Rabu, 22 September 2010

GX = SAHABAT

Diposting oleh sachakarina di Rabu, September 22, 2010 0 komentar

Saat masih SMA, aku punya sahabat. Kita akrab sejak masih SD, tapi karena pas SMP aku tidak sesekolahan dengan mereka, kontak rasanya terputus. Dan saat SMA kami kembali sesekolahan di SMA 1 Bikeru. Tidak butuh waktu lama kami jadi akrab kembali seperti dulu, meski ada beberapa orang yang belum aku kenal sebelumnya, tapi mengakrabkan diri sepertinya bukan hal yang sulit. Kami cuma perlu berkumpul saja dan semua terasa mudah, fun, menyenangkan.

Mulai dari pendaftaran kami selalu bersama, meski berada di kelas berbeda kami tetap akrab. Setiap istirahat atau saat guru sedang mengadakan rapat kami selalu berkumpul sambil bercanda di bawah pohon yang rindang.

Memasuki tahun ke dua, kami semua sekelas di kelas XI IPA 2. Kami akrab berenam, tapi yang paling akrab denganku, 3 orang: Mawa, Nurul dan Ima. Mungkin karena posisi duduk kami yang berdekatan ( Mawa dan Ima duduk di bangku paling depan dan Aku dan Nurul duduk dibangku belakangnya). Ima dan Mawa cuma perlu balik badan sedikit dan obrolan seru dimulai, tertawa sampai perut terasa keram. Selera humor mereka memang sangat bagus.

Aku selalu ingat hari itu, saat kami mempersingkat untuk menjelaskan keakraban kami dengan sebuah nama.

Hari itu Kamis, 15 Maret 2007. Guru sedang mengadakan rapat jadi kegiatan belajar mengajar ditiadakan sampai rapat selesai. Aku tidak tahu dimana teman- teman yang lain, yang aku ingat kami berempat sedang tertawa- tawa --menertawakan segala hal-- di depan kelas. Lalu keinginan itu tercetus begitu saja. Memberi nama untuk --bisa dibilang-- genk kami. Terdengar terlalu childish memang tapi tak pernah bisa kami pungkiri kalau saat itu kami sangat bahagia. Persahabatan kami terikat oleh sebuah nama dan--kenangan.

Awalnya kami kebingungan mencari sebuah nama. Entah kenapa kami semua ingin nama yang mengandung huruf 'X' di belakangnya. Finally, setelah mengusulkan banyak nama, tertawa karena nama yang di usulkan 'aneh' sampai serasa sesak dan sakit perut, dan setelah kesepakatan yang berbelit- belit kami setuju dengan nama 'GX'. Mengandung angka 'X' dan terdengar lain (!)
Sudahlah. Yang penting nama itu terdengar manis di telinga kami. Jadilah setiap menuliskan nama kami mengikutinya dengan embel- embel 'GX'
01. Mawa 'Gx'
02. Ima 'Gx'
03. Nurul 'Gx'
04. Icha 'Gx'

Urutannya bukan karena nomor 1 adalah ketua atau apa. Bukan. Itu semata- mata hanya urutan nomor. Seperti A berada di abjad teratas dan Z ada di Abjad terbawah. Bahkan kami sering bercanda sendiri bahwa urutannya itu mulai dari yang terpendek sampai tertinggi. Tapi itu murni cuma candaan, kalau ada yang tersinggung, sungguh sangat tidak disengaja!
Kami berempat --anak-anak Gx-- punya warna kesukaan masing- masing. Mawa dengan ungu, Ima dengan biru, Nurul dengan Pink, dan aku --saat itu-- dengan warna abu- abu ( sekarang sudah berganti merah). Dan kami punya panggilan dengan warna kesukaan masing- masing. Kami biasa menuliskannya begini:

  • Mawa (0_1) Violicx (violet, warna kesukaan si 01).
  • Ima (0_2) Bluyulicx ( Blue, warna kesukaan 02, sengaja kami pelesetkan sedikit biar jauh lebih keren! sampai sekarang kadang Ima kesulitan menulis namanya sendiri! )
  • Nurul (0_3) Pinklicx ( Pink, warna kesukaan si 03. Terdengar maksa memang, tapi cute kan? )
  • Me (0_4) grelicx ( Grey, adalah kesukaanku saat itu).

Aku kadang berpikir, haruskah aku mengganti Grelicx menjadi Redlicx? Tapi terdengar jauh lebih maksa jadi aku tetap dengan nama Grelicx, lagian nama itu sudah melekat denganku. Untuk mengabadikannya aku menjadikannya sebagai nama produk gantungan Hp/ kunci buatan tanganku sendiri.

Nama 'GX' nggak asal pilih saja. G dari kata Garden yang artinya taman. Dan kata Licx yang sering kami sisipkan dibelakang nama itu dari kata 'Happily' dan ' Cx'. Kalau digabung- gabung, singkatnya artinya bisa seperti ini: Taman kebahagiaan. ( jangan bilang lagi- lagi terdengar maksa!)

Kami memang selalu bahagia jika bersama. Meski sekarang kami sudah lulus dan kuliah ditempat yang berbeda- beda, dan tidak sesering berkumpul seperti dulu. Kami tetap sahabat, kami tetap para ' Gx' yang tahun ini berusia 3 tahun. Tidak ada acara apa- apa di Anniversary yang ke-3 tapi kami selalu berdoa untuk yang terbaik buat sahabat- sahabat kami, semoga kami bisa berkumpul lagi, berbagi cerita, suka dan duka. Tertawa terpingkal- pimgkal sampai perut keram, dan ikut bersedih jika seseorang diantara kami bersedih. Seperti dulu!


Aku Kangen Mereka. Aku Kangen Kebersamaan kami.



With love

Grelicx


Minggu, 01 Agustus 2010

Tinggalkan Zona Nyamanmu

Diposting oleh sachakarina di Minggu, Agustus 01, 2010 0 komentar



Bermimpi merupakan proses awal dari suatu pencapaian tujuan. Ketika kita memiliki impian, maka kita sedang melakukan virtualisasi pencapaian tujuan kita didalam alam pikiran kita. Tapi jika tidak mulai dilakukan ( start action ), maka apa yang menjadi mimpi tersebut tinggal hanya mimpi.

