Rabu, 20 Juli 2011

Dilema

Diposting oleh sachakarina di Rabu, Juli 20, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

I think i like him, but i think he love her.

Aku tak tau gimana mendefenisikannya. Dia ganteng. Jelas. Lucu dan menyenangkan.

Awalnya, kupikir ini semua hanya pura-pura. Hanya permainan ego dengan sahabatku. juga kupikir dia menyukai gadis itu dan gadis itu juga ada rasa walau sedikit.

Aku tak ingin bermimpi lagi. Aku lelah. tapi setiap dia dengan tiba-tiba menatapku, aku merasa semua salah. Apa yang aku rasakan salah.mungkinkah aku menyukainya?

Aku terlalu banyak berharap. Berharap aku bisa bertahan untuk berada di sekitarnya bahkan sudah lebih dari cukup. Tak ada lagi harap bahwa dia akan menjadikanku yang terindah untuknya. Aku tak ingin menambah derita.

Location : Address not available
Posted via Blogaway

Sabtu, 16 Juli 2011

Buenas Noches, Querida

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Juli 16, 2011
Reaksi: 
2 komentar Link ke posting ini
Aku mengenggam tangan gadis yang sedang terlelap di atas tempat tidur di dalam ruangan bernuansa hijau muda, jarinya terasa dingin. Aku menoleh ke kanan dan bergidik ngeri melihat berbagai jenis alat kedokteran yang melekat di tubuhnya. Semua alat itu seolah berdetak menghitung jumlah hari yang masih mampu dilaluinya. Penyakit Leukimia terus menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit.

Namanya Zella Thania Jacinda. Dia meminta untuk dipanggil Jaci.

Pertemuan pertama kami di supermarket tidaklah spesial, satu-satunya yang spesial hanyalah dirinya sendiri. Dia tampak menonjol di antara ribuan orang yang ada di tempat itu, enam bulan yang lalu. Dia cantik. Jelas.

Sebelum kami saling mengenal lebih dekat, aku kesulitan mendeteksi darimana sebenarnya dia berasal. Matanya terlalu lebar untuk ukuran gadis Korea, dan paras wajahnya tampak berbeda. Rambut cokelat sepunggungnya dibiarkan tergerai, dihiasi jepitan kuning yang terlihat lucu. Bibirnya menyunggingkan senyum menawan.

“Ayahku campuran Amerika Latin dan Indonesia, sedangkan Ibuku orang Korea. Itu sebabnya aku tampak aneh.” katanya padaku beberapa hari kemudian saat kami bertemu kembali di sebuah café.

Tak ada yang aneh dalam dirinya. Dia sangatlah menakjubkan. Wajah khas Latinnya tampak indah, hidungnya mancung. Matanya agak lebar dan berwarna cokelat susu, pasti dia mendapatkan mata indah itu dari gen Indonesia-nya. Dan kulitnya putih mulus, tak ada bintik hitam sedikitpun seperti orang-orang Latin lain. Dia jelas sangat indah. Dan semua itu bukanlah sebuah rekayasa kedokteran. 

Dia sama sepertiku, sangat senang memasak. Tapi dia jauh lebih hebat. Dia terobsesi untuk belajar membuat segala jenis masakan dari berbagai belahan dunia. Dia juga sangat menyukai Super Junior meski awalnya dia tidak mengenaliku sebagai salah satu penyanyi utama di Super Junior.

“Aku lahir di Meksiko dan menghabiskan sebagian masa kecilku di Korea hingga aku berumur enam tahun, lalu aku kembali ke Meksiko untuk menyelesaikan sekolahku. Aku hanya mengunjungi Indonesia sekali-sekali. Aku punya seorang teman di sana yang memiliki nama sama denganku, kami berkenalan di salah satu website yang sering aku kunjungi. Hahaha,Jaci tertawa setelah menceritakan tentang dirinya. “Aku seharusnya tidak menceritakan semua cerita tidak penting ini padamu. Aku memang agak konyol.”

“Tidak.” jawabku cepat. “Aku suka mendengarmu bercerita.”

Suara soprannya terdengar merdu. Logat Koreanya terdengar aneh karena tercampur dengan logat lain. Aku menyukainya. Aku menyukai segala tentangnya. Aku tak menyangka bahwa untuk menyukai seseorang hanya memerlukan waktu yang singkat. Aku benar-benar jatuh padanya. Cinta itu telah meretas.

Pembicaraan kami melompat-lompat dari topik yang satu ke topik yang lain. Bersama dengannya, kau tidak perlu berpikir akan membicarakan apa lagi setelah pembicaraan terakhir berakhir, dia akan memberi topik baru yang tidak kalah asyik untuk dibahas. Dia selalu menceritakan keindahan kota tempatnya tinggal, sebuah Negara yang terletak di Amerika Utara.

Di Seoul aku tinggal bersama sepupuku, dan kau adalah teman pertama yang aku temui. Apakah kau ingin menjadi temanku seterusnya?” Aku mengangguk antusias. Raut wajahnya langsung berubah  kecewa. Apa yang salah? “Sayang sekali. Padahal aku ingin kau menjadi sahabatku, bukan hanya sekedar teman.” Dia melanjutkan.

Alisku berkerut. Baiklah, aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya. Dan kata-kata yang 
dikeluarkannya membuatku bingung. “Aku ingin menjadi sahabatmu, jika kau menginginkan itu. Lebih dari sekedar teman.” Dia berbinar ceria mendengar ucapanku. “Aku bahkan bersedia menjadi pacarmu jika kau mau.” candaku.

“Hahaha, aku hanya membutuhkan sahabat. Bukan pacar yang akan kutinggal pada akhirnya.”

Heh? 

