Kamis, 18 November 2010

Koleksi Novelku

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 18, 2010 5 komentar
sebagian dari koleksi saya.



Saya mulai mengoleksi novel (kebanyakan teenlit) dari kelas satu SMA, berarti sudah enam tahun saya mengoleksi. novel saya sudah bertebaran dikamar, tidak cukup tempat lagi. Ada sekitar sepuluh-an lebih novel saya ada di rumah teman, tapi bukan karena saya sudah tidak punya tempat lain. Tapi teman saya menolak mengembalikan novel itu karena katanya dia ingin juga dikamarnya terdapat banyak buku. Boro-boro semua, baca satu buku yang dia pinjam pun nggak! Dia cuma ikut-ikutan heboh melihat saya dan teman lain dikampus tukar-tukaran novel dan dia tidak mau kalah untuk minjem juga.

Saya selalu membaca ulang novel-novel saya itu, terutama jika saya merasa sudah agak lupa dengan jalan ceritanya. Repotnya, kalau novel yang saya baca ada di rumah teman, dia tidak mau memberikannya pada saya. Padahal saya udah mohon-mohon dan janji akan mengembalikannya kembali, dia tetap menolak memberikan! Yang beli sebenarnya siapa sih? Di tempat rental buku aja prosedurnya nggak serumit itu!

Ok. cukup membahas itu karena saya malah jadi jengkel sendiri. Sepertinya setelah ini saya harus ke rumahnya dan mengambil semua buku saya, agar bisa tenang. :)

Jika saya ke toko buku, saya tidak akan keluar dengan tenang jika belum membeli sebuah buku. Teman saya kadang bertanya mengapa saya sampai mau mengeluarkan uang banyak untuk melengkapi semua novel saya. Biasanya saya cuma menjawab "karena hobi". Memang kalau sudah hobi dan suka pada sesuatu rasanya kita tidak peduli lagi kita harus mengeluarkan uang sebanyak apapun untuk semua itu.

Makanya agar tidak terlalu menyiksa orang tua dengan hobi saya yang katanya (banyak orang berkata) tidak begitu berguna karena tidak ada dalam pelajaran sekolah, saya bekerja part time sebagai mentor di sebuah tempat kursus matematika. yah, gajinya cukuplah untuk membeli 2-3 buku dan perlengkapan sehari-hari dalam sebulan.

Tapi saya bersyukur orang tua saya tidak pernah protes dengan hobi saya itu, karena beliau tahu, dilarang bagaimana pun saya akan tetap membeli. Orang tua saya tidak pernah menganggap hobi saya adalah tindakan "buang-buang uang saja". Beliau selalu melihat dari arah positif.

Dari 6 tahun itu, novel yang paling banyak saya miliki adalah karya Sitta Karina. Sebelumnya saya tidak pernah tahu mengenai buku Sitta Karina sampai saya menemukan kumcer 'Satu Hari Berani' di Gramedia. Setelah membaca buku itu, saya langsung memburu semua bukunya. Bahkan saya pesan secara online di penerbitnya karena buku itu tidak saya temukan di toko buku manapun di Makassar.

Saya juga memiliki koleksi Twilight Saga karya Stephenie Meyer, novel tulisan Andrea Hirata, Esti Kinasih, Dian Nuranindya, Mia Arsjad, beberapa koleksi Chicken Soup dan masih banyak lagi.

Saya berharap novel karya saya 'Warna Dari Pelangi' bisa dinikmati semua orang.. Amin

Nah, ini adalah list koleksi novel saya:

A.Fuadi Negeri Lima Menara
Andrea Hirata — Dwilogi Padang Bulan
Andrea Hirata — Maryamah Karpov
Andrea Hirata— Laskar Pelangi
Chicken Soup For The Shopper Soul
Chicken Soup, Persembahan Untuk Para Ibu
Christia Dharmawan — Boys Addicted
Dee — Perahu Kertas
Dhian Bheno — Girlfriends Stay Forever
Dian Nuranindya — Canting Cantiq
Dian Nuranindya — Rahasia Bintang (Hilang)
Dian Nuranindya— Rahasia Bintang
Elie Mulyadi — Menemukan Impian Hati
Erik Sobieski — Dave dan Alika
Esti Kinasih— Dia, Tanpa Aku
Esti Kinasih— Jingga dan Senja
Katrin Praseli — Lana & The Prince
Laurentia Dermawan — 8..9..10.. Udah Belom?!
Maria Jaclin — De Buron
Mia Arsjad— Ksatria November
Mia Asjad— Loventure
Primadona Angela — Katakan Cinta Dengan Warna
Raditya Dika — Marmut Merah Jambu
Salman Aristo— Alexandria
Setta Widya — Cinta Pertama Sazi
Setta Widya— Cinta Pertama Sazi
Shesa — My Diary
Sitta Karina — Lukisan Hujan
Sitta Karina — Seluas Langit Biru
Sitta Karina— Aerial
Sitta Karina— Circa
Sitta Karina— Delapan Peri
Sitta Karina— Imaji Terindah
Sitta Karina— Kencana
Sitta Karina— Pesan Dari Bintang
Sitta Karina— Putri Hujan dan Ksatria Malam
Sitta Karina— Satu Hari Berani
Sitta Karina— Seira & Abel’s Secret
Sitta Karina— Seira & Legend of Madriva
Sitta Karina— Seira & The Destined Farewell
Sitta Karina— Skenario Dunia Hijau
Sitta Karina— Stila-Aria 1
Sitta Karina— Titanium
Sitta Karina, dkk — Pertama Kalinya
Stephenie Meyer — Breaking Dawn
Stephenie Meyer — Eclipse
Stephenie Meyer — New Moon
Stephenie Meyer — Twilight
Tami — Nighmare Trip
Titish AK— A little White Lie
Winna Effendi — Refrain
Zeta Kanarya— Merengkuh Kasih


Lalu, yang mana yang menjadi koleksimu juga??? :)

Senin, 15 November 2010

Jadi siapa yang pantas untuk menulis???

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 15, 2010 0 komentar

Mood saya sedang sangat bagus, tertawa-tawa saat membaca twit seru di twitter. Akhir-akhir ini memang saya sedang keranjingan bermain twitter. Terutama setelah ada @nulisbuku dan teman-teman #99writers yang lain, yang punya keinginan sama dengan saya. Bisa terus menulis.

Saya sedang berusaha mencari ide untuk menulis Review untuk novel ‘Relationship’ yang ditulis @dheaadyta. Tiba-tiba ponsel saya berdering, nomor yang sama sekali tidak saya kenal. setelah saya menjawab dan mendengar suara si penelpon saya langsung menyesal telah mengangkatnya.