Dari bermimpi ke action merupakan suatu langkah besar karena biasanya kita hanya selalu membicarakan tentang mimpi kita tanpa tindakan yang nyata. Melangkah ke sebuah aksi bukanlah hal yang mudah, penghambat utamanya adalah sebuah kondisi yang kita kenal sebagai Zona nyaman.



Zona nyaman adalah wilayah imajinatif dimana kita merasa ‘punya kendali’, padahal sebenarnya itu tidak lebih dari manipulasi pikiran saja.
Banyak orang merasa bahwa tidak ada yang perlu diubah dari hidupnya. Perubahan dianggap hanya akan menambah pekerjaan, belum lagi butuh waktu adaptasi.

Alasan utama mengapa seseorang tidak mau keluar dari zona nyamannya sebenarnya adalah ketakutan menghadapi situasi baru yang mungkin akan menyulitkan. Ia pikir dunia hanya seluas apa yang ia lihat. Perasaan puas diri membuat orang menutup diri kepada masukan yang menantang —mungkin menyulitkan.

Senin, 19 Juli 2010

Jalan- Jalan ke Malino

Diposting oleh sachakarina di Senin, Juli 19, 2010 0 komentar
2 minggu lalu aku libur kerja karena anak- anak sekolah juga libur. Kami para asisten Kumon berlibur di Malino. Kali ini aku mau sharing tentang serunya berlibur di Malino dengan teman- teman. Meski udah agak telat nggak apa- apa deh, dari nggak sama sekali kan. Lagian baru nemu komputer lagi nih, selama ini dipakai Kakak, jadi baru bisa OL.

liburan di Malino cuma 3 hari, tapi lumayan mengesankanlah, seru abis.. Kami berangkat tanggal 2 Juli hari Jumat. Tidak semua Asisten ikut, Anas dan Indah adalah Asisten yang absen karena ada urusan masing- masing. Anas ada di daerah Papua (Lupa namanya apa), kalau Indah setahuku neneknya meninggal. jadilah hanya aku, Anggi, Nina, Kitty, Fitri dan Nia yang ikut ditambah Ibu Budi dan kedua anaknya Elin dan Evan.

Kami tiba di Malino sekitar pukul 11.30, kami singgah di warung buat makan siang dulu setelah itu melanjutkan perjalanan untuk mencari Villa milik keluarga Ibu Budi, yang parahnya Ibu Budi sendiri nggak tahu letaknya, yang Ibu Budi tahu Villanya dekat dengan Rutan. Setelah mutar- mutar dan tanya kiri kanan, akhirnya kami dapat juga Villanya..

Villanya sendiri adalah rumah bekas milik belanda, jadi arsitektur belandanya sangat- sangat kental. Unik tapi aku kok agak ngeri- ngeri gitu.. hyiiiii
Kami berenam sekamar semua. Didalam kamar itu ada 5 tempat tidur. Aku dan Kitty tidur di ranjang yang sama. Anggi dan Nini masing- masing di ranjang masing- masing tapi bersebelahan, 2 ranjang yang digabung jadi satu. Fitri dan Nia di ranjang yang berbeda. Acara bersih- bersih kamar pun di mulai. Debu benar- benar tebal, entah berapa lama rumah itu tidak dibersihkan. Kasur diberi seprai, bantal diberi sarung. sambil bersih- bersih nggak lupa dong foto- foto dulu.





Setelah kamar sudah clean, kami semua ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk makan malam nanti. Berhubung Malino dingin dan merupakan temapat yang pas untuk tumbuhnya berbagai sayur mayur kami pikir harga sayuran di pasar jauh lebih murah dan ternyata.... harganya juga mahal, harga sebonggol bawang merah rp 2000.




lagi jalan- jalan sore nih!


jangan lupa pakai helm standar yah!!!


masih banyak foto yang lain. uploadnya lain kali aja lagi.. capek banget, mau kerja tugas dulu...

Kamis, 15 Juli 2010

Bersosialisasi bukan Spesialisasiku

Diposting oleh sachakarina di Kamis, Juli 15, 2010 0 komentar

Bersosialisasi merupakan hal yang sangat penting mengingat manusia adalah makhluk sosial bukan pribadi. Tanpa bersosialisasi kita tidak bisa saling kenal dan mengenal. Suatu saat kita sangat membutuhkan bantuan dari orang lain dan siapa lagi yang akan ngebantu kita kalau bukan orang lain? Yap, kita semua pasti tahu sepenting apa bersosialisasi itu.

Saya menyadari itu juga, tapi kadang bersosialisasi menjadi salah satu hal yang sangat membosankan untukku. berbasa- basi dengan orang lain apalagi yang tidak terlalu akrab denganku bukanlah keahlianku. Kadang aku bingung sendiri dengan sifatku ini, dengan sahabat- sahabat dan orang yang sudah akrab denganku aku cenderung cerewet, tak habis- habisnya aku mengobrol mulai dari obrolan serius sampai sekedar obrolan warung kopi, ngalor- ngidul nggak tentu arah. Tapi dengan orang- orang yang aku baru kenal --tidak terlalu akrab-- aku cenderung pendiam, keadaan yang sebenarnya sangat tidak nyaman untukku. Dalam keadaan seperti itu otakku pasti berpikir keras mencari pembicaraan yang membuat suasana sedikit cair dari keheningan yang menyelimuti.


Kadang iri juga dengan para sepupu atau sahabatku yang sangat easy going, gampang bergaul dengan orang lain, sangat mudah mencairkan suasana apalagi saat mengobrol dengan orang lain yang baru dikenalnya.

Sifatku ini kadang aku manfaatkan terutama kalau pertama kali kenalan dengan seorang cowok untuk melihat apakah dia bisa lebih dari sekedar teman. Jadi seperti kriteria untuk nyari pacar (Nah loh?? kok malah bahas soal kriteria pacar sih?? ,, boleh dong yah? boleh pastinya! hehe )
aku kadang kehilangan kata- kata apalagi kalau berhadapan dengan orang yang baru. seseorang yang enak dijadikan pacar menurutku adalah yang nyambung diajak cerita, nggak mau dong lagi kencan dengan pacar tapi cuma diam- diaman aja. pacaran amacam apa itu? kesan pertama adalah segalanya, kalau saat pertama kenal kita udah nyambung, enak ngobrolnya, pasti chemistry diantara dua orang itu gampang terbentuk.


