Senin, 29 November 2010

Sitta Karina dan Magical Seira-nya

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 29, 2010
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini



Buku pertama Sitta Karina yang saya baca adalah kumpulan cerpen Pertama Kalinya. Sepertinya buku itu adalah buku Pertama Sitta Karina yang diterbitkan oleh Gramedia. Saya langsung jatuh cinta pada cerita dalam cerpen-cerpen itu. Saya kemudian mulai memburu buku karya Sitta Karina: memesan online di Terrantbook, selain harganya jauh lebih murah (diskon 35 % loh!) juga karena buku-buku itu tidak saya temukan di Gramedia Makassar :p

Magical Seira #1

Ok. Saya bukan mau membahas mengenai Kumcer Pertama Kalinya. Tapi saya akan mereview buku Magical Seira. Salah satu buku favorit saya juga. Baiklah, Semua buku Sitta Karina memang merupakan favorit saya.
Nah, Magical Seira ini bergenre fantasi, berkisah tentang Seira yang kedua orang tuanya baru saja bercerai. Seira menggubah sebuah lagu berjudul Serenity yang dipersembahkan untuk Abel, cowok yang disukainya di sekolah. Siapa sangka ternyata lagu itu adalah kunci untuk membuka gerbang dimensi antara bumi (kaia) dan Madriva.Madriva itu hampir seperti bumi tapi berbeda, meski orang-orangnya nyaris mirip. Hanya saja dengan karakter yang sangat bertolak belakang. Jika di bumi orang itu memiliki sifat yang sangat baik maka di Madriva adalah kebalikan dari itu, amat sangat jahat. Di sore hari yang cerah, di taman Chitrakala, Seira menunggui Abel selesai bermain bola. Dia berniat untuk memberikan CD Serenity pada Abel tapi Seira malah terhisap ke dimensi Madriva. Berhadapan langsung dengan raja muda madriva –Seth—yang wajahnya sama dengan Abel.
Pergumulan batin seira dimulai. Di satu sisi dia adalah seorang ke satria madriva yang harus bisa mencegah Seth dan segala rencana jahatnya, di sisi lain dia merasa berat untuk melawan Seth jika wajah itu selalu mengingatkannya pada Abel.
Buku Magical Seira ini dikemas dengan plot yang amat rapi, pendeskripsian yang sangat detail serta menggabungkan fantasi, cinta, keberanian dan kekuatan. Serta penuh dengan illustrasi cantik. Saya seperti ikut terseret dalam petualangan Seira dan suasana magical di dimensi Madriva. Saya terpesona pada Istana Aswatthaya di awan.
‘Sekolah, Prom nite, cowok.. dan istana di langit’


Ciri khas Sitta Karina yaitu selalu terdapat benang merah antara cerita yang satu dan yang lain. Jadi jangan heran jika salah satu dari keluarga Hanafiah muncul juga dalam buku ini. Dan silahkan buka Kumcer Pertama Kalinya, kalian akan menemukan cerpen yang berjudul Talisman, bisa dibilang, dari sanalah cikal bakal petualangan Seira ini berasal!
Magical Seira juga bertaburan dengan kata-kata Sanskrit, agak sedikit menyulitkan untukku. Saya pernah bercanda mengatakan bahwa jika akan membaca buku Magical Seira ini saya harus membuat kamus khusus karena saya kadang lupa dengan arti kata yang sudah dijelaskan sebelumnya. :p

Tidak masalah, saya tetap sangat menikmati Trologi Magical Seira ini: Seira and The Legend of Madriva, Seira and Abel’s Secret dan Seira And The Destined Farewell. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk penggila cerita fantasi –seperti saya. :)

Trilogi Magical Seira

Saya jadi pengen membuat cerita fantasi yang seperti itu juga, tapi rasanya imajinasi saya nggak nyampe sana, belum :). Jadi ya, baca banyak buku fantasi dulu kali ya..hehehe. Well, saya sudah membaca Trilogi Magical Seira dan Aerial. Dan saya amat sangat menantikan terbitnya Ambrosia, Ensis dan Prom.

Sukses terus dan tetap ditunggu novel-novel selanjutnya Mbak ;)

Sabtu, 27 November 2010

Tidur

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, November 27, 2010
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Inspired by Tidur--Dewi Lestari



Malam mulai berjingkat-jingkat naik, menyisakan pekat malam yang makin menusuk. Wanita cantik itu –Tiona—menarik koper besarnya dengan cepat. Dia ingin segera sampai di tempatnya akan menginap malam ini. Badannya serasa remuk redam karena kelelahan diperjalanan. Tiona segera menyetop taksi pertama yang ditemukannya.