Kemarin, orang itu juga menelpon saya dan membuat darah saya mendidih (didukung oleh fakta bahwa saya tidak terlalu suka berbasa-basi dengan orang yang tiba-tiba saja menelpon dengan alasan salah sambung, orangnya nyebelin pula! Atau mungkin memang saya yang emosian!)

Saya tak bisa menutup telpon dengan alasan tidak enak. Yang nelpon kan dia, masa sih saya harus menutup telponnya secara sepihak. Terpaksa saya harus mendengarkan celotehan-celotehannya yang membuat kuping saya panas.

“Kok SMS tadi pagi nggak dibalas?” Tanyanya. Pagi tadi dia memang mengirimi saya SMS yang berisi ucapan selamat pagi, saya tidak mengindahkan SMS itu. Sengaja.

“Nggak liat.” Jawab saya pendek.

“Nggak liat berarti nggak baca dong!” Katanya dengan nada sedikit mengejek. Saya mulai jengkel. Tinggal tekan tombol warna merah aja, telpon itu udah putus, tapi susaaahh banget. Saya kok jadi nggak tega juga! Berarti kesalahan memang ada pada saya.

“Liatnya telat, udah siang jadi nggak di balas.” Saya mulai berujar ketus.

“Lagi ngapain?” Tanyanya lagi.

“Ngetik.” Sebenarnya saya sengaja bilang kalau saya lagi ngetik biar dia sadar dan segera nutup telpon.

“Oh, kirain lagi nelpon!” Katanya.

“Nggak, alasan kayak gitu udah basi.” Dia lalu menggumam tidak jelas. “Alasan lagi nelpon itu udah pasaran, nggak ada alasan lain apa!" saya melanjutkan.

"Pakai kata 'pasaran' baru cocok, yang basi itu cuma makanan!" Katanya. Saya langsung menyimpulkan (didukung oleh emosi yang emang udah nggak stabil) bahwa dia terlalu kaku.

"Lagi ngetik apa?"

"Review bukunya temenku!"

"Nyari di internet aja!" Sempat terlintas dipikiran saya kalau dia nggak ngerti arti kata review saat mendengar perkataannya.

"Emang yang baca bukunya internet? Gimana sih! Kalau saya yang baca bukunya berarti yang nulis reviewnya pasti saya juga dong!" Saya mengomel dengan kecepatan tinggi yang membuat urat-urat leher yang ikut menonjol.

"Tenang, pelan-pelan aja, ini Makassar kok, kendaraan banyak!" Dia mulai ngelantur.

"Itu berarti saya lihai. Banyak kendaraan tapi masih melaju dengan kecepatan tinggi, dan selamat!"

"Itu berarti bukan lihai tapi lincah." katanya sambil tertawa, tepatnya menertawai pilihan kata saya yang dianggapnya salah.

"Bedanya lihai sama lincah apa?"

"Kalau lihai udah berpengalaman, kalau lincah belum terlalu berpengalaman."

"Nah, Saya emang lihai! terus kalau saya pengen pakai lihai atau kata apapun suka-suka saya dong!"

Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat emosi saya benar-benar memuncak, saya jadi bom waktu yang siap meledak. "Kamu kan anak fisika, nggak usah bahas tentang bahasa! Fisika, fisika aja!"

meski tidak langsung, kalimatnya seakan-akan mengatakan bahwa saya itu tidak pantas menulis, saya pantasnya cuma pelototin rumus fisika sampai keriting. Merangkai kata itu bukan bidang saya tapi itu diperuntukkan untuk anak Bahasa. Bukan seperti saya yang kuliah di jurusan Fisika.

Kemarin dia mengaku bahwa dia adalah anak teknik elektro dan saya sama sekali tidak percaya setelah mendengar kata-katanya tadi.

Jadi siapa yang pantas untuk menulis?

"Lah, emang yang boleh pelajari bahasa cuma anak bahasa aja?" Tanyaku geram.

"Tapi mempelajari Fisika adalah kewajiban kamu. Jadi kerjain kewajiban kamu aja, nggak usah jurusan orang lain!"

Saya diam, dia terkekeh pelan, menjengkelkan. Saya diam bukan karena nggak tahu apa yang pengen diomongin lagi. Bukan. Saya pengen sekali 'menyemprotnya', bagaimanapun ego saya sempat tersentil. Emosi yang meluap-luap membuat kata-kata saya langsung lenyap, hilang begitu saja tertelan kemarahan. Saya berusaha mengatur nafas agar lebih tenang. Dia tertawa lagi karena saya terdiam. Merasa sudah diatas angin mungkin.

Sudahlah. saya sudah tak ingin menanggapi lagi.

Harusnya dari awal saya tidak menggubrisnya, hanya merusak mood saya saja. Saya sudah tidak berkata apa-apa lagi sampai dia berkata.

"silahkan dilanjut--" belum sempat dia menyelesaikan ucapannya saya sudah memotong.

"Makasih!" Kataku ketus, menyindir.

Telepon saya tutup.

Saya janji tidak akan pernah mengangkat teleponnya lagi.

Janji!!!!!!

Minggu, 14 November 2010

Pelangi, Merah dan Dia

Diposting oleh sachakarina di Minggu, November 14, 2010 0 komentar

Saya pecinta warna-warna cerah. Merah, kuning, hijau dan semua warna pelangi. Saya sangat-sangat suka Pelangi. Beberapa bulan lalu saya berlibur dengan rekan-rekan kerja ke Malino yang ada di kaki gunung Bawakaraeng selama tiga hari. Liburan yang sangat menyenangkan. Kami berenang di kolam renang lembah biru, serasa berenang di dalam air es, hanya setengah jam bermain gigi kami mulai bergemeletukan, bibir mulai memutih. Kami segera berkemas untuk kembali ke Villa saat gemiris perlahan berganti menjadi butiran hujan.

udah kedinginan tapi masih menyugukan senyum termanis


Sore harinya setelah hujan reda, kami mengunjungi hutan pinus, bersantai sebentar di sana lalu melanjutkan perjalanan ke kebun teh. Sinar matahari menembusi sisa-sisa hujan hingga terbentuk pelangi. Dari puncak kebun teh, pemandangan indah itu memanjakan mata saya.

yang lain sibuk berpose dan saya sibuk membidik pelangi


Sore semakin pekat saat kami meninggalkan kebun teh dan bermaksud mengunjungi kebun strawberry, saya berharap kebun itu seperti kebun-kebun yang sering ada di TV. Sepanjang perjalanan saya tak pernah mengalihkan perhatian dari Pelangi yang terlukis di langit di depan kami. Saya sampai bergumam pelan pada teman disamping saya.