Dimana- mana kita harus bisa bersosialisasi bahkan dalam game seperti Harvest Moon juga kita harus bersosialisasi. Dan itu juga menjadi kendalaku dalam main game itu, aku nggak terlalu pandai mensosialisasikan tokohku dengan orang- orang desa, sebaiknya dalam sehari kita bersosialisasi dengan penduduk, tidak hanya pada acara- acara tahunan game itu. Aku kadang lupa hal itu. Mungkin pengaruh sifatku sendiri!!


Tapi Ok. Itu bukan masalah, emang toh itu sifatku sejak lahir, mau gimana lagi, ngerubahnya susah. aku sudah berusaha semaksimal mungkin sih merubah itu tapi kadang sikapku itu kumat lagi. Hadeh,,hadeh..

Meskipun bersosialisasi bukan spesialisasiku tapi aku akan selalu berusaha untuk tetap bersosialisasi dengan lingkungan sekitarku, bukan hanya nambah teman tapi juga nambah pengalaman. iya nggak??

Minggu, 16 Mei 2010

Membunuh Hati

Diposting oleh sachakarina di Minggu, Mei 16, 2010 1 komentar
aku membunuh hati dengan aktivitas bukanya diam... aku membungkam hati dengan ego tanpa empati... bila ada yang jatuh aku berlalu.. bila ada yang minta tolong aku abaikan.. bila ada yang mati karena ku, aku lanjutkan beraktivitas... bila ada yang salah tak aku renungkan.. sehingga tatapan ku hanya lurus kedepan.. sehingga langkahku tanpa perhitungan.. lakukan saja... tak usah pertimbangan karena memang tak perlu.. jika tak ada aktivitas aku tidur... mungkin hanya dua jam atau bahkan 5 menit karena jika ada yang coba mengetuk hatiku aku harus kembali beraktivitas... aku tak boleh diam atau hati akan bangkit kembali dari alam kubur yang telah ku buat.. hingga saat kakiku tak lagi dapat kugerakan.. mataku tak lagi mampu melihat... hanya pikiranku yang berjuang membungkam hati.. di hari-hari perjuangan terakhir ku, aku mendengar hatiku berteriak.. aku tau itu hati karena pikiranku telah mati dan aku menangis.. di hari perjuanganku yang terakhir, aku menangis tanpa sadar... bukan tangisnya yang aku sesalkan tetapi tempat dimana aku menangis yang ingin aku pungkiri karena aku menangis dalam hati dan kenyataan yang menyatakan bahwa hati lah yang bertahan hidup lebih lama di bandingkan anggota tubuhku yang lain...

Rabu, 07 April 2010

Pikir lagi deh!!

Diposting oleh sachakarina di Rabu, April 07, 2010 0 komentar
lagi iseng- iseng buka situs majalah CosmoGIRL! dapat artikel bagus yang kayaknya bagus untuk dibagi. untuk sementara aku posting disini, lain kali baca di cosmosGIRL! sendiri yah!
Ada beberapa hubungan cinta yang harus kamu hindari. Dari pada bikin hidupmu tambah ribet mending cari yang lain aja deh!

1. Mantan pacar teman. Meskipun temanmu sudah mutusin cowok itu, tapi dia pasti merasa sebal melihat kalian akrab berdua satu sama lain. Kecuali kamu sudah siap untuk kehilangan teman, lebih baik hindari hubungan cinta seperti itu.
2. Saudara kandung dari mantan pacar. Jangan pernah pacaran sama adik atau kakak mantan pacar! Biar bagaimana pun mereka adalah saudara kandung yang akan saling membantu. Seandainya kalian punya masalah, mereka akan bersekongkol untuk memojokkan kamu.
3. Saudara kandung sahabat. waktu dan perhatianmu untuk sahabat otomatis akan berkurang. Sewaktu- waktu kamu bisa dicemburui kedua belah pihak – sahabatmu- atau saudara kandungnya. Kamu juga tidak mungkin cerita detail dari hubungan kalian pada sahabatmu kan? (habis, dia kakaknya sih!)
4. Cowok yang baru putus. Dijamin dia masih punya perasaan sama mantan pacarnya karena mereka baru aja putus. Jangan percaya deh sama kata- kata, “ Aku sudah nggak ada apa- apa lagi kok sama dia”. Cowok juga tidak secepat itu bisa melupakan mantan pacarnya lho!

From:
http://www.cosmogirl.co.id/index.php?cg=bW9kPWNvbnRlbnQmY2F0PXZpZXcmaWRzZWM9NSZpZD0yMzY%3D


Selasa, 06 April 2010

Berhenti Berharap

Diposting oleh sachakarina di Selasa, April 06, 2010 0 komentar
Ghassani menutup teleponnya sambil tersenyum sumringah, disebelahnya, Darin, sahabatnya mengerutkan kening, ekspresinya tidak terbaca antara bertanya- tanya, curiga, takut sekaligus tampak senang. Nggak mungkin kan dia bersedih untuk sahabatnya yang sepertinya sedang bahagia ini? Darin menunggu Ghysa —sapaan akrab Ghassani— akan jejingkrakan didepannya berhubung yang menelepon tadi adalah Aji, mantan pacar Ghysa yang masih sangat disayanginya.



Menurut Ghysa mereka putus secara baik- baik, tapi menurut Darin tidak begitu, menilik cerita Ghysa tentang peristiwa putus mereka saat ia curhat ke Darin. Menurutnya lebih tepat dikatakan Ghysa putus karena Ghysa terlalu munafik, sebenarnya masih suka tapi dengan mudahnya meluluskan permintaan putus dari Aji. Ghysa punya alasannya, tapi dengan getolnya Darin menyangga:

1. Ghysa : “Cinta tak harus memiliki. Yang penting bagaimana orang yang kita sayang bahagia.”
Darin : “Dan kamu tidak pernah bahagia, karena tersiksa perasaan sendiri.”
2. Ghysa: “ Ngapain mempertahankan orang yang emang nggak mau lagi dipertahanin!”
Darin : “ itu tandanya kamu siap dengan semua konsekuensi, nggak nangis bombay kayak gini!”
3. Ghysa: Aku nggak mau kelihatan kalah. Merengek untuk tidak diputuskan itu tanda kekalahan!”
Darin : Kamu udah kalah, sejak kamu memutuskan untuk tidak ingin mempertahankan hubungan kalian, itu tandanya kamu udah kalah. Ego kamu yang menang”

Ghysa nggak bisa ngomong apa- apa lagi. Semua yang dikatakan Darin benar, tapi dia nggak boleh menyesal. Menyesal adalah tanda kekalahan. Nggak mungkin dia kalah lagi padahal sebelumnya udah kalah.

