15 Maret 2011. Dan hari ini adalah hari yang spesial karena 4 tahun yang lalu, tepatnya 15 Maret 2007 kami berempat (Saya, Ima, Nurul dan Mawa) mengukuhkan persahabatan dengan nama GX. Hanya sekedar simbol saja sih, karena persahabatan yang sebenarnya ada di hati kami masing-masing.
Happy Anniversary
Kadang saya berpikir, di tahun sekarang ini, diumur setua ini kami masih seperti ini, dibawah nama sebuah Genk? saat kami memutuskan itu 4 tahun lalu mungkin kami memang masih berpikiran kekanak-kanakan, dan sekarang kami sudah terlalu nyaman satu sama lain bahkan untuk sekedar mengubah atau meniadakan nama itu.
Untukku GX bukanlah nama sebuah Genk tapi nama sebuah tempat. Tempat dimana seharusnya saya berbagi, tempat saya menangis, tempat saya tertawa, tempat saya kembali.
Kami nyaris kehilangan tempat itu. Saat semuanya meregang karena jarak dan waktu. Karena kesibukan masing-masing kami jadi saling melupakan, jarang saling bertegur sapa, Tak ada lagi keterbukaan, kepercayaan pun mulai memudar dan persahabatan itupun diambang kehancuran.
Tapi kami tak pernah membiarkan itu terjadi, kami saling menyanyangi satu sama lain, persahabatan itu terlalu berharga untuk retak begitu saja. Kami berbagi air mata semalaman dan semua akhirnya membaik. Mereka sahabatku, saudara-saudara perempuanku.
Hari ini tak ada perayaan, tapi saat kami bertemu kami pasti akan merayakannya, bersyukur kami masih bisa bersama sampai hari ini.
Untuk seterusnya, saya berharap persahabatan kami akan abadi, dan pasti mereka juga berharap yang sama.
GX, Mawa,Ima, Nurul. I Love You.
Persahabatan itu seperti empat kelopak semanggi, susah untuk ditemukan tapi beruntung jika bisa menemukannya
7 Februari kemarin kan hari ulang tahunku, dan hari itu saya lagi nggak di Makassar. Banyak banget temen yang minta pengen ditraktir, apalagi pas tanggal 9 Februari ada acara reunion teman SMA dan saya nggak hadir juga. Kalau saya hadir hari itu, waaahh, bisa-bisa saya tekor mendadak kalau mesti ngasih makan 15 orang, jadi ada hikmah dan nggak enaknya juga.
Tapi sebelumnya, saya dan teman-teman SMA—anak-anak GX—udah janjian duluan buat ngerayain bareng. Sejak GX hampir retak hanya karena sebuah keterbukaan yang nyaris hilang semenjak kami pisah kuliah, kami memutuskan supaya paling tidak sebulan sekali kami harus bisa bertemu. Masa sih dalam sebulan itu nggak ada waktu kosong sehari aja.
Bulan Desember lalu kan ulang tahun Mawa sama Nurul. Akhirnya kami ngumpul-ngumpul, makan-makan, heboh-hebohan di mall. Nggak cuma ulang tahun mereka aja tapi juga merayakan pernikahan Nurul yang dilaksanakan bulan itu juga. Soalnya kami bertiga (saya, Mawa, Ima)nggak ada yang pergi ke pernikahan Nurul, tepat hari pernikahannya kami bertiga ada ujian.
Dari situ kita janjian lagi ketemuan di bulan Februari, bulan ulang tahunku dan Ima. Kalau saya 7 Februari, Ima tanggal 20 Februari. Tapi ulang tahun Ima dirayain kecepetan soalnya Mawa sama Nurul udah nggak sabaran pengen ketemuan, sekalian tukar-tukaran kado buat valentine. Meski valentinenya masih beberapa hari lagi. Hahaha
Kadonya pun udah ditentuin dulu bahwa harus boneka, takutnya nanti malah rebutan satu kado dan nggak ada yang pengen ngalah. Kami makannya di Solaria dan tukar-tukaran boneka disana, sempat rebutan juga sih, mau ini juga mau itu. Mawa udah mau nge-lot biar adil katanya tapi kami nggak ada yang mau. Emang lagi arisan?? Hahaha.
Akhirnya dibagi juga itu boneka, Aku dapat boneka Doraemon dari Mawa, Ima ngabil boneka beruang dari Nurul, Nurul ngambil punyaku dan Mawa ngambil boneka dari Ima. Setelah makan kami ke rumah Vita lagi, tapi sebelumnya mampir dulu beli Breaktalk soalnya kami mau nginap di rumah Ima. Ima kan baru pindah rumah dan kami pengen jalan-jalan ke sana. Acara nginap-nginap ini bener-bener dadakan.
Di rumah Vita sekitas sejam terus kita udah di jemput. Aku sama Ima sih sebenarnya, soalnya Nurul bawa motor sendiri dan dia bareng Mawa. Sampai di rumah Ima udah magrib dan Ima mau kuliah malam lagi, kami ditinggal di rumahnya jadi kami bertiga nekat cari rumahnya temen SMA lainnya yang kebetulan juga sekomplek sama Ima.