Tiona memandangi lampu-lampu jalan yang masih terang benderang meski jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Pikirannya sudah melayang jauh menembusi lorong waktu. Menuju hari di mana dia meninggalkan kota itu tujuh tahun lalu. Dan tidak ada yang tahu betapa sangat rindunya ia dengan kota ini. Kota yang pernah menggoreskan banyak kenangan dan menyisakan kepedihan.

Taksi itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis. Sepertinya seluruh penghuni rumah sudah tertidur, hanya lampu di sebuah kamar yang menyala. Jantung Tiona berdetak sangat cepat, dia tidak tahu apa lagi yang berubah dalam tujuh tahun itu. Tiona merasa agak takut, masih kah dia dianggap ada? Tapi kemudian Tiona menghela nafas panjang lalu menekan bel.

***

Aura kesedihan masih kental melingkupi rumah itu. Seminggu yang lalu, pemilik rumah itu yang tidak lain adalah tante Tiona meninggal dunia. Tiona tidak datang saat upacara penguburan. Tiona bahkan baru tahu dua hari lalu dan langsung terbang ke sini setelah mengurus semua pekerjaan kantor dan cuti.

Rumah itu sepi. Tidak ada lagi penghuni kecuali pembantu yang tadi membukakan pintu untuk Tiona. Wanita separuh baya itu mengantarkan Tiona ke kamar tamu yang memang sudah disiapkan khusus untuknya.


“Tante Kuni sakit berapa lama, Bi?” Tanya Tiona lalu duduk dengan gelisah di ujung tempat tidur. Tante Kuni adalah tantenya yang meninggal minggu lalu, pemilik rumah itu.


“Dua tahun, Bu. Komplikasi diabetes dan ginjal.” Tiona diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Melihat sang tamu yang sepertinya sudah tidak ingin bertanya lagi, wanita itu pamit untuk keluar, mempersilahkan sang tamu beristirahat. “Silahkan istirahat, Bu. Pasti masih capek setelah perjalanan jauh.” Lanjutnya lagi lalu beranjak menuju pintu.


“Bik Warni, emm…” Kata Tiona, dia jadi ragu melanjutkan kata-katanya. Bik Warni tidak jadi menutup pintu dan menoleh ke belakang.


“Iya, Bu?” Tanyanya sopan.


“Tidak usah panggil Ibu, panggil saya Tiona saja. Terdengar jauh lebih akrab.”


“Tapi—” Bik Warni ingin protes tapi Tiona langsung memotongnya.


“Riris?” Tiona berkata lirih. Bik Warni mengerti.


Wanita itu hanya mengangguk dan berjalan menuju sebuah kamar, Tiona mengikut di belakang dengan jantung yang makin bergemuruh. Penantian selama tujuh tahun itu akhirnya berakhir. Pintu kamar membuka. Tiona tertegun.

***

Tiona membatu. Tubuhnya tidak bisa digerakkan sedikitpun. Bahkan dia tidak sadar bahwa Bik Warni sudah keluar kamar dan menutup pintu. Membiarkan Tiona mengurai kenangan masa lalunya.


Pandangan Tiona tidak lepas dari sosok gadis kecil berumur tujuh tahun yang sedang terlelap di balik selimut tebal, memeluk sebuah boneka kelinci yang nampaknya sudah kusam. Tiona merasa matanya panas dan basah. Boneka itu dulu miliknya.


Tiona bergerak pelan, takut jika dia menimbulkan bunyi sekecil apapun gadis kecil di hadapannya akan terbangun. Tiona tidak ingin hal itu terjadi. Gadis kecil bernama Riris itu tersenyum tipis dalam tidurnya, entah apa yang sedang dia mimpikan. Perasaan bahagia Tiona lalu membuncah. Dadanya serasa akan meledak saking bahagianya.


Tujuh tahun yang lalu, saat dia masih berumur 19 tahun, Tiona hamil dan pacar yang akan menikahinya meninggal karena kecelakaan. Setelah anaknya lahir, Tiona malah diminta meninggalkan kota itu dan bayinya, dipaksa pergi lebih tepatnya. Bayi itu kemudian diangkat sebagai anak oleh Tante Kuni dan tidak sekalipun Tiona dibiarkan untuk menemuinya.


Tidak ada yang tahu –juga peduli dengan rasa rindu yang disimpannya selama tujuh tahun. Yang terus menumpuk-numpuk menyesakkan dada. Yang terus menghuni mimpi-mimpinya. Tiona duduk di tepi tempat tidur tangannya dengan ragu menyentuh Riris yang tengah terlelap itu, mengelus rambut halusnya pelan. Air mata itu sudah tak terbendung.


