Minggu, 28 April 2013

(Day 4) Weekend

Diposting oleh sachakarina di Minggu, April 28, 2013
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Kemarin tidak sempat memposting apapun karena kecapaian setibanya dikosan. Seperti hari-hari sebelumnya (dan akan begitu sampai dua minggu ke depan) kelasku dimulai pukul 7 hingga 8.30 di elfast kemudian di Peace pukul 10. Sore pukul 16.00 study club di Elfast.

Jadi setelah study club di Elfast, aku dan Lia memutuskan jalan-jalan. Rencananya mau nyari Kresna itu di mana, tapi udah magrib dan bingung sendiri sama mesjid di sini, jadi kami memutuskan pulang saja kekosan.

Sehabis shalat magrib, mulai nanya-nanya ke Kak Dewi kafe di Pare yang ramai di mana. Akhirnya kami memutuskan ke Clasik cafe di depan camp Booster. Tiba di sana, ternyata enggak ada apa-apa. Kafenya sepi. Jadi kami ngegowes aja terus, dan yak, kami tiba di kotanya Pare. Mampir di restoran Wisata Jamur. Payahnya, hidangan jamur-jamurnya udah hampir habis semua. Tempatnya rame, lumayan asik juga sih. Di depan resto ada toko Cressida, sempat mampir juga meski enggak beli apa-apa.

Kami pulang pukul 9 malam. Pulangnya sih enggak jauh-jauh amat rasanya, cuma pas pergi aja. Mungkin karena enggak tau tempat aja sih makanya pas pergi berasa jauh dan jalannya agak nanjak jadi ngegowesnya berat. Hehehe

Sampai kosan jadi capek berat. Paginya enggak ada yang bisa bangun. Lia bahkam tidur sampai pukul setengah 12, hehehe.

Belum tahu, entar sore mau ke mana lagi. Atau mungkin enggak ke mana-mana tapi besok pagi rencananya mau ke alun-alun. Semoga bisa bangun pagi, ya :D

***

Sorenya aku dan Lia jalan-jalan, kami ke mesjid Agungnya Pare. Shalat magrib di sana kemudian pulang karena Kurni ngajakin ke Ketan. Pada akhirnya kami tidak jadi ke Ketan tapi ke Bali House. Ternyata Bali House ini cozy sekali dan romantis habis-habisan. Berharap seseorang tiba-tiba muncul di sebelahku dan menghabiskan malam minggu sama-sama :D

Pas lagi asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba muncul dua orang cowok. Dia dari Jakarta. Yogi dan Jeremi. Mereka bawa kartu dan kami diem-diem aja. Enggak ngerti ini orang siapa dan tujuannya apa. Sempat berpikiran negatif juga sih. Awalnya dia main sulap tapi enggak begitu diperhatiin. Lalu mereka ngajakin main kartu. Dan mulailah kami teriak-teriak heboh. Orang-orang di situ malah nengok ke kita semua. Sampai tenggorokan rasanya seret. Habis itu dia main sulap lagi dan si Jeremi selalu gagal.

Well, malam minggu pertama di Pare enggak buruk-buruk amat. Paling tidak kami punya tempat nongkrong yang asik. Aku dan Lia janji mau datang lagi. Bawa laptop dan main wifi.

Kamis, 25 April 2013

(Day 2) Hello, Schedule

Diposting oleh sachakarina di Kamis, April 25, 2013
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Jadwal pertama hari ini adalah Grammar for Speaking at Elfast pukul 7 pagi. Aku dan Lia udah bangun pagi-pagi untuk siap-siap. Well, Pare ini panas, tapi airnya di pagi hari sangag dingin, brrrr...
Elfast lumayan jadi, kalau jalan lumayan juga. Jadi kami mampir di sebelah kosan sewa sepeda.

Sengaja pilih warna biru biar identitas ELFnya kelihatan hehehehe. Berapa lama , ya, aku enggak naik sepeda? Rasanya perlu menyesuaikan diri.