Saat itu aku baru mengenalnya beberapa hari. Kali ini aku tahu semua. Seiring waktu yang kami habiskan bersama hingga aku bisa mengenalnya lebih dalam. Dia telah menyembunyikan sesuatu dariku. Dia menyembunyikannya dengan sangat baik.

“Ryeowook.”

Aku tersadar dari lamunanku saat tangan yang kugenggam bergerak. Aku menoleh ke arah Jaci yang terbaring lemah.

“Kau bangun?” tanyaku dan dia mengangguk.

“Aku lelah tertidur. Aku ingin keluar. Aku ingin ke pantai.” Suaranya terdengar lemah.

Penyakit Leukimia itu bahkan nyaris menghabiskan suaranya. Itulah yang selama ini disembunyikannya dariku. Penyakitnya.

Dia tidak pernah bercerita tentang penyakitnya padaku. Yang lebih menyakitkan adalah aku harus mengetahuinya sendiri setelah dia jatuh pingsan saat kami menghabiskan waktu bersama dengan memasak di dapur kecil di apartemennya, aku sangat panik saat itu apalagi setelah itu aku dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang kucintai harus berjuang melawan sebuah penyakit mematikan. Aku tak akan tahu siapa yang akan menang nantinya.  

“Hmm.” Aku hanya bergumam pelan lalu mengelus tangannya yang ditusuk jarum infus. Rambutnya sudah habis, tubuhnya makin kurus, pipinya kian tirus, tapi garis-garis kecantikan di wajahnya tetap tampak.

Aku tak bisa berkata banyak untuk menyenangkannya, aku tak bisa menjanjikan sesuatu padanya yang aku sendiri tidak tahu bisa aku tepati atau tidak.

Rasanya air mataku sudah ingin tumpah tapi berusaha aku tahan sekuat tenaga. Aku tak boleh menitikkan air mata di depannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa membantu memompa semangatnya untuk bisa tetap bertahan. Bukan seseorang yang akan meruntuhkan semua pertahanannya.

“Jangan sedih, aku akan segera sembuh dan menghabiskan seluruh waktuku denganmu. Kita akan berkencan di pantai. Kau mau kan?” bisiknya lirik, tangan kurusnya bergerak menyentuh pipiku dan mengelusnya.

Jaci adalah orang paling optimis yang pernah aku kenal, dengan semangat hidup yang tinggi dan kepribadian-kepribadian yang tidak kalah cantik lainnya. Mungkin itu sebabnya aku sangat mencintainya.

Aku tahu tak banyak harapan untuk Jaci bisa bertahan, tapi tak ada yang tahu rahasia Tuhan tentang ajal dan umur manusia. Aku hanya berharap bisa bersama dengannya lebih lama.
Jaci mengangkat kepalanya. “Bantu aku!” katanya. Aku langsung bangkit dari posisiku untuk membantunya. Dia duduk di tepi tempat tidur sembari menungguku yang sedang mengambil kursi roda untuknya.

Jaci suka menikmati pemandangan Seoul sore hari dari balik jendela kamar rumah sakit yang mengungkungnya selama berminggu-minggu. Pemandangan dari sana sebenarnya tidaklah indah, hanya gedung-gedung pencakar langit dan mobil yang berlalu-lalang di bawah, tapi itu semua tetap  membuatnya tersenyum.

“Ryeowook,” panggilnya, aku hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang jauh menembus kaca. “Kau percaya reinkarnasi?”

Aku mematung mendengar kalimatnya, mendadak langit kelam karena mendung menjadi sangat menarik perhatian.

Aku tak pernah suka jika Jaci mulai membahas masalah itu lagi jadi aku hanya terdiam. Aku tak ingin menjawab. “Ayolah, Ryeowook. Aku kan cuma bertanya.” rengeknya.

“Kamu tahu aku nggak percaya.” jawabku acuh tak acuh pada akhirnya.

“Aku juga tidak, tapi aku ingin berandai-andai.” ujarnya, meski dia tahu bahwa aku tidak suka membahas topik seperti ini dia tetap melanjutkan kalimatnya karena dia juga tahu bahwa aku tak mungkin tidak mendengar apa yang akan dia katakan. “Kalau aku meninggal—”

Jaci, tolong. Jangan sebut kata itu.Aku tidak tahan lagi, Aku tidak pernah bisa membayangkan jika Jaci meninggal.

“Semua orang kan pasti meninggal. Tinggal menunggu waktu saja.” Aku sangat sebal saat dia keras kepala seperti saat ini, dia terus melanjutkan. “Kalau aku meninggal dan bereinkarnasi aku pengen jadi burung, yang bisa terbang bebas ke mana pun dia ingin pergi. Tak ada melarang dan membatasi. Bisa bermain ke awan. Bebas, tak ada halangan.Mata Jaci tampak menerawang, sebuah senyum tersungging di bibir pucatnya.

Air mata, jangan jatuh sekarang. Tolong!

***

Sebulan berlalu begitu cepat tapi aku bersyukur karena Jaci sudah jauh lebih baik. Aku tak ingin membayangkan jika penyakitnya kembali kambuh. Dia tak pernah ingin tinggal di rumah, setiap aku tidak ada kegiatan dengan Super Junior dia selalu mengajakku ke manapun dia mau pergi. Kami berjalan-jalan keliling kota dan banyak kegiatan lain tapi kami belum pernah ke pantai, seperti janjiku dulu. Aku takut dia kelelahan nantinya.

Hari ini aku menjemputnya karena dia ingin ikut pesta yang diadakan oleh orang tua Siwon Hyung. Sejujurnya, aku lebih suka jika dia tinggal saja di rumah tapi dia memaksa ikut dengan alasan tidak ingin kehilangan sebuah moment berharga.

“Berkumpul bersama semua member  Super Junior adalah moment berharga. Aku tak ingin kehilangan moment itu.”

