Kamis, 11 November 2010

Cuap-Cuap nggak penting

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 11, 2010 0 komentar
Tik..Tok..Tik..Tok..

Sudah jam 12 malam dan saya masih melek padahal besok mau kuliah pagi lagi. Saya udah pengen tidur tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk ngeposting sesuatu dari pikiran saya yang tadi melanglang buana dan mendarat di satu objek. Masih sama. Objek yang sama.

Saya tiba-tiba kangen dengan seseorang, yang beberapa hari ini tak pernah saya jumpai. biasanya dia selalu mengirimkan SMS atau sekedar menelepon saya untuk berbasa-basi. Tapi seminggu ini dia lenyap, entah kemana.

Bukan. Dia bukan pacar saya.

Tapi ada kalanya saya dan dia kadang seperti orang yang lagi pacaran (menurut saya). kami terlalu akrab satu sama lain, terlalu peduli, sampai-sampai sahabat saya berpikir kalau saya dan dia udah lama pacaran.

Kami memang pacarannya udah lama, sekarang udah nggak pacaran lagi.

saya nggak pernah ngebahas masalah ini, tapi entah kenapa saya lagi pengen nulis di blog. mungkin masih pengaruh tulisan sebelumnya, saya sedang sangat bawel hari ini!!

hehehe,, abaikan saja tulisan tidak penting saya...

Membaca, Menulis, Mimpi dan Cerita Bersambung

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 11, 2010 0 komentar

Dulu.. saat masih SMP saya suka koleksi majalah-majalah (belum kenal teenlit soalnya, hehehe). Mungkin dibilang koleksi nggak juga karena saya beli majalahnya angin-anginan (saya bingung dengan kata saya sendiri), tergantung mood, saya nggak ngoleksi satu jenis majalah khusus dan merasa harus beli setiap edisinya. Jadi mungkin lebih tepat cuma ngumpulin majalah aja. Itupun habis baca langsung digunting-gunting. hahaha

Saya ingat, majalah yang saya sering beli itu Aneka Yes! tabloid Gaul, dan Fantasi. Nemu majalah itu juga untung-untungan. Maklum, saya tinggal di kota kecil, jadi nemuin majalah aja susah. Mesti pesan dulu sama agen seminggu sebelumnya. Repot kan! Makanya, saya beli yang ada aja. Saya tipe orang yang suka mesen barang kayak gitu, saya kan nggak sabaran, kalau pengen sesuatu harus ada saat itu, kalau nggak saya nggak bisa tenang, nungguin majalah selama seminggu aja udah kayak setahun (jiahh, lebay).

Nah, dari majalah-majalah itu saya mulai suka membaca cerpen. Saya memang senang membaca cerita sejak masih kecil. Mama saya seorang guru Bahasa Indonesia dan beliau punya banyak koleksi buku Bahasa Indonesia. Papa saya juga suka ngoleksi buku meskipun saya jarang ngeliat beliau membaca. Mungkin rajinnya pas beliau masih muda kali yah!hehehe. Kalau saya sedang bosan, saya suka tongkrongin rak buku, membuka semua buku Bahasa Indonesia milik Mama dan mencari cerita pendek atau dongeng yang bisa saya baca. Asalkan tulisan itu ringan saya senang membacanya. Saya menjadikan membaca sebagai kegiatan refreshing, itu sebabnya saya malas membaca tulisan yang 'berat-berat'.

Sejak masih kecil juga saya senang sekali jika diajak oleh Papa ke toko buku, saya punya banyak buku cerita bergambar. Dari awal Papa mungkin memang ingin saya suka membaca. Sekarang pun salah satu tempat favorit saya adalah toko buku, dan merasa berat keluar kalau belum beli, hehehe.