Sesaat Ghysa masih senyam- senyum nggak jelas, tapi otaknya tetap berpikir dengan keras, kemudian dia malah mengomel setelah menemukan kenyataan yang sebenarnya, rasionya telah mendominasi.

“ Ngapain sih dia nelpon- nelpon, ngajakin ketemuan lagi. Dasar cowok playboy. Huh!” Darin otomatis kaget mendengar omelan Ghysa. Bukannya tadi Ghysa tampak senang??

“ Loh, bukannya kamu senang, ditelpon sama ‘pujaan hatimu’?” Darin sengaja menekankan kata ‘pujaan hatimu’, membuat Ghysa makin kesal.

“ Seneng sih seneng. Tapi dia udah punya pacar sekarang. Bener- bener yah, dulu pas minta putus ngakunya nggak ada gebetan baru, tau- taunya baru sebulan putus udah punya pacar baru!”

“ Sebulan itu lama Ghys, kali aja mereka baru jadian.” Darin malah membela Aji.

“ Terus aja belain dia, mereka jadian seminggu yang lalu tauk. Indi kok yang cerita. Indi sama ceweknya Aji itu kan sekelas.”

“ Kamu nyari info tentang itu cewek yah? Lagian kenapa sih mesti marah, dia kan pacaran setelah kalian putus!”

“ Kalau iya kenapa, kamu juga mau marah?” Ghysa berkacak pinggang, emosinya benar- benar tersulur oleh kata- kata Darin sekaligus jengkel pada Aji. Kalau masih suka bilang aja, aku juga masih suka kok! Putusin pacar kamu! jangan ngegantung kayak gini. Udah punya pacar masih aja flirting sama cewek lain! Batin Ghysa, dongkol.
Darin cuma diam, tidak menjawab. Kalau dia menjawab hanya akan memperparah emosi Ghysa yang sedang tidak stabil itu. hari ini memang Ghysa gampang meledak, nggak lagi setenang biasanya..

“ Udah punya pacar, masih aja flirting sama cewek lain. Dasar yah, semua cewek playboy.” Lanjut Ghysa, menumpahkan semua amarahnya pada Darin.
Darin berdeham- deham, mengingatkan Ghysa bahwa tidak semua cowok seperti itu, termasuk dia. Tapi Ghysa tidak menggubrisnya.

***
Sebulan yang lalu

Ghysa menatap nanar cowok di depannya, tidak percaya apa yang telah di ucapkan Aji. Dia masih berusaha menghubungkan puzzle- puzzle peristiwa menjauhnya Aji akhir- akhir ini, ternyata semua ini adalah intinya.

“ Pu.. tus??” Ghysa memgulang kata terakhir aji dengan terbata- bata. Aji mengangguk. “ Kenapa?” Tanya Ghysa dengan suara lirih, nyaris tak terdengar.

“ Kamu terlalu baik buat aku Ghys, aku nggak bisa nyakitin kamu.”

“ Terlalu baik.” Ghysa menangguk- angguk. “ Dan apakah ini berarti kamu nggak nyakitin aku?”

“ Kalau hubungan ini diteruskan, kamu akan makin tersakiti!”

“ Bukan karena itu kan? Ada orang lain kan, Ji?” Aji menggeleng cepat- cepat.

Ghysa terdiam lama. Berpikir. Semua melintas tidak beraturan di otaknya, menuntut untuk diutarakan. Tapi ada satu yang paling menuntut: Harga dirinya. Dia nggak boleh terlihat lemah dan memohon- mohon agar Aji menarik lagi kata- katanya. Itu bisa menjatuhkan harga dirinya. Kalau Aji mau putus kenapa tidak, meski sebenarnya dia masih cinta tapi harga dirinya sebagai cewek jauh lebih penting, lebih mendesak. Dan..

“ Kalau itu yang kamu mau, OK. Kita putus.” Ucapnya mengangkat dagunya, berusaha menunjukkan bahwa dia baik- baik saja, padahal hatinya sudah retak berkeping- keping, seperti serpihan kaca. Ghysa tersenyum puas saat melihat Aji yang kaget karena kepercayaan diri. Tak tahu bahwa itu yang semakin membulatkan tekad Aji untuk putus saja dengannya, Aji merasa Ghysa benar- benar tidak menginginkannya lagi.
Ghysa awalnya baik- baik saja. Pulang ke rumahnya dengan santai, seperti tidak terjadi apa- apa. Tapi setelah Darin duduk didepannya siap menjadi pendengar setia seperti biasanya. Air matanya langsung merebak. Membuat Darin kebingungan mesti jengkel atau ikutan sedih juga. Jengkel karena Ghysa dengan mudahnya menyetujui permintaan putus dari Aji tanpa pertimbangan sama sekali dan sekarang malah menagis di depannya. Kesediahan Ghysa adalah sedihnya juga, sahabatnya —yang ditemuinya sejak TK dan masih bersama- sama sampai sekarang —yang diam- diam disukainya sejak masih dulu.

***

Ghysa menunggu Darin di depan café yang baru saja didatanginya dengan Aji. Dia langsung naik diboncengan Darin saat cowok itu menghentikan motor tepat didepannya. Disambutnya helm yang di sodorkan Darin dengan tidak sabar.

“ Kenapa minta jemput? Kenapa nggak di anterin pulang sama Aji?” Darin bertanya dengan nada tidak suka. Bukan tidak suka menjemput Ghysa, tapi tidak suka dengan tindakan Aji yang menurutnya sangat tidak gentle, berani mengajak keluar tapi nggak tau nganterin pulang.

“ Aji tadi buru- buru jadi nggak bisa nganter. Kayaknya sih tadi pacarnya nelpon.”

“ Kamu kok mau- maunya sih jalan bareng sama cowok yang udah punya pacar?”