Jaci memang kenal dengan seluruh member Super Junior. Dia pernah hadir di konser kami, dan member yang lain juga kadang datang berkunjung saat Jaci berada di rumah sakit.

Dia mengenakan gaun berwarna merah selutut, kepalanya yang sudah kehabisan rambut ditutupi dengan wig berwarna cokelat sebahu. Agar tampak lebih cantik adalah alasan yang diutarakannya saat aku bertanya mengapa dia harus mengenakan sebuah wig. Aku pikir tak perlu, dia selalu tampak cantik kapanpun itu.

Kaki jenjangnya juga dihiasi dengan stiletto berwarna sama. Bibirnya dipulas dengan lipstik berwarna pink, meski begitu, aku masih bisa tahu bahwa dibalik warna itu, bibirnya sangat pucat.

Nada-nada pelan piano mendenting pelan, membuat suasana terasa nyaman. Aku melirik panggung kecil yang ada di bagian depan. Leeteuk Hyung sedang menunjukkan kemampuannya memainkan piano.

“Kau tidak apa-apa? Kalau kau sakit, kau bisa beristirahat di rumah. Aku bisa mengantarmu pulang sekarang.” kataku. Jaci menggeleng pelan, dia menggandeng tanganku lalu menyeretku turun ke lantai dansa. Dia melingkarkan tangannya di leherku, aku melingkarkan tangan di pinggangnya dan kami mulai bergerak pelan mengikuti alunan irama lagu yang pelan.

“Aku mencintaimu.” bisikku.

Dia mengangguk pelan sembari menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku terdiam di tengah lantai dansa saat tangannya yang sedari tadi terus melingkari leherku perlahan melonggar sampai akhirnya lepas sama sekali.

Mimpi buruk itu lagi!

Jaci jatuh terkulai dipelukanku.

***

Kamar bernuansa hijau muda itu lagi, dengan wangi desinfektan yang menusuk hidung. Gadis yang sama yang terkulai lemah tidak berdaya di atas tempat tidur. Melihatnya, dadaku seperti tertusuk ribuan jarum. Berdenyut perih.

Tuhan, kenapa ini yang harus terjadi padaku saat aku menemukan seorang belahan jiwa. Orang yang aku cintai dengan sungguh-sungguh.  

Sudah dua hari aku menunggui Jaci di sini sejak dia terjatuh dengan tiba-tiba di tengah dansa kami yang belum usai. Aku merasa lelah, tubuhku meronta meminta untuk diistirahatkan barang sebentar saja, tapi aku tak bisa beranjak sedikit pun. Bagaimana jika Jaci terbangun dan tidak ada orang sama sekali di dekatnya? Aku ingin menjadi yang pertama yang dilihatnya saat dia terbangun nanti.

Jadwalku berantakan, banyak show yang aku tidak hadiri, sekalipun aku hadir, aku tidak bisa bernyanyi dengan begitu baik. Untung saja Leeteuk Hyung dan member lain mengerti bagaimana posisiku saat ini dan mereka selalu mendukungku, selalu ada kapanpun aku butuh.
Kudengar pintu kamar membuka, aku tidak menoleh. Aku hanya memandangi wajah Jaci yang terlelap dengan wajah damai.

“Ryeowook, kau juga harus istirahat. Pulanglah!” suara itu milik sepupu Jaci, suaranya terdengar lemah. Dia pasti sama sedihnya denganku.

“Nanti saja, Nuna. Aku masih ingin lebih lama di sini.”

“Aku tahu kau tak ingin berpisah dengannya, tapi Jaci pasti juga tak ingin jika kau ikut sakit nantinya.”

Apa yang dikatakan Chi Sae Nuna mungkin ada benarnya. Pundakku disentuh pelan olehnya. “Pulanglah, Ryeowook. Kau pasti orang pertama yang akan kuhubungi jika dia terbangun nanti.”

Aku akhirnya memutuskan untuk pulang, dan terkejut mendapati Siwon Hyung di lobi rumah sakit. Dia langsung bangkit begitu melihatku. 

Hyung, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, dia tidak menjawab, hanya terus berjalan menuju pintu keluar. Sejak kapan Siwon Hyung ada di rumah sakit? Apakah dia sengaja menungguku?

“Masuklah!” Aku lepas dari lamunan yang sempat menyergap saat Siwon Hyung menyapa setelah memberhentikan mobil tepat di depanku.

Ne,” Aku segera membuka pintu mobil dan duduk di jok depan. Sepanjang jalan aku hanya terdiam. Aku tiba-tiba teringat sebuah mitos yang mengenai seribu burung kertas yang bisa mengabulkan permintaan.

Aku punya permintaan. Hanya satu. Apakah itu bisa terkabul?

Hyung, apakah kamu percaya tentang mitos burung kertas itu?” tanyaku memecah keheningan.

Siwon Hyung menoleh, dia terdiam sebentar sebelum akhirnya bersuara, “Mungkin. Tapi sesungguhnya keyakinanlah yang membuat semua itu menjadi nyata. Kekuatan hati. Burung kertas hanya sekedar objek. Orang-orang membuat sebuah permohonan dengan sungguh-sungguh sembari melipat kertas origami dengan keyakinan bahwa sesuatu itu akan menjadi nyata. Pada akhirnya, orang-orang menganggap bahwa burung kertaslah yang mengabulkan permohonan itu.”

“Umm, aku juga berpikiran begitu.” gumamku lalu kembali terdiam.