Kami tiba di Elfas beberapa menit sebelum pukul 7. Kelas kami di ruangan 7 Summaries, berhadapan dengan mushola. Tapi sampai pukul 7 lewat belum ada tanda-tanda kelas akan dimulai. Elfast enggak mungkin dong pakai jam karet? Eh, ternyata Miss Nisa yang biasa mengajar sakit, jadi ada Miss pengganti. Oke, sampai detik ini aku lupa nama Missnya :D

Pelajaran pertama dimulai. Kami dipasang-pasangkan dan diminta saling berkenalan, kemudian kami diminta menjelaskan tentang tentang teman kami, dalam bahasa Inggris selama 3 menit. Jika diminta menjelaskan di depan kelas, 3 menit itu terasa lama sekali. Lia bahkan membuat Miss memohon-mohon karena dia tidak tahu mau menjelaskan apalagi, she is so shy. Aku adalah orang terakhir, agak kagok sih. Pakai bahasa Indonesia aja aku susah ngomong di depan umum, apalagi bahasa Inggris. Banyak hal yang kukhawatirkan dan takutkan. Selain jadi tiba-tiba blank (bahkan bahasa Inggrisnya iri sempat aku lupa), juga khawatir salah penyebutan dan banyak lagi.

Kelas berakhir pukul 8.30, rencananya mau jalan-jalan keliling Pare sampai pukul 10, tapi matahari terlalu terik dan kami lelah jadi kami memutuskan pulang ke kosan aja. Kami beli jus buah dulu. Kurang lima belas menit pukul 10, kami berangkat ke Peace, kelas Bridge Speaking.

I think Mr. Shihab is a funny person. I like when he is talking. Sayangnya enggak bisa ngambil foto di kelas itu. Kelasnya rame, sekitar 15 orang. Pertemuan pertama jelas perkenalan. Kami diminta berdiri saling berhadapan lalu saling berkenalan. Dalam beberapa menit kami diminta bergeser dan berganti teman.

Lelah. Bertanya dan menjawab hal-hal sama pada orang berbeda. Tapi bukan itu yang bikin capek, tapi teriak-teriak lantaran kelas sangat bising.

After that, kami kembali ke tempat masing-masing. Mr. Shihab memberitahukan hal-hal yang salah dan membenarkannya. Kemudian kami dipisah jadi dua baris lagi dan diminta duduk saling berhadapan. Satu menjadi anak dan satunya lagi menjadi orang tua. Ya, aku jadi Mommy lagi :D

Tugas anak adalah berusaha meyakinkan orang tuanya untuk segera menikah, dan tugas orang tua adalah menolak setegas-tegasnya pilihan anak. Its fun. Tapi setelah latihan, aku jadi sangat lelah dan haus. Enggak terasa kelasnya sudah selesai.

Aku dan Lia pulang, mampir makan siang dulu. Dikosan aku langsung tidur sedangkan Lia mencuci. Pukul 4 kurang, kami ke Elfast lagi untuk study club grammar for speaking. Kami diminta duduk berhadapan kemudian diminta menggambar gajah tanpa komunikasi dengan teman. Hasilnya? Enggak usah ditanya deh :D

Kami diminta untuk menjelaskan tentang kampung halaman kami. Cuma dua orang yang naik karena mereka menghabiskan terlalu banyak waktu. Bagaimana tidak, kami semua begitu bersemangat bertanya tentang kota mereka.

Study club berakhir pukul setengah enam, aku dan Lia langsung keliling kota, nyari atm. Ke kotanya Pare. Enggak sesepi yang kubayangkan sih. Masih sedikit lebih rame dari Sinjai kupikir.

Ya hari ini cukup menyenangkan. Semoga besok-besok juga. Amin.

Tapi, ada aatu orang yang seharian ini nyuekin aku. Nggak asik banget, untung ada kesibukan lain yang bisa mengalihkan perhatian :D

Rabu, 24 April 2013

Foto Pare Day 1

Diposting oleh sachakarina di Rabu, April 24, 2013
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

(DAY 1) Selamat Pagi, Pare

Diposting oleh sachakarina di Rabu, April 24, 2013
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Hola, Pare...
Akhirnya ada di sini juga setelah perjuangan panjang menunggu seharian kemarin.

Nah, untuk (paling tidak) dua bulan ke depan, aku akan menuliskan hari-hariku selama belajar di sini untuk mengabadikan kisah-kisahku. Sudah cukup lama juga tidak blogging, jadi, dimulai dengan menulis jurnal harian saja deh.

Kesan pertama di Pare? Aku belum terkesan sama sekali sih karena kami tiba pukul sepuluh malam dan enggak ada sama sekali yang bisa dilihat, apalagi aku antara sadar dan tidak sadar, baru bangun tidur soalnya dan sudah kelelahan, seluruh badan remuk-redam. Yang terbayang-bayang di pikiranku hanyalah kasur.