“Disana ada bidadari” Teman saya itu tidak menggubris, tidak mendengar mungkin karena suara saya yang sangat kecil.

Pelangi itu terlihat dekat sekali, dan mobil bisa mencapainya, dalam hati saya menyemangati sang sopir, “Ayo.. ayo.. lebih cepat, sebentar lagi kita bisa mencapai Pelangi.”

Saya tahu itu tidak mungkin.

Dan saya sangat kecewa saat berdiri di depan kebun strawberry itu apalagi kami sudah nyasar berkali-kali, kebun itu benar-benar hanya kebun, hanya sepetak sawah yang dijadikan kebun dan hanya ada daun, tak ada buah sama sekali. Saya membayangkan buah-buah strawberry yang gemuk-gemuk dan memerah, tapi tak ada. Tak sampai lima menit di sana kami sudah meninggalkan kebun itu.

Seminggu setelah pulang dari Malino saya liburan ke Jakarta. Saya sangat tidak suka tebang apalagi dalam kondisi cuaca yang agak buruk (siapa sih yang suka?). Saya sebenarnya takut ketinggian dan kedalaman, tapi saya suka melihat pemandangan dari ketinggian (apasih? :p), makanya kalau naik pesawat saya selalu ingin duduk di dekat jendela. Berkali-kali terdengar pemberitahuan bahwa kapal sedang melewati daerah dengan kondisi cuaca buruk, dan setiap terdengar pemberitahuan itu jantung saya langsung memompa cepat dan otak seketika berpikir macam-macam. Saya mengalihkan perhatian dengan melihat gugusan-gugusan pulau yang ada di bawah. Lalu saya melihat pelangi.

Saya tidak tahu apakah penglihatan saya yang salah atau memang pelanginya yang seperti itu, tapi saya tetap takjub, lebih takjub dari biasanya.

Saya pernah menanyakan kenapa pelangi itu selalu melengkung, jawaban yang saya dapat adalah pelangi hanya dapat dilihat dari sudut sekian derajat (lupa).

Tapi saat itu, dihadapan saya sedang terbentuk pelangi yang tidak melengkung seperti biasa, tapi tegak lurus. Saya tak bisa mengalihkan pandangan dari pelangi itu tapi pesawat keburu berganti arah, saya kehilangan pelangi itu.

Sepulangnya dari Jakarta dikepala saya hanya ada tentang pelangi, saya ingin sekali menuliskannya dalam cerita,

Dan dari semua warna saya paling suka warna merah, tapi saya juga suka kuning, juga hijau daun, juga biru laut tapi porsi merah lebih besar.

Itu dimulai sejak setahun yang lalu, akhir Januari 2009. Saat itu saya sedang dekat-dekatnya dengan seseorang, kami sering jalan bareng (well, saat itu kami sudah pacaran sih!). Kegiatan favoritnya adalah mengomentariku, apa saja dia komentari, mulai dari umur saya yang katanya masih sangat muda untuk jadi pacarnya (saat itu saya masih 17 tahun mendekati 18) dan saya seumuran dengan adiknya, dia selalu berkata bahwa dia seperti sedang memacari adiknya sendiri -_-. Dia juga suka mengomentari tinggi saya yang tidak seberapa dibandingkan dia yang tingginya lebih dari 170 cm, saya memang doyan pakai hak tinggi kemana-mana jadi komentar itu bisa diantisipasi. Dia juga mengomentari bahwa saya sangat kurus, juga tentang warna pakaian yang saya pakai.

Saya merasa warna kulit saya cocok jika dipadankan dengan warna merah, karena ingin tampil lebih baik makanya saya lebih sering memakai baju berwarna merah jika bersamanya (baju saya memang kebanyakan berwarna merah).

“Kenapa sih selalu pakai baju warna merah? Silau.” Katanya, saya cuma tersenyum. Tak pernah sekalipun saya menanggapi komentar-komentarnya, saya menganggapnya hanya selingan saja. Itu berarti dia memperhatikan saya, sedikit perubahan pasti di komentari olehnya, jadi saya menikmati jika dikomentari olehnya, malah saya merasa aneh jika dia tidak berkomentar lagi.

Setelah komentarnya tentang warna merah itu saya selalu membuatnya jengkel dengan sengaja memakai pakaian yang berwarna merah jika kami bersama, hanya agar dia mau mengomentari saya. Saya juga mulai mengumpulkan pernak-pernik berwarna merah, dan saya memang mulai jatuh cinta pada warna merah. Mengalahkan cinta saya pada warna-warna cerah lain.

Saya dengan berani akan mengenakan warna merah saat matahari sedang bersinar sangat terik. Teman saya sering bertanya apa saya tidak merasa terbakar? Tidak. Memakai pakaian berwarna hitam di siang bolong menurut saya jauh lebih panas di bandingkan merah, lagian saya menyukainya. Tak ada yang salah.

Jadi, saya menyukai warna merah itu sebenarnya karena dia, karena di sering mengomentari saya, dan saya ingin terus dikomentari (diperhatikan), dan berakhir dengan saya yang benar-benar menyukainya.

Sekarang, kisah satu tahun lalu dengannya itu memang hanya tinggal kenangan saja, tapi saya tetap menyukai warna merah. Saya tetap menyukai pelangi, saya tetap tidak tinggi, saya masih seperti dulu. Sama. Saya hanya semakin tua.

Sabtu, 13 November 2010

Lika-Liku Praktikum

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, November 13, 2010 0 komentar

Hari ini ada respon untuk praktikum Tetes Minyak Milikan. Saya sudah meminjam TP (Tugas Pendahuluan) teman saya yang minggu lalu mempraktikkan percobaan ini karena waktunya yang cenderung mepet dan saya tidak bisa membuat TP baru yang berarti saya harus masuk ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku. Saya kan paling malas untuk masuk ke perpustakaan yang ‘penjaganya’ orang jutek semua. Fakir senyum.

Sejak awal saya memang tidak suka masuk ke perpustakaan jurusan karena seperti yang saya bilang tadi, yang ngejaga pada jutek semua. Dan rasa tidak suka itu semakin memuncak seminggu yang lalu.

Minggu pertama November, responsi untuk Eksperimen Fisika Modern sudah dimulai. Hari itu Kamis, saya mendapat kabar bahwa responsi untuk kelompok saya akan diadakan keesokan harinya, mau tidak mau saya harus membuat Tugas Pendahuluan berupa Bab 1 (Pendahuluan) dan Bab 2 (Tinjauan Pustaka) laporan lengkap saya. Saya tidak punya buku referensi sama sekali. Jadi mau tidak mau saya harus masuk ke perpustakaan untuk menyelesaikan TP sekaligus untuk memperpanjang masa berlaku kartu perpustakaan yang sudah expired 3 bulan lalu.