Saya ingat buku cerita saya yang berjudul 'Blirik dan Itik' (entah saya benar mengingat judulnya), yang pasti ceritanya tentang Blirik, si anak ayam yang iri melihat itik berenang. Dia sudah diberi peringatan oleh ibunya bahwa dia tidak bisa berenang karena tidak memiliki kaki berselaput seperti itik tapi Blirik tidak peduli, dia terjun ke kolam, dan nyaris tenggelam. Untung di tolong oleh Budi.(Hahahha, otak saya masih mampu mengingatnya)

Ada juga buku cerita saya tentang Katak yang pengen menjadi Lembu dan perutnya meletus karena terus-terusan makan. Saya jadi ngeri. Apakah saya rada malas makan karena itu? karena takut perut saya meletus? Hahaha, saya terlalu tebuai dongeng. Saya juga punya buku cerita dan maaf, saya sudah lupa ceritanya apa. Yang saya ingat dibagian depan buku itu ada gambar jam besar yang jarumnya bisa berputar, tokoh dalam buku itu bernama Andi. Ketika adik saya lahir dan ternyata laki-laki, saya ngotot ingin memberinya nama 'Andi'. Papa mengiyakan saja tapi akhirnya tetap memberi nama lain. Airel Mempawardi.

Saya juga senang menghasilkan hasta karya. Entah mengapa tangan saya bisa dengan mudah membuatnya. Teman saya masih pusing bagaimana cara membuat origami love dari kertas tapi saya mampu membuatnya hanya dengan sekali lihat dan mencoba (Nggak sombong, tapi mungkin itu memang kelebihan saya). Saya senang sekali origami. Dulu, saya punya sebuah buku origami yang sangat saya suka dan berhasil disobek-sobek sepupu saya yang masih kecil. Sejak itu, jika saya ke toko buku saya pasti akan mencari buku tentang origami. Bahkan sampai sekarang, tapi nggak pernah jadi beli. Saya juga pandai merajut, menyulam, dan lainnya. Saya juga senang menggunting-gunting.

Tapi saya tak pandai bercerita. Pernah suatu hari, saat saya masih SMP, Papa menyodorkan sebuah buku tebal yang berjudul 'Ibu', kumpulan cerpen tentang ibu. Papa menyuruh saya membaca salah satu cerpen di buku itu lalu menceritakan kembali isinya. Judulnya "Diantara Dua Muara". Saya sangat menikmati membacanya, kisah yang menarik. Tapi saat diminta untuk menceritakannya kembali dalam bahasa lisan, saya tidak bisa, cerita yang baru saja saya baca itu seperti lenyap dari otak seketika. Saya tidak mampu menyusun kata, suara saya hilang entah kemana.

Sebenarnya cerita itu simple sekali, hanya bercerita tentang seorang Guru SMA sakit- sakitan yang ingin sekali punya anak laki-laki. Saat itu istrinya memang sedang hamil tua. Dan ternyata anaknya terlahir dengan dua alat kelamin. Ibu yang ingin menyenangkan suaminya mengatakan bahwa anaknya laki-laki, tanpa pernah memberitahu bahwa anaknya 'cacat'. Waktu berlalu, anak itu tumbuh dewasa, dan ternyata sifat kewanitaannya lebih menonjol, dia senang bermain boneka, dia suka membantu ibunya memasak, dia bergaul dengan anak perempuan. Oleh teman-temannya dia dikatakan banci. Ayahnya pun memarahinya, hanya Ibunya yang mengerti. Setelah ayahnya meninggal, Ibunya mengizinkan agar dia dioperasi dan disidang untuk mengukuhkan statusnya sebagai wanita.

well, saya memang tidak bisa menceritakan dengan lisan tapi saya mampu menuliskan kisah itu kembali meski sudah bertahun-tahun sejak saya membacanya. Saya memang lebih senang menulis. Saya juga lebih senang ujian tulisan dari pada lisan. Dan saya tidak suka presentasi!

Suatu hari saya masuk ke perpustakaan dan menemukan buku (yang saya masih heran kenapa buku itu ada di perpustakaan sekolah) mengenai menulis sebuah diary (Mungkin hal itu hanya mengherankan untuk saya, dan orang lain tidak). Tapi saya langsung meminjamnya, membaca sekilas lalu segera membeli diary yang berkunci (takut di baca orang lain). Saya mulai rutin menulis diary secara diam-diam. Saya hanya ingin menulis jika sendiri. Saya agak tertutup, saya tak ingin ada orang yang tahu apa yang sedang saya lakukan.