“Ryeowook, kau ingat kan kalau besok kita harus ke Thailand untuk Super Show?” Aku ingat tapi rasanya aku tak ingin mengingatnya, aku tak ingin meninggalkan Seoul saat ini. Bagaimana dengan Jaci? “Kami mengerti bagaimana posisimu saat ini, tapi Super Junior juga sangat membutuhkanmu. Hanya sehari. Semua pasti baik-baik saja. Jaci pasti baik-baik saja.” tambah Siwon Hyung, seolah bisa membaca apa yang ada di pikiranku.

Aku terus saja terdiam. Mungkin kali ini memang untuk Super Junior.

Jaci akan baik-baik saja. Pasti.

***

Aku mulai melipat kertas untuk membuat origami, setiap waktu luang, sesedikit apapun itu, aku gunakan untuk membuat burung kertas dengan satu permintaan agar Jaci bisa bertahan lebih lama, agar aku bisa bersama dengannya lebih lama. Hanya itu.
Saat ini kami baru saja sampai di dorm setelah kembali dari Thailand. Member yang lain sedang tertidur tapi aku masih sibuk dengan kertas-kertas origami dan permohonanku sendiri.

Burung kertas buatanku mulai menggunung.

Satu.

Sepuluh

Seratus

Dua ratus

Bel pintu dorm diketuk, karena tidak ada satupun orang yang terbangun saat ini, mau tidak mau aku harus bangkit untuk membuka pintu meski rasanya malas sekali. Kulihat siapa tamu yang datang itu di monitor yang ada di samping pintu. Mataku membelalak.

Jaci.

Kapan dia keluar dari rumah sakit? Mengapa aku tidak tahu?  Mengapa dia tidak memberitahuku? Lalu bagaimana jika dia melihat burung-burung kertasku?

Aku batal membuka pintu, dengan segera aku kembali masuk ke ruang tengah untuk membereskan semua burung-burung kertas itu, aku memasukkan semuanya ke dalam kardus lalu mendorongnya masuk ke bawah meja.

Tadaaa..” teriak Jaci begitu aku membuka pintu. Dia membawa keranjang piknik besar berwarna merah tua. Mata lebarnya seketika menyipit begitu melihat keadaanku yang begitu berantakan, dia mendelik ke arahku. “Ih, kenapa kau belum mandi?”

“Kapan kau keluar dari rumah sakit? Kenapa tidak menghubungiku?”
Bukannya menjawab, Jaci malah mendorongku masuk ke dalam dorm. Rápido (cepat)! Hari ini kau harus berkencan denganku. Kita akan ke pantai.”

“Tapi—” bagaimana dengan burung kertasku?
Entah bagaimana, sebagaimanapun caranya aku ingin menolak aku tetap tidak bisa. Seperti sihir, aku menuruti keinginannya. Akupun masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap.

***

Jaci memaksa ingin kencan di pantai. Aku berusaha menikmati kencan kami  karena Jaci terlihat sangat bahagia padahal pikirannku ada di tempat lain. Kami bermain pasir dan berkejar-kejaran dengan ombak sepanjang hari.

“Aku senang sekali hari ini.” kata Jaci ceria, memecahkan lamunanku mengenai burung kertasku yang baru berjumlah dua ratus ekor. Jaci tidur di atas pasir putih dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya. “Ryeowook, tidak usah selesaikan burung kertas itu lagi. Kau tidak perlu capek-capek membuatnya.

Dia tahu? Aku tidak menyangka Jaci mengetahui kegiatanku yang keharusnya rahasia ini, terutama dari Jaci. Belum lepas keterkejutanku, Jaci bangkit dan meraih keranjang piknik berukuran jumbo yang dibawanya.

Ternyata isi keranjang itu bukanlah makanan seperti yang aku duga, melainkan burung kertas dalam jumlah yang sangat banyak. Jaci menumpahkan semua isinya ke pasir. “Burung kertas ini ada seribu ekor. Kubuat untukmu dengan satu permintaan, kalau aku sudah tidak ada nanti, kau bisa tetap bahagia. Kau janji kan kalau aku tidak ada, kau bisa bahagia?”

Aku tak tahu harus berkata apa. Jadi aku menarik Jaci agar kembali tidur di pangkuanku. “Kau janji kan?” Jaci bersikeras, dengan berat aku mengangguk meski tak yakin dengan janjiku sendiri. Jaci tersenyum cemerlang lalu mengecup bibirku lembut sebelum kembali membaringkan kepalanya di pangkuanku.

“Ryeowook, aku capek. Aku istirahat dulu, boleh kan?” ujar Jaci lirih. Pandanganku langsung mengabur.

Akan selalu ada perpisahan.

Jaci mengerjap-ngerjap lelah.

Te amo (I love you), Ryeowook.” bisiknya terakhir kali sebelum benar-benar terlelap.
Selamanya.

Air mataku berhamburan. Kudekap Jaci erat.

Buenas noches, Querida..(selamat tidur, Sayang). Saranghae..

Angin berhembus kencang menerbangkan burung-burung kertas yang berserakan di atas pasir. Selembar kertas ikut melayang.

Aku hanya punya satu permintaan. Aku hanya ingin dia bahagia. Aku hanya berharap burung-burung itu membawa kebahagiaan untuknya.


-The End-

Selasa, 05 Juli 2011

Promosikan Korea Pada 6 Miliar Manusia, Dengan 10 Suara

Diposting oleh sachakarina di Selasa, Juli 05, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini


Demam budaya pop Korea yang dimulai pada akhir dekade 90-an kini telah melingkup seluruh Asia dan menyebar ke Eropa. Begitu banyak media termasuk koran dan artikel dunia maya yang melaporkan tentang Hallyu dan peningkatan status Korea. Kami menemukan pria-pria membanggakan dari Korea, Super Juniorm yang akhir-akhir ini disebut sebagai perusahaan bergerak dan mencetak rekor setiap saat.

