Gathering Jejakubikel sebenarnya udah lama, diadakan Januari lalu tapi saya baru mau share beberapa fotonya sekarang. dulu, kita semua ketemu di foodcourt MARI (Mall Ratu Indah). gabung sama anak-anak Fiksimini. di Makassar ternyata cuma dua orang anak Jejakubikel, 3 orang sama Rendra, si pendiri. satu orangnya nggak hadir hari itu.
di sebelah saya itu Daniel
Rendra yang pakai baju merah.
Saya datangnya ramai-ramai. bareng Alia, Lia sama Eni. sekalian hari itu emang kita rencana ke Gramedia san belanja perlengkapan tulis menulis di Agung yang ada di depan MARI. Ya, lumayan bikin nambah rame. hehehe
Semua penulis pasti pernah mengalami writers block, saat dimana otak tiba-tiba lumpuh dan nggak bisa mikirin apa yang akan dituliskan di lembaran yang masih kosong. Intinya, nggak mampu buat nulis apa-apa. Ngerti kan maksudku??
Sebagai penulis *jiaaahhh* (secara umum, semua orang yang bisa nulis, namanya penulis kan?) saya juga pernah mengalami Writers Block . Pokoknya, kalau liat lembar Word itu langsung sakit kepala. Pengen nulis sih tapi ide nggak ada. Gelap!
Dan Daniel (salah satu pendiri Jejakubikel) dengan baik hati bagi-bagi solusi untuk mengatasi Writers Block di Twitter. Semoga setelah baca ini Writers Blockmu bisa teratasi..
***
Writers Block bisa diatasi dengan beberapa cara tergantung penyebabnya.
Writers Block sendiri bisa disebabkan oleh:
1.Hati
2.Jenuh
3.Sulit ide
4.Sulit konsentrasi
5.Beban pekerjaan
Writers Block yang disebabkan suasana hati misalnya karena kepikiran kekasih yang jauh di sana, kangen, sedih, marah, bête,dll. Writers Block yang seperti ini sebaiknya dimanfaatkan. Luapkan dalam tulisan. Arsipkan. Kelak akan berguna. Writers block karena suasana hati berguna karena kita jujur mengalami perasaan itu. Kelak bisa dipakai untuk karakter di tulisan kita.
Writers block yang disebabkan kejenuhan menulis, harus disikapi dengan bijaksana. Tinggalkan sejenak, lakukan aktivitas lain.. writers block karena junuh menulis berarti kita harus lakukan aktivitas non baca tulis. Nonton film, jalan-jalan, shopping, music.
Writers block karena sulit ide? Ada beberapa cara.
1.Hang out with friends. Siapkan buku ide. Catatlah kata-kata random dari teman-teman.
2.Mendengarkan curhatan teman-teman. ‘rekam’ kisahnya, tambahkan drama.
3.Writers block karena tema yang ditentukan? Tulis dalam note. Buat windmap. Buat cabang 5W1H. Bumbui imajinasi
4.Baca, dengar, tonton, serap idenya. Modifikasi.
Writers block karena sulit konsentrasi bisa dengan menentukan tempat yang nyaman untuk menulis. Kafe, teras, kamar mandi, bebas! Juga atasi dengan menciptakan ‘pembatas’ antara dirimu dan sekitarmu. Music favorit via headset misalnya,
Writers block karena beban pekerjaan? Ini sih, gampang! Selesaikan dulu kerjaan. Nanti pasti gak keblock lagi..
Jacinda suka Cat Woman (Aku tahu alasannya: karena dia pecinta kucing!)
Akila suka Sailormoon
Mereka masing-masing punya superhero --yang sering muncul di TV. Tapi aku tidak punya sama sekali! Tidak. Aku memang tidak punya tokoh superhero andalan di TV di mana aku akan membayangkan ditolong mereka jika sedang kesusahan. Aku punya superhero sendiri di dunia nyata.
Ibuku.
Ya, Ibu seorang superhero. Dia tahu apa yang akan dan sudah aku lakukan meski aku sudah berusaha menutup-nutupinya. Ibu tahu kalau aku sedang berbohong. Ibu tahu kalau aku sedang nakal. Ibu tahu kalau aku sedang sedih.
Ibu akan datang menolongku kapanpun aku mau dan kapan pun aku butuh.
Ibu bisa berpindah tempat dengan cepat, memergokiku yang akan menyelinap keluar rumah untuk bermain padahal aku punya tugas sekolah yang harus diselesaikan saat itu juga.