Awalnya saya menulis hampir tiap hari, kemudian berkurang seminggu sekali, lalu saya menulis hanya jika ada hal penting dan pantas untuk dituliskan dalam diary. Buku diary saya pernah dibaca oleh teman (4 orang) yang sumpah iseng banget, sok pengen tahu masalah orang lain, dan dia menemukan bagian saya sedang menumpahkan uneg-uneg tentang mereka yang tidak menghargai sama sekali hasil kerja keras saya saat kami menyelesaikan tugas kelompok bersama. Saya langsung salting (salah tingkah), mereka juga tidak kalah salting-nya. Saya juga sih yang salah, membawa buku diary ke sekolah dan membiarkan kuncinya tergeletak begitu saja di tempat pensil. Kakak saya juga pernah membaca diary saya, saya tidak tahu bagian mana yang dia baca, yang saya tahu saya kesal sekali dan jadi malas menulis diary lagi. Padahal saat itu diary satu-satunya teman cerita saya. Saat masih SMP saya tak punya sahabat karib yang saya rasa pantas untuk menjadi 'tempat sampah' saya.

Saya termasuk pemilih dalam urusan pertemanan saat itu. Di sekolah saya tak butuh sahabat, di sekolah saya hanya ingin belajar dan segera pulang ke rumah setelah jam sekolah usai. Silahkan berpendapat saya kuper, saya memang tidak suka dengan teman sekelas saya, yang menurut saya mereka semua sombong! mereka akan berpura-pura tidak mengenal saya saat berpapasan di luar sekolah, lama-kelamaan saya juga sangat pandai melakukan itu. Sampai sekarang. Seperti balas dendam.

Setelah SMA, saya menemukan teman-teman baru yang menganggap saya ada. Saya tumbuh bersama mereka, bersama persahabatan kami yang sangat agung. Saya terlalu angkuh untuk sekedar mengingat teman-teman SMP saya lagi.

Saat SMA pula saya mulai membaca teenlit dan mulai menulis cerita --cerpen. Saya punya beberapa cerpen yang kadang jadi rebutan oleh sahabat saya jika kami mendapat tugas menulis cerpen saat pelajaran Bahasa Indonesia (dilebih-lebihkan sedikit nggak apa-apa lah. hehehe). Anehnya, saya suka menulis tapi tak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Saya hanya suka mengarang saja, saya senang berkhayal dan menuliskan khayalan saya dalam cerita. Membuat kalimat berstruktur S-P-O-K saat pelajaran Bahasa Indonesia bukan pelajaran favorit saya. Padahal saya menerapkannya saat menulis cerita. Aneh kan?

Saya sering menulis cerpen atau novel tapi hanya setengah jadi, jika saya sudah bosan saya akan meninggalkannya dan akan lupa sama sekali, naskah itu benar-benar jadi sampah. Diary-diary saya saat masih SMP sudah saya bakar habis, saya puas saat melihat kenangan saya hangus jadi abu. Toh, saya masih memilikinya di memori otak. mengkristal.

Saya mulai lebih sering menulis saat kuliah, saya merasa jauh lebih bebas berekspresi. Meski tulisan saya tak pernah dibaca oleh siapapun. Saya tetap saya yang dulu, tak ingin menulis jika ada seseorang di dekat saya (kecuali sahabat yang tahu keinginan saya: menerbitkan sebuah buku), tapi tetap saja mereka tidak pernah membaca karya saya karena saya memang tidak membiarkan. Wait and see tetap jadi pegangan saya. Saya tak ingin berkoar-koar (tidak mampu, hehehe) tapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa.

Dan lihat, saya benar-benar sudah menerbitkan sebuah buku.

saya ingin menyombongkan diri di depan keluarga besar saya yang selalu 'mengintimidasi' saya dengan membanding-bandingkan saya dengan sepupu-sepupu saya yang lain. Bahwa mereka jauh lebih pintar (di sekolah), penerima beasiswa sepanjang mereka sekolah dan saya tidak ada apa-apanya. Saya tidak pernah menerima beasiswa meski saya selalu masuk lima besar di sekolah, dan itu tidak diperhitungkan. Saya ingin memperlihatkan pada mereka, bahwa saya mungkin setingkat lebih tinggi dari sepupu saya yang lain: saya sudah mewujudkan salah satu mimpi saya.