Nah, yang ngejaga perpustakaan kali itu adalah teman seangkatan saya tapi berbeda kelas, kalau saya kelas B sedangkan dia di kelas A. Saya sih sebenarnya tidak kenal, tapi teman—Alia-- yang bareng saya keperpustakaan mengenalnya. Alia menyapanya sekilas, dan reaksi orang itu adalah: tidak peduli. Jangankan senyum, menoleh saja tidak!

Dengan cuek saya menyerahkan kartu perpustakaan yang ingin diperpanjang.

“Saya nggak akan ngizinin masuk kalau kartu perpustakaannya belum jadi.” Katanya dengan jutek sambil menggunting foto Alia yang berukuran 3x4 hingga menjadi 2x3 yang akan di tempelkan di kartu yang juga diperpanjangnya.

Saya mengambil alat untuk menulis laporan berupa penuntun, kertas HVS, dan pulpen dari dalam tas sambil menunggu kartu saya jadi.

“Yang boleh dibawa masuk hanya kertas dan pulpen saja. Penuntun dan buku lain tidak diizinkan dibawah masuk.” Katanya lagi dengan nada tajam.

Saya menghela nafas panjang lalu memasukkan kembali penuntun kedalam tas. Saya dan Alia berdiri di depan orang rese itu, jengkel karena kartu kami belum jadi-jadi juga. dia membuang-buang waktu kami. Lalu dia mendongakkan kepalanya dan menatap kami.

“Ngapain berdiri disitu? Masuk aja!” Katanya, lagi-lagi dengan nada jutek.

Sumpah, saya kesal sekali. Tadinya dia bilang kalau kartu belum selesai, kami nggak boleh masuk dulu, dan sekarang dia bertanya kenapa masih berdiri di depannya?? Apa dia amnesia seketika?

“Katanya tadi nggak boleh masuk kalau kartunya belum jadi!” Saya berkata tidak kalah juteknya lalu ngeloyor masuk, segera mencari buku yang saya butuhkan. Dia pikir saya nggak bisa jutek kayak dia apa. Sorry yah, saya juga cukup terlatih kalau cuma pengen ngejutekin orang.

Mood yang udah terlanjur rusak membuat saya jadi nggak berminat lagi untuk menulis TP disitu. Saya lalu meminjam buku dan pergi. Muak rasanya ada di situ.

Entah kenapa hari kamis itu memang menjengkelkan sekali. Di mulai dari laboran yang nggak mau ngasih saya Penuntun Praktikum karena bukti pembayaran lab saya tidak lengkap, bukti pembayaran untuk semester 4 hilang (semester lalu dititip ke teman dan dompet teman saya raib di jambret, hilanglah semua bukti pembayaran itu). Dia tidak mau mengerti, padahal saya udah mau respon besoknya. Air mata saya menggenang, marah dan sedih campur jadi satu, belum lagi orang perpustakaan yang nggak welcome sekali membuat mood saya makin hancur. Untung teman sekelas saya ada yang batal praktikum minggu itu dan saya bisa meminjam penuntunnya.

Hari senin, setelah membuat perjanjian dengan laboran bahwa saya harus segera mengurus kembali bukti pembayaran saya yang hilang itu di bank, saya bisa mengambil penuntun. Respon saya yang akan diadakan hari jumat juga ditunda sampai hari Selasa. Aman..

Sekarang, kembali ke respon Tetes Minyak Milikan yang tadi diadakan. Kelompok sebelumnya mengatakan bahwa mereka hanya diberikan respon tulisan saja dimana soalnya relative mudah. Saya dan teman sekelompok yang lain mempersiapkan diri untuk respon tulisan juga. Nanya sana-sini soal apa yang masuk.

Setelah menulis TP saya mulai membaca materi yang akan diresponkan, tapi sekeltika kantuk menyerang. Saya yang santai-santai aja karena yakin besoknya hanya akan respon tulisan memilih untuk tidur dan belajar saat perjalanan menuju kampus.

Saya sudah menuliskan rumus yang tidak bisa saya ingat penurunannya dan berharap bisa menconteknya jika soal itu muncul. hehehehe

Respon dijanjikan pukul 8 dan asisten baru datang pukul 8.30, belum lagi kakak asisten harus mengurus kelompok yang saat itu akan praktikum, bersamaan dengan kelompok saya yang akan di respon. Jadi kami mulai respon pukul 9.

Kami langsung menyiapkan kertas, dan bersiap untuk menulis soal tapi --yang tidak saya sangka-sangka-- Kakak ternyata malah memberikan respon lisan. Untung saya duduknya paling ujung dan mendapat giliran terakhir saat menjawab pertanyaan, hihihi

Saya memang tidak suka ujian lisan seperti ini. Saya kehabisan kata. Meski saya mendapat giliran terakhir yang berarti saya bisa mencontek jawaban teman untuk melengkapi jawaban saya, itu tidak berarti saya bisa dengan mudah mengungkapkannya. Saya kesulitan memilih kata, kesulitan menjelaskan secara ringkas dan jelas, saya seperti meracau.

Tapi akhirnya respon itu berakhir dengan banyak pertanyaan yang tidak satu orangpun yang mampu menjawab. Untung Asistennya baik. Hihihi

respon selesai, saatnya fokus pada praktikum Tetes Minyak Milikan yang terkenal sulit dan menyelesaikan laporan praktikum minggu lalu..

hmm,, Lumayan banyak tugas yang menumpuk, tapi ini Sabtu malam, saya berhak menikmati libur saya dulu.

Kamis, 11 November 2010

Cuap-Cuap nggak penting

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 11, 2010 0 komentar
Tik..Tok..Tik..Tok..

Sudah jam 12 malam dan saya masih melek padahal besok mau kuliah pagi lagi. Saya udah pengen tidur tapi tiba-tiba saya berkeinginan untuk ngeposting sesuatu dari pikiran saya yang tadi melanglang buana dan mendarat di satu objek. Masih sama. Objek yang sama.

Saya tiba-tiba kangen dengan seseorang, yang beberapa hari ini tak pernah saya jumpai. biasanya dia selalu mengirimkan SMS atau sekedar menelepon saya untuk berbasa-basi. Tapi seminggu ini dia lenyap, entah kemana.

Bukan. Dia bukan pacar saya.

Tapi ada kalanya saya dan dia kadang seperti orang yang lagi pacaran (menurut saya). kami terlalu akrab satu sama lain, terlalu peduli, sampai-sampai sahabat saya berpikir kalau saya dan dia udah lama pacaran.