“Kamu sedang sakit, tidak usah makan es krim dulu!” Wow. Ibu juga bisa membaca pikiranku. Panas sangat terik dan aku ingin sekali makan es krim tapi aku sedang terserang flu dua hari ini. Aku sudah berencana untuk menyuruh adikku membelikanku es krim dan memakannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi Ibu mematahkan niatku dengan segera. Kenapa sih Ibu jago sekali?
Ibu juga bisa melacak dengan cepat. Suatu hari aku pernah memecahkan vas bunga milik ibu saat aku bermain bola di dalam rumah. Tapi belum satu jam sejak aku menyembunyikannya di belakang lemari, Ibu sudah menemukannya.
“Ken, jangan bermain bola lagi di dalam rumah. Kamu memecahkan vas Ibu!” Aku terpaku. Ibu tahu.
“Bukan aku, Bu!” Kataku membela diri, aku bisa dimarahi Ibu kalau tahu aku pelakunya.
“Ibu tahu kamu yang melakukannya!” Lalu dimana Ibu tahu dimana aku menyembunyikan vas itu? “Mata Ibu bisa menembusi setiap sudut rumah ini. jadi jangan coba-coba menyembunyikan apapun.” Lanjut Ibu. Beliau membaca pikiranku lagi seperti sedang membaca buku.
Ibu benar-benar hebat. Ibu juga bisa mendengar jika aku mengumpat kasar pada temanku. Aku tidak tahu bagaimana Ibu bisa melakukan semua itu. Tapi Ibu benar-benar hebat. Maukah Ibu mengajarkannya padaku?
Sttt, Ibuku juga kadang menemaniku bermain bola saat teman-temanku sedang pergi mengisi liburan mereka.
Dan Ibu juga sangat baik. Ibu akan membelikanku es krim jika aku sedang sedih karena tidak terpilih sebagai anggota di klub sepak bola sekolah. Ibu bangun pag-pagi sekali untuk membuatkanku bekal ke sekolah. Ibu menjahit bajuku yang sobek. Ibu membersihkan lukaku jika aku lecet. Ibu mengajariku matematika di rumah. Ibu merajutkanku sweater. Ibu juga selalu mengecup keningku jika aku ingin tidur.
Apakah Batman bisa memasak?
Apakah Superman bisa menjahit?
Apakah Sailormoon jago matematika?
Apakah Wonder Woman bisa merajut?
Apakah Cat Woman mau menciumku jika aku ingin tidur? Aku bergidik ngeri membayangkannya. Alih-alih mencium, bisa saja dia menggigitku.
Ibu adalah Superheroku.
Tidak ada di TV tapi selalu ada di dunia nyata. Hanya untukku!
Tahu tentang Arabel? Belum? Arabel itu salah satu tokoh di cerpen Fantasi Iris yang sudah ku posting sebelumnya. Arabel adalah seorang pelukis pelangi di negeri Iris. Nah, bisa dibilang cerita anak kali ini diambil dari masa kecil Arabel, dan ceritanya juga ditujukan untuk anak-anak. Tapi tetep seru kok buat dibaca orang dewasa juga.
Cerpen ini juga pernah diposting di jejakubikel untuk tema Dongeng Desember
Awan yang tadinya cerah perlahan bergeser, digantikan oleh awan gelap yang menggumpal-gumpal tanda hujan akan turun sebentar lagi. Jika awan itu disingkap, maka akan tampak sebuah istana megah di atas langit, rumah para peri keindahan. Negeri Bianglala.
***
Negeri itu sangat indah, terdapat taman-taman penuh bunga, danau-danau dengan warna beragam dan istana putih yang terbuat dari awan. Disanalah para peri keindahan tinggal, mereka adalah peri yang melukis pelangi saat hujan reda. Warna-warna indah pelangi mereka dapatkan dari danau khusus, danau Iris namanya.
“Hoammm.”
Arabel yang baru saja bangun meregangkan tangannya lalu menguap lebar, dia ternyata tertidur di bawah pohon. Arabel adalah pelukis pelangi berusia delapan tahun yang sangat berbakat. Lukisannya sangat cantik dan dia bangga dengan hal itu.
Arabel melirik ke arah langit yang ada di bawah dan melihat hujan akan segera turun. Arabel tersenyum senang, itu tandanya sebentar lagi dia akan melukis pelangi lagi. Arabel mempercepat kepakan sayapnya agar segera sampai di istana. Dia ingin mengambil kuas bulu yang biasa mereka gunakan untuk melukis. Gerakan Arabel terhenti karena mendengar suara yang melibatkan namanya.
Karena penasaran, Arabel menguping.
“Arabel memang pelukis pelangi berbakat. Masih kecil tapi dia melukis dengan sangat hebat!” kata salah satu peri.