Setelah Ima berangkat ke kampus kami pergi juga, boncengan bertiga dengan jalanan yang bisa dibilang jelek. Dani udah diteleon dan ngasih alamatnya. Tapi karena baru pertama kali ke komplek itu kami semua benar-benar buta, jadi kami nanya ke bapak-bapak yang dipinggir jalan. Dia nunjukin jalan, agak mudah sih yang ditunjukin si bapak, cuma belok kiri terus belok kanan, ada warung, rumahnya di dekat situ. Jadi kami bertiga pergi deh. Udah belok kiri, terus belok kanan, ada warung. Kami nyari-nyari blok D2 nggak ada, jadi kami nanya ibu yang di dekat warung, dia nunjukin jalan, suruh sampai mentok, rumah yang kami cari letaknya dipojokan. Kami ikutin deh petunjuknya dan Yak, kami kembali ke lorong rumahnya Ima. Udah deh, kami berhenti ketawa dulu. Nyaris aja kami kembali ke rumahnya Ima aja tapi kami memutuskan nelpon Dani aja.
Dani nunjukin jalan lagi. Karena agak sulit boncengan bertiga dengan jalan yang nggak bagus, jadi saya sama Mawa nunggu di pinggir jalan dan Nurul nyari rumahnya Dani. Nggak lama Nurul balik dan bilang kalau udah nemu rumahnya Dani. Ternyata jalannya tadi udah benar sama yang ditunjukin sama si Bapak yang pertama ditanyain, yang bikin salah itu si Ibu yang di dekat warung, dia nyuruh kami belok kanan padahal harusnya terus-terus aja.
Yang bikin masalah kali ini adalah Nurul. Emang sih dari warung kami harusnya terus-terus aja, tapi Nurul lupa letak rumahnya Dani di mana, daya ingat anak itu emang lemah banget apalagi kalau mau ngingat jalan, dia suka pikun. Hahaha. Jadi kami terus-terus aja. Loh? Di depan ada pertigaan lagi, tapi seingat Nurul tadi nggak nyampe situ, jadi kami nelpon Dani lagi dan nyuruh nunggu di depan rumahnya, terus kami balik lagi. Untungnya ketemu juga!
Di rumah Dani sekitar sejaman, nggak terasa kami ngobrolnya panjang banget. Sejak lulus emang nggak pernah ketemu Dani. Dan ternyata temen facebook yang pernah aku temuin di MP adalah ipar Dani. Hahaha, Nggak nyangka aja. Jadi malu pas dia datang dan bilang “kayaknya kenal” hahahha.
Saatnya pulang. Karena udah nggak ada yang mau percaya sama Nurul jadi saya sama Mawa yang jadi penunjuk jalan pulang. Ada satu lorong dan saya langsung teriak “Bukan, bukan yang itu! Lorong satunya.” Jadi Nurul nggak jadi belok dan belok di lorong sebelahnya. Rumahnya Ima kan sudut paling dalam , Nah loh? Rumahnya kok nggak ada?
Saya dengan polos bilang “Rumahnya Ima mana? Kok nggak ada?” padahal tadi saya yang nyuruh pilih jalan itu.
“Di depan. Di depan!” Nurul meyakinkan sampai akhirnya kami mentok di jalan buntu dan nggak nemu rumahnya. Balik lagi dah. Dan ternyata kami harus belok kanan dulu baru bisa nemu rumahnya Ima. Sebenarnya juga, lewat lorong yang pertama atau yang aku tunjukin sama aja, tembus kok!
Ima udah di rumah, kami langsung upload foto ke Facebook. Tapi karena jaringan nggak bagus, upload-nya gagal. Pokoknya sepanjang malam kita kerjanya ketawa aja, sampai perut keram, khas kami banget. Kalau udah ketemu lupa deh semua masalah. Kalau ngumpul sama mereka pasti selalu happy. Ataupun diantara kami punya masalah dan lagi curhat, setelah memberikan simpati dan solusi-solusi terbaik, kita balik ketawa lagi. Rasanya semua hal bisa jadi lelucon (tapi nggak berlebihan, kami tahu batas kok!) dan bersama mereka tertawa benar-benar sebuah terapi.
Berharap semoga persahabatan kami tetap seperti ini. Amin
Saat masih SMA, aku punya sahabat. Kita akrab sejak masih SD, tapi karena pas SMP aku tidak sesekolahan dengan mereka, kontak rasanya terputus. Dan saat SMA kami kembali sesekolahan di SMA 1 Bikeru. Tidak butuh waktu lama kami jadi akrab kembali seperti dulu, meski ada beberapa orang yang belum aku kenal sebelumnya, tapi mengakrabkan diri sepertinya bukan hal yang sulit. Kami cuma perlu berkumpul saja dan semua terasa mudah, fun, menyenangkan.