Kami memang pacarannya udah lama, sekarang udah nggak pacaran lagi.

saya nggak pernah ngebahas masalah ini, tapi entah kenapa saya lagi pengen nulis di blog. mungkin masih pengaruh tulisan sebelumnya, saya sedang sangat bawel hari ini!!

hehehe,, abaikan saja tulisan tidak penting saya...

Membaca, Menulis, Mimpi dan Cerita Bersambung

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 11, 2010 0 komentar

Dulu.. saat masih SMP saya suka koleksi majalah-majalah (belum kenal teenlit soalnya, hehehe). Mungkin dibilang koleksi nggak juga karena saya beli majalahnya angin-anginan (saya bingung dengan kata saya sendiri), tergantung mood, saya nggak ngoleksi satu jenis majalah khusus dan merasa harus beli setiap edisinya. Jadi mungkin lebih tepat cuma ngumpulin majalah aja. Itupun habis baca langsung digunting-gunting. hahaha

Saya ingat, majalah yang saya sering beli itu Aneka Yes! tabloid Gaul, dan Fantasi. Nemu majalah itu juga untung-untungan. Maklum, saya tinggal di kota kecil, jadi nemuin majalah aja susah. Mesti pesan dulu sama agen seminggu sebelumnya. Repot kan! Makanya, saya beli yang ada aja. Saya tipe orang yang suka mesen barang kayak gitu, saya kan nggak sabaran, kalau pengen sesuatu harus ada saat itu, kalau nggak saya nggak bisa tenang, nungguin majalah selama seminggu aja udah kayak setahun (jiahh, lebay).

Nah, dari majalah-majalah itu saya mulai suka membaca cerpen. Saya memang senang membaca cerita sejak masih kecil. Mama saya seorang guru Bahasa Indonesia dan beliau punya banyak koleksi buku Bahasa Indonesia. Papa saya juga suka ngoleksi buku meskipun saya jarang ngeliat beliau membaca. Mungkin rajinnya pas beliau masih muda kali yah!hehehe. Kalau saya sedang bosan, saya suka tongkrongin rak buku, membuka semua buku Bahasa Indonesia milik Mama dan mencari cerita pendek atau dongeng yang bisa saya baca. Asalkan tulisan itu ringan saya senang membacanya. Saya menjadikan membaca sebagai kegiatan refreshing, itu sebabnya saya malas membaca tulisan yang 'berat-berat'.

Sejak masih kecil juga saya senang sekali jika diajak oleh Papa ke toko buku, saya punya banyak buku cerita bergambar. Dari awal Papa mungkin memang ingin saya suka membaca. Sekarang pun salah satu tempat favorit saya adalah toko buku, dan merasa berat keluar kalau belum beli, hehehe.

Saya ingat buku cerita saya yang berjudul 'Blirik dan Itik' (entah saya benar mengingat judulnya), yang pasti ceritanya tentang Blirik, si anak ayam yang iri melihat itik berenang. Dia sudah diberi peringatan oleh ibunya bahwa dia tidak bisa berenang karena tidak memiliki kaki berselaput seperti itik tapi Blirik tidak peduli, dia terjun ke kolam, dan nyaris tenggelam. Untung di tolong oleh Budi.(Hahahha, otak saya masih mampu mengingatnya)

Ada juga buku cerita saya tentang Katak yang pengen menjadi Lembu dan perutnya meletus karena terus-terusan makan. Saya jadi ngeri. Apakah saya rada malas makan karena itu? karena takut perut saya meletus? Hahaha, saya terlalu tebuai dongeng. Saya juga punya buku cerita dan maaf, saya sudah lupa ceritanya apa. Yang saya ingat dibagian depan buku itu ada gambar jam besar yang jarumnya bisa berputar, tokoh dalam buku itu bernama Andi. Ketika adik saya lahir dan ternyata laki-laki, saya ngotot ingin memberinya nama 'Andi'. Papa mengiyakan saja tapi akhirnya tetap memberi nama lain. Airel Mempawardi.

Saya juga senang menghasilkan hasta karya. Entah mengapa tangan saya bisa dengan mudah membuatnya. Teman saya masih pusing bagaimana cara membuat origami love dari kertas tapi saya mampu membuatnya hanya dengan sekali lihat dan mencoba (Nggak sombong, tapi mungkin itu memang kelebihan saya). Saya senang sekali origami. Dulu, saya punya sebuah buku origami yang sangat saya suka dan berhasil disobek-sobek sepupu saya yang masih kecil. Sejak itu, jika saya ke toko buku saya pasti akan mencari buku tentang origami. Bahkan sampai sekarang, tapi nggak pernah jadi beli. Saya juga pandai merajut, menyulam, dan lainnya. Saya juga senang menggunting-gunting.

Tapi saya tak pandai bercerita. Pernah suatu hari, saat saya masih SMP, Papa menyodorkan sebuah buku tebal yang berjudul 'Ibu', kumpulan cerpen tentang ibu. Papa menyuruh saya membaca salah satu cerpen di buku itu lalu menceritakan kembali isinya. Judulnya "Diantara Dua Muara". Saya sangat menikmati membacanya, kisah yang menarik. Tapi saat diminta untuk menceritakannya kembali dalam bahasa lisan, saya tidak bisa, cerita yang baru saja saya baca itu seperti lenyap dari otak seketika. Saya tidak mampu menyusun kata, suara saya hilang entah kemana.

Sebenarnya cerita itu simple sekali, hanya bercerita tentang seorang Guru SMA sakit- sakitan yang ingin sekali punya anak laki-laki. Saat itu istrinya memang sedang hamil tua. Dan ternyata anaknya terlahir dengan dua alat kelamin. Ibu yang ingin menyenangkan suaminya mengatakan bahwa anaknya laki-laki, tanpa pernah memberitahu bahwa anaknya 'cacat'. Waktu berlalu, anak itu tumbuh dewasa, dan ternyata sifat kewanitaannya lebih menonjol, dia senang bermain boneka, dia suka membantu ibunya memasak, dia bergaul dengan anak perempuan. Oleh teman-temannya dia dikatakan banci. Ayahnya pun memarahinya, hanya Ibunya yang mengerti. Setelah ayahnya meninggal, Ibunya mengizinkan agar dia dioperasi dan disidang untuk mengukuhkan statusnya sebagai wanita.

well, saya memang tidak bisa menceritakan dengan lisan tapi saya mampu menuliskan kisah itu kembali meski sudah bertahun-tahun sejak saya membacanya. Saya memang lebih senang menulis. Saya juga lebih senang ujian tulisan dari pada lisan. Dan saya tidak suka presentasi!