“ Dia yang ngajak kok, katanya pacarnya nggak apa- apa. Lagian aku kan nggak maksud apa- apa. Aku nggak akan ngerebut dia dari pacarnya kok. Aji tuh sebenarnya masih cinta sama aku. Pasti dia nyesel sekarang. Beruntung banget yah pacarnya, dapat bekas pacar aku. hahaha” Ghysa malah tertawa. Terlalu percaya diri, dia sudah melambung tinggi oleh harapannya sendiri.

Darin kenal betul dengan Ghysa, Ghysa itu kadang terlalu jaim, dan juga suka berlebihan, termasuk jika mengharapkan sesuatu. Dia tak pernah benar- benar sadar bahwa semua yang kita inginkan tidak semuanya bisa tercapai. Ada saat dimana kita harus mengalami kegagalan.

“ Jangan terlalu berharap Ghys, kamu udah pernah kecewa sebelumnya!” Pesan Darin.

Ghysa sedang menunggu Darin di depan gerbang sekolah, mereka memang selalu pulang bareng. Tapi hari ini sepertinya Darin agak telat keluar karena yang mengajar adalah guru yang terkenal suka banget ngorupsi waktu, terutama waktu pulang seperti ini. Tiba- tiba sebuah sepeda motor yang sangat dikenalnya berhenti tepat didepannya. Aji.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, dia emang udah kangen lagi dengan Aji setelah pertemuan mereka yang terakhir, dua hari lalu. Tak disangka Aji langsung datang ke sekolahnya, hanya untuk menemuinya. Apa lagi namanya kalau bukan Aji masih suka sama Ghysa? Dia tersenyum memikirkan itu.

Sebuah pertanyaan baru muncul begitu saja: Kalau menurutnya Aji salah —karena udah punya pacar tapi masih flirting sama cewek lain— terus dia namanya apa dong? Berharap pada cowok yang udah punya cewek? Jadi trouble maker? Tapi langsung di hapusnya pemikiran itu. Yang main api duluan adalah Aji, dia cuma ikut dalam permainan itu. Dia tidak sadar yang memulai bukan berarti yang akan tersakiti pada akhirnya.

“ Hi. Ghys, bisa ikut aku nggak? Aku pengen minta tolong sama kamu!” Ujar Aji langsung, tampang memohonnya membuat Ghysa tersenyum senang, senyum penuh harap. Pasti Aji nyesel udah minta putus sama aku. Batinnya. Apalagi Indi kemarin bercerita bahwa kemarin di sekolah dia melihat Aji dan pacarnya berantem di parkiran. Kesempatan tidak datang dua kali.

“ Boleh, tapi aku hubungin Darin dulu, biar dia nggak usah nungguin.” Baru saja Ghysa ingin menelepon Darin tapi ia batalkan. Darin kan masih belajar. Akhirnya dia cuma mengirimkan pesan singkat bahwa dia pergi dengan Aji dan tak usah ditunggu.
Darin yang merasakan ponselnya bergetar segera merogoh kantongnya, tidak peduli dengan penjelasan mengenai sistem pencernaan pada katak. Ghysa pasti udah ngomel- ngomel sebab ia belum keluar juga. Tapi Darin malah kaget membaca sms pemberitahuan dari Ghysa bahwa ia pulang dengan Aji. Darin makin nggak konsentrasi.

Sejak mereka Ghysa dan Aji putus —dan Ghysa masih mencintai Aji, setiap mereka bertemu pasti akan berakhir buruk setidaknya bagi Ghysa.

Di tempat lain, Ghysa dan Aji melangkah berbarengan masuk kedalam sebuah café. Ghysa sempat heran mengapa mereka menghampiri meja yang sudah ada pemiliknya? Setelah mereka berjarak lima meter dan dapat melihat siapa yang duduk di meja yang sedang dia tuju, jantungnya langsung berdegup kencang. Pacar Aji.

Ada apa ini? Ghysa mulai bertanya- tanya.

“ Ghys, maaf aku ngajak kamu kesini. Aku nggak tahu lagi gimana bikin Puti biar percaya sama aku kalau kita tuh emang nggak ada hubungan apa- apa!” Aji berujar lirik. Di depannya sang pacar memasang tampang cemberut.

Tiba- tiba Ghysa merasa pusing. Bukan ini yang dia harapkan!

Kehadirannya di sini semata- mata untuk menyelamatkan hubungan sang mantan pacar.

“ Ya, aku emang nggak punya hubungan apa- apa sama Aji, selain Aji adalah mantan pacar aku.” Ghysa melirik Aji. “ Itu nggak bisa dipungkiri kan?”

“ Bisa aja kalian sekongkol!” Komentar Puti acuh tak acuh. Dengan jelas Ghysa bisa melihat bagaimana Aji diperlakukan begitu oleh Puti. Menderita. Aji pasti sudah kehabisan kata- kata menjelaskan pada si Puti ini.

“ Kita nggak ada hubungan apa- apa, Put. Antara kami berdua cuma masa lalu. Aku cuma sayang kamu sekarang.” Kata- kata Aji berhasil membuat Ghysa terhempas setelah sempat diterbangkan oleh harapannya yang terlalu tinggi. Rasanya sangat perih, jauh lebih perih saat mereka putus dulu. Didepannya, cowok yang disayanginya mengakui bahwa dia lebih menyayangi cewek lain.

Air mata Ghysa hampir saja jatuh tapi berusaha di tahannya. Masih ada yang ingin di ucapkannya.
“ Kita emang nggak punya hubungan apa- apa kok. Kamu tenang aja. Setelah kami memutuskan untuk putus kami nggak berniat balikan lagi. Selain jadi sahabat seperti dulu. Aku juga nggak mungkin ngerebut cowok yang udah punya pacar. Jangan sampai hubungan kalian putus hanya karena gara- gara begini. Kamu akan menyesal kehilangan Aji. Kamu bisa nyesel kehilangan orang yang sangat sayang sama kamu.” Ucapannya benar- benar tulus dari hati.

Mengalah.

Hal yang pantas dilakukannya.