Sejak debut Super Junior telah menerima banyak perhatian karena memiliki anggota terbanyak dalam satu grup. Dengan koreografi yang sempurna, mereka memikat semua orang and meraih banyak perhatian untuk pergerkan mereka selanjutnya, Kata "selebriti" (yunyaein) dalam bahasa Mandarin menggunakan karakter 演 yang dibaca yun, dan 藝 dibaca yae artinya bakat, dan 人 yang artinya orang, semua karakter itu berarti seseorang yang menunjukkan bakatnya. Seperti arti dari kata tersebut, mereka adalah selebriti. Kata "selebriti" termasuk penyanyi dan penari dan Super Junior sangat memuaskan dalam semua kategori itu. Baru-baru ini, album ke-4 mereka yang berjudul "Miinah", yang dirilis tahun lalu, telah mencetak rekkor baru bertahan selama 54 minggu sebagai nomor 1 pada situ musik online terbesar di Taiwan, KKBOX's Korean Japanese Music Top 100 Weekly Chart. Mereka menunjukkan kekuatan mereka dengan menjadi artis pertama dalam sejarah musik Taiwan yang menjadi nomor 1 selama setahun dan mencetak rekor baru karena menjadi nomor 1 paling lama. Mereka mengalahkan rekor mereka sendiri yaitu menjadi nomor 1 selama 36 minggu dengan album ke-3 mereka yang berjudul "Sorry Sorry". Mereka tentu saja tidak membuat rekor yang luar biasa itu hanya karena musik saja. Jadi apakah daya tarik mereka sebenarnya?

Memikat Pendengaran Semua Orang

Grup ini memiliki banyak aktivitas dalam bentuk sub-unit. Seperti Super Junior M yang menargetkan negara-negara berbahasa Mandarin, Super Junior K.R.Y yang menunjukkan aneka emosi melalui musikal dan soundtrack drama, dan Super Junior Happy yang menyanyikan lagu-lgu unik, ceria dan menyenangkan. Mereka bekerja keras sebagai penyanyi dengan terus membawakan berbagai macam jenis musik. Mereka menerima beberapa kritikan bahwa mereka hanya menyanyikan lagu yang gampang diingat orang dengan melode berulang dan lirik sederhana. Tapi karena respon dari lagu-lagu tersebut sangat luar biasa, mereka mendapat peringkat tinggi dalam tangga lagu dan menerima lebih banyak pemberitaan. Lebih lanjut lagi, belakangan ini dimana orang-orang cepat berubah dan mudah bosan, pemasukan utama dari industri musik telah berbuah menjadi dari mp3. Sehingga, perusahaan yang nekat menjual album akan berakhir pada kerugian sehingga akhirnya perusahaan tersebut akan menggunakan lagu-lagu pemikat seperti itu untuk judul album agar mudah meraih kepopuleran. Meskipun saat ini sedang jadi tren di industri musik bahwa mp3 menaikkan pendapatan, Super Junior telah membuktikan dengan pencapaian album ke-4 mereka sebagai peringakat 7 dalam penjulan album musik di seluruh dunia. Peringkat yang mereka dapat itu lebih tinggi dari bintang-bintang pop dunia seperti Usher, Black Eyed Peas, dan Kesha. Dan juga meskipun Super Junior tidak melakukan promosi apapun di Jepang, single pertama mereka masuk peringkat no 2 dalam Oricon weekly chart, mengalahkan rekor dalam penjualan album tertinggi pada single debut mereka di Jepang. BBC Inggris bahkan sangat memuji Super Junior yang berdiri tegak sebagai tokoh utama dalam penyebaran Hallyu K-Pop dan akan menggantikan Samsung dalam hal brand ternama dari Korea.

Memikat Penghilatan Orang-orang

Saat ini, tidak ada perbedaan nyata antara penyanyi dan aktor karena setiap orang bisa melihat penyanyi ada dalam film, drama, atau tv. Dalam Super Junior, ada member yang menonjol sebagai aktor dengan penampilan dan kemampuan aktingnya yang bisa dibandingan dengan aktor-aktor lainnya. Siwon debut sebagai aktor sebelum menjadi penyanyi dalam drama 18 vs 29 tahun 2005. Pada tahun 2007, dia terpilih menjadi aktor utama mendampingi Andy Lau dalam Battle of Wits. Baru-baru ini dia berperan sebagai agen elit Kim Junho dalam Athena : The Goddess of War yang meninggalkan kesan kuat bagi pemirsa. Orang-orang bisa menerima potensinya. Selain itu ada Kibum, Donghae dan Heechul yang muncul di TV dengan menunjukkan aneka karakter. Sebagai grup yang berisi orang-orang tampan, film The Attack of the Pin-up Boys dirilis dengan Super Junior sebagai pemeran utama. Selain itu, film Super Show 3D memukau penonton dengan penampilan dan koreografi mereka.

Memuaskan Kelima Panca Indera

Super Junior bekerja sebagai selebriti untuk memuaskan keinginan penonton. Keikutsertaan mereka dalam program variety sungguh luar biasa dimana mereka bisa menunjukkan kemampuan mereka sebagai selebriti. Kemana pun mereka pergi, mereka membuat pemirsa senang baik itu hanya sebagai aktor pendukung, MC atau tamu. Teuk Academy terdiri dan Leeteuk, Eunhyuk, dan Shindong yang khusus mempersembahkan tawa dan selalu terlihat kocak. Dibandingkan selebriti lain yang hanya muncul dan iklan atau kadang muncul di talk show dan menahan diri untuk tidak terlihat konyol, Super Junior justru bisa mencapai para fansnya dengan keramahan mereka. Meskipun mereka diremehkan pencapaian dalam dunia musiknya karena bakat mereka masing-masing di TV lebih menonjol, mereka adalah grup yang diperhatikan pasar dunia dan diibaratkan sebagi brand berjalan dan perusahan bergerak ukuran medium. Mereka mencoba genre baru setiap waktu dan memberikan hal yang baru yang bisa dilihat orang. Mereka ingin berkomunikasi dengan para fans dan melakukan kontak dengan masyarakat umum melalui TV, panggung dan ruang pribadi mereka seperti SNS.

