang yang terpancar dari mata orang tua saya setelah mengetahui bahwa saya sudah memiliki buku karya saya sendiri. Kabar itu bukan mereka peroleh dari saya, tapi malah dari kakak saya.

Papa hanya bisa bertanya "sejak kapan kamu mulai menulis?"

Saya tersenyum, berarti selama ini usaha saya untuk menyembunyikan kegiatan menulis saya berhasil. Saya memang tak ingin mereka tahu. Saya tak suka menggembar-gemborkan sesuatu hal yang belum pasti.

Thanks to nulisbuku

Sekarang saya ingin sekali menulis sebuah cerita bersambung yang paling tidak di publish di blog. Saat saya masih SMP dulu, saya pernah membaca cerita bersambung di majalah Fantasi, saya sangat penasaran dengan endingnya. Tapi saya tidak menemukan majalah Fantasi edisi pekan berikutnya yang berarti berisi lanjutan cerbung edisi lalu. Jadi terpaksa saya harus menelan rasa penasaran saya mentah-mentah mengenai ending cerbung itu.

Saya sudah punya tema, alur, nama tokoh, bahkan outline cerita tapi belum mampu menuangkannya dalam cerita. Saya kehabisan ide dimana saya harus memulai cerita itu. Saya kebiasaan memikirkan cerita-cerita saya dengan beruntun agar alurnya tertata dengan rapi, cerita sebelumnya harus memiliki kaitan dengan cerita selanjutnya. Saya tidak ingin ada adegan dalam cerita saya yang hanya adegan sekedar lalu saja, tidak mendukung keseluruhan cerita saya. Misalnya, tokoh utama A berkenalan dengan si Z. Setelah perkenalan itu, sudah. Mereka hanya kenal saja lalu selesai. Tak ada cerita, tak ada tujuan si Z ada, selain menambah lembar-lembar cerita itu, selain membuat pembaca bosan dan malas untuk membaca lembar selanjutnya.

Saya ingin menulis sebuah cerita bersambung. Sebuah novel yang di publish secara bersambung. Saya hanya perlu sering-sering berimajinasi, mencari adegan yang pas, menuliskannya dalam cerita lalu membiarkan orang lain membacanya. Tak apa jika orang lain tidak menyukainya. Yang penting saya sudah mewujudkan keinginan saya.

Saya selalu terngiang-ngiang potongan kalimat di blog penulis favorit saya, Sitta Karina,
"Karya 'remeh' pun butuh totalitas"


Saya hanya ingin mewujudkan keinginan saya, bukan untuk menuai pujian. Meski dikritik itu memang agak sedikit menyakitkan, tapi pada dasarnya saya senang di kritik daripada menuai pujian yang ternyata hanya pura-pura —untuk menyenangkan saya saja. Di kritik, membuat saya tahu dimana letak kekurangan saya dan saya bisa memperbaikinya agar bisa jadi lebih baik.

Saya selalu berharap bisa jadi lebih baik. Bukankah semua orang ingin seperti itu?

Well, mungkin saya sudah menulis terlalu banyak, saya sendiri bahkan nggak nyadar, malam ini saya lagi bawel banget. hehehe

Sabtu, 09 Oktober 2010

My Book: Warna Dari Pelangi

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Oktober 09, 2010 0 komentar
Senang rasanya, mimpi kita bisa terwujud. Sejak SMA saya selalu bermimpi bisa menerbitkan sebuah buku. Paling tidak sebuah novel yang dibagian sampulnya tertulis nama saya. Awalnya saya pesimis hal itu bisa terwujud. Tapi sejak ada twitter semua jadi lebih mudah.
Di Twitter aku pertama kali mengenal nulisbuku.com sebuah layanan self publishing pertama di Indonesia + Book Printing solution. Kita tinggal daftar, Upload naskah dan blassshhhhh.. bukumu pun terbit.
Nulisbuku.com membuat acara 99writers dan saya juga mengikutkan naskah novel saya. Saya berusaha menyelesaikan novel saya itu dalam tiga hari, untungnya saya berhasil mengejar deadline. Buku saya sudah terbit, sebuah novel berjudul: Warna Dari Pelangi
Kenapa Warna dari Pelangi? Karena saya sangat suka pelangi. Pelangi itu cantik sekali.melengkung indah menghiasi langit.