Saya senang melihat keheranan sekaligus rasa senang yang terpancar dari mata orang tua saya setelah mengetahui bahwa saya sudah memiliki buku karya saya sendiri. Kabar itu bukan mereka peroleh dari saya, tapi malah dari kakak saya.

Papa hanya bisa bertanya "sejak kapan kamu mulai menulis?"

Saya tersenyum, berarti selama ini usaha saya untuk menyembunyikan kegiatan menulis saya berhasil. Saya memang tak ingin mereka tahu. Saya tak suka menggembar-gemborkan sesuatu hal yang belum pasti.

Thanks to nulisbuku

Sekarang saya ingin sekali menulis sebuah cerita bersambung yang paling tidak di publish di blog. Saat saya masih SMP dulu, saya pernah membaca cerita bersambung di majalah Fantasi, saya sangat penasaran dengan endingnya. Tapi saya tidak menemukan majalah Fantasi edisi pekan berikutnya yang berarti berisi lanjutan cerbung edisi lalu. Jadi terpaksa saya harus menelan rasa penasaran saya mentah-mentah mengenai ending cerbung itu.

Saya sudah punya tema, alur, nama tokoh, bahkan outline cerita tapi belum mampu menuangkannya dalam cerita. Saya kehabisan ide dimana saya harus memulai cerita itu. Saya kebiasaan memikirkan cerita-cerita saya dengan beruntun agar alurnya tertata dengan rapi, cerita sebelumnya harus memiliki kaitan dengan cerita selanjutnya. Saya tidak ingin ada adegan dalam cerita saya yang hanya adegan sekedar lalu saja, tidak mendukung keseluruhan cerita saya. Misalnya, tokoh utama A berkenalan dengan si Z. Setelah perkenalan itu, sudah. Mereka hanya kenal saja lalu selesai. Tak ada cerita, tak ada tujuan si Z ada, selain menambah lembar-lembar cerita itu, selain membuat pembaca bosan dan malas untuk membaca lembar selanjutnya.

Saya ingin menulis sebuah cerita bersambung. Sebuah novel yang di publish secara bersambung. Saya hanya perlu sering-sering berimajinasi, mencari adegan yang pas, menuliskannya dalam cerita lalu membiarkan orang lain membacanya. Tak apa jika orang lain tidak menyukainya. Yang penting saya sudah mewujudkan keinginan saya.

Saya selalu terngiang-ngiang potongan kalimat di blog penulis favorit saya, Sitta Karina,
"Karya 'remeh' pun butuh totalitas"


Saya hanya ingin mewujudkan keinginan saya, bukan untuk menuai pujian. Meski dikritik itu memang agak sedikit menyakitkan, tapi pada dasarnya saya senang di kritik daripada menuai pujian yang ternyata hanya pura-pura —untuk menyenangkan saya saja. Di kritik, membuat saya tahu dimana letak kekurangan saya dan saya bisa memperbaikinya agar bisa jadi lebih baik.

Saya selalu berharap bisa jadi lebih baik. Bukankah semua orang ingin seperti itu?

Well, mungkin saya sudah menulis terlalu banyak, saya sendiri bahkan nggak nyadar, malam ini saya lagi bawel banget. hehehe

Sabtu, 06 November 2010

Janji dan Harapan

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, November 06, 2010 2 komentar
Saya memang selalu menunggu kamu datang.
Tapi tidak seperti ini. Tidak jika kamu yang berjanji akan datang. Harapan itu makin menggunung, meluap-luap tak terbendung. Saya menunggumu, ingin segera bertemu denganmu, dua hari tidak bertemu itu sudah sangat lama untuk saya.

Saya sadar kok, kamu bukan pacar saya. Sangat sadar. Tapi saya tak bisa menekan perasaan saya yang terus tumbuh. Bukankah perasaan hadir dari hati, dari ketulusan. Diredam dan dipaksakan bagaimana pun, hati yang tetap akan bicara.

Sekarang, hati saya sedang berbicara, saya sudah tak bisa meredamnya lagi. Terlalu kuat. Saya tidak sanggup menghancurkan diri dan hati saya sekaligus. Biarkan saya seperti ini. Mencintai dalam hening. Untukmu. Hati saya akan menuntun.