Amarah Puti mengendur, percaya sekarang. Aji menatap Ghysa dengan tatapan terima klasih. Ghysa tidak bisa berlama- lama lagi disini. Menatap kemesraan yang memuaakan untuknya. Mengingat si cowok adalah cintanya, dan takdir tidak memilihnya. Dari awal memang Aji bukan untuknya, tapi untuk Puti. Dia sadar sekarang.

“Aku pulang duluan yah.” Ucapnya dan berbalik.

“ Aku anterin, Ghys.” Aji menawarkan, tapi Ghysa menggeleng.

“ Nggak usah, makasih. Darin jemput kok.” Dia tak menoleh lagi.

Bukan aji yang terbaik buat aku. Tapi pasti ada.

***

Drrrtttt
Ponsel Darin bergetar, dengan sigap dia meraihnya dan langsung menjawab.

“ Kamu dimana, Ghys.” Diam sejenak, Darin mendengarkan. “ Ok, jangan kemana- mana tunggu aku disana.”

Darin segera menuju ke tempat Ghysa menunggunya. Dia sangat panic mendengar suara parau Ghysa. Pasti ada apa- apa sampai- sampai Ghysa nggak mampu menahan tangisnya seperti itu.

Darin menemukan Ghysa di sebuah halte lumayan jauh dari café yang Ghysa datangi tadi. Ia langsung memapah Ghysa masuk kedalam mobil. Begitu mobilnya melaju, hujan deras mengguyur. Untung saja dia tadi tidak memakai motornya.

Ghysa masih sesenggukan. Darin cuma menatapnya cemas, sungkan untuk bertanya, takut membuat tangis Ghysa pecah lagi.

“ Dia cuma sayang Puti. Cuma aku yang terlalu bodoh, terlalu berharap.” Ghysa yang membuka percakapan akhirnya. Darin masih terdiam, tidak menanggapi. Tahu bahwa Ghysa hanya ingin bercerita, mengeluh. “ Dia nggak pernah sayang sama aku. Aji untuk Puti, bukan untuk aku!”

“ Kamu akan punya seseorang yang pasti bisa kamu miliki.” Komentar Darin. Ghysa langsung menoleh ke Darin.

“ Siapa?” Tanya Ghysa ketus. Tangisnya merebak lagi

Aku. Ingin sekali Darin meneriakkan itu, tapi urungkannya. Tidak mau persahabatannya hancur hanya karena masalah ini.

Darin sengaja berhenti tidak tepat didepan rumah Ghysa, memberikan waktu pada Ghysa agar dapat mengendalikan sedihnya. Tidak mungkin dia masuk ke rumah dalam keadaan seberantakan ini. Jika di lihat oleh Mamanya dan ditanya- tanyai pasti dia akan menangis lagi.

Suasana di dalam mobil sangat hening, hanya suara rintik hujan mengenai kaca mobil yang terdengar. Ghysa bersandar pada jok mobil sambil menatap Darin yang juga sedang menatap pemandangan di luar. Bersyukur dia punya sahabat seperti Darin, yang selalu ada saat dia butuh dan mengerti tentang dirinya luar dalam. Ghysa lalu teringat kata- kata Darin tadi, “ Kamu akan punya seseorang yang pasti bisa kamu miliki!” Ghysa mengerti.

“ Darin..” Panggilnya, Darin menoleh, sebelah alisnya terangkat, Ghysa tahu kalau Darin sedang bertanya. “ Kok tumben bawa mobil. Motor kamu mana?”

“ Tadi mendung, takutnya hujan. Eh, ternyata hujan beneran.” Karena Ghysa lagi- lagi terdiam, Darin kembali menatap keluar jendela. Ghysa masih saja betah menatap Darin.
Tiba- tiba Jantung Ghysa berdetak lebih cepat. Ini Darin. Ini Darin.. ditandaskannya kata- kata itu untuk menenangkan dirinya sendiri.

“ Darin..” panggilnya lagi.

“ Hmmm” jawabnya tanpa menoleh.

“ Gantiin Aji yah di hati aku!” mendengar kata- kata itu Darin sontak menoleh, shock. Nggak nyangka Ghysa yang mengucapkan itu, seharusnya dia yang mengutarakannya.

Darin menggeleng lemah “ Nggak bisa, Ghys.” Ghysa mendesah. “ Aku nggak bisa jadi pengganti Aji, aku lebih dari sekedar ngegantiin Aji. Aku selalu milikmu, ada ataupun tanpa Aji.” Darin mengucapkan itu sambil tersenyum cemerlang, senyum yang sangat disukai Ghysa, apalagi kedua lesung pipit tercetak di pipi Darin.
Ghysa memutar bola matanya “ Kalau udah punya cewek nggak boleh lagi flirting sama cewek lain kayak Aji yah!” Ghysa mewanti- wanti.

“ Kalau udah punya cowok nggak boleh lagi sebut- sebut nama mantan pacar yang udah punya cewek.”

Mereka berdua tertawa. Seberkas sinar matahari menembus awan- awan, membiaskan tujuh warna indah di langit saat menyentuh titik- titik hujan.
Ghysa mentap Darin lagi, bersyukur selalu ada Darin di dekatnya, di hatinya. Tadi hatinya sempat kelabu, tapi Darin seperti mentari yang muncul ditengah rintik dan membiaskan warna. Mulai hari ini dan seterusnya, hatinya—hidupnya— akan selalu berwarna dengan kehadiran Darin.

Senin, 22 Maret 2010

"Raayan ≠ Raynand"

Diposting oleh sachakarina di Senin, Maret 22, 2010 0 komentar
PLOROG


Suara ringtone Hp membangunkan Idel dari tidurnya, sedari tadi dia memang tidak tidur terlalu lelap, suara hujan yang menderu membuatnya takut. Sejak kecil Idel takut mendengar suara hujan seperti itu, tak tahu apa alasannya, mungkin karena dulu dia pernah terbangun saat hujan tengah mengguyur bumi dengan sangat deras, menimbulkan suara menderu ketika hujan berhasil menyentuh genteng dan dia mendapati dirinya sendirian dirumah. Saat itu kedua orang tuanya sedang pergi, sedang kakaknya, Faris meninggalkannya, pergi ke rumah temannya sebentar untuk mengambil komiknya —yang ketinggalan— karena yakin Idel tertidur dengan lelap dan pasti baru akan terbangun saat dia pulang nanti. Tapi hujan mengharuskannya untuk berteduh dulu hingga tak bisa pulang cepat. Ketika hujan mulai agak reda, Faris menerobos sisa- sisa hujan dengan tergesa- gesa agar segera sampai dirumah, dia menemukan Idel sedang meringkuk diranjangnya, menangis tersedu- sedu. Sejak itu dia takut hujan, hujan membuatnya merasa sangat kesepian. Semua keluarganya tahu itu. Tapi setelah berumur 15 tahun dan masuk SMA, dia selalu mengaku tidak takut lagi pada suara hujan. Tapi sebenarnya rasa takut itu masih sama, tapi karena nggak mau dibilang penakut, jadilah dia menguat- nguatkan dirinya untuk tidur sendiri saat hujan turun. Seperti malam ini.