Perjalanan kali ini rasanya penuh cobaan. Bagaimana tidak, sehari sebelum pemberangkatan aku ditelepon CITILINK katanya pemberangkatan pesawat ditunda hingga pukul 13:15 WITA. Rasanya kesel banget, sengaja ambil pesawat pagi supaya bisa cepet tiba, tapi mau marah-marah juga nggak ada gunanya, cuma bikin capek. Masalahnya, Lia berangkat dari Palopo, tiba pukul 5:30 di Bandara, Lia bahkan sudah nelpon sebelum ak6 bangun. Jadilah Lia menunggu lama sampai aku datang.

Pukul 09:30 saya tiba di Bandara, Kak Dewi juga datang dan kami menunggu sampai jam 11 sebelum aku dan Lia masuk untuk check in. Kami masuk ke ruang tunggu setelahnya. Mulailah kami menunggu lagi sampai pukul 1. Foto-foto, ngobrol, melakukan apapun untuk menghabiskan waktu yang membosankan. Pukul 13:15 pesawat boarding. Saatnya terbang....

Aku selalu benci terbang. Ada tiga hal yang tidak kusuka: take off, saat di udara dan landing. Kalau disingkat, aku benci semuanya. Aku bukan pecinta ketinggian, membayangkan aku ada di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut membuatku ngeri.

Beberapa menit setelah lepas landas, Lia mulai tertidur, aku juga membaca. Sedang asyik-asyiknya membaca, pemberitahuan mengenakan sabuk pengaman terdengar, pesawat sedang melintasi daerah dengan cuaca buruk. Lima menit kemudian pesawat mengalami turbulen. Lia terbangun karena pesawat berguncang. Aku sudah tidak bisa fokus membaca. Bagaimana tidak, turbulensi adalah hal yang paling tidak kuinginkan selama naik pesawat. Jadi teringat kisah Gadis dan Troy di buku Carla M. Nashar. Sayangnya yang kualami bukan sekedar fiksi, bukan khayalan yang dibangun imajinasiku. Ini nyata. Dan ini mengerikan.

Lia yang terbangun mengajakku mengobrol untuk mengalihkan perhatian. Aku tahu dia sama kaget dan tidak sukanya sepertiku. Namun akhirnya, setelah sepuluh menit, atau mungkin lebih cepat atau lebih lama, pesawat terbebas dari cuaca buruk. Aku menutup bukuku dan mencoba untuk tidur, aku terbangun sesaat sebelum pesawat landing di Juanda.

Perjalanan masih panjang.

Tiba di Bandara pukul 2 siang. Baru mengaktifkan ponsel, aku sudah di telepon Kak Dheny dari Booster yang mengatakan bahwa travel yang menungguku sudah pergi, disuruh nunggu lagi sampai pukul 4 sore. Enggak ada pilihan selain menunggu. Aku mengajak Lia makan siang, dia enggak mau jadi cuma aku aja. Kami makan di A&W. Pukul 4 aku di telepon sopir travel suruh nunggu setengah jam lagi karena beliau masih menjemput. Dan sampai pukul 6 magrib, belum ada tanda-tanda jemputan akan datang. Kami udah lelah selelah-lelahnya. Punggungku mulai sakit serta bosan setengah mati. Lia malah lebih parah dia belum mandi sama sekali hari itu. Kalau hari itu ada penghargaan kesabaran, mungkin kami bisa menyabetnya.

Menunggu itu kadang-kadang melelahkan, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa selain terus menunggu karena kita tahu hanya itu satu-satunya pilihan. Aku dan Lia berusaha tidak banyak mengeluh yang makin menguras tenaga. Dan akhirnya sekitar pukul 7 lewat, pak Sopir datang dan kami berangkat ke Pare.

Sepanjang jalan ya cuma tidur aja, sudah lelah sekali. Kami tiba pukul 10 lewat, langsung masuk kamar, merentangkan tubuh sebentar lalu berbenah-benah. Sialnya, ternyata headsetku tercecer di Bandara Hasanuddin. Ya sudah, mesti cari yang baru lagi.

Saat menulis ini, aku masih di kamar, baru bangun tidur. Belum menengok Pare di luar. Tapi dari dalam kamar terdengar sepi sekali. Setelah Lia bangun dan setelah kami mandi mungkin pergi mengkonsultasikan mau ambil paket belajar apa dan nyari sepeda biar bisa jalan-jalan keliling kota, juga kenalan dengan teman-teman kosan lain.

So, selamat datang di Pare, Cha. Semoga dirimu betah ^_^

 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review