Suatu hari saya masuk ke perpustakaan dan menemukan buku (yang saya masih heran kenapa buku itu ada di perpustakaan sekolah) mengenai menulis sebuah diary (Mungkin hal itu hanya mengherankan untuk saya, dan orang lain tidak). Tapi saya langsung meminjamnya, membaca sekilas lalu segera membeli diary yang berkunci (takut di baca orang lain). Saya mulai rutin menulis diary secara diam-diam. Saya hanya ingin menulis jika sendiri. Saya agak tertutup, saya tak ingin ada orang yang tahu apa yang sedang saya lakukan.

Awalnya saya menulis hampir tiap hari, kemudian berkurang seminggu sekali, lalu saya menulis hanya jika ada hal penting dan pantas untuk dituliskan dalam diary. Buku diary saya pernah dibaca oleh teman (4 orang) yang sumpah iseng banget, sok pengen tahu masalah orang lain, dan dia menemukan bagian saya sedang menumpahkan uneg-uneg tentang mereka yang tidak menghargai sama sekali hasil kerja keras saya saat kami menyelesaikan tugas kelompok bersama. Saya langsung salting (salah tingkah), mereka juga tidak kalah salting-nya. Saya juga sih yang salah, membawa buku diary ke sekolah dan membiarkan kuncinya tergeletak begitu saja di tempat pensil. Kakak saya juga pernah membaca diary saya, saya tidak tahu bagian mana yang dia baca, yang saya tahu saya kesal sekali dan jadi malas menulis diary lagi. Padahal saat itu diary satu-satunya teman cerita saya. Saat masih SMP saya tak punya sahabat karib yang saya rasa pantas untuk menjadi 'tempat sampah' saya.

Saya termasuk pemilih dalam urusan pertemanan saat itu. Di sekolah saya tak butuh sahabat, di sekolah saya hanya ingin belajar dan segera pulang ke rumah setelah jam sekolah usai. Silahkan berpendapat saya kuper, saya memang tidak suka dengan teman sekelas saya, yang menurut saya mereka semua sombong! mereka akan berpura-pura tidak mengenal saya saat berpapasan di luar sekolah, lama-kelamaan saya juga sangat pandai melakukan itu. Sampai sekarang. Seperti balas dendam.

Setelah SMA, saya menemukan teman-teman baru yang menganggap saya ada. Saya tumbuh bersama mereka, bersama persahabatan kami yang sangat agung. Saya terlalu angkuh untuk sekedar mengingat teman-teman SMP saya lagi.

Saat SMA pula saya mulai membaca teenlit dan mulai menulis cerita --cerpen. Saya punya beberapa cerpen yang kadang jadi rebutan oleh sahabat saya jika kami mendapat tugas menulis cerpen saat pelajaran Bahasa Indonesia (dilebih-lebihkan sedikit nggak apa-apa lah. hehehe). Anehnya, saya suka menulis tapi tak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Saya hanya suka mengarang saja, saya senang berkhayal dan menuliskan khayalan saya dalam cerita. Membuat kalimat berstruktur S-P-O-K saat pelajaran Bahasa Indonesia bukan pelajaran favorit saya. Padahal saya menerapkannya saat menulis cerita. Aneh kan?

Saya sering menulis cerpen atau novel tapi hanya setengah jadi, jika saya sudah bosan saya akan meninggalkannya dan akan lupa sama sekali, naskah itu benar-benar jadi sampah. Diary-diary saya saat masih SMP sudah saya bakar habis, saya puas saat melihat kenangan saya hangus jadi abu. Toh, saya masih memilikinya di memori otak. mengkristal.

Saya mulai lebih sering menulis saat kuliah, saya merasa jauh lebih bebas berekspresi. Meski tulisan saya tak pernah dibaca oleh siapapun. Saya tetap saya yang dulu, tak ingin menulis jika ada seseorang di dekat saya (kecuali sahabat yang tahu keinginan saya: menerbitkan sebuah buku), tapi tetap saja mereka tidak pernah membaca karya saya karena saya memang tidak membiarkan. Wait and see tetap jadi pegangan saya. Saya tak ingin berkoar-koar (tidak mampu, hehehe) tapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa.

Dan lihat, saya benar-benar sudah menerbitkan sebuah buku.

saya ingin menyombongkan diri di depan keluarga besar saya yang selalu 'mengintimidasi' saya dengan membanding-bandingkan saya dengan sepupu-sepupu saya yang lain. Bahwa mereka jauh lebih pintar (di sekolah), penerima beasiswa sepanjang mereka sekolah dan saya tidak ada apa-apanya. Saya tidak pernah menerima beasiswa meski saya selalu masuk lima besar di sekolah, dan itu tidak diperhitungkan. Saya ingin memperlihatkan pada mereka, bahwa saya mungkin setingkat lebih tinggi dari sepupu saya yang lain: saya sudah mewujudkan salah satu mimpi saya.

Saya senang melihat keheranan sekaligus rasa senang yang terpancar dari mata orang tua saya setelah mengetahui bahwa saya sudah memiliki buku karya saya sendiri. Kabar itu bukan mereka peroleh dari saya, tapi malah dari kakak saya.

Papa hanya bisa bertanya "sejak kapan kamu mulai menulis?"

Saya tersenyum, berarti selama ini usaha saya untuk menyembunyikan kegiatan menulis saya berhasil. Saya memang tak ingin mereka tahu. Saya tak suka menggembar-gemborkan sesuatu hal yang belum pasti.

Thanks to nulisbuku

Sekarang saya ingin sekali menulis sebuah cerita bersambung yang paling tidak di publish di blog. Saat saya masih SMP dulu, saya pernah membaca cerita bersambung di majalah Fantasi, saya sangat penasaran dengan endingnya. Tapi saya tidak menemukan majalah Fantasi edisi pekan berikutnya yang berarti berisi lanjutan cerbung edisi lalu. Jadi terpaksa saya harus menelan rasa penasaran saya mentah-mentah mengenai ending cerbung itu.

Saya sudah punya tema, alur, nama tokoh, bahkan outline cerita tapi belum mampu menuangkannya dalam cerita. Saya kehabisan ide dimana saya harus memulai cerita itu. Saya kebiasaan memikirkan cerita-cerita saya dengan beruntun agar alurnya tertata dengan rapi, cerita sebelumnya harus memiliki kaitan dengan cerita selanjutnya. Saya tidak ingin ada adegan dalam cerita saya yang hanya adegan sekedar lalu saja, tidak mendukung keseluruhan cerita saya. Misalnya, tokoh utama A berkenalan dengan si Z. Setelah perkenalan itu, sudah. Mereka hanya kenal saja lalu selesai. Tak ada cerita, tak ada tujuan si Z ada, selain menambah lembar-lembar cerita itu, selain membuat pembaca bosan dan malas untuk membaca lembar selanjutnya.