Tiona mengamati wajah Riris lama, wajah oval dan bulu mata lentik itu miliknya, bibir itu mirip sekali dengan pacarnya dulu. Tujuh tahun berlalu dan Tiona baru bisa menyentuh anak kandungnya sendiri. Membelainya seperti ini. Tiona menyingkap sedikit selimut yang menyelimuti Riris lalu dia menyusup masuk kedalamnya, mendekap erat Riris di dadanya. Riris bergerak tapi tidak terbangun, dia merapat kepelukan Tiona, tertidur jauh lebih lelap. Bahkan alam bawah sadar Riris tahu, di pelukan Tiona-lah seharusnya dia terlelap.


Tiona ingin terus seperti itu. Riris terus berada dalam pelukannya. Tidak akan dia lepaskan lagi. Jika mungkin, dia ingin waktu berhenti saja sekarang, agar mereka bisa tetap seperti itu.

***

Tak perlu kau bangun dari tidurmu
Tak usah bersuara menyambutku
Ku cukup bahagia berada di sini
Di sisimu, memandangmu,
Tanpa perlu kau tahu

Sekian lama sudah kita tak berjumpa
Tiada terbilang lagi rindu ini
Dalam haru, ku membisu

Oh...tidur, tenang
Oh...tidur, sayang, tidur
Malam ini kucukupkan hanya menatapimu
Malam ini kuputuskan untuk jaga tidurmu

Jika nanti semua ini berlalu
Jika ku tak lagi jauh darimu
Aku kan temani engkau selalu
Pagi, siang, sore, malam
Kapan pun engkau mau

Sekian lama sudah kita tak berjumpa
Tiada terbilang lagi rindu ini
Dalam haru, ku membisu

Oh...tidur, tenang
Oh...tidur, sayang tidur
Aku kan ada saat matamu membuka
Mendekap engkau seolah tiada esok, lusa

Tiada pergi jauh lagi dari engkau
Tiada malam, tiada pagi,
Tanpahangatjemarimu
Oh...tidur, sayang tidur

(Tidur, Dewi Lestari)


dimuat pertama kali di situs jejakubikel

Kamis, 18 November 2010

Koleksi Novelku

Diposting oleh sachakarina di Kamis, November 18, 2010
Reaksi: 
5 komentar Link ke posting ini
sebagian dari koleksi saya.



Saya mulai mengoleksi novel (kebanyakan teenlit) dari kelas satu SMA, berarti sudah enam tahun saya mengoleksi. novel saya sudah bertebaran dikamar, tidak cukup tempat lagi. Ada sekitar sepuluh-an lebih novel saya ada di rumah teman, tapi bukan karena saya sudah tidak punya tempat lain. Tapi teman saya menolak mengembalikan novel itu karena katanya dia ingin juga dikamarnya terdapat banyak buku. Boro-boro semua, baca satu buku yang dia pinjam pun nggak! Dia cuma ikut-ikutan heboh melihat saya dan teman lain dikampus tukar-tukaran novel dan dia tidak mau kalah untuk minjem juga.

Saya selalu membaca ulang novel-novel saya itu, terutama jika saya merasa sudah agak lupa dengan jalan ceritanya. Repotnya, kalau novel yang saya baca ada di rumah teman, dia tidak mau memberikannya pada saya. Padahal saya udah mohon-mohon dan janji akan mengembalikannya kembali, dia tetap menolak memberikan! Yang beli sebenarnya siapa sih? Di tempat rental buku aja prosedurnya nggak serumit itu!

Ok. cukup membahas itu karena saya malah jadi jengkel sendiri. Sepertinya setelah ini saya harus ke rumahnya dan mengambil semua buku saya, agar bisa tenang. :)

Jika saya ke toko buku, saya tidak akan keluar dengan tenang jika belum membeli sebuah buku. Teman saya kadang bertanya mengapa saya sampai mau mengeluarkan uang banyak untuk melengkapi semua novel saya. Biasanya saya cuma menjawab "karena hobi". Memang kalau sudah hobi dan suka pada sesuatu rasanya kita tidak peduli lagi kita harus mengeluarkan uang sebanyak apapun untuk semua itu.

Makanya agar tidak terlalu menyiksa orang tua dengan hobi saya yang katanya (banyak orang berkata) tidak begitu berguna karena tidak ada dalam pelajaran sekolah, saya bekerja part time sebagai mentor di sebuah tempat kursus matematika. yah, gajinya cukuplah untuk membeli 2-3 buku dan perlengkapan sehari-hari dalam sebulan.

Tapi saya bersyukur orang tua saya tidak pernah protes dengan hobi saya itu, karena beliau tahu, dilarang bagaimana pun saya akan tetap membeli. Orang tua saya tidak pernah menganggap hobi saya adalah tindakan "buang-buang uang saja". Beliau selalu melihat dari arah positif.