Super Junior adalah idola pria dari Korea yang terdiri dari 13 orang dibawah naungan SM Entertainment. Tidak termasuk Hangeng yang terlibat kasus hukum, Kangin yang wajib militer, dan Kibum yang fokus di dunia akting, saat ini mereka bekerja dalam grup 10 orang. Mereka meningkatan gengsi bangsa dan mempromosikan Korea ke negara lain, tapi kerja keras mereka masih belum membuahkan hasil. Kami mengharapkan mereka akan menjadi grup yang menjadi semakin luar biasa jauh di atas kondisi mereka sekarang dan menjadi brand national yang bisa pulang ke rumah mereka dengan kejayaan di masa depan.

source ilyojournal

Translated by Minnie @ SUJUISM.BLOGSPOT.COM

TAKE OUT WITH THE FULL CREDITS

DO NOT ADD YOUR NAME TO THE CREDITS

Location : Address not available
Posted via Blogaway

Senin, 04 Juli 2011

Ice Melody + Pre Orderz

Diposting oleh sachakarina di Senin, Juli 04, 2011
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini



Tiba-tiba aja keinget Ice Melody,  fanficku yang diikutkan lomba dan terpilih di antara 343 naskah.

Fanfic itu bergenre Fantasy (sebelas dua belas sama Fantasi Iris) dan cast utamanya Siwon Super Junior dan Taeyeon SNSD, dua idol favoritku.

Tapi kok makin dibaca, kesannya yang pemeran utama lebih ke Taeyeon ya? Siwon kan munculnya di akhir-akhir aja.

Aku juga pasangin Donghae sama Jessica, semoga aja aku gak dibantai ELF ya. Hehehehe

Cerita singkatnya sih begini: Taeyeon ditarik  di dunia yang sedang beku, hening, nggak ada suara di sana. Di tempat itu dia ketemu Siwon yang bisa membantunya supaya dia bisa kembali ke bumi.

Penasaran? Beli bukunya yuk!! Ini adalah buku kumpulan fanfic pertama di Indonesia. Di dalamnya ada 12 fanfic. 10 adalah hasil lomba dan 2 ditulis oleh Lia Indra Andrianna (penulis novel Seoulmate) dan Orizuka (penulis novel Fate).

Untuk info lebih lanjut dan pemesanan, kunjungi blog  KFI 

Jangan lupa pesen ya. Gomawo :)

Location : Jalan Tamalate 2, Tamalate,

Location : Jalan Tamalate 2, Tamalate,

Minggu, 03 Juli 2011

Akhir Penantian

Diposting oleh sachakarina di Minggu, Juli 03, 2011
Reaksi: 
1 komentar Link ke posting ini

I’m waiting for you, you always covered my night.

If you are happy, I’m happy too

If I can see u, it’s okay that even thought I’m alone

Always standing behind you, just looking you..

(Good Person by Super Junior)

***

Aku merasakan matahari pagi mulai membelai tubuhku, hangat. Beberapa burung berkicau merdu, belalang seperti berlomba berlompatan di rumput yang menghampar hijau di sekeliling halaman rumah bercat putih ini, aku seolah bisa mendengar ikan hias bercakap-cakap riang di kolam di bawah sana, membuat suasana menjadi semakin indah. Aku suka berada di teras ini. Selalu.

Kudengar suara pintu terbuka lalu menutup kembali. Aku tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang gerangan datang. Dia Siwon. Pria yang selalu bersamaku akhir-akhir ini. Dia membawakan air untukku. Aku segera meneguk air itu dengan segera. Aku merasa lebih segar setelahnya.

“Ummm,” gumamnya sambil mengamatiku dalam. Akh, dia tahu saja bagaimana membuatku penasaran. Aku ingin tahu apa yang dia ucapkan berikutnya. “Kau cantik.” bisiknya yang membuatku tersipu seketika. Tolong, jangan menertawaiku. Aku memang sudah jatuh terlalu dalam. Aku telah tersesat dalam labirin cinta yang aku buat sendiri dan aku tak ingin repot-repot mencari jalan keluar. Labirin itu terlalu indah untuk aku tinggalkan dan terabaikan kosong.

Sejak pertama kali aku dan Siwon bertemu di sebuah toko, aku tahu bahwa aku adalah si beruntung. Sejak itu kami selalu bersama. Dia selalu menjagaku, merawatku saat aku sakit, selalu ada kapan pun aku mau.

“Hari ini aku akan mengunjunginya di rumahnya, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.” kata Siwon yang membuatku lemas seketika.

Disemua kesempurnaan itu, selalu ada yang celah. Aku sangat menyukainya dan dia menyukai gadis lain. Menyedihkan.

Meski Siwon selalu memperlakukanku dengan baik, aku tetap sakit karenanya. Aku tak pernah bisa memilikinya. Aku tahu. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya membenahi perasaanku sendiri, mematikan rasa itu terlalu tidak mungkin untukku. Aku tidak bisa dan—tidak mau.   

Kami memang tidak punya hubungan lebih yang bisa mengikat kami hingga tak terpisah. Aku tak pernah bisa berkata apa-apa jika dia mulai membicarakan Chae Rin. Aku hanya bisa mendengarkannya berceloteh tentang gadis yang sangat disayanginya itu. Dari awal aku tahu dia menyukai gadis lain, tapi aku juga punya hak untuk menyukainya. Tak ada yang bisa melarangku untuk mencintainya, iya kan?