Saya cuma berharap kamu datang! Kamu sudah berjanji. Apakah kamu tahu bahwa janji itu sangat berarti buat saya?

Waktu terus bergulir menjauhi saya tapi kamu juga tak kunjung muncul. Saya lelah menunggu tapi tak bisa berhenti. Harapan bahwa kamu akan datang selalu bersemi mencipta racun-racun baru yang mematikan dan saya mengumpulkan racun itu, menadahnya sedikit demi sedikit. Membunuh saya perlahan-lahan

Saya memang bodoh. Saya yang ingin mati!

Ini tentang rasio dan perasaan yang sudah tidak saling mendukung. Perasaan itu mulai mendominasi. Mematikan perintah otak yang menyuruh saya agar berhenti menunggumu.
Tapi saya masih menunggu. Bahkan alam bawah sadar pun sudah tidak memihak lagi. Mimpi-mimpi bahwa saya masih sanggup menunggumu mulai menghantui. Memaksa.

Saya sudah tidak sanggup lagi. Saya sudah tak bisa menunggu.

Kenapa kamu tidak datang?
Kenapa membiarkan saya menunggu?
Kenapa kamu ingkar?
Kenapa kamu berjanji?
Kenapa?


Tapi...
Kamu akhirnya datang..
Dadaku bergemuruh, mengentak-entak tidak peduli saat saya melihatmu muncul dari balik pintu, mengenakan jaket tebal dan rambut setengah basah karena hujan. Hanya untuk menemuiku kamu menembus hujan.

Meski hanya sebentar tapi itu sudah cukup untuk mengakhiri penantian saya.

Meski telat. Terima kasih sudah datang.

Meski kau tak tahu, saya akan selalu menunggumu.

Meski kau tak akan peduli, saya akan selalu mencintaimu!***

Senin, 01 November 2010

Adyta Purbaya: Warna dari Pelangi -- Membuat hidup yang hitam-putih menjadi berwarna-warni

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 01, 2010 0 komentar
Saya sudah selesai membaca draft ini sejak dua hari setelah Icha kirim draft ini ke email saya. Tapi, gara-gara editing #relationship, proofread, editing lagi, mesen, segala macem. (belum termasuk tugas kuliah dan proposal skripsi, fiuh!) akhirnya saya harus minta maaf karena baru bisa membuat review nya.

ini pun saya paksakan, kalo nggak begini, bakal terabaikan lebih lama lagiy :D :D :D



Well… saya suka novel mu :) sesuatu seperti apa yang saya tulis… kita menguasai genre yang sama, say :) dan memang rasanya kehidupan remaja punya banyak cerita untuk dibahas dan dijadikan cerita yaa :D



awalnya saya sempat bingung baca draft ini, karena kadang Icha nulisnya pake KLA, kadang pake PELANGI. hehe. kalo boleh sedikit saran, say… enakan dari awal konsisten aja. perkenalkan sebagai pelangi, lantas selanjutnya terus memakai nama panggilan KLA :) *cuma masukan aja yah say, bukannya sok pinter. hehehe. biar orang baca nya jadi lebih enak :) (skali lagi cuma saran yah say, belum tentu juga apa yang aku bikin bisa lebih bagus dari ini, hehe)





dari judulnya pun saya sudah suka :D saya suka pelangi… sesuatu yang indah sehabis hujan… tidak selalu tampak setiap saat, tapi ada :) setia membagi indah sehabis hujan. Penamaan tokoh yang pas dengan karakter Pelangi yang kamu ciptakan disini,,, membagi indah untuk AZ :)



Saya suka adegan ‘penembakan’ Az dan Kla :D sukaaa sukaaa banget.. ciri khas remaja yang selalu indah untuk di kenang, saya sampe mengingat-ingat gimana dulu PACAR saya menyatakan perasaannya sama saya.

dan, dua tahun?? dua tahun menunggu untuk bisa menyatakan perasaan itu. saya ikut terhanyut dalam dialognya.. sukaaaaa banget :D



Kalimat paling saya suka disini :