Dari 6 tahun itu, novel yang paling banyak saya miliki adalah karya Sitta Karina. Sebelumnya saya tidak pernah tahu mengenai buku Sitta Karina sampai saya menemukan kumcer 'Satu Hari Berani' di Gramedia. Setelah membaca buku itu, saya langsung memburu semua bukunya. Bahkan saya pesan secara online di penerbitnya karena buku itu tidak saya temukan di toko buku manapun di Makassar.

Saya juga memiliki koleksi Twilight Saga karya Stephenie Meyer, novel tulisan Andrea Hirata, Esti Kinasih, Dian Nuranindya, Mia Arsjad, beberapa koleksi Chicken Soup dan masih banyak lagi.

Saya berharap novel karya saya 'Warna Dari Pelangi' bisa dinikmati semua orang.. Amin

Nah, ini adalah list koleksi novel saya:

A.Fuadi Negeri Lima Menara
Andrea Hirata — Dwilogi Padang Bulan
Andrea Hirata — Maryamah Karpov
Andrea Hirata— Laskar Pelangi
Chicken Soup For The Shopper Soul
Chicken Soup, Persembahan Untuk Para Ibu
Christia Dharmawan — Boys Addicted
Dee — Perahu Kertas
Dhian Bheno — Girlfriends Stay Forever
Dian Nuranindya — Canting Cantiq
Dian Nuranindya — Rahasia Bintang (Hilang)
Dian Nuranindya— Rahasia Bintang
Elie Mulyadi — Menemukan Impian Hati
Erik Sobieski — Dave dan Alika
Esti Kinasih— Dia, Tanpa Aku
Esti Kinasih— Jingga dan Senja
Katrin Praseli — Lana & The Prince
Laurentia Dermawan — 8..9..10.. Udah Belom?!
Maria Jaclin — De Buron
Mia Arsjad— Ksatria November
Mia Asjad— Loventure
Primadona Angela — Katakan Cinta Dengan Warna
Raditya Dika — Marmut Merah Jambu
Salman Aristo— Alexandria
Setta Widya — Cinta Pertama Sazi
Setta Widya— Cinta Pertama Sazi
Shesa — My Diary
Sitta Karina — Lukisan Hujan
Sitta Karina — Seluas Langit Biru
Sitta Karina— Aerial
Sitta Karina— Circa
Sitta Karina— Delapan Peri
Sitta Karina— Imaji Terindah
Sitta Karina— Kencana
Sitta Karina— Pesan Dari Bintang
Sitta Karina— Putri Hujan dan Ksatria Malam
Sitta Karina— Satu Hari Berani
Sitta Karina— Seira & Abel’s Secret
Sitta Karina— Seira & Legend of Madriva
Sitta Karina— Seira & The Destined Farewell
Sitta Karina— Skenario Dunia Hijau
Sitta Karina— Stila-Aria 1
Sitta Karina— Titanium
Sitta Karina, dkk — Pertama Kalinya
Stephenie Meyer — Breaking Dawn
Stephenie Meyer — Eclipse
Stephenie Meyer — New Moon
Stephenie Meyer — Twilight
Tami — Nighmare Trip
Titish AK— A little White Lie
Winna Effendi — Refrain
Zeta Kanarya— Merengkuh Kasih


Lalu, yang mana yang menjadi koleksimu juga??? :)

Senin, 15 November 2010

Jadi siapa yang pantas untuk menulis???

Diposting oleh sachakarina di Senin, November 15, 2010
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Mood saya sedang sangat bagus, tertawa-tawa saat membaca twit seru di twitter. Akhir-akhir ini memang saya sedang keranjingan bermain twitter. Terutama setelah ada @nulisbuku dan teman-teman #99writers yang lain, yang punya keinginan sama dengan saya. Bisa terus menulis.

Saya sedang berusaha mencari ide untuk menulis Review untuk novel ‘Relationship’ yang ditulis @dheaadyta. Tiba-tiba ponsel saya berdering, nomor yang sama sekali tidak saya kenal. setelah saya menjawab dan mendengar suara si penelpon saya langsung menyesal telah mengangkatnya.

Kemarin, orang itu juga menelpon saya dan membuat darah saya mendidih (didukung oleh fakta bahwa saya tidak terlalu suka berbasa-basi dengan orang yang tiba-tiba saja menelpon dengan alasan salah sambung, orangnya nyebelin pula! Atau mungkin memang saya yang emosian!)