Saya ingin menulis sebuah cerita bersambung. Sebuah novel yang di publish secara bersambung. Saya hanya perlu sering-sering berimajinasi, mencari adegan yang pas, menuliskannya dalam cerita lalu membiarkan orang lain membacanya. Tak apa jika orang lain tidak menyukainya. Yang penting saya sudah mewujudkan keinginan saya.

Saya selalu terngiang-ngiang potongan kalimat di blog penulis favorit saya, Sitta Karina,
"Karya 'remeh' pun butuh totalitas"


Saya hanya ingin mewujudkan keinginan saya, bukan untuk menuai pujian. Meski dikritik itu memang agak sedikit menyakitkan, tapi pada dasarnya saya senang di kritik daripada menuai pujian yang ternyata hanya pura-pura —untuk menyenangkan saya saja. Di kritik, membuat saya tahu dimana letak kekurangan saya dan saya bisa memperbaikinya agar bisa jadi lebih baik.

Saya selalu berharap bisa jadi lebih baik. Bukankah semua orang ingin seperti itu?

Well, mungkin saya sudah menulis terlalu banyak, saya sendiri bahkan nggak nyadar, malam ini saya lagi bawel banget. hehehe

Sabtu, 06 November 2010

Janji dan Harapan

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, November 06, 2010 2 komentar
Saya memang selalu menunggu kamu datang.
Tapi tidak seperti ini. Tidak jika kamu yang berjanji akan datang. Harapan itu makin menggunung, meluap-luap tak terbendung. Saya menunggumu, ingin segera bertemu denganmu, dua hari tidak bertemu itu sudah sangat lama untuk saya.

Saya sadar kok, kamu bukan pacar saya. Sangat sadar. Tapi saya tak bisa menekan perasaan saya yang terus tumbuh. Bukankah perasaan hadir dari hati, dari ketulusan. Diredam dan dipaksakan bagaimana pun, hati yang tetap akan bicara.

Sekarang, hati saya sedang berbicara, saya sudah tak bisa meredamnya lagi. Terlalu kuat. Saya tidak sanggup menghancurkan diri dan hati saya sekaligus. Biarkan saya seperti ini. Mencintai dalam hening. Untukmu. Hati saya akan menuntun.

Saya cuma berharap kamu datang! Kamu sudah berjanji. Apakah kamu tahu bahwa janji itu sangat berarti buat saya?

Waktu terus bergulir menjauhi saya tapi kamu juga tak kunjung muncul. Saya lelah menunggu tapi tak bisa berhenti. Harapan bahwa kamu akan datang selalu bersemi mencipta racun-racun baru yang mematikan dan saya mengumpulkan racun itu, menadahnya sedikit demi sedikit. Membunuh saya perlahan-lahan

Saya memang bodoh. Saya yang ingin mati!

Ini tentang rasio dan perasaan yang sudah tidak saling mendukung. Perasaan itu mulai mendominasi. Mematikan perintah otak yang menyuruh saya agar berhenti menunggumu.
Tapi saya masih menunggu. Bahkan alam bawah sadar pun sudah tidak memihak lagi. Mimpi-mimpi bahwa saya masih sanggup menunggumu mulai menghantui. Memaksa.

Saya sudah tidak sanggup lagi. Saya sudah tak bisa menunggu.

Kenapa kamu tidak datang?
Kenapa membiarkan saya menunggu?
Kenapa kamu ingkar?
Kenapa kamu berjanji?
Kenapa?


Tapi...
Kamu akhirnya datang..
Dadaku bergemuruh, mengentak-entak tidak peduli saat saya melihatmu muncul dari balik pintu, mengenakan jaket tebal dan rambut setengah basah karena hujan. Hanya untuk menemuiku kamu menembus hujan.

Meski hanya sebentar tapi itu sudah cukup untuk mengakhiri penantian saya.

Meski telat. Terima kasih sudah datang.

Meski kau tak tahu, saya akan selalu menunggumu.

Meski kau tak akan peduli, saya akan selalu mencintaimu!***

Senin, 01 November 2010

Adyta Purbaya: Warna dari Pelangi -- Membuat hidup yang hitam-putih menjadi berwarna-warni

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 01, 2010 0 komentar
Saya sudah selesai membaca draft ini sejak dua hari setelah Icha kirim draft ini ke email saya. Tapi, gara-gara editing #relationship, proofread, editing lagi, mesen, segala macem. (belum termasuk tugas kuliah dan proposal skripsi, fiuh!) akhirnya saya harus minta maaf karena baru bisa membuat review nya.

ini pun saya paksakan, kalo nggak begini, bakal terabaikan lebih lama lagiy :D :D :D



Well… saya suka novel mu :) sesuatu seperti apa yang saya tulis… kita menguasai genre yang sama, say :) dan memang rasanya kehidupan remaja punya banyak cerita untuk dibahas dan dijadikan cerita yaa :D



awalnya saya sempat bingung baca draft ini, karena kadang Icha nulisnya pake KLA, kadang pake PELANGI. hehe. kalo boleh sedikit saran, say… enakan dari awal konsisten aja. perkenalkan sebagai pelangi, lantas selanjutnya terus memakai nama panggilan KLA :) *cuma masukan aja yah say, bukannya sok pinter. hehehe. biar orang baca nya jadi lebih enak :) (skali lagi cuma saran yah say, belum tentu juga apa yang aku bikin bisa lebih bagus dari ini, hehe)





dari judulnya pun saya sudah suka :D saya suka pelangi… sesuatu yang indah sehabis hujan… tidak selalu tampak setiap saat, tapi ada :) setia membagi indah sehabis hujan. Penamaan tokoh yang pas dengan karakter Pelangi yang kamu ciptakan disini,,, membagi indah untuk AZ :)



Saya suka adegan ‘penembakan’ Az dan Kla :D sukaaa sukaaa banget.. ciri khas remaja yang selalu indah untuk di kenang, saya sampe mengingat-ingat gimana dulu PACAR saya menyatakan perasaannya sama saya.

dan, dua tahun?? dua tahun menunggu untuk bisa menyatakan perasaan itu. saya ikut terhanyut dalam dialognya.. sukaaaaa banget :D



Kalimat paling saya suka disini :