Saya suka menulis sejak masih SD (Nulisnya cuma diary sama cerita-cerita pendek lain) dan mulai menulis novel dan cerpen sejak SMA. Tapi dasar saya yang suka bosanan, saya nggak pernah sekalipun menyelesaikan draft-draft novel saya itu. padahal saya hampir menghabiskan waktu luang untuk memikirkan plotnya -_-". Pernah sekali saya berhasil menyelesaikannya, tapi setelah menunjukkan ke sepupu mereka malah nyuruh saya untuk ganti bagian ini, ganti bagian itu, sampai akhirnya ceritanya jadi beda banget sama cerita awal yang ada diimajinasi saya dan membuat sesuai yang ada di pikiran mereka. saya bertanya-tanya, yang nulis ini sebenarnya saya apa bukan sih? sejak itu saya tak pernah menunjukkan tulisan saya pada mereka.

setelah lulus SMA saya mulai menulis lagi dan sahabat saya menjadi pembaca saya. saya betekad harus membuat sebuah novel!

hari itu saya sedang liburan ke Malino, disana ide tentang pelangi itu muncul. saat kembali ke villa tempat kami menginap, di langit terbentuk pelangi yang sangat besar. melengkung megah menghiasi langit. saya takjub, teringa cerita tentang Nawang Mulan yang turun ke bumi untuk mandi dengan meniti pelangi. saya berjanji akan membuat cerita tentang pelangi.

seminggu sepulang dari Malino saya liburan lagi ke Jakarta. Saat itu beberapa daerah sedang hujan. saya membuka jendela dan disana saya melihatnya. Pelangi.

bukan melengkung, melainkan tegak lurus. lagi-lagi saya takjub. selalu begitu. sayangnya pesawat berbelok arah dan pemandangan indah itu hilang.

saya juga suka warna-warna cerah. warna-warna pelangi. jadi, jangan heran kalau saya menggunakan pakaian berwarna merah terang di siang bolong, atau menggunakan pakaian kuning cerah saat sedang hujan. saya suka warna cerah,saya tidk suka warna-warna gelap seperti hitam.

Jadilah saya membuat novel yang berjudul Warna dari Pelangi.

ceritanya sama dengan teenlit pada umumnya. cinta-cintaan remaja.

Novel ini menceritakan tentang Pelangi --disapa Kla-- yang sangat suka pelangi dan ingin seperti namanya. dia ingin mewarnai sekitarnya seperti pelangi mewarnai langit. dia ingin membuat orang yang ada di dekatnya bahagia. termasuk Azhel, sahabat sekaligus tetangganya. lalu masuk Nyssa dalam persahabatan mereka. Azhel yang dulu pemurung menjadi lebih ceria. Kla tidak suka ada Nyssa. tapi kalau Azhel bahagia, dia akan merelakan. toh dia memang pengen Azhel bahagia.

sekarang buku ini masih dalam proses editing tapi akan segera saya selesaikan. saya hanya berharap buku karangan saya itu tidak mengecewakan. Untuk sementara hanya dipasarkan lewat toko online di Nulisbuku.com saja. Jika ada yang berminat, silahkan pesan disini atau email ke saya di rissachaqua_narzizt@yahoo.co.id


thanks..

luv..luv..

Senin, 22 Maret 2010

"Raayan ≠ Raynand"