Saya tak bisa menutup telpon dengan alasan tidak enak. Yang nelpon kan dia, masa sih saya harus menutup telponnya secara sepihak. Terpaksa saya harus mendengarkan celotehan-celotehannya yang membuat kuping saya panas.

“Kok SMS tadi pagi nggak dibalas?” Tanyanya. Pagi tadi dia memang mengirimi saya SMS yang berisi ucapan selamat pagi, saya tidak mengindahkan SMS itu. Sengaja.

“Nggak liat.” Jawab saya pendek.

“Nggak liat berarti nggak baca dong!” Katanya dengan nada sedikit mengejek. Saya mulai jengkel. Tinggal tekan tombol warna merah aja, telpon itu udah putus, tapi susaaahh banget. Saya kok jadi nggak tega juga! Berarti kesalahan memang ada pada saya.

“Liatnya telat, udah siang jadi nggak di balas.” Saya mulai berujar ketus.

“Lagi ngapain?” Tanyanya lagi.

“Ngetik.” Sebenarnya saya sengaja bilang kalau saya lagi ngetik biar dia sadar dan segera nutup telpon.

“Oh, kirain lagi nelpon!” Katanya.

“Nggak, alasan kayak gitu udah basi.” Dia lalu menggumam tidak jelas. “Alasan lagi nelpon itu udah pasaran, nggak ada alasan lain apa!" saya melanjutkan.

"Pakai kata 'pasaran' baru cocok, yang basi itu cuma makanan!" Katanya. Saya langsung menyimpulkan (didukung oleh emosi yang emang udah nggak stabil) bahwa dia terlalu kaku.

"Lagi ngetik apa?"

"Review bukunya temenku!"

"Nyari di internet aja!" Sempat terlintas dipikiran saya kalau dia nggak ngerti arti kata review saat mendengar perkataannya.

"Emang yang baca bukunya internet? Gimana sih! Kalau saya yang baca bukunya berarti yang nulis reviewnya pasti saya juga dong!" Saya mengomel dengan kecepatan tinggi yang membuat urat-urat leher yang ikut menonjol.

"Tenang, pelan-pelan aja, ini Makassar kok, kendaraan banyak!" Dia mulai ngelantur.

"Itu berarti saya lihai. Banyak kendaraan tapi masih melaju dengan kecepatan tinggi, dan selamat!"

"Itu berarti bukan lihai tapi lincah." katanya sambil tertawa, tepatnya menertawai pilihan kata saya yang dianggapnya salah.

"Bedanya lihai sama lincah apa?"

"Kalau lihai udah berpengalaman, kalau lincah belum terlalu berpengalaman."

"Nah, Saya emang lihai! terus kalau saya pengen pakai lihai atau kata apapun suka-suka saya dong!"

Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat emosi saya benar-benar memuncak, saya jadi bom waktu yang siap meledak. "Kamu kan anak fisika, nggak usah bahas tentang bahasa! Fisika, fisika aja!"

meski tidak langsung, kalimatnya seakan-akan mengatakan bahwa saya itu tidak pantas menulis, saya pantasnya cuma pelototin rumus fisika sampai keriting. Merangkai kata itu bukan bidang saya tapi itu diperuntukkan untuk anak Bahasa. Bukan seperti saya yang kuliah di jurusan Fisika.

Kemarin dia mengaku bahwa dia adalah anak teknik elektro dan saya sama sekali tidak percaya setelah mendengar kata-katanya tadi.

Jadi siapa yang pantas untuk menulis?

"Lah, emang yang boleh pelajari bahasa cuma anak bahasa aja?" Tanyaku geram.

"Tapi mempelajari Fisika adalah kewajiban kamu. Jadi kerjain kewajiban kamu aja, nggak usah jurusan orang lain!"

Saya diam, dia terkekeh pelan, menjengkelkan. Saya diam bukan karena nggak tahu apa yang pengen diomongin lagi. Bukan. Saya pengen sekali 'menyemprotnya', bagaimanapun ego saya sempat tersentil. Emosi yang meluap-luap membuat kata-kata saya langsung lenyap, hilang begitu saja tertelan kemarahan. Saya berusaha mengatur nafas agar lebih tenang. Dia tertawa lagi karena saya terdiam. Merasa sudah diatas angin mungkin.

Sudahlah. saya sudah tak ingin menanggapi lagi.

Harusnya dari awal saya tidak menggubrisnya, hanya merusak mood saya saja. Saya sudah tidak berkata apa-apa lagi sampai dia berkata.

"silahkan dilanjut--" belum sempat dia menyelesaikan ucapannya saya sudah memotong.

"Makasih!" Kataku ketus, menyindir.

Telepon saya tutup.

Saya janji tidak akan pernah mengangkat teleponnya lagi.

Janji!!!!!!