Idel tahu betul siapa yang menelponnya, meski tak ada nama kontak yang tertera tapi Idel sangat mengenal nomor itu. Raynand. Cowok yang ditemuinya di acara pensi sekolahnya setahun lalu. Orang yang selama enam bulan terakhir selalu memancing jantungnya untuk berdebar dengan sangat cepat, dan membuat perutnya seketika menjadi sangkar kupu- kupu saat mengingat orang ini. Raynand benar- benar membuatnya jatuh cinta.

Raynand menelepon Idel tengah malam begini karena dia sangat tahu, Idel pasti ketakutan saat hujan mengguyur sederas ini. Dan ada yang sesuatu yang sangat penting ingin dikatakannya.

“ Aku menyukaimu bukan hanya sebagai sahabat!” Potong Ray saat Idel sedang membagi ketakutannya, bersyukur Ray menelpon dan dia tidak perlu membangunkan siapapun. Idel sangat berterima kasih untuk itu.

Meski itu pernyataan yang sudah lama sangat ditunggunya keluar dari bibir Ray — dan dia punya segudang stock kata- kata yang akan diucapkannya saat Ray menembaknya, toh itu membuatnya kaget juga, dan sempat melongo sesaat. Jantungnya langsung berpacu sangat cepat. Idel refleks memegangi dadanya, detakan yang berada di ambang batas normal itu membuat dadanya terasa sedikit sakit. Tapi selebihnya dia bahagia. Sangat bahagia. Kemudian dia tertawa yang membuat orang yang berada di ujung telepon terlonjak kaget.

“ Kenapa?” Tanya Raynand bingung. Apakah dia salah mengucapkannya?? Padahal tak pernah ada cewek yang menertawainya —selain saat ini, Idel — saat ia mengutarakan cintanya.

“ Nggak kenapa- kenapa kok!” Tanya Idel, berusaha menghentikan tawanya. Dia juga bingung, dia tertawa sebagai efek dari bahagia yang membuncah atau upaya menutupi kegugupannya. Sekarang dia memang gugup, bahkan sedikit gemetar. Dia bersyukur, Ray sedang keluar kota dan memutuskan menembaknya sekarang. Tak perlu menunggu dia pulang dulu lalu mengatakannya langsung dan melihat kegugupan Idel ini. “Kamu yakin?” Lanjutnya, kali ini serius. Ia ingin langsung mengatakan iya saja, tapi dia juga perlu kepastian.

“ Kamu nggak percaya?” Suara Raynand terdengar sedih karena tidak dipercaya.

“Bukannya gitu, gimana aku yakin kalau kamu sendiri nggak yakin?” Idel cepat- cepat menambahkan. Takut pertanyaannya tadi jadi petaka dan Raynand menganggap bahwa dia ditolak. Meski begitu dia juga cukup kesal karena Raynand agak sedikit sensitive. Mungkin karena sedang gugup juga!

“ Aku nggak pernah seyakin ini sama orang lain, Del. Cuma sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Raynand berkata dengan mantap. Sangat menyakinkan. Sama dengan Idel yang sudah sangat yakin. Hanya perlu beberapa kata simple saja dan keinginanya akan menjadi nyata. Menjadi pacar Raynand.

“ Ya, aku mau.”

Dan dia pun terbang.

Griya Foto

Diposting oleh sachakarina di Senin, Maret 22, 2010 0 komentar

my lovely brother

Kamis, 25 Februari 2010

Kena Marah Guru

Diposting oleh sachakarina di Kamis, Februari 25, 2010 0 komentar

Masa SMA adalah masa paling indah. Yup, aku setuju banget sama pertanyaan itu. dan yang paling berkesan sampai sekarang adalah saat guruku marah di kelas. Bukan mengasyikkan sih ( ya iya lah), tapi seru juga buat dikenang.
Semenjak naik di kelas 3, kami sekelas sering banget bikin masalah, terutama membuat guru marah. Dan semuanya guru pelajaran Kimia. Aku ingat hari itu hari senin jam pelajaran terakhir. Aku lagi serius- seriusnya memperhatikan pelajaran (biasanya sih acuh tak acuh, mata pelajaran Kimia di tiga jam terakhir, hmmm, ngantuknya nggak ketahan). Nggak tahu kenapa, tiba- tiba guruku marah. Ternyata salah seorang temanku sedang nggak fokus sama pelajaran, dan bermain, menjahili teman yang lain. Guruku menganggap dirinya tidak dihormati, dan menurutnya dalam mengajar kami harus dengan kekerasan. Karena kami semua jika di beri hati minta jantung. Satu teman berbuat salah semua kena imbasnya. Karena Nila setitik rusak susu sebelanga.

Sambil marah- marah guruku menyuruh setiap anak mulai dari pojok depan untuk menjawab pertanyaan yang tadinya belum selesai terjawab karena Pak Guru mendapati seseorang bermain. Setiap Anak yang menjawab dengan tidak benar dijewer (kayak anak SD aja). Kedua tangan harus di atas meja, badan harus tegak. Aku deg- degan setengah mati, jantungku kayak mau lompat kelantai. Untung aku sempat membolak- balikkan buku dan mendapat jawaban yang benar. Yippie,,aku lolos.

Setelah aku menjawab jawaban dengan benar, Pak Guru lalu melangkah ke papan tulis, mulai menjelaskan lagi. Kemudian beralih ke pertanyaan ke dua.
“ Sekarang giliran siapa? Yang terakhir siapa?” Tanya Pak Guru
Teman sebangkuku mengangkat tangan, maksudnya sekarang gilirannya tapi guruku mengira tadi dia yang menjawab terakhir. Jadi Pak Guru beralih ke siswa selanjutnya. Temenku melongo keheranan. Aku menahan tawa.