Hujan pernah turun kemarin, matahari bersinar hari ini. Dan pelangi kembali menampakkan warna nya :)



keep write sayy :*

by

Adyta Purbaya

Pre Order: Warna Dari Pelangi

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 01, 2010 0 komentar


‘Bukankah pelangi muncul karena biasan cahaya matahari saat hujan turun?’
Kirana Pelangi Ghita. Gadis periang, cerewet dan agak ceroboh yang sangat menyukai pelangi. Dia ingin seperti namanya: menjadi pelangi. Dia ingin membagi warnanya kepada orang lain, seperti pelangi mewarnai langit.
Pelangi—atau Kla—mendapat tetangga dan teman sekelas baru yang selalu terlihat selalu murung tapi punya tatapan tajam dan juga wajah ganteng. Langit mendung menurut Kla. Grey.
Mereka lalu menjadi sangat akrab. Tanpa mereka sadari, mereka ternyata saling membutuhkan.
Jika salah satu bertemu dengan orang yang disukainya, bagaimana yang lain menyikapinya?

download sneak previewnya dulu di sini
jika berminat, pesan di nulisbuku atau email ke rissachaqua_narzizt[at]yahoo.co.id atau mention @sachakarina di Twitter ^^
Rp 33.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Thank U ^^


DUA

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 01, 2010 2 komentar

Ini bukan tentang aku dan kamu, tapi tentang rasio dan perasaan yang harusnya saling melengkapi, bukannya berusaha saling mendominasi.
Ini bukan tentang kamu dan dia, tapi tentang sayang dan benci yang harusnya jadi sebuah kisah, bukan malah jadi kisruh!
Dan ini bukan tentang aku dan dia, tapi tentang benar dan salah yang harusnya saling mengerti, bukannya saling meniadakan!
Tapi ini bisa saja tentang mereka semua.
Dua.
Selalu berdua.

Kecuali kamu dan aku.
Kita hanyalah dua orang yang memang punya dua jalan berbeda.
Kita beda.***


Kamis, 14 Oktober 2010

Sampel Buku Warna Dari Pelangi

Diposting oleh sachakarina di Kamis, Oktober 14, 2010 0 komentar

Buka pre order untuk novel Warna Dari Pelangi. Yang berminat silahkan email ke rissachaqua_narzizt@yahoo.co.id

Ada juga sample novelnya yang bisa di download. yang pengen download silahkan klik ini
selamat membaca!!

Sabtu, 09 Oktober 2010

My Book: Warna Dari Pelangi

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Oktober 09, 2010 0 komentar
Senang rasanya, mimpi kita bisa terwujud. Sejak SMA saya selalu bermimpi bisa menerbitkan sebuah buku. Paling tidak sebuah novel yang dibagian sampulnya tertulis nama saya. Awalnya saya pesimis hal itu bisa terwujud. Tapi sejak ada twitter semua jadi lebih mudah.
Di Twitter aku pertama kali mengenal nulisbuku.com sebuah layanan self publishing pertama di Indonesia + Book Printing solution. Kita tinggal daftar, Upload naskah dan blassshhhhh.. bukumu pun terbit.
Nulisbuku.com membuat acara 99writers dan saya juga mengikutkan naskah novel saya. Saya berusaha menyelesaikan novel saya itu dalam tiga hari, untungnya saya berhasil mengejar deadline. Buku saya sudah terbit, sebuah novel berjudul: Warna Dari Pelangi
Kenapa Warna dari Pelangi? Karena saya sangat suka pelangi. Pelangi itu cantik sekali.melengkung indah menghiasi langit.

Saya suka menulis sejak masih SD (Nulisnya cuma diary sama cerita-cerita pendek lain) dan mulai menulis novel dan cerpen sejak SMA. Tapi dasar saya yang suka bosanan, saya nggak pernah sekalipun menyelesaikan draft-draft novel saya itu. padahal saya hampir menghabiskan waktu luang untuk memikirkan plotnya -_-". Pernah sekali saya berhasil menyelesaikannya, tapi setelah menunjukkan ke sepupu mereka malah nyuruh saya untuk ganti bagian ini, ganti bagian itu, sampai akhirnya ceritanya jadi beda banget sama cerita awal yang ada diimajinasi saya dan membuat sesuai yang ada di pikiran mereka. saya bertanya-tanya, yang nulis ini sebenarnya saya apa bukan sih? sejak itu saya tak pernah menunjukkan tulisan saya pada mereka.