Minggu, 14 November 2010

Pelangi, Merah dan Dia

Diposting oleh sachakarina di Minggu, November 14, 2010
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Saya pecinta warna-warna cerah. Merah, kuning, hijau dan semua warna pelangi. Saya sangat-sangat suka Pelangi. Beberapa bulan lalu saya berlibur dengan rekan-rekan kerja ke Malino yang ada di kaki gunung Bawakaraeng selama tiga hari. Liburan yang sangat menyenangkan. Kami berenang di kolam renang lembah biru, serasa berenang di dalam air es, hanya setengah jam bermain gigi kami mulai bergemeletukan, bibir mulai memutih. Kami segera berkemas untuk kembali ke Villa saat gemiris perlahan berganti menjadi butiran hujan.

udah kedinginan tapi masih menyugukan senyum termanis


Sore harinya setelah hujan reda, kami mengunjungi hutan pinus, bersantai sebentar di sana lalu melanjutkan perjalanan ke kebun teh. Sinar matahari menembusi sisa-sisa hujan hingga terbentuk pelangi. Dari puncak kebun teh, pemandangan indah itu memanjakan mata saya.

yang lain sibuk berpose dan saya sibuk membidik pelangi


Sore semakin pekat saat kami meninggalkan kebun teh dan bermaksud mengunjungi kebun strawberry, saya berharap kebun itu seperti kebun-kebun yang sering ada di TV. Sepanjang perjalanan saya tak pernah mengalihkan perhatian dari Pelangi yang terlukis di langit di depan kami. Saya sampai bergumam pelan pada teman disamping saya.

“Disana ada bidadari” Teman saya itu tidak menggubris, tidak mendengar mungkin karena suara saya yang sangat kecil.

Pelangi itu terlihat dekat sekali, dan mobil bisa mencapainya, dalam hati saya menyemangati sang sopir, “Ayo.. ayo.. lebih cepat, sebentar lagi kita bisa mencapai Pelangi.”

Saya tahu itu tidak mungkin.

Dan saya sangat kecewa saat berdiri di depan kebun strawberry itu apalagi kami sudah nyasar berkali-kali, kebun itu benar-benar hanya kebun, hanya sepetak sawah yang dijadikan kebun dan hanya ada daun, tak ada buah sama sekali. Saya membayangkan buah-buah strawberry yang gemuk-gemuk dan memerah, tapi tak ada. Tak sampai lima menit di sana kami sudah meninggalkan kebun itu.

Seminggu setelah pulang dari Malino saya liburan ke Jakarta. Saya sangat tidak suka tebang apalagi dalam kondisi cuaca yang agak buruk (siapa sih yang suka?). Saya sebenarnya takut ketinggian dan kedalaman, tapi saya suka melihat pemandangan dari ketinggian (apasih? :p), makanya kalau naik pesawat saya selalu ingin duduk di dekat jendela. Berkali-kali terdengar pemberitahuan bahwa kapal sedang melewati daerah dengan kondisi cuaca buruk, dan setiap terdengar pemberitahuan itu jantung saya langsung memompa cepat dan otak seketika berpikir macam-macam. Saya mengalihkan perhatian dengan melihat gugusan-gugusan pulau yang ada di bawah. Lalu saya melihat pelangi.

Saya tidak tahu apakah penglihatan saya yang salah atau memang pelanginya yang seperti itu, tapi saya tetap takjub, lebih takjub dari biasanya.

Saya pernah menanyakan kenapa pelangi itu selalu melengkung, jawaban yang saya dapat adalah pelangi hanya dapat dilihat dari sudut sekian derajat (lupa).

Tapi saat itu, dihadapan saya sedang terbentuk pelangi yang tidak melengkung seperti biasa, tapi tegak lurus. Saya tak bisa mengalihkan pandangan dari pelangi itu tapi pesawat keburu berganti arah, saya kehilangan pelangi itu.

Sepulangnya dari Jakarta dikepala saya hanya ada tentang pelangi, saya ingin sekali menuliskannya dalam cerita,

Dan dari semua warna saya paling suka warna merah, tapi saya juga suka kuning, juga hijau daun, juga biru laut tapi porsi merah lebih besar.

Itu dimulai sejak setahun yang lalu, akhir Januari 2009. Saat itu saya sedang dekat-dekatnya dengan seseorang, kami sering jalan bareng (well, saat itu kami sudah pacaran sih!). Kegiatan favoritnya adalah mengomentariku, apa saja dia komentari, mulai dari umur saya yang katanya masih sangat muda untuk jadi pacarnya (saat itu saya masih 17 tahun mendekati 18) dan saya seumuran dengan adiknya, dia selalu berkata bahwa dia seperti sedang memacari adiknya sendiri -_-. Dia juga suka mengomentari tinggi saya yang tidak seberapa dibandingkan dia yang tingginya lebih dari 170 cm, saya memang doyan pakai hak tinggi kemana-mana jadi komentar itu bisa diantisipasi. Dia juga mengomentari bahwa saya sangat kurus, juga tentang warna pakaian yang saya pakai.

