Rabu, 09 Januari 2013

Rumah Kenangan

Diposting oleh sachakarina di Rabu, Januari 09, 2013
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini


Rumah tempat seluruh generasi bertumbuh


 
Bagi setiap orang rumahnya adalah istananya. Namun mungkin pengecualian untuk rumah ini. Rumah yang hampir sebagian orang menganggapnya sebagai istana walau mungkin hanya sejenak. Rumah itu jadi tempat seluruh generasi tumbuh besar. Rumah yang penuh sejarah.

Rumah itu tempatku tumbuh besar bersama sepupu-sepupu dan halamannya yang luas mengajari kami banyak hal serta meninggalkan banyak sekali kenangan.

Seperti tangga batunya yang kokoh. Tidak sedikit yang pernah jatuh dari sana. Seperti Fera, salah seorang sepupuku yang terjatuh karena pakai heel kebesaran untuk kakinya. Waktu itu kami akan pergi berbelanja dan batal karena Fera jatuh dan menangis. 

Tangganya jadi tempat mengobrol yang cukup nyaman
 
Atau pohon beberapa pohon rambutan yang dijadikan istana oleh kami bersepupu. Sepupu tertua dianggap sebagai raja. Dan aku, yang waktu itu adalah yang termuda dan paling takut ketinggian hanya bisa memanjat hingga dahan terendah (itu sudah cukup membanggakan), menunggu dijulurkan rambutan ranum karena aku jelas tidak bisa mengambil sendiri.

Ian pernah jatuh dari pohon rambutan itu, anggap saja dia kualat karena melempariku yang ada di dahan paling bawah dengan kulit jeruk. Ketika dia bergerak dan menginjak ranting mati, keseimbangannya hilang, ditarik oleh gaya gravitasi dan menghantam batu yang ada di tanah. Bibirnya sobek dan berdarah. “Kakak Ian muntah darah,” teriak Syukran girang. Mungkin berpikir akhirnya dia bisa melihat adegan muntah darah seperti di film-film laga China langsung di depan mata.
Sayangnya pohon itu sekarang sudah mati :(


Atau lantai-lantai kayunya yang menjadi tempat sampah paling praktis kalau sedang malas. Tinggal selip di antara papan, sampah sudah jatuh ke tanah. Lantai itu akan menimbulkan derit setiap kita melangkah dan sampai sekarang aku sangat senang berjalan dengan kaki dihentak-hentakkan untuk menghasilkan suara bising.

Di sebelah rumah yang lain ada pohon manggis yang tumbuh sangat lebat. Sepertinya itu adalah pohon manggis pertama yang ada di Bikeru. Di sebelahnya ada pohon sawo yang selalu aku hindari saat sedang sakit. Buahnya yang masih muda memang obat cukup mujarab namun rasanya yang pekat tidak pernah bisa aku nikmati sama sekali. 

Pohon manggis dan sawo manila
buah manggis


Ada pohon enau di pagar belakang rumah. Kami biasa menebang pelepahnya untuk dijadikan kerangka ketika akan membuat rumah-rumahan dan daunnya kami ambil untuk dianyam dijadikan alas duduk. Pernah sekali, kami menyelundupkan daun-daun enau itu ke kamar belakang melalui jendela karena kalau ketahuan kami jelas tidak diizinkan membawanya masuk. Lidi-lidinya juga berguna untuk dijadikan sapu.

Tanaman kembang sepatu ditanam di depan rumah, sebelah tangga batu. Warnanya putih namun kian hari bunga warna pink jadi sering muncul dan sekarang perbandingan antara warna putih dan pink nyaris sama banyak. Bisa belajar persilangan di sana :D

satu tanaman. dua warna. menarik
 
Terlalu banyak kenangan yang terjadi di sana. Berendam diam-diam di kolam kamar mandi yang kecil, tanpa sengaja meledakkan korek api di dapur, membuat jus yang tidak jelas bentuknya (Rambutan, jeruk, timun dan segala jenis buat yang bisa kami temukan dijadikan satu), meledakkan kompor hingga nyaris membakar seluruh dapur (Sungguh, ini bukan aku. Aku masih terlalu kecil waktu itu dan hanya mendengar cerita om dan tante :D), tempatku menghabiskan masa-masa remajaku dan yah, mungkin juga tempatku jatuh cinta :) 
 
Memang banyak hal yang terjadi di rumah itu. Tempat menangis, berkelahi, marah, berbagi rahasia, tertawa, saling diam dan berbagi. Jika, ada hari di mana waktu akan membuatnya menyerah untuk tetap berdiri, maka kenangannya akan selalu abadi. 

 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review