Diposting oleh sachakarina di Senin, Maret 22, 2010 0 komentar
PLOROG


Suara ringtone Hp membangunkan Idel dari tidurnya, sedari tadi dia memang tidak tidur terlalu lelap, suara hujan yang menderu membuatnya takut. Sejak kecil Idel takut mendengar suara hujan seperti itu, tak tahu apa alasannya, mungkin karena dulu dia pernah terbangun saat hujan tengah mengguyur bumi dengan sangat deras, menimbulkan suara menderu ketika hujan berhasil menyentuh genteng dan dia mendapati dirinya sendirian dirumah. Saat itu kedua orang tuanya sedang pergi, sedang kakaknya, Faris meninggalkannya, pergi ke rumah temannya sebentar untuk mengambil komiknya —yang ketinggalan— karena yakin Idel tertidur dengan lelap dan pasti baru akan terbangun saat dia pulang nanti. Tapi hujan mengharuskannya untuk berteduh dulu hingga tak bisa pulang cepat. Ketika hujan mulai agak reda, Faris menerobos sisa- sisa hujan dengan tergesa- gesa agar segera sampai dirumah, dia menemukan Idel sedang meringkuk diranjangnya, menangis tersedu- sedu. Sejak itu dia takut hujan, hujan membuatnya merasa sangat kesepian. Semua keluarganya tahu itu. Tapi setelah berumur 15 tahun dan masuk SMA, dia selalu mengaku tidak takut lagi pada suara hujan. Tapi sebenarnya rasa takut itu masih sama, tapi karena nggak mau dibilang penakut, jadilah dia menguat- nguatkan dirinya untuk tidur sendiri saat hujan turun. Seperti malam ini.

Idel tahu betul siapa yang menelponnya, meski tak ada nama kontak yang tertera tapi Idel sangat mengenal nomor itu. Raynand. Cowok yang ditemuinya di acara pensi sekolahnya setahun lalu. Orang yang selama enam bulan terakhir selalu memancing jantungnya untuk berdebar dengan sangat cepat, dan membuat perutnya seketika menjadi sangkar kupu- kupu saat mengingat orang ini. Raynand benar- benar membuatnya jatuh cinta.

Raynand menelepon Idel tengah malam begini karena dia sangat tahu, Idel pasti ketakutan saat hujan mengguyur sederas ini. Dan ada yang sesuatu yang sangat penting ingin dikatakannya.

“ Aku menyukaimu bukan hanya sebagai sahabat!” Potong Ray saat Idel sedang membagi ketakutannya, bersyukur Ray menelpon dan dia tidak perlu membangunkan siapapun. Idel sangat berterima kasih untuk itu.

Meski itu pernyataan yang sudah lama sangat ditunggunya keluar dari bibir Ray — dan dia punya segudang stock kata- kata yang akan diucapkannya saat Ray menembaknya, toh itu membuatnya kaget juga, dan sempat melongo sesaat. Jantungnya langsung berpacu sangat cepat. Idel refleks memegangi dadanya, detakan yang berada di ambang batas normal itu membuat dadanya terasa sedikit sakit. Tapi selebihnya dia bahagia. Sangat bahagia. Kemudian dia tertawa yang membuat orang yang berada di ujung telepon terlonjak kaget.

“ Kenapa?” Tanya Raynand bingung. Apakah dia salah mengucapkannya?? Padahal tak pernah ada cewek yang menertawainya —selain saat ini, Idel — saat ia mengutarakan cintanya.

“ Nggak kenapa- kenapa kok!” Tanya Idel, berusaha menghentikan tawanya. Dia juga bingung, dia tertawa sebagai efek dari bahagia yang membuncah atau upaya menutupi kegugupannya. Sekarang dia memang gugup, bahkan sedikit gemetar. Dia bersyukur, Ray sedang keluar kota dan memutuskan menembaknya sekarang. Tak perlu menunggu dia pulang dulu lalu mengatakannya langsung dan melihat kegugupan Idel ini. “Kamu yakin?” Lanjutnya, kali ini serius. Ia ingin langsung mengatakan iya saja, tapi dia juga perlu kepastian.

“ Kamu nggak percaya?” Suara Raynand terdengar sedih karena tidak dipercaya.

“Bukannya gitu, gimana aku yakin kalau kamu sendiri nggak yakin?” Idel cepat- cepat menambahkan. Takut pertanyaannya tadi jadi petaka dan Raynand menganggap bahwa dia ditolak. Meski begitu dia juga cukup kesal karena Raynand agak sedikit sensitive. Mungkin karena sedang gugup juga!

“ Aku nggak pernah seyakin ini sama orang lain, Del. Cuma sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Raynand berkata dengan mantap. Sangat menyakinkan. Sama dengan Idel yang sudah sangat yakin. Hanya perlu beberapa kata simple saja dan keinginanya akan menjadi nyata. Menjadi pacar Raynand.

“ Ya, aku mau.”

Dan dia pun terbang.
 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review