Saya merasa warna kulit saya cocok jika dipadankan dengan warna merah, karena ingin tampil lebih baik makanya saya lebih sering memakai baju berwarna merah jika bersamanya (baju saya memang kebanyakan berwarna merah).

“Kenapa sih selalu pakai baju warna merah? Silau.” Katanya, saya cuma tersenyum. Tak pernah sekalipun saya menanggapi komentar-komentarnya, saya menganggapnya hanya selingan saja. Itu berarti dia memperhatikan saya, sedikit perubahan pasti di komentari olehnya, jadi saya menikmati jika dikomentari olehnya, malah saya merasa aneh jika dia tidak berkomentar lagi.

Setelah komentarnya tentang warna merah itu saya selalu membuatnya jengkel dengan sengaja memakai pakaian yang berwarna merah jika kami bersama, hanya agar dia mau mengomentari saya. Saya juga mulai mengumpulkan pernak-pernik berwarna merah, dan saya memang mulai jatuh cinta pada warna merah. Mengalahkan cinta saya pada warna-warna cerah lain.

Saya dengan berani akan mengenakan warna merah saat matahari sedang bersinar sangat terik. Teman saya sering bertanya apa saya tidak merasa terbakar? Tidak. Memakai pakaian berwarna hitam di siang bolong menurut saya jauh lebih panas di bandingkan merah, lagian saya menyukainya. Tak ada yang salah.

Jadi, saya menyukai warna merah itu sebenarnya karena dia, karena di sering mengomentari saya, dan saya ingin terus dikomentari (diperhatikan), dan berakhir dengan saya yang benar-benar menyukainya.

Sekarang, kisah satu tahun lalu dengannya itu memang hanya tinggal kenangan saja, tapi saya tetap menyukai warna merah. Saya tetap menyukai pelangi, saya tetap tidak tinggi, saya masih seperti dulu. Sama. Saya hanya semakin tua.

Sabtu, 13 November 2010

Lika-Liku Praktikum

Diposting oleh sachakarina di Sabtu, November 13, 2010
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Hari ini ada respon untuk praktikum Tetes Minyak Milikan. Saya sudah meminjam TP (Tugas Pendahuluan) teman saya yang minggu lalu mempraktikkan percobaan ini karena waktunya yang cenderung mepet dan saya tidak bisa membuat TP baru yang berarti saya harus masuk ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku. Saya kan paling malas untuk masuk ke perpustakaan yang ‘penjaganya’ orang jutek semua. Fakir senyum.

Sejak awal saya memang tidak suka masuk ke perpustakaan jurusan karena seperti yang saya bilang tadi, yang ngejaga pada jutek semua. Dan rasa tidak suka itu semakin memuncak seminggu yang lalu.

Minggu pertama November, responsi untuk Eksperimen Fisika Modern sudah dimulai. Hari itu Kamis, saya mendapat kabar bahwa responsi untuk kelompok saya akan diadakan keesokan harinya, mau tidak mau saya harus membuat Tugas Pendahuluan berupa Bab 1 (Pendahuluan) dan Bab 2 (Tinjauan Pustaka) laporan lengkap saya. Saya tidak punya buku referensi sama sekali. Jadi mau tidak mau saya harus masuk ke perpustakaan untuk menyelesaikan TP sekaligus untuk memperpanjang masa berlaku kartu perpustakaan yang sudah expired 3 bulan lalu.

Nah, yang ngejaga perpustakaan kali itu adalah teman seangkatan saya tapi berbeda kelas, kalau saya kelas B sedangkan dia di kelas A. Saya sih sebenarnya tidak kenal, tapi teman—Alia-- yang bareng saya keperpustakaan mengenalnya. Alia menyapanya sekilas, dan reaksi orang itu adalah: tidak peduli. Jangankan senyum, menoleh saja tidak!

Dengan cuek saya menyerahkan kartu perpustakaan yang ingin diperpanjang.

“Saya nggak akan ngizinin masuk kalau kartu perpustakaannya belum jadi.” Katanya dengan jutek sambil menggunting foto Alia yang berukuran 3x4 hingga menjadi 2x3 yang akan di tempelkan di kartu yang juga diperpanjangnya.

Saya mengambil alat untuk menulis laporan berupa penuntun, kertas HVS, dan pulpen dari dalam tas sambil menunggu kartu saya jadi.