setelah lulus SMA saya mulai menulis lagi dan sahabat saya menjadi pembaca saya. saya betekad harus membuat sebuah novel!

hari itu saya sedang liburan ke Malino, disana ide tentang pelangi itu muncul. saat kembali ke villa tempat kami menginap, di langit terbentuk pelangi yang sangat besar. melengkung megah menghiasi langit. saya takjub, teringa cerita tentang Nawang Mulan yang turun ke bumi untuk mandi dengan meniti pelangi. saya berjanji akan membuat cerita tentang pelangi.

seminggu sepulang dari Malino saya liburan lagi ke Jakarta. Saat itu beberapa daerah sedang hujan. saya membuka jendela dan disana saya melihatnya. Pelangi.

bukan melengkung, melainkan tegak lurus. lagi-lagi saya takjub. selalu begitu. sayangnya pesawat berbelok arah dan pemandangan indah itu hilang.

saya juga suka warna-warna cerah. warna-warna pelangi. jadi, jangan heran kalau saya menggunakan pakaian berwarna merah terang di siang bolong, atau menggunakan pakaian kuning cerah saat sedang hujan. saya suka warna cerah,saya tidk suka warna-warna gelap seperti hitam.

Jadilah saya membuat novel yang berjudul Warna dari Pelangi.

ceritanya sama dengan teenlit pada umumnya. cinta-cintaan remaja.

Novel ini menceritakan tentang Pelangi --disapa Kla-- yang sangat suka pelangi dan ingin seperti namanya. dia ingin mewarnai sekitarnya seperti pelangi mewarnai langit. dia ingin membuat orang yang ada di dekatnya bahagia. termasuk Azhel, sahabat sekaligus tetangganya. lalu masuk Nyssa dalam persahabatan mereka. Azhel yang dulu pemurung menjadi lebih ceria. Kla tidak suka ada Nyssa. tapi kalau Azhel bahagia, dia akan merelakan. toh dia memang pengen Azhel bahagia.

sekarang buku ini masih dalam proses editing tapi akan segera saya selesaikan. saya hanya berharap buku karangan saya itu tidak mengecewakan. Untuk sementara hanya dipasarkan lewat toko online di Nulisbuku.com saja. Jika ada yang berminat, silahkan pesan disini atau email ke saya di rissachaqua_narzizt@yahoo.co.id


thanks..

luv..luv..

Rabu, 22 September 2010

GX = SAHABAT

Diposting oleh sachakarina di Rabu, September 22, 2010 0 komentar

Saat masih SMA, aku punya sahabat. Kita akrab sejak masih SD, tapi karena pas SMP aku tidak sesekolahan dengan mereka, kontak rasanya terputus. Dan saat SMA kami kembali sesekolahan di SMA 1 Bikeru. Tidak butuh waktu lama kami jadi akrab kembali seperti dulu, meski ada beberapa orang yang belum aku kenal sebelumnya, tapi mengakrabkan diri sepertinya bukan hal yang sulit. Kami cuma perlu berkumpul saja dan semua terasa mudah, fun, menyenangkan.

Mulai dari pendaftaran kami selalu bersama, meski berada di kelas berbeda kami tetap akrab. Setiap istirahat atau saat guru sedang mengadakan rapat kami selalu berkumpul sambil bercanda di bawah pohon yang rindang.

Memasuki tahun ke dua, kami semua sekelas di kelas XI IPA 2. Kami akrab berenam, tapi yang paling akrab denganku, 3 orang: Mawa, Nurul dan Ima. Mungkin karena posisi duduk kami yang berdekatan ( Mawa dan Ima duduk di bangku paling depan dan Aku dan Nurul duduk dibangku belakangnya). Ima dan Mawa cuma perlu balik badan sedikit dan obrolan seru dimulai, tertawa sampai perut terasa keram. Selera humor mereka memang sangat bagus.

Aku selalu ingat hari itu, saat kami mempersingkat untuk menjelaskan keakraban kami dengan sebuah nama.

