Senin, 28 November 2011

Random (Drama part 1)

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 28, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Setting: Tempat tidur di kamar Alia, sambil ngemil waffle.


(Dua gadis cantik sedang cakap-cakap seru)


Alia : Sekarang aku ada pacar, rasanya aneh.


Cha : Aku nggak punya, cariin dong! Nggak cuma harus ganteng, tapi juga kaya :D


Alia : Wah, susah tuh. Biasanya yang kaya nyarinya juga yang kaya.


Cha : Aku kan kaya....


Alia : Kaya... imajinasi....


(Tawa meledak)


Published with Blogger-droid v2.0.1

Minggu, 27 November 2011

Super Show Singapura

Diposting oleh sachakarina di Minggu, November 27, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Eaaaa, pagi-pagi udah galau aja gara-gara Super Show. Berhubung karena Indonesia nggak ada jadinya ELF INDO pada rame-rame ke Singapura. Tiap buka twitter pasti liat info itu. Ah, galau-galau.


Kemarin ada KIMCHI dan enggak diizinin, ya udah kali ini ngerengek-rengek buat ke Singapura. Setelah sms mama dan papa barengan, aku di telepon mama dan dengan entengnya mama bilang kalau cuma sejuta besok langsung dikasi. Aish, sejuta mana cukup, nyampe Jakarta aja enggak apalagi Singapura.


Aku minta sepuluh juta dan rasanya kayak dipilin-pilin, sepuluh juta itu nggak sedikit dan sama sekali nggak sebanding dengan apa yang aku kasih ke mama. Emang sih semuanya nggak bisa diukur dengan uang. Tapi mama udah ngasih segalanya dan aku sedikitpun nggak pernah bikin mereka bangga, melakukan sesuatu yang berarti di mata mereka.


Tapi mama nyuruh bikin sepuluh cerpen, aku jadi ghost writer-nya mama gitu. Aku bilang satu cerpen harganya satu juta. Hahahaha, obsesi ke Singapura. Kapan lagi coba keluar negeri dan nonton konser Super Junior sekaligus? Iya kan?


Mesti rajin nulis nih, ngirim ke penerbit dan bikin mama tahu kalau aku juga bisa. Kali aja mama tergugah dan ngasih izin ke Singapura, walaupun ngirim sekarang dan nggak mungkin diterima penerbit juga sih. Tapi suatu hari aku pasti bisa. Yeiy. Amiiiinnnnn


Published with Blogger-droid v2.0.1

Sabtu, 26 November 2011

Bukit Sikatamui

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, November 26, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini



Nianda berdiri di tepi jalan, ia memandangi  sebuah bukit yang dikelilingi sawah yang kini sudah mengering. Ia berusaha mengorek kenangan masa lalunya yang masih tersisa. Di bukit itu, tempatnya menghabiskan waktu bermainnya sepuluh tahun lalu kini tampak sangat berbeda.


Ia merindukan masa kecilnya.


***


“Aku punya rahasia.” bisik Radi.


Nianda menoleh kepada sahabatnya, sarat akan rasa penasaran. “Apa?”


“Aku menemukan sebuah bukit rahasia, hanya kita berdua yang tahu. Kau mau ke sana?” Nianda mengangguk dengan antusias, ia meninggalkan bonekanya di teras begitu saja. Bertualang jauh lebih seru.


Radi membawa Nianda melewati pematang-pematang sawah yang agak berlumpur. Para petani bersuka cita, hujan semalaman membuat debit air di sawah menjadi berlimpah. Kaki Nianda tenggelam di kubangan berkali-kali hingga membuat semua bajunya kotor, ia sudah menjinjing sendalnya sejak alas kakinya itu ikut tertinggal dalam kubangan lumpur dan Radi harus mencarikan untuknya.


Mereka tiba di sebuah bukit tidak lama kemudian. Bukit itu cukup kecil, diameternya sekitar tujuh meter dan hanya ada sebatang pohon mahoni yang tumbuh ditengahnya.


“Aku yang menemukannya, aku menamakannya bukit Sikatamui.” Radi berujar dengan bangga. Ia merasa seperti Cristopher Colombus yang menemukan benua Amerika.


Nianda mengedarkan pandangan ke sekeliling, di bawah sana terlihat sebuah jalan setapak yang bayak dilalui orang-orang. Ia tidak mengerti mengapa Radi mengajaknya melewati sawah yang rutenya memutar padahal ada jalan yang lebih mudah untuk dilalui, mereka tidak perlu kotor-kotoran begini. Bukit rahasia? Nianda tidak yakin bahwa ini sebuah rahasia karena semua orang sepertinya tahu (meski ia memang baru ke tempat itu) tentang bukit kecil itu. Setahunya, tempat rahasia adalah tempat yang tidak ada seorang pun yang tahu, bukan sebuah bukit yang tidak jauh dari mereka terlihat beberapa wanita yang nampak mencuci dan mandi di sumur di tepi sawah.