“Yang boleh dibawa masuk hanya kertas dan pulpen saja. Penuntun dan buku lain tidak diizinkan dibawah masuk.” Katanya lagi dengan nada tajam.

Saya menghela nafas panjang lalu memasukkan kembali penuntun kedalam tas. Saya dan Alia berdiri di depan orang rese itu, jengkel karena kartu kami belum jadi-jadi juga. dia membuang-buang waktu kami. Lalu dia mendongakkan kepalanya dan menatap kami.

“Ngapain berdiri disitu? Masuk aja!” Katanya, lagi-lagi dengan nada jutek.

Sumpah, saya kesal sekali. Tadinya dia bilang kalau kartu belum selesai, kami nggak boleh masuk dulu, dan sekarang dia bertanya kenapa masih berdiri di depannya?? Apa dia amnesia seketika?

“Katanya tadi nggak boleh masuk kalau kartunya belum jadi!” Saya berkata tidak kalah juteknya lalu ngeloyor masuk, segera mencari buku yang saya butuhkan. Dia pikir saya nggak bisa jutek kayak dia apa. Sorry yah, saya juga cukup terlatih kalau cuma pengen ngejutekin orang.

Mood yang udah terlanjur rusak membuat saya jadi nggak berminat lagi untuk menulis TP disitu. Saya lalu meminjam buku dan pergi. Muak rasanya ada di situ.

Entah kenapa hari kamis itu memang menjengkelkan sekali. Di mulai dari laboran yang nggak mau ngasih saya Penuntun Praktikum karena bukti pembayaran lab saya tidak lengkap, bukti pembayaran untuk semester 4 hilang (semester lalu dititip ke teman dan dompet teman saya raib di jambret, hilanglah semua bukti pembayaran itu). Dia tidak mau mengerti, padahal saya udah mau respon besoknya. Air mata saya menggenang, marah dan sedih campur jadi satu, belum lagi orang perpustakaan yang nggak welcome sekali membuat mood saya makin hancur. Untung teman sekelas saya ada yang batal praktikum minggu itu dan saya bisa meminjam penuntunnya.

Hari senin, setelah membuat perjanjian dengan laboran bahwa saya harus segera mengurus kembali bukti pembayaran saya yang hilang itu di bank, saya bisa mengambil penuntun. Respon saya yang akan diadakan hari jumat juga ditunda sampai hari Selasa. Aman..

Sekarang, kembali ke respon Tetes Minyak Milikan yang tadi diadakan. Kelompok sebelumnya mengatakan bahwa mereka hanya diberikan respon tulisan saja dimana soalnya relative mudah. Saya dan teman sekelompok yang lain mempersiapkan diri untuk respon tulisan juga. Nanya sana-sini soal apa yang masuk.

Setelah menulis TP saya mulai membaca materi yang akan diresponkan, tapi sekeltika kantuk menyerang. Saya yang santai-santai aja karena yakin besoknya hanya akan respon tulisan memilih untuk tidur dan belajar saat perjalanan menuju kampus.

Saya sudah menuliskan rumus yang tidak bisa saya ingat penurunannya dan berharap bisa menconteknya jika soal itu muncul. hehehehe

Respon dijanjikan pukul 8 dan asisten baru datang pukul 8.30, belum lagi kakak asisten harus mengurus kelompok yang saat itu akan praktikum, bersamaan dengan kelompok saya yang akan di respon. Jadi kami mulai respon pukul 9.

Kami langsung menyiapkan kertas, dan bersiap untuk menulis soal tapi --yang tidak saya sangka-sangka-- Kakak ternyata malah memberikan respon lisan. Untung saya duduknya paling ujung dan mendapat giliran terakhir saat menjawab pertanyaan, hihihi

Saya memang tidak suka ujian lisan seperti ini. Saya kehabisan kata. Meski saya mendapat giliran terakhir yang berarti saya bisa mencontek jawaban teman untuk melengkapi jawaban saya, itu tidak berarti saya bisa dengan mudah mengungkapkannya. Saya kesulitan memilih kata, kesulitan menjelaskan secara ringkas dan jelas, saya seperti meracau.

Tapi akhirnya respon itu berakhir dengan banyak pertanyaan yang tidak satu orangpun yang mampu menjawab. Untung Asistennya baik. Hihihi

respon selesai, saatnya fokus pada praktikum Tetes Minyak Milikan yang terkenal sulit dan menyelesaikan laporan praktikum minggu lalu..

hmm,, Lumayan banyak tugas yang menumpuk, tapi ini Sabtu malam, saya berhak menikmati libur saya dulu.

 

Karina Sacharissa Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review