Hujan pernah turun kemarin, matahari bersinar hari ini. Dan pelangi kembali menampakkan warna nya :)



keep write sayy :*

by

Adyta Purbaya

Pre Order: Warna Dari Pelangi

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 01, 2010 0 komentar


‘Bukankah pelangi muncul karena biasan cahaya matahari saat hujan turun?’
Kirana Pelangi Ghita. Gadis periang, cerewet dan agak ceroboh yang sangat menyukai pelangi. Dia ingin seperti namanya: menjadi pelangi. Dia ingin membagi warnanya kepada orang lain, seperti pelangi mewarnai langit.
Pelangi—atau Kla—mendapat tetangga dan teman sekelas baru yang selalu terlihat selalu murung tapi punya tatapan tajam dan juga wajah ganteng. Langit mendung menurut Kla. Grey.
Mereka lalu menjadi sangat akrab. Tanpa mereka sadari, mereka ternyata saling membutuhkan.
Jika salah satu bertemu dengan orang yang disukainya, bagaimana yang lain menyikapinya?

download sneak previewnya dulu di sini
jika berminat, pesan di nulisbuku atau email ke rissachaqua_narzizt[at]yahoo.co.id atau mention @sachakarina di Twitter ^^
Rp 33.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Thank U ^^


DUA

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 01, 2010 2 komentar

Ini bukan tentang aku dan kamu, tapi tentang rasio dan perasaan yang harusnya saling melengkapi, bukannya berusaha saling mendominasi.
Ini bukan tentang kamu dan dia, tapi tentang sayang dan benci yang harusnya jadi sebuah kisah, bukan malah jadi kisruh!
Dan ini bukan tentang aku dan dia, tapi tentang benar dan salah yang harusnya saling mengerti, bukannya saling meniadakan!
Tapi ini bisa saja tentang mereka semua.
Dua.
Selalu berdua.

Kecuali kamu dan aku.
Kita hanyalah dua orang yang memang punya dua jalan berbeda.
Kita beda.***


Kamis, 14 Oktober 2010

Sampel Buku Warna Dari Pelangi

Diposting oleh sachakarina di Kamis, Oktober 14, 2010 0 komentar

Buka pre order untuk novel Warna Dari Pelangi. Yang berminat silahkan email ke rissachaqua_narzizt@yahoo.co.id

Ada juga sample novelnya yang bisa di download. yang pengen download silahkan klik ini
selamat membaca!!

Sabtu, 09 Oktober 2010

My Book: Warna Dari Pelangi

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Oktober 09, 2010 0 komentar
Senang rasanya, mimpi kita bisa terwujud. Sejak SMA saya selalu bermimpi bisa menerbitkan sebuah buku. Paling tidak sebuah novel yang dibagian sampulnya tertulis nama saya. Awalnya saya pesimis hal itu bisa terwujud. Tapi sejak ada twitter semua jadi lebih mudah.
Di Twitter aku pertama kali mengenal nulisbuku.com sebuah layanan self publishing pertama di Indonesia + Book Printing solution. Kita tinggal daftar, Upload naskah dan blassshhhhh.. bukumu pun terbit.
Nulisbuku.com membuat acara 99writers dan saya juga mengikutkan naskah novel saya. Saya berusaha menyelesaikan novel saya itu dalam tiga hari, untungnya saya berhasil mengejar deadline. Buku saya sudah terbit, sebuah novel berjudul: Warna Dari Pelangi
Kenapa Warna dari Pelangi? Karena saya sangat suka pelangi. Pelangi itu cantik sekali.melengkung indah menghiasi langit.

Saya suka menulis sejak masih SD (Nulisnya cuma diary sama cerita-cerita pendek lain) dan mulai menulis novel dan cerpen sejak SMA. Tapi dasar saya yang suka bosanan, saya nggak pernah sekalipun menyelesaikan draft-draft novel saya itu. padahal saya hampir menghabiskan waktu luang untuk memikirkan plotnya -_-". Pernah sekali saya berhasil menyelesaikannya, tapi setelah menunjukkan ke sepupu mereka malah nyuruh saya untuk ganti bagian ini, ganti bagian itu, sampai akhirnya ceritanya jadi beda banget sama cerita awal yang ada diimajinasi saya dan membuat sesuai yang ada di pikiran mereka. saya bertanya-tanya, yang nulis ini sebenarnya saya apa bukan sih? sejak itu saya tak pernah menunjukkan tulisan saya pada mereka.

setelah lulus SMA saya mulai menulis lagi dan sahabat saya menjadi pembaca saya. saya betekad harus membuat sebuah novel!

hari itu saya sedang liburan ke Malino, disana ide tentang pelangi itu muncul. saat kembali ke villa tempat kami menginap, di langit terbentuk pelangi yang sangat besar. melengkung megah menghiasi langit. saya takjub, teringa cerita tentang Nawang Mulan yang turun ke bumi untuk mandi dengan meniti pelangi. saya berjanji akan membuat cerita tentang pelangi.

seminggu sepulang dari Malino saya liburan lagi ke Jakarta. Saat itu beberapa daerah sedang hujan. saya membuka jendela dan disana saya melihatnya. Pelangi.

bukan melengkung, melainkan tegak lurus. lagi-lagi saya takjub. selalu begitu. sayangnya pesawat berbelok arah dan pemandangan indah itu hilang.

saya juga suka warna-warna cerah. warna-warna pelangi. jadi, jangan heran kalau saya menggunakan pakaian berwarna merah terang di siang bolong, atau menggunakan pakaian kuning cerah saat sedang hujan. saya suka warna cerah,saya tidk suka warna-warna gelap seperti hitam.

Jadilah saya membuat novel yang berjudul Warna dari Pelangi.

ceritanya sama dengan teenlit pada umumnya. cinta-cintaan remaja.

Novel ini menceritakan tentang Pelangi --disapa Kla-- yang sangat suka pelangi dan ingin seperti namanya. dia ingin mewarnai sekitarnya seperti pelangi mewarnai langit. dia ingin membuat orang yang ada di dekatnya bahagia. termasuk Azhel, sahabat sekaligus tetangganya. lalu masuk Nyssa dalam persahabatan mereka. Azhel yang dulu pemurung menjadi lebih ceria. Kla tidak suka ada Nyssa. tapi kalau Azhel bahagia, dia akan merelakan. toh dia memang pengen Azhel bahagia.

sekarang buku ini masih dalam proses editing tapi akan segera saya selesaikan. saya hanya berharap buku karangan saya itu tidak mengecewakan. Untuk sementara hanya dipasarkan lewat toko online di Nulisbuku.com saja. Jika ada yang berminat, silahkan pesan disini atau email ke saya di rissachaqua_narzizt@yahoo.co.id


thanks..

luv..luv..
 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review