Dan karena semua itu, aku siap menanggung semua akibatnya.

Termasuk menangis diam-diam saat malam menjelang.

***

“Halo” sapa Siwon riang. Wajahnya berseri-seri saat dia datang. Apakah dia sudah mendapatkan hati gadis pujaannya? “Aku sangat senang hari ini”

Tak perlu mengatakan itu, aku bisa melihatnya sendiri.

“Dia mau menjadi kekasihku!”

Sebuah senyum manis berusaha aku lengkungkan. Ini berat, tapi aku bahagia melihatnya. Siwon tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Di balik senyumku, aku mengutuk takdir. Mengapa Siwon bukan diciptakan untukku?

***

“Dia gadis yang sangat baik, orang tuanya juga sangat ramah. Dia selalu ceria. Jika dengannya aku hanya tahu satu kata: bahagia. Dia juga cantik, sama cantiknya denganmu!”

Yeah, aku tahu.

“Aku ingin melamarnya. Aku ingin menikah dengannya. Aku ingin dia yang menjadi ibu dari anak-anakku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.”

Kusunggingkan senyum lagi. Kubayangkan dirinya di masa depan hidup dengan bahagia. Jika saat itu tiba, aku pasti bisa tersenyum dengan tulus. Siapa yang tidak akan bahagia melihat orang yang disayanginya hidup dengan bahagia?

Sekarang, aku bisa mempercayai Chae Rin. Kami juga pernah bertemu dan dia sangat baik, juga menyenangkan. Mungkin dia memanglah gadis yang dikirimkan Tuhan untuk Siwon. Selama tiga bulan mereka bersama, Siwon tidak pernah terlihat sedih. Sekali pun.

“Dia akan datang sebentar lagi. Aku akan melamarnya di sini. Aku sudah  menyiapkan cincin  untuknya.”

Cincin itu.. aku pernah melihatnya sekali. Cincin milik Ibu Siwon yang sekarang diberikan padanya untuk istri Siwon nantinya. Dulunya, aku berharap itu aku.

Bel pintu berdenting. Aku tahu ini adalah akhir. Tapi bukan akhir dari cintaku. Aku akan terus mencintainya sampai kapanpun.

“Maaf.” Siwon berbisik pelan.

Gwaencanha.

Semoga Chae Rin mau menikah denganmu, Siwon. Dia pasti tahu bahwa kaulah yang terbaik untuknya.

Ini saatnya.

Siwon memotong tangkaiku dengan menggunakan gunting tanaman. Dia mencium kelopakku, membaui wanginya yang membuai sebelum membuka pintu.

***

Siwon menyodorkan setangkai mawar merah yang sangat indah pada kekasih yang ada di hadapannya. Chae Rin tersenyum malu-malu saat menerimanya.

Gomawo.” ucap gadis itu.

“Bunga itu baru saja aku petik. Aku sengaja menanamnya sendiri untukmu dan memberikannya padamu di sebuah hari special.” kata Siwon.

"Apakah ini hari special?”

Ne,” Siwon segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Siwon berlutut lalu menyodorkan kotak berisi cincin itu ke hadapan kekasihnya. “Maukah kau menikah denganku?”

Chae Rin menekap mulutnya dengan tangan. Dia tidak menyangka Siwon memintanya untuk menikah secepat ini. Ya, memang tak ada gunanya menunggu berlama-lama. Ini adalah sebuah akhir penantiannya. Mungkin Siwon memanglah orang yang dikirimkan Tuhan untuknya.Dan Chae Rin akhirnya mengangguk.

Siwon tersenyum senang, meraih tangan Chae Rin dan menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Setelah itu Siwon bangkit berdiri untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir gadisnya. Kebahagiaan itu membuncah, mengalir di setiap pompaan darah dari jantung ke seluruh tubuh mereka.

Sebuah tanaman mawar di dalam pot yang tidak jauh dari sana bergoyang pelan, seakan berkata bahwa dia juga ikut bahagia

-The End-

Location : Jalan Tanongapa Raya, Panakkukang,

Sabtu, 02 Juli 2011

Drama Di Sebuah Kolam

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, Juli 02, 2011
Reaksi: 
2 komentar Link ke posting ini



Teratai 

Dia memanggilku Teratai.

Aku masih bingung kenapa dia sering memanggilku begitu. Ketika kutanyakan padanya dia hanya menjawab, “Karena kamu seindah teratai!” 

            Aku bukan pecinta bunga, aku tidak begitu suka teratai. Yang aku tahu teratai adalah tanaman yang bermanfaat dan banyak tumbuh di danau atau di lumpur, tidak terawat. Apakah dia melihatku seperti itu?? Ya, aku setuju. Aku memang seperti di tempat yang tidak satupun orang ingin hidup di sana. Seperti lumpur.

Aku memanggilnya Embun. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Dulunya, aku memiliki Matahari. Tapi entah kemana Matahari sekarang. Dia pergi bergitu saja. meninggalkanku yang kesepian. Aku bersyukur ada Embun yang menemaniku. Aku tak khawatir lagi jika Matahari tak kembali.

“Kenapa kau memanggilku Embun, Teratai?” tanyanya padaku, aku tersenyum simpul lalu menjawab.

“Karena kau seperti Embun. Menyejukkan.”

Embun menawarkan untuk menemaniku menelusuri lika-liku hidup yang begitu rumit. Mendorongku untuk terus maju demi meraih mimpiku. Mendukungku saat aku terpuruk jatuh dalam keputusasaan. Dia tahu bahwa aku ingin bisa berguna untuk siapapun. Seperti bunga teratai yang bisa bermanfaat untuk orang banyak. Embun memang selalu melihatku dari sudut berbeda. Dia tidak seperti orang-orang yang hanya menganggapku sebelah mata.