Tiba- tiba Pak Guru mengambil sapu lidi di pojok belakang kelas. Lalu bertanya secara acak pada setiap anak pelajaran yang telah lalu. Anak yang tidak menjawab dengan tepat dan benar, mendapat jatah pukulan. Semua makin gugup, berdoa semoga beruntung dan tidak mendapat giliran ditanya. Tapi yang memenuhi pikiranku adalah jam berapa sekarang? Jam berapa bel tanda pelajaran berakhir berdering? Kapan kami bebas dari penyiksaan ini? Beberapa temanku bahkan menagis, tidak biasa diperlakukan kasar begini.

Braaakkkk
Salah satu meja temanku dipukul oleh Pak Guru mengagetkan kami semua. Jika aku punya riwayat penyakit jantung pasti akan kumat saat itu juga. Aku melihat teman didepanku sampai terlonjak dari tempat duduknya saking kagetnya. Kami yang melihatnya memerah karena menahan tawa, hiburan ditengah pembantaian. Aku terus berdoa semoga semua ini cepat berakhir.

Akhirnya doaku terkabul. Pak Guru akhirnya keluar. Kami tetap dikelas, beberapa orang menangis. Kami mendiskusikan bagaimana cara meminta maaf. Jadi kami ke ruang guru untuk mencari wali kelas kami untuk mencari solusi.

Rabu, pelajaran Kimia berikutnya. Kami diberikan ujian lisan. Setiap anak diminta untuk naik kedepan papan tulis, diberikan pertanyaan. Yang tidak menjawab dengan benar di pukul menggunakan sapu lidi. Untung namaku di absen berada di urutan agak bawah, jadi setelah bel berdering, aku nggak kena giliran.
Saat istirahat kami melihat Pak Guru di rumahnya. Kebetulan Pak Guru tinggal diperumahan sekolah. Kami semua lalu mendatangi rumahnya. Dan yang terjadi adalah dia membanting pintu rumahnya untuk kami dan menutup semua jendelanya. Itu penolakan yang paling menyakitkan, kami bersungguh- sungguh dan Beliau memperlakukan kami seperti itu. beberapa temanku tetap bertahan didepan rumahnya. Tapi aku lebih memilih masuk ke kelas dan menunggu hasil ‘mengemisnya’.

Pertemuan berikutnya Pak Guru udah nggak terlalu marah. Dia tidak lagi memukuli kami. Aku tahu itu Cuma emosi sesaat saja. Mungkin Pak Guru juga ada masalah pribadi, tapi karena kami juga bikin kesalahan maka kami kena imbasnya.. Apes 

Beberapa bulan berikutnya, guruku itu pindah dan digantikan oleh guru Kimia Favoritku. Tapi menjelang ujian akhir. Guruku itu juga marah. Menurutku itu masalah yang sangat sepele. Dan memang temanku itu suka ngerecokin. Dia yang berbuat, giliran mau bertanggung jawab kami disuruh kompak. Lama- lama muak juga.

Hari itu guru memberitahukan tentang ujian praktek, dan masing- masing harus membawa bahan- bahannya masing. Kami diberi bocoran bahwa salah satu praktikumnya adalah mengidentifikasi kandungan zat makanan. Kami harus membawa Telur, Susu, terigu, dll. Salah seorang temanku nyeletuk
“Sekalian aja buat Martabak”

Ternyata guruku mendengar dan marah. Dia nggak mau masuk ke kelas, tapi setelah minta maaf beliau mau masuk lagi.

Itu kisahku di SMA yang sebenarnya sangat tidak menyenangkan, tapi kalau kami berkumpul lagi dan membahas kenangan itu lagi, kami nggak pernah bisa berhenti ngakak, sampai perut sakit.

THANKS 4 ALL MY TEACHER

Rabu, 17 Februari 2010

Hidup Bukan Tentang Itu

Diposting oleh sachakarina di Rabu, Februari 17, 2010 0 komentar
Hidup itu bukan tentang mengumpulkan nilai, bukan tentang berapa banyak orang yang meneleponmu dan juga bukan tentang siapa pacarmu, bekas pacarmu, atau orang yang belum kamu pacari, bukan pemuda/gadis yang menyukaimu. Bukan tentang sepatumu dan warna kulitmu, tempat tinggal atau sekolahmu. Bahkan, juga bukan tentang nilai- nilai ujianmu, uang, baju, atau universitas yang menerimamu atau tidak menerimamu. Hidup itu bukan tentang apakah kau memiliki banyak teman atau apakah kau seorang diri dan bukan tentang apakah kau diterima atau tidak diterima oleh lingkunganmu. Hidup bukanlah tentang itu.

Namun, hidup ini adalah tentang siapa yang kau cintai dan kau sakiti. Tentang bagaimana perasaanmu tentang dirimu sendiri. Tentang kepercayaan, kebahagiaan dan berbagi. Hidup adalah tentang menghindari rasa cemburu, mengatasi rasa tidak peduli, dan membina kepercayaan. tentang apa yang kau katakan dan apa yang kau maksudkan. Tentang menghargai orang apa adanya dan bukan karena apa yang dimilikinya. Dan yang terpenting, hidup adalah tentang memilih menggunakan hidupmu untuk menyentuh orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan oleh cara lain. Hidup adalah tentang pilihan- pilihan itu.

Jumat, 05 Februari 2010

M-O-T-H-E-R (IBU)

Diposting oleh sachakarina di Jumat, Februari 05, 2010 0 komentar
“M” (Million- jutaan) untuk jutaan hal yang telah diberikannya kepadaku.
“O” (Old- tua) artinya seandainya saja dia menua,
“T” (Tears- air mata) untuk entah berapa banyak air mata yang telah dihapusnya untuk menyelamatkanku.
“H” (Heart- hati) untuk hati yang semurni emas,
“E” (Eyes- sepasang mata) untuk sepasang matanya yang bersinar penuh oleh cinta.
“ R” (Right- Benar) benar selalulah dirinya,
“MOTHER”
Suatu kata yang amat bermakna bagiku.
 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review