Hari itu Kamis, 15 Maret 2007. Guru sedang mengadakan rapat jadi kegiatan belajar mengajar ditiadakan sampai rapat selesai. Aku tidak tahu dimana teman- teman yang lain, yang aku ingat kami berempat sedang tertawa- tawa --menertawakan segala hal-- di depan kelas. Lalu keinginan itu tercetus begitu saja. Memberi nama untuk --bisa dibilang-- genk kami. Terdengar terlalu childish memang tapi tak pernah bisa kami pungkiri kalau saat itu kami sangat bahagia. Persahabatan kami terikat oleh sebuah nama dan--kenangan.

Awalnya kami kebingungan mencari sebuah nama. Entah kenapa kami semua ingin nama yang mengandung huruf 'X' di belakangnya. Finally, setelah mengusulkan banyak nama, tertawa karena nama yang di usulkan 'aneh' sampai serasa sesak dan sakit perut, dan setelah kesepakatan yang berbelit- belit kami setuju dengan nama 'GX'. Mengandung angka 'X' dan terdengar lain (!)
Sudahlah. Yang penting nama itu terdengar manis di telinga kami. Jadilah setiap menuliskan nama kami mengikutinya dengan embel- embel 'GX'
01. Mawa 'Gx'
02. Ima 'Gx'
03. Nurul 'Gx'
04. Icha 'Gx'

Urutannya bukan karena nomor 1 adalah ketua atau apa. Bukan. Itu semata- mata hanya urutan nomor. Seperti A berada di abjad teratas dan Z ada di Abjad terbawah. Bahkan kami sering bercanda sendiri bahwa urutannya itu mulai dari yang terpendek sampai tertinggi. Tapi itu murni cuma candaan, kalau ada yang tersinggung, sungguh sangat tidak disengaja!
Kami berempat --anak-anak Gx-- punya warna kesukaan masing- masing. Mawa dengan ungu, Ima dengan biru, Nurul dengan Pink, dan aku --saat itu-- dengan warna abu- abu ( sekarang sudah berganti merah). Dan kami punya panggilan dengan warna kesukaan masing- masing. Kami biasa menuliskannya begini:

  • Mawa (0_1) Violicx (violet, warna kesukaan si 01).
  • Ima (0_2) Bluyulicx ( Blue, warna kesukaan 02, sengaja kami pelesetkan sedikit biar jauh lebih keren! sampai sekarang kadang Ima kesulitan menulis namanya sendiri! )
  • Nurul (0_3) Pinklicx ( Pink, warna kesukaan si 03. Terdengar maksa memang, tapi cute kan? )
  • Me (0_4) grelicx ( Grey, adalah kesukaanku saat itu).

Aku kadang berpikir, haruskah aku mengganti Grelicx menjadi Redlicx? Tapi terdengar jauh lebih maksa jadi aku tetap dengan nama Grelicx, lagian nama itu sudah melekat denganku. Untuk mengabadikannya aku menjadikannya sebagai nama produk gantungan Hp/ kunci buatan tanganku sendiri.

Nama 'GX' nggak asal pilih saja. G dari kata Garden yang artinya taman. Dan kata Licx yang sering kami sisipkan dibelakang nama itu dari kata 'Happily' dan ' Cx'. Kalau digabung- gabung, singkatnya artinya bisa seperti ini: Taman kebahagiaan. ( jangan bilang lagi- lagi terdengar maksa!)

Kami memang selalu bahagia jika bersama. Meski sekarang kami sudah lulus dan kuliah ditempat yang berbeda- beda, dan tidak sesering berkumpul seperti dulu. Kami tetap sahabat, kami tetap para ' Gx' yang tahun ini berusia 3 tahun. Tidak ada acara apa- apa di Anniversary yang ke-3 tapi kami selalu berdoa untuk yang terbaik buat sahabat- sahabat kami, semoga kami bisa berkumpul lagi, berbagi cerita, suka dan duka. Tertawa terpingkal- pimgkal sampai perut keram, dan ikut bersedih jika seseorang diantara kami bersedih. Seperti dulu!


Aku Kangen Mereka. Aku Kangen Kebersamaan kami.



With love

Grelicx


 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review