Aku tidak sabar untuk menunggu detik-detik merekahnya kuncup yang aku miliki. Aku ingin Embunlah yang melihatku mekar pertama kali. Aku ingin membuatnya bangga. Karena dialah aku bisa mengangkat dagu saat orang-orang angkuh itu menatapku takjub. Lalu kulihat Matahari mendekat.

Hal terakhir yang kuinginkan adalah Embun meninggalkanku. Aku tidak ingin dia pergi. Tidak disaat aku mampu menghadapi Matahari dengan berani seperti sekarang. Akan kutunjukkan padanya bahwa aku bisa tanpanya!

“Matahari datang menemuimu.” Embun membisikiku. Suaranya terdengar sedih. Seperti kata.. perpisahan?

            Mataku mengabur. Dia benar-benar akan pergi.

            “Kamu sudah tumbuh menjadi bunga yang cantik Teratai. Aku Embun, Matahari tidak akan pernah membiarkanku tetap disini. Selamat tinggal.” 

            “Terima kasih, Embun.” Ucapku lirih, suaraku ditelan tangis. 

Dia tersenyum lalu kemudian menghilang.  

            Aku terisak di kolam lumpurku.
***

Matahari

Teratai adalah milikku. Bukan orang lain.

Kemana pun aku pergi, kemana pun dia pergi, dia akan—harus—kembali padaku. Dia sangat membutuhkanku, lebih butuh daripada Embun yang datang seenaknya saja. Aku ingin menyingkirkannya tapi kegelapan itu memenjaraku dalam ketidakberdayaan.

Disana, aku bisa melihat Teratai mulai merekah. Dia sangat indah. Putih cemerlang. Embun menatapinya takjub. Juga orang-orang lain. Aku tidak ingin Embun berada di dekatnya. Harusnya aku yang berada di situ. Kegelapan itu perlahan menghilang, Embun tahu jika sudah saatnya dia untuk pergi. Ini bukanlah masalah persaingan, tapi hukum alam!

Teratai menangis saat Embun mengucapkan perpisahan. Apakah saat aku pergi dia juga menangis? Tapi meskipun aku pergi, aku tetap kembali kan? Embun tidak seperti itu. Jika dia pergi tak ada jalan untuk kembali lagi.

Embun lalu menguap. Hilang.

Terima kasih sudah menjaga Terataiku, Embun.

***

Embun

Dia seperti teratai yang tumbuh di lumpur. Indah, tapi terabaikan. Dan aku tahu dia berbeda. 

Karena dia Teratai.

Saat itu Matahari meninggalkannya dalam kegelapan. Kesedihannya sirna saat aku mendekat padanya, olehnya aku merasa sangat dibutuhkan. Dia memanggilku embun karena menurutnya aku selalu menyejukkannya. Aku bangga sekaligus takut. Jika aku adalah Embun, bisakah aku melihatnya merekah? Akankah Matahari membiarkanku??

Teratai akan semakin indah jika tumbuh di kolam berlumpur. Aku akan menunggu sampai dia merekah menjadi bunga yang sangat cantik. Membuat kolam lumpurnya menjadi mempesona dan  orang-orang tercengang. Teratailah pusat pesona itu. Suatu hari akan ada kolam berlumpur yang menyita perhatian semua orang.

            Aku tahu Matahari memilikinya dan dia tidak akan membiarkanku ada di dekat Teratai selamanya. Tapi aku akan menggunakan kesempatan yang sangat sempit ini untuk membuat Teratai senang. Aku tidak akan pergi setidaknya sampai Matahari kembali datang. Bagaimana pun Teratai tidak akan pernah bisa lepas dari Matahari. Itu hukum alam.

            Kadang dia menyerah. “ Aku tidak ingin hidup di lumpur lagi.” keluhnya.

            “Suatu saat kamu akan sadar seberapa penting lumpur itu untukmu. Bersabarlah.” Aku berusaha menenangkannya. Dia selalu butuh itu. Setelah itu dia akan berjuang lagi dan lagi. Katanya dia ingin aku orang pertama yang harus melihatnya merekah. Aku tidak yakin tapi aku tetap mengiyakannya saja.

Perlahan kuncupnya mulai merekah menjadi sebuah kelopak yang sangat indah. Putih. Sangat cemerlang. Dia benar-benar bersinar. Aku tersenyum senang. Selama ini aku tidak salah. Lumpurlah yang membuatnya seperti itu.

            Dari kejauhan kulihat Matahari mendekat. 

            Aku ingin lebih lama menatap Teratai, tapi Matahari tidak akan pernah mengizinkanku. Aku harus pergi. 

            Dia menangis saat aku mengatakan perpisahan.

            “Kau tahu kenapa aku selalu senang karena kau tumbuh di lumpur? Dan bukan hidup di kolam jernih?” Dia menggeleng. “Karena teratai yang hidup di air yang sangat berlumpur–seperti milikmu—akan menjadikan bunganya semakin cemerlang. Aku ingin kamu seperti itu.”

            “Kamu akan pergi? Jangan…” dia berkata pelan dan lirih. Suaranya bergetar. Air matanya menggenang.

            Aku menggeleng. “Kamu sudah tumbuh menjadi bunga yang cantik, Teratai. Aku Embun, Matahari tidak akan membiarkanku tetap disini. Selamat tinggal”

“Tapi aku ingin kau.” Air matanya jatuh satu-satu. Aku merasa pilu. Memang tak ada perpisahan yang menyenangkan.

“Aku tahu kau lebih butuh Matahari daripadaku. Selamat tinggal”

            “Terima kasih, Embun!” bisiknya di sela tangis.

            Aku mengangguk, tersenyum  lalu menghilang.

***
 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review