Tapi dunia anak-anak bukanlah dunia yang penuh logika. Nianda menyukai bukit ‘rahasia’ yang ditemukan Radi ini. Apalagi Radi hanya berbagi padanya.

“Kenapa namanya Sikatamui?”

“Karena…” Radi mencari alasan. “karena itu terdengar keren.” lanjutnya. Nianda tidak bertanya lagi karena ia sama bingungnya dengan Radi. Arti nama bukanlah masalah, yang penting ini adalah bukit mereka berdua.

Mereka bersandar di bawah pohon untuk waktu yang lama, matahari bersinar tidak begitu terik serta angin yang berhembus pelan membuat mereka seperti terbuai. Mereka mampir ke sumur yang saat ini sudah sepi untuk membersihkan lumpur yang sudah mengering di tubuh mereka lalu pulang melewati jalan setapak agar lebih dekat.


Dan Nianda paling suka ke tempat itu ketika pohon mahoni sedang menggugurkan daunnya saat musim kemarau datang, ia sangat suka moment dimana ia duduk di bawah pohon dan daun-daun kecoklatan itu menerpanya. Jika angin sedikit lebih kencang, Ia dan Radi akan berlomba menangkap buah mahoni yang ringan. Mereka harus mencuci tangan dengan bersih jika tidak ingin rasa pahit buah mahoni itu tetap menempel di tangan mereka.


Hari-hari yang indah.


***


“Kau merindukan tempat itu?” Nianda terlonjak kaget dan lamunannya buyar seketika, tahu-tahu Radi sudah ada di sebelahnya. Ia tidak benar-benar tahu bahwa sahabat kecilnya itu ada di desa kecil ini juga.


Belum sempat Nianda memberikan respon, Radi sudah mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya menuju bukit itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang tidak terdeskripsikan menyesup di hatinya namun ia menikmatinya.


Pohon mahoni itu sudah tidak ada, kini tergantikan bangunan kecil setengah jadi yang terabaikan.


“Bukit rahasia kita dulu kini jadi rahasia umum.” ujar Radi.


Nianda tertawa pelan, “Bukannya sejak dulu memang sudah rahasia umum? Kita saja yang tidak umum sehingga tidak mengetahuinya. Sayangnya, ada yang menebang pohon mahoni di sini.”


“Tapi dulunya kau sangat bahagia ketika pertama kali kuajak ke sini.”


“Itu karena aku masih anak-anak,”


Radi tampak kecewa, gadis di sebelahnya ini sudah penuh dengan logika, padahal ia ingin saat ini mereka digunakan untuk mengenang semua masa lalu itu, bermain-main dengan imajinasi. Mereka baru bertemu kembali setelah tiga tahun berpisah, ternyata jarak telah menciptakan jurang yang sangat jauh di antara mereka. Radi merasa dirinya konyol masih tetap mempertahankan kenangan masa kecil itu.


“Tapi bukit Sikatamui ini, akan jadi bukit ‘rahasia’ kita sampai kapan pun.” ujar Nianda, ia menoleh ke arah Radi sembari tersenyum manis. Senyum Radi ikut mengembang. Kenangan itu tidak akan pernah hilang di ingatan mereka, mereka akan selalu diikat oleh semua itu.


Benar kata Nianda, tempat itu akan selalu menjadi tempat rahasia mereka berdua, tak peduli berapa banyak orang lain yang tahu. Toh tak ada yang tahu bahwa mereka menutup pertemuan hari itu dengan sebuah kecupan manis di bibir masing-masing.


***


Cha.


Sumber Gambar: WeHeartIt


Published with Blogger-droid v2.0.1

Rabu, 23 November 2011

Random

Diposting oleh sachakarina di Rabu, November 23, 2011
Reaksi: 
1 komentar Link ke posting ini

Huaahh, kangen blog ini. Kapan terakhir aku posting-posting sesuatu? Rasanya udah lama banget ya. Maaf ya, Blogger. Aku lagi sibuk sama curhatan nggak jelas di wordpress setelah ikut #NovemberMenulisBlog. Hihihi


Aku baru download Blogger for android nih jadi bisa sering-sering posting lagi, soalnya aku jarang make modem sekarang. Kalau ada modem, kerjaan nggak ada yang jalan.


Sebulanan ini aku sibuk mengurusi #kelasFF di AFFS, jadi editor bareng Nadh @nadyyapratiwi dan Hye @choihyewook. Pekerjaan itu sebenarnya menyenangkan tapi bikin mata panas juga ngeliat tulisan yang berantakan banget. Kami bertiga punya misi yang sama: agar penulis-penulis pemula bisa menulis dengan baik dan benar. Aku juga pemula sih, tapi tulisanku (untungnya) nggak ber an takannya nggak parah.