Mulai dari pendaftaran kami selalu bersama, meski berada di kelas berbeda kami tetap akrab. Setiap istirahat atau saat guru sedang mengadakan rapat kami selalu berkumpul sambil bercanda di bawah pohon yang rindang.
Memasuki tahun ke dua, kami semua sekelas di kelas XI IPA 2. Kami akrab berenam, tapi yang paling akrab denganku, 3 orang: Mawa, Nurul dan Ima. Mungkin karena posisi duduk kami yang berdekatan ( Mawa dan Ima duduk di bangku paling depan dan Aku dan Nurul duduk dibangku belakangnya). Ima dan Mawa cuma perlu balik badan sedikit dan obrolan seru dimulai, tertawa sampai perut terasa keram. Selera humor mereka memang sangat bagus.
Aku selalu ingat hari itu, saat kami mempersingkat untuk menjelaskan keakraban kami dengan sebuah nama.
Hari itu Kamis, 15 Maret 2007. Guru sedang mengadakan rapat jadi kegiatan belajar mengajar ditiadakan sampai rapat selesai. Aku tidak tahu dimana teman- teman yang lain, yang aku ingat kami berempat sedang tertawa- tawa --menertawakan segala hal-- di depan kelas. Lalu keinginan itu tercetus begitu saja. Memberi nama untuk --bisa dibilang-- genk kami. Terdengar terlalu childish memang tapi tak pernah bisa kami pungkiri kalau saat itu kami sangat bahagia. Persahabatan kami terikat oleh sebuah nama dan--kenangan.
Awalnya kami kebingungan mencari sebuah nama. Entah kenapa kami semua ingin nama yang mengandung huruf 'X' di belakangnya. Finally, setelah mengusulkan banyak nama, tertawa karena nama yang di usulkan 'aneh' sampai serasa sesak dan sakit perut, dan setelah kesepakatan yang berbelit- belit kami setuju dengan nama 'GX'. Mengandung angka 'X' dan terdengar lain (!) Sudahlah. Yang penting nama itu terdengar manis di telinga kami. Jadilah setiap menuliskan nama kami mengikutinya dengan embel- embel 'GX'
01. Mawa 'Gx'
02. Ima 'Gx'
03. Nurul 'Gx'
04. Icha 'Gx'
Urutannya bukan karena nomor 1 adalah ketua atau apa. Bukan. Itu semata- mata hanya urutan nomor. Seperti A berada di abjad teratas dan Z ada di Abjad terbawah. Bahkan kami sering bercanda sendiri bahwa urutannya itu mulai dari yang terpendek sampai tertinggi. Tapi itu murni cuma candaan, kalau ada yang tersinggung, sungguh sangat tidak disengaja! Kami berempat --anak-anak Gx-- punya warna kesukaan masing- masing. Mawa dengan ungu, Ima dengan biru, Nurul dengan Pink, dan aku --saat itu-- dengan warna abu- abu ( sekarang sudah berganti merah). Dan kami punya panggilan dengan warna kesukaan masing- masing. Kami biasa menuliskannya begini:
Mawa (0_1) Violicx (violet, warna kesukaan si 01).
Ima (0_2) Bluyulicx ( Blue, warna kesukaan 02, sengaja kami pelesetkan sedikit biar jauh lebih keren! sampai sekarang kadang Ima kesulitan menulis namanya sendiri! )
Nurul (0_3) Pinklicx ( Pink, warna kesukaan si 03. Terdengar maksa memang, tapi cute kan? )
Me (0_4) grelicx ( Grey, adalah kesukaanku saat itu).
Aku kadang berpikir, haruskah aku mengganti Grelicx menjadi Redlicx? Tapi terdengar jauh lebih maksa jadi aku tetap dengan nama Grelicx, lagian nama itu sudah melekat denganku. Untuk mengabadikannya aku menjadikannya sebagai nama produk gantungan Hp/ kunci buatan tanganku sendiri.
Nama 'GX' nggak asal pilih saja. G dari kata Garden yang artinya taman. Dan kata Licx yang sering kami sisipkan dibelakang nama itu dari kata 'Happily' dan ' Cx'. Kalau digabung- gabung, singkatnya artinya bisa seperti ini: Taman kebahagiaan. ( jangan bilang lagi- lagi terdengar maksa!)
Kami memang selalu bahagia jika bersama. Meski sekarang kami sudah lulus dan kuliah ditempat yang berbeda- beda, dan tidak sesering berkumpul seperti dulu. Kami tetap sahabat, kami tetap para ' Gx' yang tahun ini berusia 3 tahun. Tidak ada acara apa- apa di Anniversary yang ke-3 tapi kami selalu berdoa untuk yang terbaik buat sahabat- sahabat kami, semoga kami bisa berkumpul lagi, berbagi cerita, suka dan duka. Tertawa terpingkal- pimgkal sampai perut keram, dan ikut bersedih jika seseorang diantara kami bersedih. Seperti dulu!