“Iya memang, apakah dia bisa melukis pelangi sendiri yah?” gumam peri satunya lagi.
“Wah, tidak mungkin. Arabel masih kecil, dia tentu belum mampu. Lagian kita harus bekerja sama jika harus melukis pelangi, supaya hasilnya lebih bagus dan cepat selesai.”
“Iya juga yah. Ayo kita segera siap-siap. Hujan akan segera turun. Kita harus segera melukis pelangi.” Kedua peri itu pun menjauh.
Arabel tersenyum mendengar percakapan dua peri tadi. Dia jadi merasa tertantang dengan apa yang dikatakan peri. Arabel akan melukis pelangi sendiri. Semua orang pasti akan memujinya jika dia bisa menyelesaikan pelangi itu. Sendirian.
Di negeri ini ada banyak pelukis pelangi. Mereka saling berkelompok untuk menyelesaikan pelangi di tempat yang baru saja hujan. Setiap kelompok terdiri dari tujuh peri, masing-masing memegang warna tersendiri. Dengan saling berkelompok maka hasil dari lukisan mereka akan jauh lebih indah dan akan selesai dengan cepat.
Arabel mendekati gudang penyimpanan warna kelompoknya dengan mengendap-endap. Setelah yakin tidak ada yang melihat, Arabel mengambil cat-cat itu dan membawanya keluar. Dia hanya menyisakan sedikit warna untuknya sendiri.
***
Langit kembali mulai cerah, tanda hujan akan segera reda. Para peri mendatangi gudang dan sangat kaget karena cat-cat yang sudah mereka siapkan hilang. Tidak ada sama sekali. Sedangkan untuk kembali ke danau Iris sudah tidak cukup waktu lagi.
“Aku punya sedikit cat, pasti cukup untuk melukis pelangi. Aku akan melukisnya sendiri.” Kata Arabel pada teman kelompoknya, mereka semua hampir sebaya.
“Kami akan membantumu. Kamu bisa membagi catmu pada kami?” tanya Kuni, peri yang berwarna kuning.
“Tidak. Aku bisa menyelesaikannya sediri, aku kan peri kecil yang sangat berbakat! Aku pasti bisa menyelesaikannya sendiri.” kata Arabel menyombongkan diri. Ke enam temannya mencibir.
***
Hujan sudah reda tapi pelangi yang digambar Arabel belum juga selesai. Masih ada warna biru, nila dan ungu yang belum selesai. Lukisannya juga tidak terlalu bagus dan dia sudah lelah sekali. Arabel mengusap keringat di keningnya lalu mulai melukis lagi. Kalau dia tidak bisa menyelesaikan pelangi secepatnya maka dia akan membuat kecewa orang-orang di bumi yang mencintai keindahan.
“Arabel, hujan sudah reda. Mengapa pelangi belum juga selesai kamu lukis. Manusia di bumi sudah menunggu.” Kata Vio.
“Maaf Vio, aku sepertinya tidak bisa menyelesaikannya. Masih banyak warna yang belum aku lukis, bagaimana ini?” Arabel hampir saja menangis. Dia merasa menyesal sudah menyembunyikan cat-cat itu.
“Bukankah kamu peri yang berbakat? Harusnya kamu bisa!”
“Maaf, akulah yang sombong. Aku sengaja menyembunyikan cat-cat itu agar kalian tidak bisa melukis dan hanya aku yang bisa. Aku berharap orang-orang akan memujiku jika aku bisa menyelesaikannya. Tapi ternyata jika tidak bekerja sama pelangi tidak akan segera selesai.” Ke enam peri kecil itu kaget mendengar pengakuan Arabel.
“Ayo kita segera selesaikan bersama! Semua sudah menunggu pelangi muncul!” Kata Anila dan mengeluarkan kuasnya. Yang lain mengikuti.
“Tidak. Aku tidak mau membantunya. Dia harus menyelesaikannya sendiri.” Vio menolak membantu. Kuni mendekatinya dan memegang pundaknya.
“Vio, kita harus saling membantu. Ini tugas kita bersama. Arabel sudah meminta maaf, jadi kita harus memaafkannya.”
Vio berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah, aku memaafkannya. Ayo kita mulai melukis.” Arabel langsung memeluk Vio dan berterima kasih. Arabel juga meminta maaf pada teman-teman yang lain dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Mereka lalu melukis pelangi dengan riang, hanya sekejap dan pelangi itu sudah selesai. Mereka puas dengan hasilnya. Akhirnya, mereka bisa menyelesaikan pelangi dengan tepat waktu. Orang-orang di bumi pasti sangat senang melihatnya.
***
Pengen download agar anak-anak dirumah bisa baca juga? silahkan download disini