Aku juga kerjain naskah No Other (dulu prolog dan bab satunya pernah aku posting di sini tapi udah dihapus, judulnya E.LF). Naskah itu untuk lomba Bentang Pustaka yang deadline tanggal 15 Desember. Harus segera selesai supaya aku bisa ngedit sebelum deadline, masih agak-agak rancu soalnya. Bagian awal-awal bertele-tele banget dan bagian akhir terburu-buru banget. Paling enggak, kalau udah diedit, cacatnya nggak parah. Hihihi


Dulunya sempat mau pakai draft lama yang udah selesai setengah, tapi pas aku edit, itu naskah hancurnya kebangetan. Ya udah, ngelanjut No Other aja.


Doain ya bisa segera beres dan dikirim. Menang itu hanya reward aja, yang penting adalah mengejar deadline. Kalau nggak menang kan naskahnya bisa dikirim ke penerbit, kali aja ada yang minat. Amiiiinnn


Oh iya, SS4 udah dimulai di Seoul minggu kemarin, kereeennn. Apalagi ada Sora di hari kedua. Aku jadi suka pasangan WGM Leeteuk dan Sora itu. Leeteuk yang romantis dan Sora yang malu-malu. Menyenangkan sekali menonton reality show itu. Hihihi


Udah yaaa randomannya, mau lanjut naskah lagi. Sampai jumpa dipostingan selanjutnya *lambai-lambai*


Published with Blogger-droid v2.0.1

Senin, 07 November 2011

Cobalah Menulis Dengan Tidak Asal!

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 07, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Sedang iseng membaca sekilas fanfic di blog sebelah, yang sangat sering menjadi pembahasanku dengan Nadh.  Aku bukannya sok pintar soal tulis-menulis, aku juga masih setahun menggelutinya tapi dalam rentang waktu itu, aku mencoba terus belajar dan sepertinya aku punya sedikit bekal untuk itu—meski bisa dibilang masih sangat minim.

Penulis mungkin saja bisa diartikan orang yang mampu menulis. Tapi dalam hal menyajikan cerita untuk disuguhkan kepada orang lain tidak semudah itu. Kita harus memperhatikan banyak hal (lupakan soal ide, di sini kita menganggap ide semua orang bagus) terutama mengenai tata bahasa. Apa nggak malu menyajikan sebuah cerita yang banyak typonya? Salah susunan kalimatnya?

Di blog sebelah itu, saya sedikit tertarik dengan penggunaan kata teaser dan prolog dalam ceritanya. Untuk ukuran tulisan sepanjang  yang ditulis author itu, aku pikir itu tidak bisa dikategorikan sebagai teaser ataupun prolog. Teaser atau prolog hanyalah pemancing pembaca, singkat. Aku mengomentarinya, memberikan pendapatku.

Aku jadi sebel gara-gara komentar orang itu, yang seolah-olah mengatakan aku tak tahu apa-apa mengenai teaser dan prolog, tentang sebuah penulisan. Aku bisa sombong dengan mengatakan bahwa aku sudah tiga kali memenangkan lomba fanfic. Perlukah aku memperlihatkan kepadanya agar dia tidak terlalu merendahkanku? Huh.. 

Aku jadi ingat saat naskah #sesal dibantai habis-habisan sama Mbak Clara Canceriana (Penulis Rain Affair). Jleb.. Jleb banget gitu dan salah satu yang menjadi sorotan adalah prolog yang lumayan panjang (3 halaman, spasi 1). Mbak Clara mengatakan itu bukanlah teaser, dan lebih baik dijadikan bab awal. 

Ini isi evaluasi dari Mbak Clara:

Oh, ya. Soal prolog (maap, mendadak inget, jadi agak random). Aku pernah mengajukan prolog di naskah Rain Affair yg berbuntut dieksekusi. Sama kayak punyamu, tapi prolog itu nggak seperti itu. Prolog itu bukan adegan yang panjang. Prolog itu sekedar pancingan makanya biasanya prolog harus sesuatu yang membuat orang penasaran. Nah, karena di naskah ini prolognya seperti bab 1, aku rasa itu dijadikan bab pembuka saja (ini juga yang bikin Rain Affair nggak punya prolog TT TT)
Pun dengan epilog.

Kalau aku sih lebih suka dibilangin tulisanku lebih jelek daripada dielu-elukan bagus padahal kenyataannya enggak bagus >.< tapi bukan berarti aku mengatakan tulisan orang itu jelek ya, aku hanya mempermasalahkan mengenai pengertian teaser dan prolog itu.

Menulis juga termasuk sebuah pekerjaan jadi perlakukan dengan professional. Dan kita menulis dengan untuk orang lain, jadi cobalah menulis dengan tidak asal.
 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review